
Di rumah besar, Ria dan Bobi menunggu kepulangan Adsila. Ibu dan anak itu terlihat cemas, karena Adsila pergi terlalu lama.
Adsila menggendong Adit yang sedang tidur. dia terkejut melihat Bobi dan Ria duduk di sofa.
"Kamu sudah pulang?" Bobi segera berdiri, menghampiri Adsila. Ria pun ikut berdiri.
"Loh, kak Bobi. Mama, ada apa? kenapa mengumpul begini?" tanya Adsila dengan ekspresi wajah bingung.
"Kami menunggu kamu nak" jawab Ria.
Adsila mengangkat alis, dia penasaran mengapa mereka menunggu dirinya.
Sebelum berbicara, Adsila pergi ke kamar nya terlebih dahulu. Mengantar putranya yang sedang tidur.
Setelah mengantar Adit ke kamar, Adsila kembali ke ruang tengah. Menemui Ria dan Bobi.
"Ma..Kak" lirih Adsila. Dia duduk di samping Ria.
Bobi yang masih berdiri, ikut duduk di depan mereka.
"Sebenarnya kamu ngapain sih Adsila, setiap akhir pekan selalu pergi ke pasar?"
Adsila menatap Bobi, dia menyiapkan jawaban apa yang harus dia berikan.
"Iya nak, Sebenarnya ada apa?"imbuh Ria.
Huff...
Adsila menatap mama angkatnya, meraih kedua tangan mama nya.
"Sebelumnya aku minta maaf sama mama, Kak Bobi juga. "
"Sebenarnya, aku datang ke pasar untuk menemui keluarga ku. Setelah aku melahirkan, aku bertemu mereka di sana. Karena sudah kembali normal seperti wanita biasa, aku bisa menemui mereka" Adsila menghapus air mata nya yang tanpa di perintahkan mengaliri pipi nya.
"Nak.." Ria memeluk nya, berusaha membuat putri nya tetap tegar.
"Hari ini, aku baru saja mengungkapkan semuanya. Keluarga ku sudah tahu tentang perjalanan ku, aku sudah mengatakan sejujurnya pada mereka" sambung Adsila.
"Jadi, siapa ayah Adit?"
Deg.
Adsila terdiam lama, dia tidak bisa mengatakan nya sekarang.
"Maaf..." lirih Adsila.
Bug.
Bobi memukul meja, dia kembali menelan rasa penasaran nya.
"Baik lah, jika aku tidak boleh tahu. Tapi jujurlah Adsila, apa kau tidak mau menikah dengan ku? "
"Kak..Kita itu kan-"
__ADS_1
"Stop Adsila, aku tidak mau mendengar jawaban itu. Kau dan aku tidak saudara! ingat itu!" potong Bobi.
Adsila menoleh pada Ria, meminta agar wanita itu membantu nya untuk menjelaskan pada Bobi.
Namun, Ria malah menggeleng pelan. Dia tidak mau menolong Adsila.
"Tidak sayang, mama setuju dengan Bobi. Tolong putuskan sekarang juga. Bobi sudah menunggu 3 tahun" ucap Ria.
Deg.
Jantung Adsila terasa seperti di remas, dia merasa seperti disudutkan oleh kenyataan.
Memang benar, sudah 3 tahun Bobi menunjukkan kesukaan nya pada Adsila. Namun, Adsila tetap diam, dia tidak menolak ataupun menerima.
"Maaf, ma. ka, tapi aku belum bisa-"
"Bisa apa Adsila? menerima orang lain di hati mu? memangnya kau mencintai ayah Adit? bukan kah kau mengatakan hal ini adalah sebuah kecelakaan?"
Blam.
Lagi lagi Adsila merasa tubuhnya terhempas oleh kenyataan.
Adsila tidak menjawab pertanyaan Bobi, dia malah menangis terisak.
Sejujurnya Adsila sangat bingung dengan perasaannya sendiri.
Dia tidak tahu, apakah hatinya menyukai Aditya, atau tidak. Tapi, yang jelas bagi Adsila adalah, dia saat ini masih belum bisa membuka hatinya.
"Adsila" panggil Bobi. Pria itu mendekati nya, lalu memeluknya.
"Maaf..."lirih Adsila. Hanya itu yang bisa dia ucapkan.
Sedangkan Ria, dia hanya bisa memalingkan wajah. Dia sama seperti Bobi, tidak tega melihat Adsila menangis seperti itu.
...----------------...
Aditya masuk ke dalam kamar nya. Dia menghempas begitu saja, merentangkan kedua tangan dan kakinya.
Mata tajam nya menatap lurus keatas langit langit kamar.
"Adsila, sebegitu benci kah kamu pada ku? kenapa kau tidak mau bertemu dengan ku lagi?" Aditya teringat pada ekspresi wajah Adsila ketika dirinya menculik mereka di halte.
"Huh...Maafkan aku Adsila" lirih nya pelan. Lalu tanpa sadar, Aditya tertidur di atas ranjang. Hatinya remuk, hancur, ketika melihat tatapan benci Adsila padanya.
Ketika dalam tidurnya, Aditya merubah posisi tidur menjadi miring. Terlihat kristal bening mengalir dari sudut matanya. Pertanda Aditya sedang menangis.
Sementara di apartemen sebelah. Bian tengah duduk termenung. Setelah bertemu dengan Titi, Bian malah semakin banyak beban pikiran.
Sejak tadi terdengar helaan nafas berat, pertanda Bian sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang sedang kau pikirkan Bian?" Rangga muncul dari balik dapur.
Bian tak menoleh, dia juga tak menjawab pertanyaan Rangga.
__ADS_1
"Nih" Rangga meletakkan sepiring nasi goreng spesial di depan Bian.
"Aku tidak lapar!" tolak Bian. Padahal dia belum ada makan seharian ini.
"Kau pikir, dengan kau tidak makan apapun, masalah mu akan selesai?"
"Sudah lah, jangan ganggu aku. Aku lagi sedang tidak mood!"
Rangga menjadi kesal, dia tidak mengganggu Bian. Tetapi dia ingin berbagi cerita.
"Kita sudah kenal berapa tahun sih Bian? kau selalu memendam masalah mu sendiri!" dengus Rangga.
"Kau tidak akan mengerti" ujar Bian.
Rangga mengerucutkan bibirnya, dia duduk di samping Bian.
"aku tidak akan mengerti jika kau tidak mau menjelaskan nya!"
Hufff...Ha..
"Cerita lah" ucap Rangga lagi.
Bian menoleh, menatap Rangga lama. Seperti nya dia tengah meyakinkan dirinya untuk bercerita dengan Rangga.
"Percayalah pada ku" ujar Rangga meyakinkan.
Fyuu..
Akhirnya Bian menyerah, dia memperbaiki posisi duduknya menghadap ke Rangga.
"Sebenarnya aku pusing memikirkan bagaimana cara Adsila dan boss itu kembali bersatu!"
"What???" kedua mata Rangga terbelalak. Bagaimana mungkin Bian repot repot menyatukan orang yang tidak saling mencintai.
"Aku sudah menebaknya, kau pasti terkejut" lenguh Bian kesal, dia kembali ke posisi awal.
"Bukan begitu Bian, aku terkejut dengan niat mu. Dengar yah, orang yang bisa menyatu itu, hanya orang yang saling mencintai"jelas Rangga.
"Mereka itu saling mencintai, hanya saja waktu nya saja yang belum tepat. Sama seperti Layla ketika ingin ulti. Tapi Malah di pukul oleh Jhonson menggunakan kapak nya" ucap Bian mengumpamakan dengan Hero MLBB.
Rangga menggeleng, dalam pembicaraan seperti ini. Bian masih sempat mengguncang perumpamaan seperti itu.
"Kau tahu dari mana jika mereka saling mencintai?"
"Huh, Rangga. Kau tidak memperhatikan boss selama ini? lihat Weira sudah kembali. Tapi Boss tidak tertarik lagi pada nya. Boss masih menunggu Adsila dan putranya!"
"humm...Benar juga sih" balas Rangga.
"Dan masalah yang lebih besarnya adalah, bibi Adsila adalah wanita pujaan hati ku! bagaimana aku bisa tenang, jika masalah ini belum kelar!" ungkap Bian dengan raut wajah yang menyedihkan.
Sedangkan Rangga, dia malah terkejut dan heran. Bagaimana mungkin semua ini secara kebetulan.
"Jadi, Titi adalah bibi Adsila?" gumam Rangga. Bian mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Dunia memang sempit Bian" lenguh Rangga. Dia tidak memiliki ide apapun, membayangkan betapa garang nya Titi, membuat Rangga bergidik ngeri dan segala pemikiran nya bisa hilang di telan rasa takut.
"Kau tidak memiliki pemikiran lain kan" dengus Bian menatap Rangga kesal.