
Bian dan Rangga tiba di lokasi, tempat wisata yang Aditya dan Adsila kunjungi.
" Di mana mereka?" gumam Bian.
Dengan malas, Meraka mencari kebun Apel dan jeruk yang Aditya beritahu.
"Huh, impian ku untuk bersantai telah sirna" lirih Rangga.
"Sudahlah, syukuri aja hidup mu yang sekarang" ujar Bian.
Kedua pria itu menemukan kebun apel dan jeruk. Keduanya celingak celinguk mencari Adsila dan juga Aditya.
Dari arah kanan, tepatnya di sebelah deretan pohon apel merah tumbuh. Adsila dan Aditya memanggil mereka
"Bian!!!! Rangga!!!!" teriak Adsila.
Kedua pria itu pun menoleh, melihat Adsila melambaikan tangan kearah mereka.
"Oh tuhan, apa lagi yang wanita hamil ini inginkan" gumam Bian dalam hati.
"Lama sekali! apa saja yang kalian lakukan!" tegas Aditya.
"Maaf boss, jalanan macet" jawab Rangga beralasan.
"Ah sudah sudah, jangan bertengkar" Adsila menarik tangan Bian dan Rangga. Membawa kedua pria itu ke bawah pohon.
"Umm...Bian, Rangga, apa kalian bisa melihat apel itu?" ucap Adsila menunjuk keatas.
"Oh tidak, jangan sampai dia meminta kami mengambil apel yang terletak di ujung dahan" pikir Bian menatap horor pada apel yang Adsila tunjuk.
"Yah, aku melihat nya Adsila. Kenapa dengan apel itu?" tanya Rangga, dia masih belum bisa menebak apa yang Adsila inginkan.
Berbeda dengan Bian, dia perlahan lahan beringsut ingin kabur. Tapi dia lupa, ada Aditya di belakang nya.
"Hei, mau kemana?" cegat Aditya.
"Umm...Gak kemana mana kok boss..Hehe.."
"Kau mau kabur Bian?" Bian menggeleng cepat.
"Tidak Adsila, aku tidak mungkin melakukan itu"
"Benar, mengapa dia melakukan itu" sahut Rangga polos.
Adsila tersenyum, dia senang jika kedua anak buah boss nya mau membantunya.
"Kalau begitu, kalian siap kan?"
"Apa?" tanya Rangga menatap Adsila bingung.
"Adsila, jangan bilang kau ingin aku dan Rangga mengambil apel itu?" tebak Bian. Ucapannya itu tentu membuat Rangga terkejut, sedangkan Aditya hanya bisa menutup mulutnya. Menahan tawa yang ingin segera terlepas.
"Hah? mengambil apel itu?" ucap Rangga menunjuk apel tersebut.
"Yah, kenapa? apa kalian tidak mau?" raut wajah Adsila langsung berubah sedih.
Bian langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak bermaksud menolak permintaan Adsila.
"Bukan begitu Adsila, tapi mengapa yang itu? masih banyak apel yang bisa kau makan, lebih mudah di ambil"
"Tapi aku mau yang itu Bian!"
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah. Aku akan memanggil petugas untuk mengambilkan apel itu untuk mu." Rangga bergerak hendak memanggil petugas. Tapi, lagi lagi Aditya mencegah anak buahnya.
"Jika Adsila ingin di ambilkan oleh petugas, maka sejak tadi sudah aku panggilkan. Aku tidak mungkin repot repot memanggil kalian ke sini!"
"Lalu, harus bagaimana?"tanya Rangga frustasi.
"Dia ingin, kalian mengambil nya langsung menghubungi tangan kalian"
"What???" ucap Rangga dan Bian secara bersamaan.
Bian mendekati Adsila, memegang tangan Adsila.
"Adsila, apa kau sudah bosan melihat ku bekerja di rumah itu? kenapa kau malah ingin membunuh ku?"
."Iya Adsila, apel itu sangat tinggi. Mana mungkin kami bisa. letaknya juga di ujung" sahut Rangga ikut memohon pada Adsila.
"Maaf Bian, Rangga. Tapi bukan aku yang menginginkan nya. Dialah yang memaksaku untuk begini" Adsila mengusap perutnya.
Tidak bisa di bantah lagi, meskipun sudah memohon dan membuat drama. Pada akhirnya Bian dan Rangga berakhir memanjat pohon.
"Sedikit lagi Bian!!!! sedikit lagi!!!! Rangga injak dahan nya lebih kuat lagi!!!!"
"in..ni sangat sulit!!!" Bian terus mencoba menggapai apel yang Adsila inginkan.
Sedangkan Rangga menginjak dahan apel, agar sedikit rendah dan dapat di gapai oleh Bian.
"Terus Bian!!! Rangga!!!!!!" sorak Adsila dari bawah.
Aditya mendekat, memeluk pinggang Adsila.
"Eh tuan" kaget Adsila ketika merasakan tangan Aditya di pinggangnya.
"Jangan terlalu melompat lompat, bayi nya bisa terguncang nanti" bisik nya. Adsila mengangguk, dia kembali bersorak tapi tidak melompat lompat.
Bian berhasil meraih apel itu, lalu mereka bersiap untuk turun.
Prak!
Rangga menginjak dahan yang rapuh, membuat tubuhnya tidak seimbang dan merosot ke bawah.
"Eh eh Rangga, tunggu, aku belum tu-"
"Hati hati!!" teriak Adsila dari bawah.
"Ahhhh......"
Slerrtt.....
Bruk!
Bian dan Rangga jatuh ke tanah, posisi mereka saling berhimpitan. Bian di bawah, dan Rangga di atasnya.
"Astaga, aku sudah bilang. Hati hati! kenapa kalian tidak mendengarkan aku!"
"Aduhhh.... Pinggang ku" rengek Rangga.
"Bokong ku.., sahut Bian"
Adsila berlari kecil mendekati mereka. Membantu kedua pria itu berdiri.
"Mana apel ku?" tanya Adsila.
__ADS_1
Bian memberikan apel nya pada Adsila, beruntung tidak terhimpit atau terjatuh dari genggaman tangan nya.
Entah apa yang akan terjadi ,jika apel itu tidak selamat.
Adsila tampak senang, dia mendapatkan apel yang ia inginkan.
"Kerja yang bagus" Aditya menepuk pundak kedua anak buahnya dengan bangga.
"Andai saja dia tidak hamil, Sudah ku pastikan dia menerima balasan nya!" gerutu Rangga. Dengan setengah membungkuk, pria itu berjalan mengikuti boss dan wanita boss.
Setelah bersenang senang di taman wisata itu. Aditya membawa Adsila ke tempat bersantai.
Bukan hanya mereka berdua saja, tapi Bian dan rangga juga ikut.
"Tuan, apa boleh aku pergi sebentar? aku ingin ke toilet" ucap Adsila minta ijin pada Aditya.
"Biar aku temani"
"Tidak tuan, aku bisa sendiri. Hanya ke toilet saja" tolak Adsila.
"Tidak Adsila, aku tidak akan membiarkan mu pergi ke toilet sendiri!" tegas Aditya tak terbantahkan.
"Tapi tuan, aku kan hany-"
"Sudah lah Adsila, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada mu! jadi tolong jangan bantah ucapan ku!"
Hufff...
Adsila menghela nafas pasrah. "Baiklah, ayo"
"Ada yang aneh gak sih?" bisik Rangga pada Bian setelah kepergian boss dan Adsila.
"Apa?" balas Bian acuh.
"Bian, apa kau tidak merasa boss sedikit berbeda akhir akhir ini?"
"Kenapa memangnya?"
"Lihat lah Bian, boss lebih memperhatikan Adsila sekarang, bahkan sedikit berlebihan"
Bian menatap Rangga jengah, ia baru sadar betapa bodohnya Rangga saat ini.
"Kau memang bodoh, aku tidak tahu mengapa kau bisa membantu boss di kantor!"
"Apa maksud mu Bian! kau mengatai ku bodoh???" Rangga malah terpancing emosi.
"Kau mengatakan hal itu aneh, apa kau lupa? anak yang di kandung Adsila adalah anak boss! apa kah aneh jika dia memperhatikan ibu dari anak itu???"
"Oh iya ya" gumam Rangga tercengir.
Oh astaga, ingin rasanya Bian mengunyah otak yang ada di dalam kepala Rangga.
"Kau benar benar bodoh!" cibir Bian.
"Kau juga!" sahut Rangga memalingkan wajahnya. Dia malah memilih menikmati hidangan yang boss nya pesan.
Sementara selesai membuang air kecil, Adsila keluar dari bilik toilet, kemudian mencuci tangan nya di wastafel.
Brak!
Tiba tiba pintu salah satu bilik toilet terhempas sangat kuat.
__ADS_1
"Astaga!" pekik Adsila kaget, dia berbalik melihat apa yang terjadi di sana.
Ketika melihat siapa yang berada di belakang nya, kedua mata Adsila membola besar.