
Pukul 2 dini hari, Adsila terbangun dari tidur nya. Dia merasa seseorang memeluk nya dengan hangat. Sehangat pelukan seorang ayah. Adsila malah jadi rindu pada bapak dan ibu nya.
Perlahan lahan Adsila membuka mata nya, melihat langit langit kamar. Ia berharap semua masalah yang terjadi hanya sebuah mimpi, mimpi buruk yang membuatnya merasa terpuruk.
Ketika mata nya terbuka, betapa terkejut nya gadis itu melihat siapa yang tengah memeluk nya. Dia adalah Aditya, majikan sekaligus ayah dari bayi yang di kandungnya.
Secara spontan Adsila bergerak menjauh dari pria itu. Dia mendorong dada Aditya hingga membuat pria itu terbangun.
"Adsila? Apa kau sudah bangun? Jam berapa sekarang?"
Adsila tidak menjawab, dia duduk di sudut ranjang. Membuat Aditya kaget melihatnya.
"Kenapa kau malah menjauh dari ku?"tanya Aditya menatap Adsila heran. Matanya belum sepenuhnya terbuka, kesadaran nya juga masih terombang ambing.
"Jangan mendekat!" Teriak Adsila ketika melihat pria itu ingin mendekatinya.
Kening Aditya mengerut, tadi malam Adsila tampak tenang tidur di dalam pelukan nya.
"Kamu kenapa? Aku tidak akan berbuat jahat pada mu!"
"Aku tidak bisa mempercayai mu" balas Adsila.
Membuat Aditya mengerut heran, ia ikut duduk di sisi ranjang dan berjarak dengan Adsila.
"Kau tidak perlu takut pada ku, aku tidak akan berbuat jahat pada mu. Jika aku berbuat jahat padamu, aku pasti sudah lama melakukan nya" jelas Aditya.
"Tapi kau sudah membuat ku terjebak di dalam kegelapan"
"Yah, aku mengakui kesalahan ku. Maka dari itu, biarkan aku bertanggung jawab atas anak itu" Aditya menunjuk kearah perut Adsila, membuat wanita itu ikut menoleh pada perutnya.
"Kau akan bebas setelah melahirkan anak ku, tidak akan ada ikatan apapun setelah itu, dan aku juga tidak akan menyembunyikan identitas anak ini, kau tetap akan menjadi ibu nya, meskipun dia hidup dengan ku. " Jelas Aditya panjang lebar. Ia berharap Adsila akan mengerti dan mau bekerja sama selama ia hamil.
"Akan aku pertimbangkan" lirih Adsila.
"Tidak Adsila, kau tidak perlu melakukan hal itu. Karena, apapun keputusan mu, semua akan terjadi seperti yang aku inginkan" sela Aditya cepat.
"Terserah kau saja, tapi aku tidak ingin satu ranjang dengan mu"
"Kenapa tidak mau? Aku ingin tidur bersama anak ku" protes pria itu.
"Kau akan tidur bersama nya ketika dia sudah lahir nanti!"
"Bagaimana jika anak itu yang memintanya?" Balas Aditya lagi.
"Itu tidak mungkin, karena aku tidak mau!"tegas Adsila.
perdebatan mereka terus berlanjut, hingga sebuah suara menghentikan mereka.
kryuu~~
Adsila memegangi perutnya, suara itu berasal dari cacing cacingnya yang meminta asupan gizi.
Bhahaha~
"Kau lapar?" Ledek Aditya sambil tertawa keras.
Adsila terkesima, baru kali ini dia melihat majikan nya tertawa lepas. Pria yang terkenal sangat dingin, kini tertawa di depan nya.
"Kau mau makan apa?" Tanya Aditya. Namun, wanita itu tidak menjawab, ia masih diam dengan mata menatap pada wajah Aditya.
__ADS_1
"Hey..."
"Eh iya, apa?"
"Hah?" Aditya di buat melongo, ternyata wanita ini melamun.
"Kau terkesima dengan wajah tampan ku? Sehingga kau melamun seperti itu?" Ucap Aditya narsis.
Membuat Adsila berdecak sebal,
"Aku ingin makan sate" jawab Adsila. Entah mengapa ia sangat ingin makan sate sekarang.
"Sate?" Ulang Aditya membeo, ia melirik kearah jam. Apakah masih ada yang jual sate jam segini?
"Baik lah, aku akan menyuruh Bian untuk mencarinya" kata Aditya.
Pria itu beranjak dari duduk nya, bergerak ingin mengambil ponsel nya.
"Kenapa kau menghubungi Bian? Kau ketuk saja pintu apartemen nya"kata Adsila.
Aneh bukan? Tiba tiba terlintas di pikiran Adsila, meminta Aditya memanggil Bian tanpa menghubungi nya lewat telfon.
"Kau menyuruh ku datang ke apartemen Bian?"tanya Aditya dengan ekspresi tidak percaya.
"Kenapa tidak? Apa apartemen nya jauh?"
"Tidak sih, ada di sebelah apartemen kita"jawab Aditya.
Melihat percakapan mereka saat ini, seperti nya Adsila mulai membuka diri dan mulai tidak takut pada Aditya.
"Ada ponsel kenapa haru cape cape mendatanginya" Aditya tetap ingin menghubungi Bian melalui telfon. Tapi Adsila? Ia sangat ingin melihat Aditya datang ke apartemen Bian dengan berjalan kaki, tanpa menelfon.
"Apa ini permintaan bayinya?" Itulah yang ada di pikiran Adsila saat ini.
Beruntung nya Aditya juga memikirkan hal yang sama. Sehingga pria itu tidak jadi menelfon Bian, dia malah berjalan keluar dari kamar,dan keluar dari apartemen menuju ke apartemen Bian.
Di depan apartemen Bian, Aditya berdiri dengan gagah, lalu mengetuk pintu nya dengan keras.
Tuk!! Tuk!!
Sekali dua kali, Aditya mengetuk pintu. Bian tak kunjung keluar.
Brak!! Brak!!
"Bian!!! Bian!!" teriak Aditya keras.
"Kemana Pria ini, kenapa dia tidak bangun bangun" gerutunya.
Aditya mulai kesal, ia juga menekan bel apartemen Bian. Namun, hasil nya tetap sama. Bian tidak kunjung keluar.
Jika bukan karena calon anak nya, Aditya tidak akan pernah mau melakukan hal ini.
Brak!! Brak!!!
"Bia-"
Ceklek.
Akhirnya pintu apartemen Bian terbuka. Pria itu muncul dengan wajah bantal nya.
__ADS_1
"Eh boss, kok ada di sini?" tanya Bian sambil mengucek ngucek matanya.
"Dari mana saja sih kamu, dari tadi aku mengetuk dan menekan bel, tapi kamu tidak kunjung keluar!"
Bian mengerutkan keningnya. Mengapa Aditya harus capek capek datang dan mengetuk pintu apartemen nya. Sedangkan dia bisa menelfon nya.
"Aku baru saja mau ke apartemen boss, Adsila menghubungi ku, katanya boss mencari ku"
"Apa??" Aditya di buat melongo, tadi wanita itu meminta nya untuk memanggil Bian tanpa menggunakan telfon, dan sekarang malah dia yang menelfon pria ini.
Benar benar, Aditya merasa wanita itu sedang mempermainkan dirinya.
"Awas aja kau yah, berani sekali mempermainkan aku!" gumam Aditya menggeram.
Bian terlihat bingung, ia bertanya pada Aditya mengapa pria itu mencari nya.
"Boss, ada apa mencari ku malam malam begini?"
"Wanita itu lapar" jawab Aditya singkat.
"Lah, memangnya di dalam kulkas tidak ada makanan?" heran Bian.
"Dia ingin sate, kau pergilah membeli nya"
"Huh? Sate? " mata Bian terbuka lebar.
"Boss, jam segini mana ada yang jualan"
"Pasti ada, kau cari saja di pinggiran jalan raya, di pusat angkringan pasti ada"
"Baiklah, aku akan mencoba mencarinya"
"Bagus"
Aditya kembali ke apartemen nya, ia berjalan melewati ruang tengah.
"hmm...Enak juga"
Aditya menghentikan langkah nya, dia mendengar suara seseorang dari arah dapur.
"Siapa itu?" pikir Aditya sembari melangkah menuju ke dapur.
Ketika masuk ke dapur, mata Aditya melebar besar. Darah tinggi nya seketika naik ke ubun ubun.
Bagaimana tidak, saat ini ia melihat Adsila tengah menikmati mie instan rebus.
Jika ini di posisi kalian, apakah kalian tidak akan marah?.
Pertama, dia meminta Aditya memanggil Bian tanpa menelfon. Lalu sekarang, wanita itu tengah makan mie instan. padahal tadi dia meminta di Carikan sate.
Apa begini tingkah seorang wanita hamil? apa semenyebalkan ini?
Merasakan kehadiran Aditya, Adsila mengangkat pandangan nya dari mangkuk mie.
Benar saja, majikan nya kini tengah berdiri menatap kearah nya.
"Tuan, kenapa berdiri di situ? apa kau ingin makan juga?" tawar Adsila.
"Tidak! kau makan saja sendiri" tolak Aditya kesal, dia berbalik dan pergi meninggalkan dapur.
__ADS_1