
Aditya melajukan mobil nya menuju ke sebuah taman wisata yang sedang booming di kotanya. Dalam waktu 35 menit, mereka pun tiba di lokasi.
Karena mereka pergi pukul 10 pagi, jadi jalanan sedikit renggang. Tidak seperti di pagi hari, jalanan akan macet karena banyak nya pengendara di jalan yang memulai aktivitas. Ada yang berangkat kerja, ke sekolah dan lain lain nya.
Pukul 10.35 wib. Mereka berdua tiba di lokasi. Adsila tampak berbinar dengan apa yang dilihat nya. Ia semakin antusias ketika melihat banyak nya kumpulan bunga.
"Waw..Manis sekali mereka"
"Pergi lah, aku akan mengikuti mu dari belakang" ucap Aditya memberi ijin Adsila, pria itu tahu jika wanita itu sangat ingin mendekati bunga bunga yang sedang bermekaran.
Gadis polos itu langsung berlari pelan mendekati kumpulan bunga mawar. Dia berjongkok dan menatap bunga bunga itu dengan mata berseri.
"Kalian begitu manis, sangat sayang untuk di petik"gumam Adsila.
Dari belakang, seperti yang dia katakan. Aditya mengikuti kemana pun Adsila pergi. Dia tersenyum, melihat Adsila sangat menyukai tempat wisata ini.
Di taman bunga itu, banyak wisatawan tengah berkeliling menikmati indahnya taman bunga. Bukan hanya bunga saja, di dalam tempat wisata ini. Ada juga tempat kebun buah yang boleh di petik langsung. Tidak sia sia mereka mengeluarkan banyak uang untuk membeli tiket masuk.
Aditya melihat setangkai bunga mawar yang berwarna Pink. Sangat cantik apabila di pakaikan ke telinga Adsila.
Tanpa sepengetahuan Adsila, Aditya memetik bunga itu. Lalu memakaikan nya ke telinga Adsila.
"Eh.." kaget Adsila saat Aditya menyelipkan bunga itu ke telinga nya.
"Waw, kau terlihat sangat cantik Adsila" puji Aditya.
Adsila tersenyum malu, pujian Aditya sangat mengena di hatinya.
"Ayo lihat sini, tersenyum yang manis"
Adsila berpose dua jari, membentuk senyuman yang indah di mata Aditya.
Cekrek.
Aditya mengambil foto Adsila dengan ponselnya, dia akan menyimpan sebagai kenangan.
"Eh, masa aku saja. Bagaimana kalau kita berdua juga Selfi" Adsila mendekatkan dirinya pada Aditya, lalu meminta Aditya untuk mengambilfoto mereka berdua.
Aditya menjadi sedikit kaku, tatapan matanya terhenti pada senyuman manis Adsila.
"Tuan, ayo tekan dan ambil foto nya" ujar Adsila menyadarkan Aditya.
"Ciss. . . . "
Cekrek..
"Wahh tuan, hasil nya sangat cantik. Apa boleh di cetak? Aku ingin menyimpan nya sebagai kenangan. Aku ingin mengenang mu setelah nanti aku pergi" ucap Adsila panjang lebar.
Deg. Deg..
Entah mengapa Aditya merasa tidak rela mendengar ucapan Adsila barusan.
"Baik lah, nanti akan aku cetak untuk mu"
__ADS_1
"Terimakasih tuan." Balas Adsila senang.
Lalu, mereka berlanjut menuju ke kebun buah.
Jika tadi Adsila berjalan lebih dulu di bandingkan Aditya. Namun sekarang, mereka berjalan beriringan. Bahkan tanpa sadar Aditya menggenggam tangan Adsila.
"Eh.. Eh... Hati hati" Aditya memegang bahu Adsila, wanita itu hampir saja terjatuh. Dengan tidak sengaja seseorang menyenggol bahu nya. Beruntung Aditya dengan sigap menahan tubu adsila.
"Hei hati hati!!!" Teriak Aditya memperingatkan orang tersebut. Namun, seperti nya orang itu tidak peduli dan tetap berlalu pergi.
Aditya ingin mengejarnya, dan membuat perhitungan dengan orang itu. Namun, Adsila mencegahnya.
"Sudah tuan, biarkan saja. Aku juga tidak apa apa"
"Baiklah, kau tetap di sisi ku. Di kebun ini terlihat ramai" Adsila mengangguk. Meskipun merasa sedikit canggung, tapi Adsila tidak menolak ketika Aditya memeluk pinggang nya.
Mereka kembali melanjutkan langkah mereka menuju kebun anggur.
Kebun buah anggur, sepanjang jalan yang terlihat seperti lorong itu di penuhi oleh buah anggur. Ada yang warna hijau, dan ada yang warna ungu seperti warna anggur pada umumnya.
Tak henti hentinya Adsila berdecak, mengagumi betapa cantik nya kebun itu. Semua tertata rapi. Buah buah anggur menjuntai ke bawah, sehingga dengan sangat mudah pengunjung menikmatinya.
"Wahhh mereka terlihat segar" ungkap Adsila. Matanya menatap buah anggur dengan tatapan lapar.
"Kau menginginkan nya Adsila?"
Wanita itu menggeleng, membuat dahi Aditya mengerut.
"Lalu, kenapa kau terlihat sangat ingin dengan buah ini"
"Aku tidak menginginkan nya tuan, tapi bayi ini menginginkan nya" ujar Adsila langsung menyambar buah anggur di tangan Aditya.
Aditya menggelengkan kepalanya, melihat betapa lahap nya Adsila memakan buah anggur.
Tiga butir buah anggur sekali masuk ke dalam mulut Adsila.
"Hei, apa kau tidak takut tersedak?"
"Huh? Kenapa tuan? Lebih enak jika di makan secara bersamaan begitu"
Tidak ada jaim jaim nya, Adsila tampil apa ada nya di depan Aditya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi kebun itu.
Kini mereka masuk ke taman buah apel dan jeruk. Di sini mereka tidak berdesakan. Karena taman ini sangat luas dan di penuhi oleh pohon apel dan jeruk.
Adsila berlari mendekati salah satu pohon apel. Dia menengadah keatas, menatap satu persatu apel yang berwarna merah.
"Tuan, aku mau yang itu" tunjuk Adsila pada apel yang berada di ujung dahan paling tinggi.
"Yang paling tinggi itu??" Tanya Aditya.
Adsila mengangguk, matanya berkaca kaca menatap pada Aditya.
__ADS_1
"Apa harus yang kau tunjuk itu Adsila? Apa tidak bisa di ganti dengan apel yang lain?" ujar nya bernegosiasi.
"Apel yang itu, terlihat lebih segar tuan. Pasti rasanya sangat manis!"
Huff...
"Baiklah, aku akan memanggil penjaga di sini untuk mengambilnya"
"Ehh .. tidak tidak. "
Aditya menatap Adsila dengan bingung, dia mengatakan ingin makan apel yang terletak sangat tinggi dan berada di ujung dahan. Tapi, Adsila malah menahan nya ketika dia akan memanggil petugas.
Pikiran Aditya mulai bergerilya, otak nya mulai menerka nerka apa yang Adsila inginkan.
"Jangan bilang...."
"Hehehe....Aku tidak mau tuan yang ambil" jawab Adsila tercengir.
"Lalu? Kenapa kau menahan ku ketika aku ingin memanggil petugas"
"Karena aku.....Ingin Bian dan Rangga yang mengambilnya"
...----------------...
"Ayo tembak! tembak!"
"ahh Bian kenapa kau ke sana! Bantu aku!!!"
"Kau jangan maju sendiri!!!"
"kau yang tidak mau bantu Bian!!!!"
Rangga dan Bian tengah asik bermain game bersama. Mobile legen, adalah game pavorit mereka.
Merasa bebas, tidak ada wanita hamil. Tidak ada boss cerewet.
Rangga dan Bian merasakan surga dunia.
Di tengah tengah arena permainan, tiba-tiba Hero milik Bian berhenti bergerak, lalu beralih pada tampil panggilan masuk.
Drrttt.....Drtttt....
"Astaga!!!!!??" pekik Bian histeris.
"Ada apa ada apa??" tanya Rangga, tapi pandangan matanya tetap fokus pada layar ponselnya.
"Tuan menghubungi ku" pekik Bian.
"What??? kau tidak menggunakan mode jangan ganggu?"
"Aku lupa" jawab Bian.
"Yah sudah, angkat"
__ADS_1
Dengan terpaksa Bian menekan tombol terima, lalu panggilan telfon terhubung.