Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Berakhir di atas sofa


__ADS_3

Pintu ruangan penyekapan Weira terbuka. Gadis yang terkurung di dalam nya menyipitkan matanya. Cahaya berlomba lomba masuk ke dalam, menyilaukan mata Weira .


Adsila melangkah masuk ke dalam ruangan. Hana dan Aditya pun menyusul masuk.


"Weira?"gumam Adsila terkejut. Wanita yang dulu nya mengaku berhubungan dengan suaminya, kini terkapar tidak berdaya dan terkurung di dalam ruangan gelap ini.


"To..long aku Ad...sila" lirih Weira terdengar bergetar.


Adsila mundur, ketika melihat tangan Weira menggapai kakinya.


"Duduk kan dia!" Ucap Aditya memerintah pada penjaga.


"Baik boss" penjaga pun langsung mengangkat tubuh Weira, lalu mendudukkan wanita itu pada kursi.


Aditya memberikan kode pada anak buahnya lagi, untuk memberikan wanita itu minum.


Penjaga pun langsung memberikan Weira segelas air. Barulah, setelah itu Weira terlihat bertenaga. Dia menatap Adsila, tatapan nya terlihat menyedihkan.


"Adsila, tolong aku. Bebaskan aku dari sini. Aku takut berada di sini" mohon Weira.


"Kamu tidak akan keluar dari sini Weira! Tidak akan! Kamu harus menerima hukuman ini!" Tegas Aditya.


Adsila tidak menjawab, dia hanya menatap Weira dengan tatapan sulit di artikan.


"Oh jadi dia, wanita yang membuat Adsila di culik?" gumam Hana, dia hendak melayangkan tamparan nya pada Weira.


Namun, Adsila melarang nya. Dia menarik tangan Hana.


20m


Hana pun menatap Adsila dengan tatapan tidak percaya. Mengapa dia menahan nya untuk memberi pelajaran pada wanita itu.


"Sudah, biarkan dia tetap di ruangan ini. Ayo kita pergi"


Aditya menarik tangan istri nya, ingin membawa istri nya keluar dari sana.


Namun, lagi lagi Adsila yang masih diam itu menolak ajakan Aditya. Dia menepis tangan suaminya. Lalu melangkah maju ke hadapan Weira.


"Adsila..."lirih Weira. Dia terlihat takut dan was was melihat Adsila. Melihat hal itu, Adsila yakin dia sudah cukup di siksa di ruangan ini.


"Apa kamu takut pada ku?" Tanya Adsila membuat semua orang bingung.


"Apa kamu marah pada ku!!!" Teriak Adsila lagi, karena tak kunjung di jawab oleh Weira.


"I-iya ak-aku takut" jawab Weira gugup.


"Bagus, kamu bisa bebas. Tapi ingat,jangan pernah muncul dan mengganggu keluarga ku lagi. Apa kau mengerti!"


Weira mengangguk cepat, dia bersumpah tidak akan mengganggu Adsila dan juga Aditya. Dia menyesal, dia akan mencari cinta yang lain. Aditya juga merupakan pelarian bagi dirinya.

__ADS_1


Aditya menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. Mengapa istri nya mau membebaskan wanita yang sudah membuat dirinya celaka.


"Lepaskan dia! "Titah Adsila.


"Adsila!" Tegas Hana.


Penjaga langsung terhenti, dia bingung ingin mengikuti perintah siapa.


"Tidak masalah, lepaskan saja. Antar dia pada keluarga nya. Bersihkan dia terlebih dulu!" Ucap Adsila lagi.


Hana menggeleng, dia tidak habis pikir dengan apa yang Adsila lakukan.


"Baik nyonya"


Adsila mengangguk, dengan wajah dingin nya. Dia berbali pergi dari dalam ruangan itu.


"Adsila!!" Hana berteriak mengejar Adsila, dia butuh penjelasan.


Sedangkan Aditya menatap Weira lama, membuat wanita itu menunduk takut.


Adsila masuk ke dalam ruangan keluarga, dia duduk di sofa. Lalu, tak lama kemudian Aditya dan Hana masuk. Mereka langsung menutup pintu ruangan keluarga rapat.


Setelah memastika ruangan itu terkunci, Hana berdiri di depan Adsila, meminta penjelasan dari wanita itu.


"Sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan adsila? Mengapa kamu membebaskan Weira? Bisa saja kan dia kembali an balas dendam?"


"Aku gak habis pikir sama kamu" sahut Aditya.


Adsila menghela nafas dalam, dia menatap kedua orang itu. Suami dan juga sahabat nya.


"Kalian gak lihat, dia sudah sangat tertekan. Lagi pula, dia hanya mengikuti keegoisannya, bukan membalas sesuatu seperti Maya!"


"Weira sudah terkena mental. Dia tidak akan berani datang lagi. Dia sudah sadar, dari sorot matanya aku sudah bisa melihatnya" tambah nya lagi.


"Apakah dengan di kurung seperti itu, membuat dia jera?" Sela Hana seakan tidak percaya.


"Tentu, karena dia bukan Maya. Dia hanya wanita polos yang terkena virus keegoisan cinta. Dalang dari semua ini adalah Maya. Bukan dia. Lagi pula..." Adsila menjeda ucapan nya. Dia menatap suaminya yang sejak tadi hanya diam.


"Kamu bukan hanya mengurungnya kan sayang?"


Aditya tersenyum miring, lalu beranjak mendekati istri nya.


"Bagaimana aku tidak menyiksa nya. Dia membuat mu jauh dari ku." Ujar Aditya.


"Nah, ini contoh keegoisan cinta"sela Adsila. Dia memeluk suaminya, lalu mencium pipi nya.


Tanpa sadar, tangan Adsila menyentu sesuatu yang membuat dia tidak akan selamat.


Deg.

__ADS_1


Keduanya terdiam, bahkan Hana yang berada di sana juga terkejut melihat sepasang suami istri itu terdiam.


"Mengapa kalian berdua terdiam?"tanya Hana bingung. Dia menatap posisi Adsila, dan tap. Mata Hana berhenti pada tangan Adsila yang kini terdiam kaku.


"Astaga...kalian ini benar benar yah" pekik Hana terkejut. Dia langsung berjalan keluar dari ruangan keluarga, lalu menutupnya dengan hempasan kuat.


"Dasar, pengantin baru. Mentang mentang aku belum menikah!" Gerutunya, lalu pergi ke kamar Lena.


Malam itu, Hana memang menginap di rumah besar Aditya. Dia menumpang di kamar Lena.


Sedangkan Adsila dan Aditya, mereka masih dalam posisi yang sama.


"Apa kah kamu sengaja memancing ku?" tanya Aditya menatap lekat istri nya.


"Huh? maksud kamu apa sayang?"tanya Adsila bingung.


"Tangan mu, memanggil kejantanan ku bangkit"


Adsila melirik tangan nya, dia terkejut dan langsung menarik tangan nya dari sana.


"Aku tidak sengaja sayang, maafkan aku" cicit Adsila. Dia berusaha menjauh dari suaminya.


Namun, semua nya sudah terlambat. Aditya sudah terlanjur bergairah. Dengan cepat, Aditya bangkit dari duduk nya. Lalu memeluk istrinya yang hendak membuka pintu.


Teg.


Pintu ruang keluarga terkunci rapat. Mata Adsila melotot melihatnya. Tamat sudah riwayat nya.


"Mencegat mu begini, aku jadi teringat kali pertama kita bercinta baby"bisik Aditya sensual. Membuat bulu kuduk Adsila seketika berdiri.


Aditya membalikkan tubuh istrinya, menghadapkan pada dirinya.


"Sayang...Adit seperti nya bangun" cicit Adsila mencari alasan.


"No no baby, kita sudah berada di sini. Aku yakin, Hana akan mengurusnya"


Glek.


Adsila berusaha menelan salivanya susah payah. Dia tidak bisa lari lagi, dia akan berakhir tepat di atas sofa.


"Kita mulai" bisik Aditya lagi, bersamaan dengan itu, dia langsung menyerang leher dan area sensitif Adsila lain nya.


Seperti dugaan Adsila, dia berakhir diatas sofa. Mendesah nikmat bersama dengan suami nya.


Beruntung ruangan keluarga kedap suara, jika tidak. Mungkin ******* dan pekikan nikmat mereka terdengar saling bersahutan.


"Ahh...Your mine" bisik Aditya sambil melancarkan aksinya.


"Yes... Faster ..." Sahut Adsila.

__ADS_1


Mereka saling memacu, mencapai puncak kenikmatan yang sudah di depan mata.


__ADS_2