
Emely menghentikan mobilnya di tepi jalan. Leon pun ikut menghentikan mobilnya di belakang mobil mamanya. Ia keluar dari mobil dan menghampiri mamanya.
"Ma.." Leon mengetuk kaca pintu mobil mamanya.
Emely keluar, ia langsung menghambur memeluk Leon dan menumpahkan tangisnya di sana. Leon paham bagaimana perasaan mamanya sekarang.
Leon membiarkan mamanya menangis di pelukannya sampai puas. Emely melepaskan pelukannya perlahan.
"Jadi sekarang siapa yang ada untuk mama? Aku atau papa?" Leon memberi mamanya pertanyaan yang sama seperti kemarin-kemarin.
Emely mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya. Lalu menangkup kedua pipi Leon, menatapnya cukup dalam.
"Maafkan mama, Leon," ucap wanita itu penuh penyesalan.
Leon menghembuskan napas dengan seulas senyum, akhirnya mamanya mau mengakui kesalahannya selama ini.
"Terima kasih selalu ada untuk mama, Leon. Mama tidak tahu jika kau tidak memergoki papamu dengan wanita jallang itu, mungkin mama akan selamanya memeluk sebuah pengkhianatan gelap itu," ucap Emely lagi.
"Iya, ma."
Leon membantu menyapu air mata sang mama, sekarang yang ia khawatirkan adalah pertemuan mamanya dengan papanya nanti.
"Apa mama akan tetap mempertahankan papa?" tanya Leon kemudian.
"Tentu saja, Leon," jawab Emely dengan mantap.
"Tidak, ma. Mama harus lepaskan papa!" pinta Leon.
Emely melepaskan tangannya dari kedua pipi putranya. "Kau meminta mama untuk pisah dengan papa?"
"Tapi papa bukan pria yang pantas untuk di pertahankan, ma. Memangnya mama mau di khianati untuk kedua kali?"
Emely menggeleng. "Ya tentu tidak, lah."
"Kalau begitu, mama harus pisah dengan papa. Mama bisa menyingkirkan satu wanita itu, tapi apakah mama yakin bisa menyingkirkan wanita-wanita berikutnya?"
Emely bergeming. Apa yang di katakan Leon ada benarnya juga, suaminya bisa saja berselingkuh dengan wanita lain setelah dengan wanita tadi.
"Sekarang mama mau pulang ke rumah?" tanya Leon membuyarkan lamunan mamanya.
"Iya, memangnya mama harus pulang kemana?"
"Mama yakin bisa kontrol emosi mama ketika bertemu dengan papa? Kalau mama tiba-tiba marah, aku khawatir papa akan melakukan sesuatu yang buruk pada mama."
"Mama bisa kontrol emosi, Leon. Lagipula, saat ini cinta mama masih lebih besar dari rasa benci mama pada papamu," jawab Emely.
"Jangan bodoh, ma. Aku saranin mama harus bisa main lebih cantik tanpa melibatkan perasaan apapun pada papa. Dengan itu mama akan menang," saran Leon.
"Tapi, Leon-"
__ADS_1
"Sekarang mama pulang, mama pura-pura seolah mama tidak tahu apa-apa. Ok!?"
"Ya sudah, mama pulang."
"Iya, ma. Hati-hati!"
Emely masuk kembali ke mobilnya dan pergi dari sana. Sebenarnya Leon tidak yakin jika mamanya mampu menahan amarah, ia takut akan terjadi pertengkaran besar nantinya. Tapi ia berharap semoga hal-hal buruk tidak terjadi.
***
Malamnya di meja makan. Lily mendapati suaminya tampak tidak seperti biasanya. Leon terlihat sedang memikirkan banyak hal, ia yakin jika Leon lagi-lagi menyembunyikan sesuatu darinya.
"Leon.. Ada apa?"
Pertanyaan Lily mengeluarkan Leon dari alam bawah sadar lamunan, pria itu berusaha tersenyum meski Lily tahu Leon sedang mentupi sesuatu darinya.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Lanjut makan lagi!" jawab pria itu.
Jawaban tersebut membuat Lily semakin yakin jika Leon menyembunyikan seauatu darinya. Tapi apa? Kelihatannya ada masalah besar, mungkinkah masalah pekerjaan?
"Yakin masih tidak ingin terbuka denganku, Leon? Kau masih menganggapku orang lain?" ucap Lily lagi, ia merasa Leon tidak percaya padanya.
"Bukan begitu, sayang. Tapi-"
"Aku berhak tahu apapun masalahmu, Leon. Aku istrimu, dan kau suamiku. Kita harus saling terbuka, jangan pendam masalahmu sendiri. Siapa tahu aku bisa memberi solusi, paling tidak aku menjadi pendengar baik untukmu," tutur Lily.
Leon menghela napas, awalnya ia akan menceritakan hal ini nanti saja. Bila perlu tidak usah di ceritakan pada Lily. Sebab ini menyangkut aib keluarganya juga.
"Iya, sayang. Aku akan mengatakannya padamu."
Lily tersenyum, akhirnya Leon bisa luluh.
"Papaku selingkuh," ucap Leon to the point.
Lily tercengang bahkan tidak percaya.
"Sungguh?"
"Iya, dia selingkuh dengan wanita pernah aku t-"
Leon hampir saja keceplosan, tapi untungnya ia bisa mengerem mulutnya untuk tidak membuka identitas wanita itu.
"T- apa?" tanya Lily penasaran begitu Leon menghentikan kalimatnya.
Kini Leon harus mencari alasan yang masuk akal agar Lily tidak curiga padanya.
"T-tolong, sayang. Aku tidak menyangka jika wanita yang pernah ku tolong itu akan menjadi duri dalam keluargaku," lanjut Leon.
"Lalu bagaimana dengan mamamu? Apa mamamu tahu soal ini?"
__ADS_1
"Sudah, aku langsung hubungi mama begitu memergoki papa sedang bersama wanita lain. Mama langsung kasih pelajaran wanita penganggu rumah tangga itu."
Rasanya Lily masih tidak percaya, tapi itulah kenyatannya. Leon juga menceritakan bagaimana mamanya membuat wanita penggoda itu agar jera. Lily tidak bisa membayangkan rasanya jadi mama Leon. Pasti hancur sekali hatinya.
"Semoga hubungan mama dan papamu baik-baik saja ya, Leon," ucap Lily.
"Jangan," sahut Leon.
"Kenapa?"
"Pengkhianat tidak pantas untuk di pertahankan."
Lily tersenyum mendengar jawaban Leon.
"Aku harap kau tidak mengikuti jejak papamu," harap Lily.
"Kau begitu takut kehilanganku," goda Leon di sela-sela pembahasan serius.
"Enggak," elak Lily.
"Itu buktinya?"
"Kau bilang kan pengkhianat tidak pantas untuk di pertahankan. Jadi aku tidak takut kehilangan orang yang tidak setia."
"Tapi aku kan setia."
"Tapi kau pembohong."
"Ini jujur."
"Kalau di paksa."
"Hahahaha.."
Leon mengacak puncak kepala Lily dengan gemas. Tidak apa-apa di cap sebagai pembohong, selama bohongnya untuk kebaikan dan tidak macam-macam.
Usai makan malam, Lily dan Leon masuk ke kamarnya. Sekarang Lily sudah tidur lebih dulu, sementara Leon masih melek. Ia memerhatikan wajah Lily yang sedang terlelap, Lily terlihat imut ketika sedang tidur.
Leon mengalihkan anak sulur rambut yang menutupi wajah Lily, kemudian mendaratkan sebuah ciuman singkat di kening, pipi kiri kanana, ujung batang hidung, dagu, terakhir di bibir mungil wanita tersebut.
Setelah itu ia kembali memandang wajah Lily yang manis. Senyumnya perlahan memudar, tiba-tiba saja ia takut akan satu hal. Ia khawatir Lily akan segera mengetahui masa lalunya. Ia mulai khawatir Lily akan mengetahui jika dirinya sebenarnya seorang 'Cassanova'.
"Apa kau akan tetap seperti ini jika saat tahu siapa aku sebenarnya, Ly?"
Bersambung...
Terus DUKUNG Novel ini dengan cara LIKE, KOMEN DAN VOTE, JUGA HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA.
...Dan Rencananya aku mau buat VISUAL LEON DAN LILY, tapi jika nanti gak sesuai dengan yang selama ini kalian bayangkan, jangan kecewa ya. ...
__ADS_1
...Follow Instagram aku untuk info selanjutnya @wind.rahma...