
"Sepertinya aku tidak bisa menghentikan Leon. Sebaiknya aku harus pergi dari sini, aku tidak ingin di penjara," ujar Emely saat mengejar ketertinggalan mobil Leon.
Wanita itu memutar balik mobilnya untuk kembali ke rumah peninggalan ibunya. Setelah itu ia akan pulang sebentar ke rumahnya untuk mengemas barang-barang berharga yang harus di bawa.
Sementara Leon langsung ke kantor polisi saat itu juga, ia tidak ingin menunda-nunda kejahatan mama papanya yang sangat merugikan banyak pihak, juga merugikan diri mereka sendiri. Leon menghubungi Drew untuk menemaninya dalam melaporkan kasus bisnis gelap tersebut.
***
Keesokan harinya. Lily duduk di kursi teras depan rumah bersama ayahnya. Pak Tio menaruh cangkir kopi yang baru saja ia seruput ke atas meja.
"Ayah boleh tanya sesuatu padamu, Ly?"
Pertanyaan pak Tio membuyarkan lamunan Lily. "I-iya, ayah. Ayah mau tanya apa?"
Pak Tio terdengar menghela napas panjang, sebelum akhirnya ia melontarkan sebuah pertanyaan pada putrinya.
"Sejauh ini, bagaimana sikap Leon selama kau berada di rumah sana? Apa dia pernah menyakitimu?"
Lily tersenyum. "Leon baik, ayah. Ayah tenang saja, sepertinya Leon akan selalu mengingat pesan ayah," jawab Lily.
Pak Tio mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bagus kalau begitu. Tapi ayah harap, Leon baik sama kamu bukan karena pesan ayah, tapi karena memang dia tulus sama kamu, sayang sama kamu, seperti sekarang dia sedang melindungi kamu dari bahaya yang mengancam," tutur pak Tio.
Seketika Lily bergeming. Ia menundukan wajahnya. Selama ini Leon memang baik padanya, tetapi ia juga belum tahu perasaan itu seperti apa padanya. Lagipula, ia sendiri pun masih bingung dengan perasaan apa yang muncul ketika sedang bersama Leon. Yang pasti, ia merasa nyaman saat berada di dekat pria yang berstatus sebagai suaminya.
"Kenapa? Ada yang kamu sembunyikan dari ayah?" tanya pak Tio lagi.
Dengan cepat Lily menggeleng. "Ti-tidak, ayah. Tidak ada," jawabnya sedikit terbata.
Dari kejauhan, Lily melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya itu benar.
"Itu kan mobil Leon," gumamnya.
Dan benar, mobil itu masuk ke pelataran rumah. Lily langsung bangkit guna menyambut suaminya.
"Leon.." panggilnya.
Pria itu keluar dari mobil dengan senyum yang mengembang. Lily lekas mencium punggung tangan pria itu dan memberinya sederet pertanyaan.
"Kok sudah pulang? Urusannya sudah selesai? Cepat katakan sesuatu!" tanya dan pinta Lily dengan tidak sabar.
Leon hanya menanggapinya dengan senyum. Kemudian melipir untuk menyalami sang mertua yang ada di sana.
__ADS_1
"Bagaimana masalahnya?" tanya pak Tio.
"Hari ini aku akan membawa Lily kembali ke rumahku," jawab Leon.
Lily mendekat ke arah Leon. "Jadi masalahnya sudah selesai?"
Leon menganggukk. "Iya."
"Sungguh? Kau tidak sedang berbohong kan? Jelaskan padaku, gimana ceritanya kau bisa menyelesaikan masalah serumit itu dalam waktu satu malam?" tanya Lily penasaran, begipula dengan pak Tio.
"Panjang."
"Perpendek saja!" pinta pak Tio.
Akhirnya Leon pun menceritakannya.
"Kemarin Drew menemukan sebuah berkas bukti bisnis gelap papa di kantornya. Aku pikir mama tidak terlibat, tetapi begitu aku akan melaporkan kasus kejahatan itu, mama tiba-tiba ketakutan. Hal itu membuktikan jika mama memang ikut serta dan tentunya tahu bisnis yang di jalankan papa itu bisnis rahasia sekelompok mafia. Semalam aku langsung ke kantor polisi untuk menyetahkan bukti tersebut," jelas Leon.
Pak Tio berdecak. "Ck ck ck.. Ada-ada saja kelakuan mama papa kamu itu, Leon. Beruntung jika kamu tidak seperti mereka."
"Lalu sekarang mamamu ikut di tangkap?" tanya Lily kemudian.
"Semuanya sudah urusan polisi."
"Jangan sedih, ya!" ucap Lily dengan mengusap pelan bahu sebelah kiri pria di hadapannya.
Leon berusaha mengulas senyum. "Terima kasih," balasnya.
Jujur Leon merasa sangat sedih menerima kenyataan ini. Saat ia memiliki kesempatan untuk sebatas berkomunikasi saja dengan mamanya, ia malah di buat kecewa dengan apa yang di lakukan mamanya. Tapi ia tidak punya pilihan lain, meski berat, ia harus menjauhkan kedua orang tuanya dari bisnis gelap itu walaupun konsekwensinya papa dan mamanya harus mendekam di penjara. Ia hanya bisa berharap dengan ini mereka bisa jera.
"Ayo kemasi barang-barangmu! Oh ya, bi Ratih kemana?" suruh dan tanya Leon begitu tidak melihat sosok asisten rumah tangganya di sana.
"Bi Ratih ikut ibu ke pasar. Sebentar lagi juga pulang, kok. Tunggu aja!" jawab Lily.
"Iya."
"Kalau begitu aku buatkan kopi untukmu, ya. Kau tunggu di sini sama ayah!"
Leon menganggukan kepalanya, sementara Lily pergi ke dalam rumah, lebih tepatnya ke dapur.
Di antara Leon dan pak Tio hanya ada keheningan. Leon tidak berani bicara lebih dulu, ia memilih pak Tio yang memulai saja jika ada pembicaraan di antara mereka.
"Kamu masih ingat pesan ayah, Leon?" tanya pak Tio secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Iya, saya ingat," jawab Leon.
"Bagus. Ayah ucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah mau melindungi Lily dari bahaya yang berasal dari orang tuamu sendiri. Bahkan pada akhirnya kamu harus membuat mereka masuk sel penjara."
"Meski mereka orang tuaku, tetapi saya harus tetap pada pihak yang benar. Saya tidak ingin menutupi kejahatan yang telah orang tua saya lakukan selama ini," sahut Leon.
"Iya, ayah salut padamu."
Tidak berapa lama, Lily kembali dengan membawa secangkir kopi untuk Leon. Pria itu menerima cangkit tersebut dari tangan Lily.
"Terima kasih," ucapnya.
"Iya, di minum nanti keburu dingin," kata Lily.
"Lidahku bisa terbakar, ini air mendidih, sayang..."
"Hehehe.. Iya, juga ya."
Pak Tio merasa tentram melihat keakraban putri dan menantunya. Meski mereka menikah bukan karena keinginan apalagi dengan dasar cinta, tapi pak Tio salut melihat hubungan mereka yang bisa akur seperti itu.
***
Leon mendapat kabar dari pihak kepolisian jika mamanya tidak ada di rumah peninggalan neneknya itu. Bahkan di rumah yang di tempati bersama Xander pun tidak ada. Akhirnya pihak kepolisian akan meminta kepada seluruh pihak bandara internasional agar tidak memberangkatkan penerbangan penumpang identitas Emely. Sebab bisa saja Emely kabur ke luar negri.
Leon meminta Lily untuk diam di rumah setelah mereka sudah kembali pulang. Lily kembali cemas dan panik dengan apa yang terjadi.
"Leon, ada apa lagi ini? Kau bilang masalahnya sudah selesai," Lily mengejar langkah suaminya menuju keluar rumah.
"Tunggu sebentar, ya. Semuanya baik-baik saja, ok?"
Leon meninggalkan sebuah kecupan di kening Lily sebelum akhirnya pria itu pergi bersama mobilnya.
Sementara di tempat lain, seluruh tim pihak kepolisian yang bekerja sama sedang mengejar langkah Emely. Wanita itu tengah berlari di jalanan sepi dengan membawa kopernya.
"Berhenti..!" teriak polisi sembari menembakan peluru pistol ke udara sebagai tanda peringatan.
Lantaran Emely tidak mau menyerahkan diri, dengan terpaksa mereka menembak kaki wanita paruh baya itu.
DORR..
"Aaaaaaa..."
Tembakan itu tepat sasaran. Kini Emely terkulai jatuh ke tanah lantaran betisnya menjadi sasaran tembak polisi.
__ADS_1
Bersambung...