MENGANDUNG ANAK CASSANOVA

MENGANDUNG ANAK CASSANOVA
KETEMUAN


__ADS_3

Tiga hari berikutnya, Leon sudah sehat kembali seperti semula. Ternyata benar, dia hanya demam biasa dan kelelahan saja.


"Yakin hari ini sudah mau masuk kantor?" tanya Lily saat mereka baru selesai sarapan.


"Iya. Lagipula, aku sudah sembuh," jawab pria itu.


"Makanan untuk mama biar aku yang antar, ya. Tidak perlu pakai jasa ojek lagi," ujar Leon.


"Iya. Salam untuk mama," pesan Lily sebelum akhirnya Leon berpamitan untuk pergi.


Usai Leon berangkat ke kantor, Lily membereskan terlebih dahulu meja makan. Ia mencuci beberapa piring dan perabotan yang kotor. Setelah selesai, ia kembali ke kamar.


Lily mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja sofa, ia mendapati sebuah pesan masuk.


Yuna:


Ly, nanti temenin aku ngopi, yuk! Sudah lama kan kita gak keluar sama-sama? Mumpung aku lagi ada jatah libur.


Lily mengetikan balasan.


Lily:


Jam berapa?


Yuna:


Jam sebelas siang. Di tempat biasa, ya.


Lily:


Ok.

__ADS_1


Lily menaruh ponselnya di tempat semula, selepas itu ia berniat untuk merapikan pakaian di lemari yang sudah sedikit berantakan. Maklum kalau Leon ambil sendiri pakaiannya, pasti akan asal narik. Sama seperti suami pada umumnya, bukan?


***


Sudah hampir sepuluh menit Yuna menunggu, tetapi Lily belum kunjung datang juga. Chat terakhir, Lily masih dalam perjalanan. Mungkin Lily terjebak macet.


Tidak berapa lama kemudian, Lily pun datang.


"Lily...."


Yuna bangkit dari duduknya bergegas menyambut teman satu kerja lamanya dengan merangkul tubuh Lily cukup erat.


"Aku kangen banget sama kamu.." ungkap Yuna.


"Kangen curhat, kan?"


Yuna memamerkan sederet giginya nyengir. "Hehehe... Iya, nih. Semenjak kamu nikah, aku ngerasa gak punya temen lagi."


Yuna dan Lily pun duduk, sementara Yuna memesan kopi late, Lily hanya memesan minuman dingin langganannya.


"Kamu beneran sekarang kerja di perusahaan suami aku?" tanya Lily setelah beberapa saat mereka saling memilih menu minuman.


"Iya, walaupun jadi cleaning service, tapi gajinya lumayan lah, gak kena potongan juga," jawab Yuna.


"Terus gimana teman-teman cleaning service yang lain? Baik-baik?"


Yuna memanyunkan bibirnya seraya memutar bola matanya malas.


"Boro-boro baik. Yang ada, mereka tuh hobi banget ghibahan aku tau gak?" Yuna merasa kesal jika ingat hal itu.


Lily mengernyit. "Ghibahin kenapa?"

__ADS_1


Seketika wajah Yuna berubah senang. "Mereka itu gak suka kalau aku suka sama atasan di sana. Padahal kan itu hak aku."


"Atasan? Siapa?" tanya Lily penasaran.


"Itu loh, asisten pribadi suami kamu."


"Drew?"


Yuna menganggukan kepalanya dengan semangat.


"Iya, Drew. Kamu tahu gak, dia itu ya gantengnya minta ampun. Sebelas dua belas lah sama suami kamu. Dan yang buat aku merasa tertantang, dia itu jual mahal. Aku suka sama cowok kayak gitu," cerita Yuna dengan penuh semangat.


Lily sedikit kaget dengan cerita Yuna.


"Oh ya, Ly. Drew kan asisten suami kamu, bisa gak sih kalau kamu sedikit aja comblangin aku ke dia?"


"Hah? Comblangin gimana?"


"Ya gimana pun, yang penting Drew itu bisa tertarik gitu sama aku. Bisa gak?"


"Emm.." Lily menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kenapa juga Yuna harus suka dengan Drew, padahal dia sudah klop Drew dengan Chika saja.


"Kenapa? Keberatan?" tanya Yuna menyadarkan Lily dari segala pemikirannya.


"E enggak, enggak, bukan begitu. Cuma, ya kamu juga tahu kan, aku orangnya gimana. Drew memang asisten suami aku, tapi aku tidak dekat dengan dia. Ya sepertinya yang kamu bilang tadi, Drew jual mahal, iya dia memang orangnya dingin gitu," ujar Lily beralasan.


Yuna menghembuskan napas sedikit kecewa, tapi ya sudahlah tidak apa-apa.


Kopi dan minuman yang mereka pesan pun datang, obrolan pun berlanjut. Kini tidak lagi membahas perihal Drew, tetapi mengenang masa-masa saat mereka masih bekerja di minimarket.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2