
"Yuna..?" seru bu Hesti.
"Maksudnya Lily keguguran apa, ya? Emangnya Lily hamil, ya? Kapan nikahnya?" pertanyaan Yuna barusan menyita perhatian para ibu-ibu yang kebetulan lewat depan rumah pak Tio.
Rasanya pak Tio dan Leon ingin menyumpal mulut perempuan itu, sebab rahasianya yang selama ini terjaga dengan baik kini mulai bocor akibat mulut Yuna yang tidak bisa di jaga.
Yuna membungkam mulutnya saat mendapat tatapan tajam dari pak Tio juga Leon. Ia menengok ke kiri, kanan, juga ke belakang. Tanpa sadar, seruan pertanyaannya membuat beberapa ibu-ibu di sana bergerombol ikut penasaran dan tentunya bisa di jadikan bahan gibah selanjutnya.
"Ma-maaf, aku hanya terkejut, pak, bu," Yuna menoleh ke araha Leon. "Suaminya Lily, ya?"
"Lain kali kalau punya mulut di portal!" cetus Leon.
Yuna benar-benar merasa segan sekarang, ia tidak tahu harus minta maaf dengan cara apa pada mereka. Sebab, ibu-ibu yang bergerombol tadi sudah membubarkan barisan dan pastinya kini berita tersebut sudah menyebar luas.
Leon berpamitan kepada dua mertuanya, begitupula dengan pak Tio dan bu Hesti ikut masuk ke dalam rumahnya. Kini tinggal Yuna di sana, perempuan itu merutuki dirinya lantaran sudah bertindak gegabah menyangkut harga diri keluarga temannya.
"Aduuuh.. Mati gue..!" Yuna menepuk jidatnya sendiri, kemudian ia pergi dari sana menuju tempat kerjanya.
***
Di perjalanan menuju kantor, Leon menemukan sebuah pedagang keliling yang unik menurutnya. Ia jadi teringat obrolan dengan bu Hesti tadi, jika Lily merupakan manusia pemakan segala. Jadi, Leon berniat untuk membeli dagangan tersebut.
Ia menepikan mobilnya di bahu jalan, kemudian menghampiri pedagang unik tersebut. Dari tulisan yang tertera, makanan yang di jual oleh pedagang itu bernama kue crepes. Leon lekas membelinya.
Tidak berapa lama, kue crepes kini sudah di tangannya. Leon tidak jadi ke kantor, ia akan menemani Lily di rumah hari ini.
Setelah sampai di rumah, Leon berjalan masuk ke dalam rumah dengan senyum yang mengembang. Ia tidak sabar melihat reaksi Lily ketika ia membawakan sebuah makanan untuknya.
"Ly.." panggil Leon setengah berteriak.
Dari kejauhan Lily keluar dari arah dapur, wanita itu membawa segelas air putih di tangannya.
"Iya, ada apa teriak-teriak?"
Leon mengangkat kantong plastik di tangannya ke udara, menciptakan kerutan tipis di kening Lily.
"Apa itu?"
"Untukmu," Leon memberikannya pada Lily.
Lily menerima kantong plastik tersebut dari tangan Leon. Kemudian ia mengintip isi kantong platik tersebut. Sedetik kemudian, bibirnya mengembang mengulas senyum.
__ADS_1
"Kue crepes?"
"Iya, kau suka?"
"Ini favorit aku. Kau tahu dari mana aku suka kue ini?"
Leon mengajak Lily untuk duduk dulu di sofa ruang tamu sebelum menjawab pertanyaan istrinya.
"Aku tidak tahu ini favoritmu. Aku hanya tahu jika kau pemakan segala," jawab Leon mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Emangnya aku binatang," cetusnya.
"Tapi kau suka makan apa saja, kan? Itu artinya kau pemakan segala, omnivora."
"Iiihhh.. Menyebalkan!" Lily mencubit pinggang Leon, sementara pria itu terkekeh.
Lily mengambil satu kue-nya, lalu di gigitlah kue tersebut. Rasanya lebih enak dari pada yang ia bayangkan.
"Enak?" tanya Leon dan mendapat anggukan dari Lily.
"Mau coba?" Lily memberikan kantong plastik di tangannya.
Leon menggeleng. "Suapin," pinta pria itu.
"Ambil saja sendiri, makan sendiri!"
Lily kembali menggigit kue crepes-nya lagi, dengan cepat Leon menarik tangan Lily sehingga kue yang Lily pegang tertinggal di mulutnya. Setelah itu Leon menggigit kue crepes itu dari mulut Lily.
Lily terkesiap, ia sampai menahan napas begitu Leon menggigit sedikit kue crepes dari mulutnya. Tak hanya itu, bibir Leon pun menempel sedikit dengan bibirnya.
"Ini lebih enak dan manis," ujar Leon setelah mendapatkan kue crepesnya.
Lily mengerjapkan matanya sekali, meski ia sudah melakukan hubungan intiim dengan Leon, tapi ia masih merasa canggung jika pria itu melakukan hal-hal yang membuat hatinya berdebar tidak karuan. Lily berusaha mengontrol dirinya agar terlihat biasa saja di depan Leon.
"Oh ya, temanmu datang ke rumah orang tuamu tadi," ujar Leon memberi tahu.
"Temanku yang mana? Hiko?" tanya Lily.
Leon melirik istrinya menggunakan ujung ekor matanya, kenapa Lily bisa mengira itu Hiko, padahal kan Lily punya teman lainnya.
"Memangnya temanmu hanya dia?" Leon bertanya balik dengan nada tidak suka Lily menyebut nama pria itu di depannya.
__ADS_1
"Ya terus, temanku yang mana?"
"Teman kerjamu di minimarket," jawab Leon ketus.
"Yuna?"
"Hm."
"Ngapain Yuna ke rumah?"
"Entah. Sialnya, saat ayah menanyakan kondisimu pasca keguguran, temanmu itu datang. Dia tanya-tanya dengan nada bicaranya yang tidak bisa di kontrol. Sehingga menimbulkan banyak ibu-ibu bergerombol untuk menguping."
Lily menghentikan makan kue crepes nya. Ini menatap Leon dengan serius.
"Pasti akan jadi gosip. Kasihan ayah dan ibu, semua orang pasti akan membicarakannya karena keburukanku."
Leon yang semula memandang ke sembarang arah lantaran masih kesal Lily menyebut nama pria lain di hadapannya, kini mengalihkn perhatian sepenuhnya pada wanita itu.
"Tidak usah khawatir, tidak perlu memikirkan mereka. Percayalah, tidak selamanya orang-orang itu membicarakan apa yang sudah terjadi. Akan ada masanya mereka berhenti membicarakan, toh mereka juga akan bosan."
Lily menatap kedua manik mata Leon cukup lekat. Benar apa yang di katakan Leon barusan, tapi tetap saja tidak mudah melewati proses itu. Terlebih saat semua orang memandang buruk, kebaikan apapun yang nantinya di lakukan, orang-orang tetap akan memandang buruk.
Leon menarik bahu Lily, menyandarkan kepala wanita itu di bahunya.
"Jangan takut, ada aku!"
Leon membelai lembut rambut Lily, kemudian meninggalkan sebuah kecupan singkat di puncak kepala istrinya.
"Makan lagi kue crepes nya. Sekarang gantian, ya, kau yang ambil kue crepes nya dari mulutku," ujar Leon sembari menaruh sepotong kecil kue crepes di bibirnya.
"Tidak mau. Aku makan yang in saja," Lily hendak mengambil kue crepes yang masih tersisa di kantong plastik, tapi dengan cepat Leon ambil kantong plastik tersebut.
"Hm hm hm hm hm, ham?" Leon mengisyaratkan pada Lily agar wanita itu mau menggigit kue crepes yang kini ada di bibirnya.
"Tidak, aku tidak mau," tolak Lily kukuh.
Leon menarik tengkuk Lily agar wanita itu mau menggigit kue crepesnya. Alih-alih menggigit kue crepes, Leon membuang kue tersebut hingga akhirnya bibir Lily menempel dengan bibirnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Leon melummat bibir Lily dan melanjutkan permainan adu bibirnya.
"Mmmhhh.." Lily memukuli dada bidang Leon, tetapi pria itu tak mau melepaskan pagutan bibirnya.
Bi Ratih, asisten rumah tangga di rumahnya yang hendak memberihkan ruang tamu menghentikan langkahnya seketika. Ia mendapati penampakan mesra antara tuan dan nyonya-nya.
__ADS_1
"Astagfirullahal'adiim.. Masih siang ini," gumam bi Ratih, sembari menutupi sebelah matanya.
Bersambung..