
Di rumah besar keluarga Dairon, Jasmin melangkah masuk ke dalam rumah, mengabaikan Maya yang terus memanggil namanya.
"Jasmin! Kamu kenapa gak dengerin mama sih!"
Maya menarik tangan Jasmin, sehingga membuat Jasmin berbalik menghadap pada nya.
"Apa lagi sih ma"
"Kamu itu kenapa sih, kenapa malah marah sama mama!"
"Mau gimana ma, mama liat kan, kak Aditya tidak mau mengakui aku sebagai adik nya." Ucap Jasmin tidak habis pikir. Kenapa nasib nya begitu buruk.
"Ma, mama jujur sama aku. Apa sebenarnya yang terjadi di keluarga kita? Kenapa kakak tidak mau mengakui aku. Jujur mama!" Desak Jasmin menatap mama nya penuh harap.
Sedangkan Maya, malah tidak bisa berkata apa apa. Entah apa yang sedang wanita tua itu sembunyikan.
"Sudah lah, kau harus istirahat "
Maya malah berlalu meninggalkan Jasmin begitu saja.
"Ma! Mama!!! Jawab aku ma!" Teriak Jasmin. Namun, Maya tetap berlalu begitu saja.
"Arrgg.... " Jasmin mengerang marah, air mata terus mengalir di pipi nya. Permasalahan keluarga nya masih menjadi tanda tanya di pikiran nya.
Satu satu nya orang yang tahu permasalahan keluarga nya adalah Bian. Yah, Bian. Pria itu sudah bekerja di rumah ini sejak lama, sejak dirinya belum lahir.
Jasmin berniat akan mencari tahu semuanya melalui pria itu.
"Dia pasti mau menjelaskan pada ku. Harus mau" gumam Jasmin sambil menghapus air matanya. Dia merasa ada harapan untuk mengetahui siapa dia sebenarnya.
**************
Sementara di kantor nya, Aditya tidak fokus bekerja. Pikiran nya terus di Hantui oleh bayangan Adsila. Wanita polos yang tidak bersalah.
"Pantas saja, kau tidak membantah ku. Kau ingin pergi dari sisi ku. Dan bodoh nya aku, malah menyalahkan mu tanpa menyelidiki nya " gumam Aditya dalam hati.
Kini, hati nya di selimuti oleh rasa bersalah. Penyesalan yang entah apa makna nya.
"Ah, kenapa aku malah memikirkan dia terus" tepis Aditya, dia berusaha menghalau pikiran tentang Adsila.
"Boss, ini dokumen nya"
"Aakk..." Teriak Aditya terkejut. Rangga pun ikut berteriak melihat reaksi boss nya yang berteriak juga .
"Hiss Rangga, kenapa kau datang secara tiba-tiba!" Omel Aditya sembari mengusap dada nya.
" Huh? Boss, apa anda tidak mengetahui kehadiran saya sejak tadi?"
"Memangnya kau sejak kapan masuk? Apa kau tidak punya sopan santun? Sebelum masuk itu, ketuk pintu dulu!"omel Aditya lagi. Entah mengapa dia malah semakin cerewet sekarang.
"Boss, aku mengetuk pintu sejak tadi. Aku juga memanggil mu sejak tadi. Dan entah mengapa kau malah terkejut mendengar panggilan ku barusan!"
"Huh, sudah lah. Apa tujuan mu datang ke ruangan ku!"
Rangga menghela nafas, menghalau emosi yang muncul secara spontan dari perdebatan nya dengan Aditya.
Lalu, Rangga kembali menyodorkan dokumen yang dia bawa tadi ke hadapan Aditya.
" Ini boss, staff keuangan membutuhkan tanda tangan anda boss. Mohon di periksa dulu" ujar Rangga menjelaskan.
Aditya melihat isi dokumen itu, lalu dia langsung memberikan tanda tangan nya.
__ADS_1
"Sudah!" Ucap Aditya.
"Terimakasih boss, Um...Bos melamun memikirkan apa? " Tanya Rangga penasaran, jiwa kepo nya mulai merasuki jiwa nya.
"Aku tidak melamun!" Sangkal Aditya berbohong, dan Rangga tahu itu.
"Hiss... Boss ini, kaya kita baru kenal aja" cibir Rangga, lalu ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Aditya.
Kepergian Rangga, di gantikan dengan kehadiran Bian. Sejak Adsila pergi, Bian jadi sering mengunjungi kantor Boss nya.
"Hey bro" sapa Bian pada Rangga.
"Hey...." Balas Bian mengangkat tangan nya, sikap mereka mulai seperti biasnya. Hanya saja, sikap Aditya mulai berubah. Mood nya sering berubah ubah. Sudah seperti wanita hamil saja, kadang baik, kadang malah gampang marah.
Bian duduk di sofa, dia datang ke kantor Aditya hanya ingin melepas rasa bosan nya.
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Aditya bernada lembut. Jika seperti ini, biasanya boss nya ada mau nya.
"Seperti biasa boss, saya bosan di apartemen. Menjaga barang barang mu yang mustahil akan hilang" jawab Bian asal.
Aditya bergerak menghampiri Bian, dia duduk di depan sofa yang di tempati Bian.
Dari gerak gerik Aditya, pria itu tengah menyusun pertanyaan yang mungkin sungkan ia tanyakan.
"Jika Boss ingin bertenya atau membicarakan sesuatu pada ku. Katakan saja, aku pasti akan mematuhi mu dan melaksanakan apapun yang kau perintahkan" ucap Bian.
Aditya mengangguk pelan, dia tahu pasti soal itu. Di antara semua anak buah nya, hanya Bian dan Rangga yang paling setia. Tidak bisa di ragukan lagi soal itu.
"Umm...Apa Adsila pergi jauh?"
Bian tersentak, boss nya tiba tiba membahas Adsila.
"Kenapa boss? Apa kau ingin bertemu dengan nya?"
"Umm....Aku hanya tidak enak, memarahinya dan mengusirnya secara tidak hormat. Kau tahu sendiri apa permasalahan aku dan dia sebelum nya kan?" Jelas Aditya agar Bian tidak salah paham.
"Jadi kau ingin menemui Adsila boss? " Sahut Rangga daribarah pintu, dia mendengar semua yang Aditya ucapkan.
Prok!!!! prok!!!
Aditya mengerut kesal, si tukang berisik dan hebo tidak jelas sudah datang.
"Boss, aku sangat senang. Akhirnya kau dan Adsila kembali bersatu!" ujar Rangga senang, dia duduk di samping Bian.
Tawa Rangga seketika terhenti, berubah menjadi raut ketakutan. Ketika dia melihat tatapan tajam dari boss nya. Rangga mulai sadar, jika dia sudah kelewat batas.
"Maaf boss" cicit nya sambil menutup mulutnya.
Aditya mendengus kesal, lalu dia kembali menatap pada Bian yang sejak tadi hanya diam.
"Bagaimana Bian, apa kau bisa membaw aku bertemu dengan nya? Aku hanya ingin meminta maaf pada nya"ujar Aditya.
"Aku tidak Maslaah boss, aku tentu mau membawa mu bertemu dengan nya!"jawab Bian.
"Aku juga ikut" ujar Rangga mengacungkan tangan nya.
"Kau hanya akan membuat keributan, kau tidak perlu ikut!" Ucap Aditya.
Rangga langsung berdiri, berpindah duduk ke sisi Aditya.
"Boss, aku juga merindukan Adsila. Aku ingin bertemu dengan nya. Aku ingin meminta maaf karena tidak bisa membela nya kemarin!"rengek Rangga seperti anak kecil.
__ADS_1
Jika di lihat dari wajah dan postur tubuhnya. Orang orang tidak akan menyangka Rangga bertingkah seperti sekarang.
"Huh...Terserah kau saja!" Dengus Aditya pasrah, membuat Rangga senang.
_____________________
Hari itu juga, setelah makan siang kantor. Aditya mengajak Bian untuk mengantarnya ke tempat tinggal baru Adsila.
Mereka pergi bertiga, dengan Rangga menjadi supir mereka.
"Yakin Bian? Dia tinggal di perumahan elit ini?" Tanya Rangga ketika mengemudi mobil masuk ke dalam perumahan.
"Tentu saja, aku tidak mungkin berbohong Rangga. Dia menempati rumah yang sudah aku beli, tapi tidak aku tempati" jawab Bian.
Aditya hanya memperhatikan dari belakang, dia meneliti setiap rumah yang mereka lewati.
"Apa masih jauh?" Tanya Rangga.
"Tidak, kau cukup berhenti di depan rumah no 10 itu" tunjuk Bian pada rumah minimalis berwarna abu abu kombinasi dengan hitam, ber nomor 10.
Mereka pun keluar dari mobil, mengikuti Bian masuk ke dalam rumah.
"Wah, hebat juga kau yah. Gaji mu tidak terbuang sia sia" ungkap Rangga memuji kepintaran Bian dalam pengelolaan keuangan nya.
Ini lah yang membuat Aditya malas membawa Rangga. Terlalu banyak omong dan sangat berisik.
Tuk!!! Tuk!!!
Bian mengetuk pintu rumah, karena sudah di tempati oleh Adsila, jadi mereka harus menjaga privasi Adsila sebagai tuan rumah.
Tuk!!! Tuk!!
Untuk ke sekian kali, Bian mengetuk pintu rumah Adsila.
"Bagaimana? Apa dia tidak di rumah? " Tanya Aditya penasaran.
"Seperti nya dia sedang keluar tuan" jawab Bian.
"Yahhh, padahal aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adik cantik ku!" Gumam Rangga mendesah kesal.
"Eh tuan tuan tampan, apa yang kalian lakukan di rumah kosong itu?" Tanya seorang wanita dengan logat genitnya .
Bian dan kedua pria itu berbalik, menoleh pada wanita yang pantas di panggil Tante.
"Kosong? Bagaimana mungkin rumah ini kosong?" Ucap Bian menyangkal ucapan wanita itu. Sudah jelas Adsila tinggal di sini.
"Tuan tampan ini tidak percaya banget, rumah ini kosong, memang sih, pernah di tempati oleh seorang wanita muda, tapi hanya selama 2 hari saja"
"Lalu, kemana wanita itu?" Tanya Aditya.
"Aku tidak tahu, yang jelas dia pergi pagi pagi sekali "jelas wanita itu.
"Huh, tidak mungkin . Adsila sudah jelas mengatakan dia akan tinggal di sini. Kenapa dia malah pergi?" Gumam Bian .
"Ya sudah yah tuan tampan, aku mau ke warung dulu. " Wanita itu berlalu pergi .
"Ihh kok aku geli yah, liat Tante Tante genit begitu!" Ucap Rangga menggelinjang geli. Bulu kuduknya seketika berdiri melihat lenggak lenggok Tante itu.
Sedangkan Aditya, dia malah terdiam, memikirkan kemana wanita itu pergi.
"Dia sudah pergi Bian" lirih Aditya senduh.
__ADS_1
Setelah memeriksa isi rumah itu, memastikan Adsila benar benar sudah pergi. Barulah mereka pergi meninggalkan rumah minimalis Bian.