
Setelah menemui mama nya, Aditya kembali ke kamar.
"Apa kamu sudah tidur?"
Adsila membuka mata, ia melihat pada Aditya.
"Belum, mata saya tidak bisa tidur" jawab Adsila Santai.
"Kalau begitu, duduk lah. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu" kata Aditya lagi.
Adsila tidak menjawab, ia mendudukkan tubuhnya, lalu turun dari ranjang dengan gerakan pelan. Bukan karena sok manja, tapi memang tubuh Adsila masih terasa lemas.
"Duduk di sini saja" tepuk Aditya pada sofa di samping nya.
Adsila menurut saja, ia duduk di samping Aditya. Berada di dekat Aditya membuat hati nya nyaman.
Mungkin efek dari permintaan cabang bayi, yang selalu ingin berada di dekat sang ayah.
"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Adsila.
"Bacalah surat perjanjian ini, mana yang tidak kau mengerti katakan saja"
Aditya meletakkan lembaran kertas di hadapan Adsila.
Adsila pun mengambilnya, ia membaca satu persatu poit yang tertulis di sana.
Surat perjanjian
Pihak pertama: Aditya Dairon.
Pihak kedua : Adsila
Surat ini menyatakan bahwa pihak pertama dan pihak kedua telah setuju untuk menyepakati isi dari surat pernyataan ini.
Yang mana jika salah satu dari mereka melanggarnya, maka pihak tersebut harus menerima sangsi.
Isi perjanjian tersebut adalah sebagai berikut:
Pihak pertama berhak atas segalanya tentang pihak kedua, selama masa kehamilan hingga persalinan.
Pihak kedua tidak boleh pergi, kecuali atas ijin pihak Pertama.
Pihak kedua boleh meminta apapun kepada pihak pertama, selama itu untuk kebaikan cabang bayi.
setelah persalinan nanti, Pihak kedua harus memberikan sepenuhnya hak atas bayi ini kepada pihak pertama.
__ADS_1
Pihak pertama dan pihak kedua akan menjadi orang tua bayi untuk selamanya, tidak akan ada pemalsuan identitas.
Dengan melakukan tanda tangan di bawah, pihak pertama dan pihak kedua resmi menyepakati pernyataan di atas.
Pihak pertama Pihak kedua
(...........) (............)
Tangan Adsila bergetar membaca setiap poin yang tertulis di lembaran kertas itu.
Hati nya mulai meragu pada point ke empat. Apa dirinya akan sanggup, jika nanti harus berpisah dengan anak yang ia kandung?.
"Apa yang kau pikirkan? tanda tangan lah" desak Aditya.
Adsila menghela nafas, dengan berat hati ia terpaksa menandatangani surat itu.
"Aku pasti bisa, bersama keluarga kaya, kehidupan anak ku pasti akan jauh lebih baik" gumam Adsila di dalam hati.
"Sudah"
Aditya tersenyum senang, ia menatap lembaran kertas yang sudah ada tanda tangan mereka berdua di sana.
"Bagus, sekarang kamu boleh istirahat" ujar Aditya sembari membantu Adsila menuju ke kasur.
Wanita hamil muda itu berbaring dengan nyaman, ranjang majikan nya jauh lebih empuk di bandingkan dengan ranjang milik nya di lantai bawah.
Baru saja memejamkan matanya, Adsila kembali membuka nya. Ia menoleh kearah Aditya yang baru saja hendak berbaring di atas sofa.
"Kenapa anda tidur di sofa?"
Aditya menoleh, menatap Adsila yang kembali membuka mata nya.
"Kenapa kau bangun lagi?" tanya Aditya tanpa menjawab pertanyaan Adsila.
"Anda tidak menjawab pertanyaan ku!" dengus Adsila merajuk. Entah efek cabang bayi nya, wanita itu menjadi lebih berani pada majikan yang sebelum nya sangat ia takuti.
"Memang nya kenapa jika aku tidur di sofa?" tanya Aditya datar.
"Apa tubuh mu tidak akan merasa sakit?"
Aditya menggeleng, sofa nya sangat luas dan empuk. Ia dapat menjamin tubuhnya akan baik baik saja di pagi hari nanti.
"Aku tidak akan apa apa, kau pikir ini sofa kayu yang kecil dan tidak empuk?"balas Aditya.
Sudah jelas semua yang ada di dalam rumah Aditya Dairon, adalah yang terbaik di dunia. Keluarga kaya seperti mereka, pastinya menginginkan yang terbaik untuk diri mereka.
Adsila melupakan itu, ia terlalu mengkhawatirkan majikan nya.
"Kau terlalu pamer" dengus Adsila kesal.
Aditya mengerutkan keningnya. "Kenapa dia yang malah merajuk?"
"Padahal aku hanya menjelaskan padanya" imbuh nya.
__ADS_1
Jalan takdir memang lucu, dalam sekejap dapat membuat dua orang asing tidur di ruangan yang sama, meskipun tempat yang berbeda.
Tidak sampai satu bulan, Adsila mengenal Aditya. Tapi mereka sudah di dekatkan dengan kehadiran cabang bayi di dalam perut Adsila.
Bahkan, mereka terbilang hanya beberapa kali bertemu saja. Dan kini, mereka sudah berada di dalam satu ruangan.
Adsila berbaring di ranjang yang super empuk. Sejak tadi ia sudah berusaha keras untuk memejamkan matanya.
Namun, seakan tidak memiliki rasa kantuk. Mata Adsila masih terjaga hingga pukul 1 malam.
"Huh..."
Helaan nafas berat terus terdengar dari wanita itu.
Pria yang sedang berbaring di sofa, menjadi bosan mendengarnya. Ia juga belum bisa tidur sejak tadi.
Bukan karena belum mengantuk, tetapi karena kehadiran orang lain di dalam kamar nya, karena itu lah pria itu belum bisa tidur. apalagi dengan kenyataan ini, membuat pikiran nya terus bekerja.
Otak yang sebelum nya hanya memikirkan kekecewaan nya terhadap wanita cantik, yang kini mengejar mimpinya. Kini teralihkan pada wanita yang sedang mengandung calon dari penerusnya.
Hufff.....Haaa...
Lagi dan lagi Aditya mendengar helaan dan hembusan nafas gusar Adsila.
Kali ini pria itu langsung membuka matanya. Tanpa menoleh, ia mengeluarkan suara.
"Apa yang membuat mu tidak bisa tidur?"
Adsila terkejut, ia pikir pria itu sudah tertidur sejak tadi. Ia melirik kearah sofa.
"Bagaimana dengan mu?" ucap Adsila balik bertanya.
Aditya memalingkan wajahnya kearah Adsila. Wanita ini selalu saja menjawab pertanyaan nya dengan dengan pertanyaan pula.
"Bisa tidak, kau hanya menjawab pertanyaan ku tanpa bertanya lagi?" dengus Aditya.
"Kenapa? "
Huffff.... Kan, dia kembali bertanya lagi. Aditya merasa wanita ini sedang menguji kesabaran nya.
Namun, lucunya. Aditya tidak bisa meluapkan kemarahannya pada Adsila. Ia merasa seakan ada kekuatan yang memaksanya untuk menahan amarahnya pada Adsila.
"Kenapa aku tiba tiba menginginkan sosis" gumam Adsila pelan, namun dapat di dengar oleh Aditya.
Pria itu langsung terlonjak kaget, ia menghampiri Adsila.
"Apa kau ingin memakan sosis??" tanya Aditya antusias. Ia tahu saat ini Adsila tengah mengalami masa ngidam, dan Aditya juga tahu jika wanita hamil dalam masa ngidam tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, maka anak nya nanti akan ileran.
Fakta atau mitos Aditya tidak tahu, yang terpenting baginya, anak nya harus baik baik saja nanti.
"Kau mendengar gumaman ku? padahal aku berbicara sangat pelan" ujar Adsila.
"Oh astaga.... kau hanya tinggal menjawab yah atau tidak. Kenapa berbicara dengan mu menjadi seribet ini???" erang Aditya semakin geram dengan sikap Adsila.
"Benarkah?? tapi aku merasa seperti biasa saja" sahut Adsila semakin memancing emosi.
"Terserah! sekarang kau mau sosis atau tidak???" tanya Aditya menahan emosinya.
Adsila mengangguk cepat.
"Baiklah, aku akan mengambilkan nya untuk mu" ujar Aditya,lalu ia segera bergegas keluar dari kamar menuju ke dapur.
__ADS_1