
Bu Hesti meminta agar Lily untuk istirahat sejenak dulu di ruangan keluarga. Agar jika ada tamu lain atau tetangga yang datang ingin menjenguk bayi, mereka tidak perlu masuk ke kamar apalagi sampai menganggu waktu istirahat.
Bi Ratih menggelar kasur lantai di sana, untuk bayi menggunakan kasur khusus.
"Coba kasih ASI lagi, nak. Kasihan, pasti udah haus lagi," kata Bu Hesti yang melihat cucunya tampak kehausan.
"Iya, Bu," jawab Lily.
Wanita paruh baya itu kemudian memberikan cucunya pada Lily dengan sangat hati-hati. Leon segera memasangkan kain penutup dada khusus untuk ibu menyusui.
Lily masih tampak kaget dan sedikit kesakitan saat bayinya begitu semangat menyusu padanya. Tapi tak apa, justru itu merupakan nikmat besar bagi seorang ibu.
"Ayah sama ibu rencananya akan menginap di sini, boleh kan?" tanya pak Tio di sela-sela keheningan.
"Tentu saja boleh, ayah. Kalau ayah sama ibu mau tinggal bersama kami pun, kami tidak akan melarang," sahut Leon.
"Ah yang benar..?" tanya pak Tio bercanda.
"Itupun kalau ayah sama ibu mau."
"Enggak, ah. Nanti kalian gak bebas, bukan hanya itu, ayah juga gak bebas kalau lagi mau," jawab pria paruh baya itu menciptakan tawa di antara mereka.
"Yah, jangan bahas hal itu, yah."
"Kenapa?"
Leon melirik ke arah Drew menggunakan ekor matanya. "Ada pengantin baru di sini."
Pak Tio langsung paham akan maksud menantunya. Ia langsung beralih menggoda pria yang duduk tidak jauh darinya.
"Gimana rasanya jadi pengantin baru? Gurih, bukan?" tanya pak Tio sembari menepuk pundak sebelah kiri Drew.
Drew tampak gelagapan.
"Ngeri-ngeri sedap," sahut Chika mengundang tawa semua orang kecuali Drew yang merasa panas dingin sekarang.
"Hahahaha ....."
Obrolan ringan terus berlanjut, dan sesekali pak Tio juga kembali menggoda Drew. Memberi tips agar hubungan awet, memberi solusi di kala rumah tangga sedang di terpa masalah. Dan itu bukan hanya di tujukan untuk Drew saja, melainkan pada putri dan menantunya.
"Assalamu'alaikum ..." suara salam dari seseorang membuat obrolan mereka terhenti sejenak.
Seorang wanita paruh baya yang menggunakan hijab menutupi bagian dada, juga pakaian khas narapidana tengah berdiri dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Ada dua polisi juga yang mengantar dan kembali berjaga di pintu gerbang.
"Walaikumussalaam .. Mama .."
Leon langsung bangkit berdiri dan menghampiri sang mama tercinta. Pria itu lekas memeluk tubuh wanita tersebut.
__ADS_1
"Ini beneran mama?" tanya Leon begitu melihat penampilan sang mama sekarang.
Wanita itu mengangguk. "Iya, sayang. Bissmillaah ... Mama ingin menjadi manusia lebih baik lagi," jawab Emely.
Tidak hanya Leon yang merasa kagum, semua orang yang di sana pun demikian.
"Mana cucu mama?" tanya wanita itu mengalihkan pembicaraan.
"Sedang di kasih ASI, ma. Ayo duduk di sana," Leon mengajak sang mama untuk duduk di dekat istrinya.
"Apa kabar, besan?" tanya Emely pada kedua orang tua Lily.
"Alhamdulillaah, baik," jawab Bu Hesti dan pak Tio secara serempak, mereka pun bertanya balik keadaan Emely dan wanita itu menjawab sangat baik.
"Chika, selamat, ya. Tante dengar kau sudah menikah," ucap Emely lagi pada keponakannya.
"Iya, Tante. Terima kasih."
"Tante benar-benar tidak menyangka kalau jodohmu ternyata Drew. Sekarang kita semua jadi keluarga."
"Iya, Tante."
Dari jarak tiga meter, bi Ratih mengangguk-anggukan kepalanya. Sekarang ia tahu seperti apa wajah ibu dari tuannya itu.
Begitu Lily merasa jika bayinya sudah melepaskan dan tidak lagi menyusu, ia segera menutup bagian dadanya dari dalam. Kemudian membuka kain penutup tersebut.
Emely sangat takjub begitu melihat wajah cucunya yang begitu menggemaskan.
Setetes air mata mulai lolos dari pelupuk mata Emely, tangis bahagia bercampur haru. Wajah bayi itu mengingatkan pada Leon pada saat masih bayi, saat itu pula ia kembali mengingat betapa bersalahnya dia.
"Ya Allah, cucu Oma ..."
Emely mengecup lembut kening cucunya dengan ekstra hati-hati. Sebab meskipun ia pernah memiliki seorang bayi, ia jarang bahkan hampir tidak pernah menyentuh Leon dulu.
Suasana cukup mengharukan untuk beberapa saat, sampai akhirnya tiba-tiba berubah menjadi suasana yang cukup menegangkan.
"Assalamu'alaikum ..." ucapan salam dari seseorang itu membuat ekspresi wajah semua orang yang ada di sana berubah tegang.
Leon menatap istrinya, wanita itu menggeleng tidak tahu apa-apa. Tak ingin ada orang lain yang mengganggu dan merusak suasana, pak Tio hendak bangkit dari duduknya. Tapi urung begitu melihat seorang wanita datang menyusul.
"Assalamu'alaikum, semuanya.." ucap salam dari wanita tersebut.
"Yuna..?" ucap Lily.
Melihat kebingungan di mata temannya, wanita itu segera menjelaskan kenapa ia bisa datang bersama seseorang yang ada di sebelahnya.
"Iya, Ly. Jadi Hiko ini sekarang tunangan aku," ungkap wanita itu.
__ADS_1
Lily melongo bahkan hampir tidak percaya. Benar, dunia ini seperti daun kelor. Terlalu sempit. Sepupu Leon bisa menikah dengan asistennya, dan kini Yuna teman Lily juga bertunangan dengan temannya juga.
"Ya sudah kalau begitu ayo masuk..!" ajak Bu Hesti sembari melambaikan tangannya.
"Iya, terima kasih."
Mereka pun duduk di antara keluarga Lily dan Leon. Tidak lupa saling mengucapkan selamat. Yuna juga tidak kaget lagi begitu melihat Drew duduk berdampingan dengan Chika, sebab perasaannya kini sudah tersita untuk Hiko seorang. Pria menyebalkan yang mampu membuatnya jatuh cinta, begipula sebaliknya.
"Oh ya, jadi cucu Oma itu namanya siapa..?"
Semua pasang mata tertuju pada Leon dan Lily. Sebelumnya mereka memang sudah sepakat menyiapkan nama untuk bayi mereka. Baik nama bayi laki-laki ataupun perempuan. Dan ternyata bayi mereka laki-laki, jadi Lily menyerahkan pada suaminya saja yang mengumumkan.
"Gerald Putra Bagaskara."
Leon mengucapkannya dengan lantang dan cukup jelas terdengar oleh semua orang yang berkumpul di sana.
"Keren pisan euy namanya," sahut bi Ratih.
"Iya, nama yang sangat indah," timpal Emely.
"Bagus, aku suka namanya," ujar Chika.
Semua orang memuji nama bayi Leon dan Lily. Sampai akhirnya, seluruh perhatian mereka tersita pada televisi yang sedari tadi menyala.
"Seorang wanita muda cantik dan pria paruh baya di pergoki tengah bermesraan di sebuah gudang tua oleh wanita yang di duga istri dari pria paruh baya tersebut. Hal tersebut membuat wanita yang berstatus sebagai istrinya marah hingga melakukan sebuah tindak kekerasan. Tak terima sang istri melakukan hal itu pada wanita selingkuhannya, pria paruh baya itu menusuk sang istri menggunakan senjata tajam dan berakhir meninggal. Kini, pria paruh baya itu berhasil di tangkap dan sudah di amankan oleh pihak kepolisian," ujar reporter wanita di sebuah berita televisi.
Begitu wajah yang reporter itu maksud di sorot kamera, beberapa di antara mereka terkejut.
"Juragan Mongol..!!!" ujar pak Tio, Bu Hesti dan Lily secara serempak.
Dan wanita yang di duga tengah bermesraan itu ikut di sorot, semua pasang mata kembali di kejutkan.
"Ava..!!!" ucap mereka hampir bersamaan.
Semua orang benar-benar tidak menyangka dan tidak habis pikir. Bisa-bisanya juga si Ava mau bermesraan dengan juragan Mongol dan sekarang berakhir tragis.
"Tapi dengan kejadian seperti demikian, aku sangat berterima kasih kepada Tuhan dan juga juragan Mongol. Sebab kalau kejadian malam itu tidak ada, sampai sekarang mungkin aku tidak akan bertemu denganmu," kata Leon.
"Terima kasih juga karena saat itu kau MENGANDUNG ANAK CASSANOVA benih dari aku, sebab jika kejadian itu juga tidak ada, maka pertemuan kita hanya sebatas malam itu saja," imbuh Leon.
"Rencana Tuhan lebih baik," sahut Lily.
"I love you, sayang."
"Love you more, Leonard Bagaskara."
TAMAT ...
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mengikuti cerita MENGANDUNG ANAK CASSANOVA sampai detik ini🤗🤗🤗Aku sayang kalian🥰🥰🥰
Satu hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semua, mulai hari ini akan menulis di pf sebelah di Fi ZzO. Buat kalian yang ingin mengikuti karya-karya aku silahkan mampir juga ke sana. Gratis juga. Untuk info judul novelnya nanti aku info di Instagram aku. Jangan lupa follow Instagram aku ya @wind.rahma. See you. Love you sekebon buat kalian semuaaaaa❤️❤️❤️❤️❤️