
~🍒Hallo reders semuanya, selamat membaca yah. Terimakasih sudah mampir. Semoga ceritaku bisa menghibur kalian semua.
Jangan lupa tinggalkan jejak yah.
Like
Comment
Kasih bintang lima😘
...~happy reading~...
Tiba di rumah sakit, Adsila langsung di tangani oleh dokter.
"Boss, jika anda ingin pulang. Saya akan mengantarkan anda. Untuk Adsila, biar saya yang urus" kata Bian.
Aditya menggeleng, entah mengapa ia sangat ingin mengetahui keadaan wanita itu.
"Aku akan menunggu hingga dokter selesai memeriksa nya"
Bian tidak mengeluarkan suara lagi, keputusan boss nya sudah sangat jelas.
Namun, ada yang aneh di sini. Kenapa Aditya terlihat begitu peduli. Apa ini secara kebetulan? atau memang ada yang aneh.
Bian memberi arahan pada boss nya untuk duduk di kursi tunggu.
30 menit dokter menangani Adsila, akhirnya pintu ruangan UGD terbuka.
Aditya secara spontan berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Siapa suami dari pasien?" tanya dokter membuat Aditya dan Bian heran.
"Ada apa dokter, kenapa anda mencari suaminya?" tanya Bian heran.
Tanpa di duga, Aditya mengaku sebagai suami Adsila.
"Saya suaminya, ada apa dengan wan-.. Maksud saya dengan istri saya dok?"
Bian menoleh pada boss nya, mata nya setengah melotot kaget mendengar pengakuan Aditya.
"Boss..." Aditya memberikan tatapan agar Bian tetap diam.
"Oh bagus lah, saya ingin memberikan anda kabar gembira" ucap Dokter wanita yang merasa lega.
Deg.
Lagi lagi Bian dan Aditya saling menatap. Entah mengapa pemikiran mereka tiba-tiba saling terhubung.
"Apa itu dok?" tanya Aditya. Jantung nya mulai berdegup kencang.
"Selamat yah tuan, istri anda sedang hamil 2 Minggu, anda akan segera menjadi seorang ayah"
Duarrr....Duarrr.....
Terasa seperti petir menyambar di siang bolong. Tubuh Aditya mendadak kaku.
"Apa dok? hamil?" tanya Bian sekali lagi.
__ADS_1
Dokter itu mengangguk dan tersenyum, ia turut bahagia untuk keluarga pasiennya.
"Untuk lebih lanjutnya, tuan harus membawa istri anda ke dokter spesialis kandungan"
"Huh?" Aditya tidak bisa berkata kata. Ini sungguh kabar yang membuatnya syok.
"Kalau begitu, saya undur diri dulu tuan"
"Ya. Terimakasih dok" balas Bian. Ia menatap boss nya,
"Apa yang harus kita lakukan boss? apa itu anak anda?"
"Apa dia ada keluar dari rumah selama ia masuk kerja?"
"Tidak tuan, dia gadis yang patuh. Apapun yang dia lakukan, pasti dia akan melapor padaku"
"Kalau begitu, itu pasti anak ku" jawab Aditya yakin. Ingatan nya melayang pada kejadian malam itu. Di mana ketika ia terbangun dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
Ketika membersihkan tubuhnya, Aditya mendapati bercak darah kering di area pusaka nya. Hal itu memperkuat status siapa ayah dari anak dalam kandungan Adsila.
"Sebenarnya saya juga sudah memeriksa bekas darah di sprei itu tuan" ujar Bian, membuat Aditya menoleh padanya.
"Dan yah, dokter menyatakan jika itu adalah darah keperawanan seseorang." ucap Bian menjelaskan.
"Dan pastinya, itu adalah milik Adsila" sambung nya.
Hufff.....
Aditya menoleh ke dalam ruangan UGD. Ia melihat perawat tengah mendorong brankar yang ada Adsila di atasnya.
"Permisi tuan, kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap" ucap seorang perawat. Aditya mengangguk mempersilahkan.
"Dan untuk tuan, silahkan urus administrasi pasien di meja resepsionis " sambung perawat satu nya lagi.
Sedangkan Aditya, ia mengikuti perawat yang mendorong brankar Adsila.
Adsila tampak damai dalam tidurnya, mungkin ia masih belum sadar atau apalah, Aditya tidak tahu.
Setelah di pindahkan ke ruang VIP, suster meninggalkan Adsila dan Aditya berdua di sana.
Aditya menatap wajah Adsila lekat, ia masih tidak percaya jika di dalam perut wanita ini ada darah daging nya.
"Sulit di percaya, kau mengandung anak ku" lirih Aditya. Matanya masih menatap lekat wajah Adsila.
"Jika di lihat secara detail, wajah mu tidak terlalu buruk" gumam nya tersenyum tipis.
"Engg...."
Adsila menggelengkan kepalanya, ia meringis pelan. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
"Di mana aku?" gumam nya bertanya, ia masih belum sadar jika di samping nya ada Aditya.
"Kau sudah sadar?"
Deg.
Adsila kembali menutup matanya, ia kaget mendengar suara majikan nya.
"Bagaimana bisa dia ada di sini???" pikir Adsila dalam hati.
"Buka lah mata mu, aku sudah tahu jika kau sudah sadar"
__ADS_1
Perlahan Adsila membuka matanya, takut takut ia melihat ke arah Aditya.
Merasa tidak sopan, Adsila memaksa tubuhnya untuk duduk.
"Berbaring saja, kau tidak perlu memaksakan diri untuk bangun" cegah Aditya menahan bahu Adsila.
Mata mereka bertemu, keduanya sama sama terdiam, hingga suara pintu terbuka menyadarkan keduanya.
Ceklek
"Boss, semua nya sudah saya selesaikan" ucap Bian.
Aditya berdehem, menetralkan suasana yang entah sejak kapan terasa tegang.
"Tuan, apa yang terjadi pada saya? kenapa saya bisa berada di sini?" tanya Adsila pada Bian.
"Kamu tadi pingsan Adsila, kami membawa mu ke rumah sakit" jelas Bian. Lalu, ia melirik pada Aditya. Tatapan Bian seolah mengisyaratkan sebuah pertanyaan.
Setelah Aditya mengangguk, barulah Bian kembali menatap Adsila.
"Sebelum aku menjelaskan semuanya pada mu, tolong pastikan dirimu untuk tetap tenang"
"Memangnya apa yang terjadi pada saya tuan?" tanya Adsila penasaran, ia mulai panik melihat raut wajah Bian.
"Kamu hamil Adsila, dokter mengatakan jika kamu hamil 2 Minggu."
Adsila syok, matanya membulat besar. Bagaimana bisa ia hamil.
"Tuan, anda pasti bercanda. Saya mana mungkin hamil!" ujar Adsila setengah tertawa, ia merasa Bian sedang bercanda.
"Tidak Adsila, kamu memang sedang mengandung benih dari ku"
Glek.
Tatapan mata Adsila beralih pada majikan nya. Pria yang sudah merenggut kesucian nya.
"Apa anda juga sedang bercanda tuan?"
Aditya menggeleng, membuat air mata yang sudah berlinang di pelupuk mata Adsila, mengalir deras.
Wanita itu menangis dalam diam, ia merasa hidup nya akan hancur.
Coba kalian bayangkan, ia baru saja bekerja selama 3 Minggu. Sekarang dia di nyatakan hamil Dua Minggu. Apa dia tidak akan merasa hancur?.
Adsila benar benar di Landa kebingungan, apa yang akan ia katakan pada bibinya nanti.
"Kamu tidak perlu bersedih, kamu cukup melahirkan bayi itu, dan aku akan mengurusnya" ucap Aditya menenangkan Adsila.
Bian tersentak, bagaimana mungkin tuan nya berkata seperti itu.
Adsila menghentikan tangisnya, ia menatap Aditya lekat.
"Tuan! apa anda pikir semudah itu? Anda baru saja menghancurkan hidup saya! Saya tahu anda memiliki banyak uang, tapi kehormatan seorang manusia, tidak dapat anda beli dengan uang yang anda miliki!" teriak Adsila marah.
Emosi Aditya ikut terpancing.
"Saya tidak bermaksud begitu, saya hanya memecahkan masalah ini. Setelah kau melahirkan anak ini, maka kau akan kembali hidup seperti sebelum nya"
"Cih, terserah kau saja!" dengus Adsila menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Bian terperangah, Adsila dengan berani membentak Aditya, boss yang paling di takuti.
__ADS_1
"Kita akan membicarakan nya nanti!" kata Aditya, lalu ia segara bangkit dari duduknya dan melenggang keluar dari ruangan rawat Adsila.