Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Sore yang sangat indah, Adsila menikmati acara tv bersama putra kesayangannya. Dia tersenyum melihat putra nya yang tengah menonton serial kartun.


Akhirnya kita bisa bahagia juga nak, mama berjanji akan memberikan apa yang menjadi hak mu.


Ting. Tong...


Suara bel berbunyi, terdengar seseorang yang dengan tidak sabaran menekan tombol nya.


"Kok bel nya bunyi telus ma?" ujar Adit.


Adsila menggeleng, dia juga tidak tahu. wanita itu juga penasaran, mengapa bel nya berbunyi seperti itu. Apakah ada tamu?.


Titi menuruni anak tangga, dia mendekati Adsila.


"Ada tamu nak?" tanya Titi.


"Gak tahu bi, neken nya gak sabaran banget"


"Yati!!!"


Adsila memanggil nama Art yang menjadi kepala art di rumah nya.


"Iya nya.."


Yati pun berlari dari arah dapur, dia berdiri di hadapan Adsila.


"Ada apa nya?"


"Itu suara bel bunyi terus, ada tamu kaya nya" ujar Adsila.


"Saya cek dulu yah nya"


Yati pun bergegas menuju ke pintu utama. Dia membuka pintu yang memang selalu Adsila suruh dikunci.


Setelah pintu terbuka, seorang wanita paru baya dan seorang wanita muda, masuk menyelonong melewati Yati.


"Eh eh, maaf Bu anda siapa. Mengapa masuk sembarangan?"


Yati mengikuti wanita itu, dia berusaha untuk menahan nya. Namun, mereka dengan mudah mendorong tubuh Yati.


"Sayang, kamu masuk ke kamar gih. Nanti mama akan menyusul yah" ucap Adsila pada putranya.


"Baik ma" jawab Adit patuh. Dia langsung berlari menaiki anak tangga.


Setelah melihat putra nya naik keatas, Adsila dan Titi pergi ke depan, menyusul Yati.


"Ada apa ini!" teriak Adsila tegas. Dia menatap tajam siapa yang sedang membuat onar di dalam rumah nya.


"Oh.. Ternyata ada pembantu yang sok berkuasa di rumah saya"


"Jaga ucapan anda! jangan sembarangan bicara pada keponakan saya!" ucap Titi tegas. Dia menatap wanita itu dengan tatapan tidak suka.


"Huh, berani sekali pembantu seperti kalian membentak mama ku!" Jasmin berdiri di depan mama nya. Dia menatap Adsila dengan tatapan marah.


Bukan nya takut, Adsila malah berdecih melihatnya.


"Wahh...Lihat lah pengemis ini. Bertingkah seperti tuan rumah? hum... Sayang sekali, kalian bukan siapa siapa di sini"


Jasmin dan Maya semakin marah. Mereka tidak terima dengan ucapan Adsila barusan.


"Siapa yang pengemis di sini! kau atau aku?. " balas Maya.


"Bercermin lah" ucap Adsila tersenyum miring. Titi ikut tersenyum mencibir mereka.


Maya dan Jasmin datang ke rumah Aditya Dairon. Mereka datang membawa dua koper besar. Berniat ingin tinggal kembali di rumah mewah bak istana itu.


Namun, karena Aditya sudah menikah. Hak rumah itu berada di tangan Aditya dan anak nya.


Adsila telah mengetahui segalanya, dia dan Titi sudah berubah menjadi wanita yang kuat. Mereka tidak akan membiarkan siapapun menindas mereka lagi.


"Adsila! kau tidak tahu. Dia adalah nyonya besar di rumah ini. Maya Dairon dan Jasmin Dairon!" ucap Pita. Dia datang dengan kesusahan membawa barang milik kedua majikan nya itu.

__ADS_1


Adsila tersenyum miring melihatnya, ternyata tikus busuk itu masih belum pergi dari kehidupan nya.


"Perlu di perbaiki Pita. Dia memang nyonya besar. Tapi, Du..Lu" tekan Adsila.


"Ketika ayah mertua ku masih hidup! tidak setelah dia meninggal. Lalu..."


Adsila melirik kearah Jasmin, gadis itu terlihat kaku ketika di tatap seperti itu oleh Adsila


"Untuk wanita manis itu, dia bukan lah keturunan Dairon. Dia hanya anak tiri. Jadi, kalian tidak memiliki hak apapun di sini!"


Maya terkejut, Adsila mengetahui segalanya. Dia juga sangat terkejut melihat perubahan wanita ini.


Menjadi istri Aditya, membuat wanita jala*g ini menjadi angkuh.


Titi mendekati Maya, dia menyeret Maya keluar dari rumah.


"Heh..Apa yang kau lakukan! lepaskan aku!"


Brak!.


Maya tersungkur, di lantai teras.


"Mama!!!" pekik Jasmin. Dia mendekati mama nya.


Pita terkejut melihat keberanian Titi.


Adsila mendekati bibi nya, mereka berdiri menatap Maya yang di bantu oleh Jasmin untuk berdiri.


"Berani sekali kalian melakukan ini pada mama ku!"


"Mengapa mereka tidak berani?"


Semua orang terkejut, termasuk Adsila. Dia menoleh pada Aditya yang baru saja pulang kerja.


"Sayang" Adsila berlari mendekati suaminya. Dia menggandeng tangan Aditya. Memperlihatkan kemesraan nya pada Maya.


"Aditya!" gumam Maya.


"Kamu tidak akan semuda itu mengusir kami kak. Sebagian harta ini juga merupakan hak kami!" ucap Jasmin.


"Benar. Di dalam surat wasiat itu. Kami memiliki hak untuk tetap tinggal di rumah ini!" Sambung Maya.


Adsila menoleh pada suaminya, menunggu kebenaran yang Maya katakan.


"Baik lah, kalian akan aku beri tempat di rumah ini" putus Aditya.


"Sayang, ke-"


"Sttt...." Aditya berdesis pada istri nya agar tetap diam, dan mengikuti apa yang dia lakukan.


Maya dan Jasmin tersenyum menang. Mereka mengikuti Aditya masuk ke dalam rumah.


Aditya membawa mereka pada ruangan belakang. Di sana terdapat deretan kamar para art.


Maya tidak percaya, Aditya akan menempatkan dirinya di kamar rendahan seperti ini.


"Aditya, kamu jangan bercanda. Bagaimana mungkin kami akan menghuni kama ini!"


"Jika kalian tidak suka, silahkan pergi!" ucap Aditya. Lalu, pria itu menggandeng istri nya pergi dari sana.


"Wah.. Seperti nya kita akan mendapatkan art baru" seru Titi tersenyum senang. Dia menggandeng tangan Yati pergi dari sana.


"Nyonya, siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Yati berbisik pada Titi.


"Mereka adalah mantan penghuni rumah ini. Tapi, karena sifat jahat nya, Tuan Aditya mengusir mereka."


"Benarkah? pantas saja tuan yang baik hati berubah jahat seperti itu"


Titi mengangguk, mereka berjalan menuju ke halaman rumah. Titi mengajak Yati untuk merawat taman bunga yang baru dia rancang.


Sedangkan Adsila dan Aditya, mereka langsung pergi ke kamar.

__ADS_1


Ceklek.


Saat masuk ke dalam kamar, Adit langsung menyambut kedua orang tuanya.


"Mama!! Papa!!!"


"Anak papa!!" sahut Aditya ikut berteriak. Dia berlari mengejar putranya yang juga berlari kearahnya.


Aditya menggendong Adit, lalu membawanya duduk di sofa balkon kamar.


Sementara itu, Adsila langsung menutup pintu kamar nya dan tidak lupa untuk mengunci nya.


Sebelum ikut bergabung bersama suami dan putranya. Adsila pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, untuk menyiapkan air mandi Aditya.


Setelah semuanya siap, barulah Adsila ikut bergabung.


"Papa, tadi ada tamu aneh di rumah kita" adu Adit.


"Benarkah? siapa?"


Adit menggeleng, dia tidak tahu siapa tamu itu. Mama nya menyuruhnya masuk ke dalam kamar.


"Aku tidak tahu"


"Yahh.... Papa penasaran siapa tamu aneh itu" ucap Aditya berpura pura kecewa.


Adsila duduk di samping suaminya, dia memeluk mereka dari samping.


"Mau ada tamu aneh atau tidak. Yang penting kita bersama sudah berkumpul." ucap Adsila.


"Uhm...Sebenarnya papa Aditya ini , papa asli Adit?"


Deg


Adsila dan Aditya terdiam membisu. Mereka tidak menyangka Adit akan mempertanyakan hal ini.


"Mama sama papa kok diem? Adit cuma nanya. Kalau bukan, Adit mau minta tolong sama papa Aditya, buat cari papa Adit yang lagi kerja jauh!"


Adit menatap mama dan papa nya secara bergantian, menunggu jawaban apa yang akan mereka berikan.


Aditya membisu, dia membiarkan Adsila yang akan menyelesaikan permasalahan ini. Karena sebelumnya Adsila yang memberikan alasan kepadanya.


Adsila tersenyum, dia mengecup pipi putranya sekilas.


"Anak mama sangat pintar, papa Aditya memang papa Adit yang kerja jauh itu sayang. " jawab Adsila.


"Benarkah?" Adit menatap Aditya dengan tatapan berbinar.


"Jadi, papa Aditya adalah papa asli Adit?" tanya bocah imut itu dengan logat lucu nya.


Adsila mengangguk membenarkan nya. Dia tidak mau menyembunyikan lagi pada putranya. Seperti yang sudah dia janjikan, Adsila akan memberikan apa yang menjadi hak putranya.


"Papa...Adit udah ngerasa kok, kalau papa adalah papa Adit." Adit memeluk leher papa nya erat. Di ikuti oleh Adsila yang juga memeluk keduanya.


"Maaf yah nak, papa gak lihat kamu tumbuh besar" lirih Aditya penuh penyesalan.


Dengan besar hati, Adit menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak menyalahkan papa nya, bahkan dia tidak marah.


"Adit ngelti kok, papa jauh kan untuk kelja, dan hasil kelja papa buat Adit dan mama. Don't cry papa"


Adsila dan Aditya saling menatap haru, mereka tidak menyangka akan mendapatkan putra yang baik hati seperti Adit.


"Papa janji, papa tidak akan meninggalkan kalian lagi. Kita akan bersama sama untuk selamanya "


"Yeee!!!!"


Adit bersorak senang, dia mengecup pipi mama dan papa nya secara bergantian.


"Orang orang pasti tidak akan meledek Adit lagi. Mereka pasti akan iri sama Adit, anak sultan di negeli ini!!!" sorak Adit girang.


Adsila tertawa geli, mendengar perkataan putranya.

__ADS_1


Semoga kita akan bahagia untuk selamanya nak.


__ADS_2