Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Ada apa dengan Wanita itu?


__ADS_3

~🍒Hallo reders semuanya, selamat membaca yah. Terimakasih sudah mampir. Semoga ceritaku bisa menghibur kalian semua.


Jangan lupa tinggalkan jejak yah.



Like


Comment


Kasih bintang lima😘



...~happy reading~...


Pagi itu, Adsila bangun dari tidur nya. Ia merasa tubuh nya sangat berat, kepala nya pusing dan perutnya terasa tidak nyaman.


Sesekali Adsila memejamkan matanya, untuk menghalau rasa pusing yang menghampiri kepalanya.


"Ada apa ini? kenapa tubuh ku mendadak meriang?" pikir nya.


Adsila berusaha untuk bangun, ia menurunkan kaki nya menjejaki lantai, lalu duduk di tepi ranjang.


Meskipun pusing, Adsila tetap memaksa dirinya untuk bangun.


Adsila berjalan sempoyongan ke kamar mandi, tangan nya meraba raba ke dinding untuk mencari pegangan.


"Huh, pasti dia mulai drama" cibir Dewi.


Adsila tidak menghiraukan nya, ia lebih fokus ke jalan nya yang terasa goyah.


Setelah berhasil masuk ke kamar mandi, Adsila mencoba untuk mandi. Tapi, tubuh nya terasa menggigil ketika menyentuh air.


"Astaga, apa aku demam???" pikir Adsila lagi. Ia akhirnya memutuskan untuk mencuci muka saja, lalu membasahi baju yang ia pakai tadi. Untuk mengelap tubuhnya.


Agar tidak merasa terlalu dingin, Adsila mencampur air mandinya dengan air hangat.


"Aku harus berkerja "


Setelah beberapa menit bersiap. Adsila memaksa dirinya untuk keluar dari kamar. Tak lupa, ia memasukkan minyak telon ke dalam saku celana nya.


Dalam keadaan yang lemah, Adsila tetap memaksa dirinya bekerja.


Wajah nya yang pucat, memperlihatkan bahwa dirinya sedang sakit.


Hari ini adalah hari Minggu, banyak orang di rumah ini. Para supir masih berada di rumah, Jasmin dan Maya juga berada di rumah.


Yang paling berbahaya itu adalah, Aditya. Pria itu selalu di rumah di hati Minggu. Hanya sesekali saja Aditya pergi keluar, itu pun Weira yang mengajak nya.


Karena semalam Adsila sudah membereskan seluruh ruangan di rumah. Jadi, hari ini ia hanya membereskan taman belakang.


"Adsila, kamu terlihat tidak baik baik saja" ucap Bian menghampiri nya. Pria itu tampak khawatir, ia takut terjadi apa apa dengan Adsila.


"Tidak tuan, saya baik baik saja" jawab Adsila. Ia berusaha untuk tersenyum agar terlihat baik baik saja.


"Tapi, wajah kamu terlihat sangat pucat Adsila"

__ADS_1


Adsila menggeleng, ia membungkuk memberi hormat pada Bian pamit melanjutkan pekerjaan.


Langkah kaki Adsila terlihat tidak seimbang. Dirinya persis seperti orang mabuk berjalan.


"Kuat, harus kuat. Kenapa aku mendadak menjadi lemah seperti ini!" Adsila berusaha untuk memperjelas penglihatan nya yang mengabur. Benda benda yang ia lihat, tampak menjadi dua bagian. Adsila menjadi bingung mana yang asli.


Semakin buram dan mulai menggelap. Akhirnya Adsila tidak sanggup lagi untuk menahan dirinya.


Tubuh lemah itu akhirnya ambruk. Namun, ada sepasang tangan menangkap tubuh nya.


"Hei, kamu kenapa?" hanya itu kalimat terakhir yang Adsila dengar, sebelum kegelapan menguasai dirinya.


Bian membelalakkan matanya, ia menghampiri boss nya yang memeluk Adsila.


"Astaga, Adsila" Bian mengambil alih tubuh Adsila, lalu menggendong nya masuk ke dalam rumah.


"Tunggu Bian" cegah Aditya.


Bian menghentikan langkahnya, ia menoleh dan bertanya lewat tatapan pada boss nya.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit, sepertinya dia demam tinggi" ucap Aditya.


Bian mengangguk, lalu memutar tujuan nya menuju ke mobil.


"Saya akan membawanya ke rumah sakit tuan" ucap Bian.


"Saya akan ikut dengan mu"


Bian terdiam, ia terkejut melihat boss nya yang tiba-tiba bersikap berbeda.


Aditya terlihat peduli pada Adsila, padahal biasanya ia sangat acuh terhadap pembantu. Bahkan pada dirinya saja Aditya tidak sebegitu peduli.


Tapi, lihat lah. Aditya tampak khawatir pada Adsila. Apa karena kejadian itu??


Entah lah, Bian juga merasa sangat bingung sekarang.


"Bian, kenapa kau malah diam saja. Ayo jalankan mobil nya!"


"Baik tuan" Bian segera masuk ke dalam mobil di bagian kemudi. Sedangkan Aditya duduk di sebelah Adsila yang tersandar lemas.


"Semoga kau baik baik saja" gumam Aditya pelan.


Mobil pun melaju dengan cepat, meninggalkan rumah besar milik keluarga Dairon.


Dari balkon kamar nya, Maya dan Jasmin menyaksikan semua nya.


"Kamu lihat kan Jasmin, Kakak kamu berubah drastis." kata Maya, matanya masih menatap kepergian mobil Aditya.


"Mama benar, kakak terlihat sangat peduli dengan wanita itu. Aku bingung deh, kenapa Kaka jadi berubah begitu?"


"Entah lah, mama rasa ada sesuatu yang terjadi" sahut Maya.


Mereka sangat tahu, Aditya sangat mencintai Weira. Dia tidak pernah menduakan Weira, meskipun banyak wanita yang mendekatinya.


Apa karena sakit hatinya pada Weira? makanya Aditya berbelok melihat pembantu baru itu?


Berbagai kemungkinan masuk ke dalam pemikiran Maya dan Jasmin.

__ADS_1


"Nyonya" Maya dan Jasmin tersentak kaget.


"Ada apa kau kemari Pita" ucap Maya kesal, karena art nya ini membuatnya hampir jantungan.


"Tau ah, bikin orang kaget saja" sahut Jasmin.


"Maaf Nyonya, nona muda. Tapi saya hanya ingin melaporkan, bahwa semua yang di perintahkan telah saya laksanakan" jelas Pita.


Kening Jasmin mengerut, ia tidak tahu jika mama nya merencanakan sesuatu tanpa berbicara dulu dengan nya.


"Mama merencanakan apa?" selidik Jasmin menatap mama nya penuh arti.


Pletak!.


Maya menjitak kening putrinya pelan.


"Jangan menatap ku penuh curiga, aku hanya menyuruh mereka semua memberi pekerjaan yang lebih pada wanita itu"


"Ais...Mama apa apaan sih, sakit tahu" ringis Jasmin mengusap keningnya, bekas jitakan mama nya.


"Makanya, jangan mencurigai aku!"


"Aku kan cuma bertani"


"Ah sudahlah, kau sama saja bodohnya dengan Pita" Maya melenggang pergi, ia harus menyelidiki apa yang terjadi pada wanita itu.


Pita masih saja berdiri di sana, menyaksikan pertengkaran ibu dan anak itu.


"Ngapain kamu masih di sini Pita?"


"Huh ehm...Saya permisi nona" Pita langsung gelagapan pergi dari sana sebelum Jasmin memarahinya.


Pita pergi ke kamar nya, di sana sudah ada Dewi dan Marni.


"Kenapa wajah mu mengerut begitu?" tanya Marni.


Pita duduk di sebelah Dewi yang sedang mengusap perutnya dengan minyak angin.


"Aku heran deh,kenapa sih semua orang mengurusi anak baru itu?. Meskipun tidak baik, tapi kan tetap saja mereka tampak memperdulikan nya"


"Iya juga ya,sejak kemarin nyonya menyuruh kita memperhatikannya. Bahkan meminta kita menyiksa wanita itu" sahut Dewi.


"Kalian sadar gak,sikap Bian jauh berbeda dengan anak baru itu. Dia lebih peduli, bahkan dia berani membantah nyonya besar, hanya untuk membela wanita itu" ucap Pita lagi.


"Aku yakin, ada sesuatu yang mereka sembunyikan" sahut Marni.


"Huhm , setuju. Aku juga berpikir seperti itu" balas Dewi.


Pita terdiam, dirinya merasa wanita itu menjadi penghalang bagi dirinya. Sejak dulu Pita sangat ingin mendekati tuan muda. Tapi, selalu saja pria itu tidak tertarik padanya.


Jika melihat wajah, Pita tergolong wanita cantik. Tapi, mengapa Aditya tidak tertarik dengan nya.


Pernah dulu Pita mencoba menggoda Aditya dengan sengaja memakai pakaian yang **** ketika membersihkan kamar nya.


Bukan nya tergoda, Aditya malah terlihat tidak peduli. Pita malah berakhir di tiduri oleh satpam yang tidak sengaja melihat dirinya lewat di halaman belakang.


Karena terangsang, akhirnya satpam itu menarik paksa pita ke dalam pos peristirahatan nya.

__ADS_1


"Huh, menyebalkan!" dengus Pita.


__ADS_2