
Adsila terbangun dari tidur nya, bau makanan yang menyengat, masuk ke dalam indera penciuman nya. Hal itu membuat perut nya terasa bergejolak.
Tiba tiba Adsila kembali merasakan mual.
Dengan segera, wanita itu berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut nya.
"Wuueeekk....Wuuekkk..."
Setelah muntah, Adsila merasa tubuh nya menjadi lemas.
"Huh, siapa yang memasak di dapur? Kenapa aromanya begitu tidak sedap" gumam Adsila menghembuskan nafas lega, setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Dia pun berjalan pelan keluar dari kamar, menuju ke dapur untuk melihat siapa yang tengah memasak.
Agar tidak mencium aroma yang tidak mengenakan itu, Adsila mengambil selembar tisu, dan mengoleskan parfum Aditya diatasnya, lalu dia pun menempelkan tisu tersebut ke hidung nya. Sehingga, Indra penciuman nya hanya di penuhi oleh aroma parfum Aditya.
Setibanya di dapur, dahi Adsila mengerut.
"Bian, apa yang kau lakukan? Di mana Aditya?" Tanya Adsila melirik ke sana kemari mencari keberadaan Aditya.
"Tuan sudah berangkat sejak tadi Adsila"
"Kemana dia? Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Ada sedikit masalah di kantor, jadi tuan harus datang untuk menyelesaikan nya. Tuan tidak tega membangunkan mu, Kau tidur terlalu nyenyak"jawab Bian menjelaskan.
"Oh iya, tuan tadi berpesan. Ketika kau bangun, kau harus memakan ini. Ini sangat bagus untuk kehamilan mu" ucap Bian lagi ketika mengingat pesan Aditya.
Bian menyuguhkan semangkuk sup ayam kampung di depan Adsila.
Wanita itu pun menatap mangkuk sup ayam kampung buatan Bian. Seketika perut nya kembali bergejolak.
"Wuuek....Jauhkan!" Adsila berlari ke wastafel, ia kembali merasakan mual. Adsila kembali muntah muntah.
"Kamu kenapa Adsila?" Tanya Bian khawatir.
Mengapa Adsila mual ketika melihat sup yang dia masak. Padahal, Aditya bilang, Adsila selalu memakan sup ayam kampung di pagi hari.
"Tolong Bian, jauhkan itu dari ku!"
"Kenapa Adsila? Bukan kah kau selalu memakan ini di pagi hari? Tuan menyuruh ku memberi ini"
Adsila tidak tahu,mengapa dia menjadi mual ketika mencium aroma sup ayam kampung itu.
Memang benar, setiap pagi Aditya selalu memberikan nya sup ayam kampung.
Tapi, mengapa pagi ini dia tidak bisa mencium aroma dari sup itu.
Bian menghubungi Aditya, ia ingin melaporkan hal ini.
Satu kali dering,panggilan video Bian langsung di balas oleh Aditya.
"Ada apa Bian? Apa sesuatu terjadi pada Adsila?" tanya Aditya khawatir.
"Tidak boss, tapi ada hal yang aneh terjadi"
"Apa itu?" Tanya Aditya cepat, raut wajah nya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
"Apa Bian? Apa yang terjadi?. Mana Adsila? Apa sesuatu terjadi padanya?"
",Tidak tuan, dia baik baik saja. Tapi, Adsila kembali muntah di pagi ini"
"Huh?" Aditya terkejut, sudah 2 Minggu Adsila tidak mengalami muntah muntah di pagi hari. Sekarang, mengapa ibu dari anak nya kembali muntah.
"Ketika aku memberinya sup ayam kampung, seperti yang boss perintahkan. Adsila langsung mual dan muntah"
Dahi Aditya mengerut, kemarin dia masih memberikan Adsila sup ayam. Dan wanita hamil itu sama sekali tidak mual, bukan hanya mencium aroma nya saja, dia bahkan memakan nya dengan lahap.
"Apa yang terjadi, mengapa dia mengalami hal itu"
"Aku tidak tahu tuan"
Di tengah serius nya Aditya dan Bian berdiskusi, membicarakan masalah yang terjadi hari ini. Tiba-tiba saja Adsila menangis kencang.
"Huaaaaaa....."
Bian terkejut, ia langsung menghampiri Adsila, dan meletakkan ponselnya di atas meja makan.
"Adsila, ada apa dengan mu?" tanya Bian panik, tanpa sebab yang jelas Adsila menangis begitu saja.
"Huaaaaaa......"
Bian membiarkan ponsel nya di atas meja, panggilan video Dengan Aditya masih terhubung.
__ADS_1
"Adsila, kamu kenapa? Ayo katakan padaku"bujuk Bian berusaha menenangkan nya.
Adsila terus menangis kencang, sedangkan Aditya malah di buat panik mendengar tangisan Adsila.
"Bian!!! Bian!!! Apa yang terjadi?? Adsila? Kenapa kamu menangis? Ayolah jawab aku!!!"
Bian tidak mendengarkan Aditya, dia malah sibuk membujuk Adsila agar segera diam.
"Hiks...Hiks....Jahat! Jahat!"
"Jahat.....Jahat!!!"
Adsila semakin menjadi jadi, dia menangis histeris. Bian sampai merasa putus asa memikirkan bagaimana cara menenangkan wanita ini.
"Bian!!"
"Bian!!"
Aditya terus berteriak, hingga pria itu tersadar dan langsung mengambil ponselnya.
"Iya boss" jawab Bian.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia menangis begitu?" Tanya Aditya panik.
Bian melirik Adsila, sungguh dia tidak tahu penyebab mengapa Adsila menangis.
"Tuan, aku sungguh tidak tahu. Ketika kita berbicara tadi, tiba-tiba dia menangis kencang"
"Tolong arahkan layar ponsel padanya, aku ingin berbicara dengan nya" ucap Aditya.
Bian pun mengarahkan layar ponsel nya pada Adsila, sehingga wanita itu bisa melihat wajah ayah dari anak yang ia kandung.
"Adsila, hei... Mengapa kamu menangis?" Tanya Aditya dengan suara lembut.
Adsila kembali merengek, ia merebut ponsel itu dari tangan Bian.
"Hiks... Tuan, mengapa kau sejak tadi tidak menanyakan keberadaan aku? Mengapa kau hanya berbicara dengan Bian saja?"
"Jadi, kau menangis hanya karena aku tidak bertanya tentang mu?" Adsila mengangguk.
"What? Kau menangis karena itu Adsila? Oh ayolah, mengapa wanita hamil begitu membingungkan " erang Bian frustasi.
"Hiks ..Hiks... Tuan, lihat lah, Bian berbicara begitu keras" adu Adsila pada Aditya, dia kembali menangis sangat keras.
"Eh..Eh...Sttt...Adsila, tenang lah, aku akan menghukum Bian nanti, jadi berhentilah menangis"
"Kapan kau pulang? Aku tidak mau tinggal bersama pria ini. Dia sungguh jahat!"rengek Adsila.
"Benarkah?"
"Tidak boss, aku tidak melakukan apapun!" Sela Bian membela diri. Namun, Adsila malah melarikan ponsel Bian, menjauh dari nya.
"Hei Adsila, kau jangan mengatakan hal yang tidak tidak pada nya! Nanti gaji ku bisa di potong!"
"Aku tidak peduli, dasar pria jahat!"
Adsila membawa ponsel Bian ke dalam kamar, ia juga mengunci pintu agar Bian tidak bisa masuk ke dalam.
Adsila duduk di sofa tempat Aditya beristirahat di malam hari. Ia kembali menatap layar ponsel Bian. Rasanya, hati Adsila terasa sangat tenang, wajah tampan Aditya menyejukkan hatinya.
"Tuan, sofa mu masih terasa hangat"ujar Adsila, ia malah berbaring di sana.
"Benarkah? Apa kau benar benar sangat merindukan ku?" Tanya Aditya bercanda.
Deg.
Adsila malah terdiam, pipi nya terasa memanas menahan malu. Untuk menjaga harga dirinya, Adsila menggelengkan kepala.
"Aku tidak merindukan mu, tapi bayi di dalam kandungan ku lah yang merindukan mu" jawab Adsila berbohong.
"Benarkah? Apa yang saat ini kau rasakan? Apa dia sudah mulai terasa menendang nendang?"
Mata Adsila menyipit, mimik wajah nya terlihat jengah.
"Hei tuan, usia kandungan ku masih 3 bulan. Tentu saja bayinya belum bisa menendang" dengus Adsila.
Aditya terkekeh di seberang sana, membuat jantung Adsila semakin berdetak kencang mendengar nya.
Entah mengapa kehadiran Aditya terasa sangat penting bagi Adsila. Setiap saat, setiap detik, Adsila ingin berada di sisi nya.
Tapi, semua itu tidak mungkin ia utarakan pada Aditya. Ia tidak mau , pria itu salah paham dengan sikapnya.
Seakan mendukung keinginan ibu nya, si cabang bayi malah rewel. Setiap Aditya tidak berada di sisi Adsila, maka wanita itu akan bertingkah.
__ADS_1
Seperti pagi ini, bisa bisa nya Adsila merasa mual mencium aroma sup ayam. Padahal, setiap pagi Aditya selalu memberikan nya sarapan sup ayam kampung.
Hari ini perusahaan membutuhkan Aditya, jadi pria itu berangkat lebih awal ke kantor. Sehingga dia tidak sempat memberi Adsila sarapan.
"Boss, meeting akan segera di mulai" ucap Rangga memberitahu.
"Baiklah"
Aditya menatap Adsila di layar ponsel nya, dengan berat hati ia harus mengakhiri panggilan video mereka.
"Adsila, aku harus mengakhiri panggilan video ini. Setelah pekerjaan ku selesai nanti, aku akan segera pulang" pamit Aditya, ia juga berjanji pada Adsila.
"Haruskah?"
"Yah, ini sangat penting"
"Lebih penting dari aku dan bayi ini?"tanya Adsila lagi, raut wajahnya sudah kembali berubah sendu.
"Tentu saja bayinya juga sangat penting" jawab Aditya cepat.
"Oh"
Klik.
Panggilan pun berakhir tanpa aba aba. Aditya terheran, tapi ia tidak sempat memikirkan nya. Karena meeting penting harus segera di mulai.
Sementara di kamar nya, Adsila merasa sangat sedih.
"Aku iri pada mu, dia lebih mementingkan diri mu" ucap Adsila sambil mengusap perutnya yang sedikit mulai membuncit.
Hari itu, Adsila jalani tanpa kehadiran Aditya. Janji yang Aditya ucapkan ternyata bohong.
Sudah pukul 8 malam, Aditya masih belum pulang juga. Adsila merasa sedih dan semakin merasa Aditya tidak mementingkan dirinya dan juga calon anak nya.
"Papa mu jahat, katanya akan segera pulang. Tapi sampai saat ini dia masih belum pulang juga!" gumam Adsila berbicara sendiri sembari mengusap perutnya.
"Sabar lah, mungkin boss lagi banyak pekerjaan" sahut Bian dari ruang tamu.
Adsila melirik nya tajam, entah mengapa mereka jadi seperti bermusuhan sejak pagi tadi.
Adsila melangkah cepat mendekati Bian, matanya menatap tajam pada pria itu.
"Mengapa kau masih di sini Bian? Harusnya kau ada di apartemen mu!"
"Baiklah, apa kau berani tinggal sendiri?" Jawab Bian. Ia tahu Adsila sangat penakut, bibi nya selalu menceritakan tentan Adsila yang sangat penakut.
Adsila menjadi ragu, ia mulai gelagapan harus menjawab apa.
Jika dirinya terus menantang Bian, Adsila takut pria itu benar-benar akan meninggalkan dirinya sendiri di apartemen besar ini.
Tentu saja, wanita itu akan merasa sangat taku.
"Bian, kau jangan coba coba mengancam ku yah!"
"Aku tidak mengancam mu Adsila, aku hanya bertanya" kekeh Bian pelan, ia berhasil mengerjai Adsila.
"Sudah lah, kau diam saja di sofa itu. aku akan menunggu Aditya di sini!"
Adsila duduk di depan Bian, mereka sama sama duduk di sofa yang bersebrangan.
"Terserah, aku mau tidur!" Balas Bian langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Adsila menatapnya sebal, "awas saja nanti. Setelah Aditya pulang, kau akan menerima hukuman nya" gumam Adsila mendendam di dalam hati.
"Jangan berharap kau bisa menggunakan boss untuk menghukum ku!" Sahut Bian.
Adsila mengerut, ia terkejut Bian seakan tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Hubungan Adsila dan Aditya semakin dekat, begitu juga dengan Rangga dan Bian.
Adsila merasa seperti memiliki saudara laki-laki. Bian dan Rangga menjaga nya dengan baik, mereka selalu mencoba menghibur dirinya, layak nya adik perempuan mereka sendiri.
Kadang, Adsila merasa jadi anak paling bungsu di antara mereka. Lalu, ia merasa menjadi ratu di sisi Aditya.
"Apakah dunia yang aku lewati saat ini adalah dunia mimpi? Atau malah secercah cahaya sebelum kegelapan menghampiri ku?" Batin Adsila mulai merasakan kekhawatiran.
Adsila semakin merasa takut, kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, akan membawanya ke dalam kegelapan yang sangat gelap.
Bahkan, ketika hatinya merasa indah nya dunia. Tiba-tiba ia teringat akan kegelapan yang akan menghampiri nya.
"Bagaimana kisah ku nanti, setelah anak ini lahir?. Bisakah aku hidup tanpa dirinya? "
Sudah terbiasa dengan kehamilan nya, Adsila mulai merasakan jiwa keibuan merasuk ke dalam dirinya. Ia takut, ketika anak nya lahir nanti, dia malah tidak rela memberikan bayi itu kepada Aditya.
__ADS_1