Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Jangan Sentuh Mama!


__ADS_3

Makan malam telah tersedia. Yati pergi memanggil semua anggota keluarga untuk makan malam.


Tuk! Tuk!


"Siapa?" sahut Adsila dari dalam.


"Nyonya, makan malam nya sudah siap"


"oh baiklah, aku akan segera turun" seru Adsila lagi.


Yati pun mengangguk, dia beranjak menuju ke kamar Lena dan Titi. Dia melakukan hal yang sama pada kedua wanita itu.


Setelah memanggil semua orang, Yati pun kembali ke meja makan.


Sedangkan Adsila, dia menghampiri suami dan putra nya yang tengah bermain.


"Ayo, kita makan malam" ajak Adsila.


Aditya menoleh, dia menarik istri nya ke dalam pelukan nya.


"Makan malam?, Lalu kapan aku akan memakan mu?" ucap Aditya.


Adsila tersipu malu, dia hanya menunduk di hadapan suaminya.


"Malu ih, ada Adit" cicit Adsila berbisik.


Aditya menjadi gemas, dia menggelitik Adsila. Mengecup leher Adsila seperti ingin memakan wanita itu.


"Papa!!!!"


Adit berdiri berkacak pinggang, matanya menatap Aditya tajam.


Aditya melirik istri nya yang juga melirik padanya. Keduanya bingung melihat sikap putranya.


"Ada apa sayang?" tanya Aditya.


Adit mendekat, tangan mungil nya menarik tangan Adsila. Dia membawa Adsila jauh dari jangkauan Aditya.


Pria itu melongo, terheran melihat apa yang baru saja putranya lakukan.


"Mama tidak boleh dekat dekat sama papa. Nanti mama bakalan di makan sama papa!"


"Huh?"


Adsila mengulum senyum, ternyata putranya mendengar apa yang suaminya katakan.


Hal ini bagus untuk Adsila, dia bisa menggunakan putranya sebagai tameng.


"Baiklah sayang, mama juga berpikir begitu. Mama mohon, kamu harus menjaga mama."


Aditya semakin melongo mendengar pembicaraan ibu dan anak itu.


"Sayang..." Sanggah Aditya.


Adsila tidak mendengarkan nya, dia malah semakin berpura pura takut pada suaminya.


"Papa! Jangan dekati mama!" Teriak Adit marah.


"Papa jangan sakiti mama, karena aku tidak akan segan segan menyakiti papa!" Ucap Adit lagi.


Mendengar ucapan Adit barusan, membuat Aditya dan Adsila terdiam. Mereka melongo, bisa bisa nya putranya berpikir seperti itu.


"Nak, mama gak mungkin di sakiti oleh papa. Papa itu sayang sama mama dan juga sama Adit" jelas Adsila meluruskan. Dia tidak mau putranya menjadi orang yang jahat, hanya karena sesuatu yang dia cintai.


"Tidak peduli siapapun, kalau mereka menyakiti mama. Mereka akan berhadapan dengan Adit!"


Adsila tersenyum, dia langsung memeluk putranya.


"Tidak ada yang akan menyakiti kita"ujar Adsila berbisik.


Sedangkan Aditya, dia masih terdiam. Dia mulai sadar, putranya yang masih kecil saja sudah memiliki pemikiran seperti itu. Mengapa dia yang sudah besar, tidak bisa berbuat apa apa ketika Adsila tersakiti. Bahkan dia tidak tahu ketika wanita nya di sakiti oleh ibu tiri nya.


"Eh sudah sudah, ayo kita makan. Kasian kan, yang lain pada nungguin lama" ujar Adsila.


Aditya pun menggendong putranya, dia mencium pipi Adit.


"Papa akan melindungi putra dan juga istri papa"


"Janji?" Adit mengacungkan jari kelingking nya, agar papa nya membuat janji kepadanya.


"Janji"

__ADS_1


Jari mereka saling menaut, barulah Adit mau tersenyum dan membalas kecupan dari papa nya.


"Sekarang, ayo kita makan!" ujar Adsila.


Mereka pun keluar beriringan menuju ke ruang makan. Di sana Lena dan Titi sudah menunggu. Tidak lupa, di sana juga sudah ada Bian.


"Akhirnya kalian turun juga, kami sudah lapar" ucap Lena sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.


Adsila tertawa melihat tingkah adiknya, dia segera duduk dan mengambilkan suami dan putranya nasi.


"Baiklah, mari kita makan"gumam nya.


Di saat mereka tengah asik mengambil makanan, tiba-tiba Hana dan Rangga berteriak membuat keributan.


"Yah!! Tunggu aku!!" Teriak Hana pada Rangga yang sudah berjalan lebih dulu.


"Makanya jangan lamban"sahut Rangga. Dia sudah tiba duluan di meja makan. Tanpa permisi, Rangga langsung mengambil posisi duduk pada kursi yang masih kosong.


Huh..huh..


Nafas Hana tersengal sengal, dia terpaksa berjalan cepat, bahkan sampai berlari ketika ingin mengimbangi langkah besar Rangga.


"aunty Hana" Adit memanggil Hana, lalu mengulurkan segelas air pada nya.


"Sungguh kamu pria sejati, aku bangga memiliki keponakan seperti mu" ungkap Hana sambil mencibir Rangga.


"Terimakasih sayang"ucap Hana lagi.


"Sama sama..." sahut Adit.


Aditya tersenyum bangga pada putranya, dia mengusap pipi putranya pelan.


"Jagoan papa harus baik hati"


"Sudah sudah, ayo Rangga, Hana sekalian makan malam" ujar Adsila , dia mengulurkan piring pada mereka.


Mereka makan dengan lahap, sesekali terdengar gelak tawa dari mereka ketika Rangga atau Hana membuat sebuah lelucon.


Brak!


Sebuah hempasan kuat mendarat di atas meja. Semua yang ada di sana terkejut dan menatap Maya sinis.


"Apa yang telah kamu lakukan?" ucap Titi tegas.


Titi hendak berdiri, namun di tahan oleh Adsila. Wanita itu malah berdiri dan menghampiri Maya.


Dengan senyum sinis, Adsila memegang bahu Maya.


"Permisi mantan nyonya, tidak kah anda mengerti? di mana suami saya meletakkan anda. Maka, itulah anggapan kami terhadap anda!" Jelas Adsila.


Maya tidak terima, dia menarik tangan Adsila dan langsung mendorong nya ke lantai.


"Adsila!" Pekik Hana. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya. Lalu membantu Adsila berdiri.


"Apa yang kau lakukan Maya. Apa kau tidak berpikir ini akan menyakiti Adsila!" Ucap Hana dengan marah.


Adit ikut berdiri, dia mengambil gelas kaca. Lalu melemparnya pada Maya. Beruntung Maya bisa menghindarinya.


Prank!


"Berhentilah menyakiti mama. Aku peringatkan kamu nenek lampir!" Tegas Adit.


Maya tidak peduli, dia hendak menampar Adsila lagi.


"Wanita rendah seperti dia, tidak pantas menjadi nyonya di rumah ini!"


"Sudah cukup!" Teriak Aditya tegas. Dia menahan tangan Maya, memelintir tangan tua itu.


Aditya mendorong Maya menjauh dari istri nya, matanya menatap tajam.


"Aku sudah berbaik hati membiarkan Anda tinggal di rumah ini. Tapi, sikap anda sungguh memalukan!" Tambah Aditya.


Setelah berkata seperti itu, Aditya menghampiri istri nya. Memeriksa apakah istri nya terluka atau tidak.


Acara makan malam jadi berantakan, mereka masih belum menghabiskan makanan nya.


Titi menghela nafas berat, menetralkan dirinya dari emosi yang hendak meluap.


Berbeda dengan Lena, sejak tadi tatapan gadis itu tertuju pada wanita tua itu.


Tanpa ada yang menyadarinya, Lena berjalan kehadapan Maya.

__ADS_1


"Lena?" Gumam Titi. Mereka semua terkejut melihat Lena sudah berdiri di hadapan Maya. Ekspresi wajah nya sangat dingin.


"Anda emang lebih tua dari ku, tapi sikap mu sungguh tidak bisa di tolerir lagi. Aku tidak masalah mendapat dosa besar, karena sudah melawan orang tua seperti mu! Karena kamu sudah membuat kakak ku banyak menderita!" Ucap Lena dengan kedua tangan mengepal.


"Sudah Lena, kamu tidak perlu menghabiskan tenaga untuk melawan nya" ujar Aditya.


"Tidak!. Wanita seperti dia, tidak bisa di diamkan lagi. " Bantah Lena. Dia berbalik menghadap pada Aditya.


"Karena selama ini kakak diam kan, makanya mereka melunjak dan terus mencoba menyakiti kakak ku!" Lena kembali berbalik menatap Maya.


Tangan Lena bergerak mencengkram dagu Maya.


"Aku bukan Aditya Dairon, aku Lena! Adik nya Adsila. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti keluarga ku!" ucap Lena penuh penekanan.


Gadis remaja itu melepaskan cengkraman nya dari dagu Maya. Kemudian berlalu begitu saja dari sana.


"Dasar, anak sialan" dengus Maya.


"Kau yang sialan!"balas Titi marah. Kini giliran dia yang akan memberikan wanita itu pelajaran.


Saat hendak mendekati Maya, tiba-tiba Titi di dorong oleh Jasmin.


"Jangan sakiti mama ku!" Teriak nya sambil memeluk Maya.


Semua orang hanya menatap mereka jengah. Adsila memeluk putranya, lalu membawa nya meninggalkan ruang makan.


Sebelum pergi, Adsila menyempatkan untuk memberikan perintah.


"Jangan beri mereka makan, kecuali mengerjakan tugas seorang art!"titah Adsila dia juga memperingatkan nya.


"Menghilangkan mood makan ku saja" dengus Hana, dia pergi menyusul Adsila. Begitu juga dengan Rangga, Bian, dan Titi.


Kini hanya tersisa Aditya sendiri di ruang makan itu. Dia menatap Maya dengan tatapan tidak suka.


"Aditya, kenapa kamu lakukan semua ini sama mama?" Lirih Maya mencari simpati Aditya. Dia bahkan menangis di dalam pelukan Jasmin.


"Iya kak, padahal dulu kakak Sanga menyayangi mama"tambah Jasmin.


Aditya tersenyum miring, dia tahu niat Maya ingin mendapat simpati dari nya.


"Seperti nya aku harus mengingatkan kamu tentang satu hal!" Jeda Aditya, dia menatap wajah Maya terlebih dulu.


"Siapa yang telah membunuh ibu ku, siapa yang mencoba mengakhiri nyawa janin Adsila, siapa yang mencoba mengambil alih harta papa??? Apa kau tidak ingat siapa yang melakukan nya?? Apa kau lupa?" Tekan Aditya di setiap pertanyaan nya.


"Tapi, itu tidak benar Aditya. Aku adalah ibu kandung mu"


"Diam! Kau tidak pantas di panggil dengan sebutan ibu!" Bantah Aditya.


Prank!!!


Sekali sapuan tangan Aditya, semua piring dan mangkuk kaca di atas meja, melayang ke udara dan terhempas ke lantai.


Maya dan Jasmin kaget, mereka tidak menyangka bisa melihat Aditya marah.


"Jika kalian tidak mau menjadi art, maka silahkan pergi dari rumah ku!" tegas Aditya.


Setelah mengatakan itu, Aditya pun pergi meninggalkan ruangan makan. Dia bergabung bersama keluarga yang lain.


Mereka berkumpul di ruangan keluarga. Hana duduk di samping Rangga, Titi di samping Bian, sedangkan Adsila bersama putranya. Lalu Aditya pun duduk di samping istri nya.


"Kamu tidak apa apa?"tanya Aditya dengan tatapan mata khawatir.


"Papa lemah! Kenapa papa diam saja, ketika mereka menyakiti mama!" ucap Adit memprotes. Dia tidak suka papa nya yang lamban. Berbeda dengan Bobi, pria itu selalu bertindak cepat jika Adsila di ganggu oleh orang lain.


"Maafkan papa sayang"


Adit tidak memperdulikan nya, dia malah memeluk mama nya erat.


Aditya menunduk, dia merasa sangat salah di hadapan keluarga nya.


"Papa memang tidak becus" lirih Aditya menyesal.


Semua orang menatap haru, melihat seorang anak yang tengah memarahi papa nya.


"Aku aneh deh, mengapa kalian masih menampung mereka. Sudah jelas mereka tidak baik!"omel Hana.


"Tau ah, sudah jelas ular itu licin, masih juga di bawa masuk ke dalam kerajaan."dengus Rangga.


"Tidak bisa, mereka memiliki hak tinggal di rumah ini. Tuan besar menjelaskan hal itu di dalam surat wasiatnya" jelas Bian buka suara, sejak tadi dia hanya diam saja, memperhatikan mereka semua yang sudah panik di buatnya.


"Benarkah? Apa karena itu tuan membiarkan mereka tinggal di sini?" ujar Titi.

__ADS_1


Aditya mengangguk, dia hanya terpaksa membiarkan Maya tinggal di rumah nya. Hingga Aditya mendapat bukti dan akan membatalkan syarat itu. Dia akan mengambil semua hak pakai Maya di semua harta keluarga milik nya.


__ADS_2