
Dewi, bukalah kedua
matamu
Pandanglah ruang di hatiku
Dewi, berikan nafas mu untukku
Agar ku hidup bersamamu
Bersamamu, terus bersamamu.
Adsila terkesima, melihat Aditya dengan lihai memetik gitar sesuai dengan irama lagu. Merdunya suara alunan petikan gitar Aditya, terdengar sempurna dengan iringan suara Aditya.
Seulas senyum tanpa di izinkan, terbit pada bibir tipis milik Adsila.
Dia berdiri di samping Aditya, menatap pria tampan itu bermain gitar.
Sungguh tampan, mempesona di mata Adsila.
Prok!!! Prok!!!
Adsila bertepuk tangan, Aditya menyelesaikan lagu nya.
Pria itu tersenyum, ia senang melihat Adsila menikmati nyanyian nya.
"Suara mu bagus tuan, kau juga terlihat menikmatinya"
"Benarkah? " tanya Aditya tidak yakin.
Dulu, semasa dengan Weira, Aditya selalu menyanyikan lagu ini. Tapi, mantan tunangan nya itu. Tidak pernah memuji atau mengatakan suara nya bagus atau tidak.
"Jika kau ikut lomba Indonesia idol, mungkin kau akan menjadi juaranya"
"Kau terlalu berlebihan" kekeh Aditya.
"Aku serius tuan, suara mu sangat enak untuk di dengar" kata Adsila lagi, ia berusaha untuk meyakinkan Aditya.
"Yayayya...Aku berterimakasih atas pujian mu" pasrah Aditya, sebenarnya ia juga merasa begitu. Hahaha...Lumayan narsis kan?.
Setelah percakapan itu berakhir, kedua nya sama sama terdiam.
Aditya meletakkan gitarnya di samping, menyandarkan nya pada dinding.
Lalu, pria itu menoleh pada Adsila, dan menyuruh nya duduk di samping nya.
"Duduk lah Adsila, apa kau tidak merasa capek berdiri sejak tadi?" ucap nya.
Adsila tidak menjawab, ia juga tidak melakukan apa yang Aditya ucapkan.
Aditya hanya menghela nafas berat, ia tahu jika Adsila masih takut padanya.
"Apa kau masih takut padaku? apa kau masih berpikir jika aku akan mengganggu mu lagi?" tanya Aditya dengan putus asa.
Adsila dengan ragu menggeleng, menjawab pertanyaan Aditya.
__ADS_1
Sejujurnya , Adsila memang sudah tidak takut lagi dengan Aditya. Tapi, ia merasa asing dan sedikit canggung apabila berdekatan dengan pria itu.
Apalagi status mereka yang berbeda, membuat Adsila merasa tidak pantas.
Aditya adalah seorang pemuda tampan yang kaya raya.
Sedangkan dirinya, hanya seorang pembantu yang membuat kesialan pada majikan nya. Hanya karena kejadian satu malam, membuat mereka terjebak dalam situasi ini.
"Adsila, setelah beberapa bulan ini kau bersama ku, apa kau masih ragu dan menganggap aku jahat?."
"Yah, aku memang jahat telah melakukan kesalahan besar kepada mu. Tapi, sungguh aku tidak sengaja melakukan nya. Saat itu, aku dalam kondisi buruk, aku juga dalam pengaruh alkohol" sambung Aditya panjang lebar.
Adsila yang mendengar nya hanya menunduk takut.
"Maaf tuan, tapi aku hanya seorang pembantu, aku tidak bisa sedekat itu dengan anda" lirih Adsila.
Mendengar ucapan Adsila, Aditya pun berdiri. Dia melangkah mendekati wanita itu.
"Aku tidak peduli, mau kau pembantu atau tidak Adsila, tapi aku tidak mau ada kecanggungan. Kau akan melahirkan anak ku. Dan aku harap kita bisa berteman"
Deg.
Jantung Adsila berdegup kencang ketika mendengar Aditya mengucapkan kata berteman.
"Tuan, saya tidak pantas" sela Adsila. Ia merasa terlalu rendah untuk berteman dengan majikan.
"Sttt...Sudah lah Adsila, aku harap kau bisa menjadi teman mu. Apapun yang kau rasakan, tolong katakan padaku, aku tidak mau anak ku nantinya ileran, kau bisa kan?"
Aditya menatap wanita itu dengan tatapan penuh harap.
Jika mereka terus terusan perang mulut, saling menghindar. Aditya takut nantinya akan berpengaruh pada calon anak nya yang di kandung Adsila.
"Terimakasih Adsila terimakasih" Ujar Aditya penuh sukur.
Malam itu, akhirnya mereka menghabiskan waktu dengan bercengkrama.
Aditya menanyakan semua tentang Adsila. Dari mana Adsila berasal, di mana keluarga nya. Semua nya Aditya tanyakan.
Begitu juga dengan Adsila, ia juga menanyakan soal lagu yang Aditya nyanyikan.
Dan Aditya pun menjelaskan, bahwa lagu itu dia nyanyikan untuk mantan tunangan nya.
"Kau tampak mencintai mantan tunangan mu tuan" ujar Adsila. Matanya menatap keatas langit malam.
Hufff....
Adsila menoleh ke samping, ketika mendengar helaan nafas pria di samping nya itu.
"Kau tahu Adsila, jika sudah mencintai seseorang, maka aku akan mengejarnya hingga aku tak sanggup menggapai nya. Aku tidak akan pernah melirik wanita lain selain dia. "
"Lalu?" Adsila tampak penasaran dengan Kisa majikan nya.
"Cih..." Aditya terkekeh, ia menoleh, membalas tatapan mata Adsila.
Di mata Adsila, kekehan Aditya seperti menutupi sesuatu yang besar.
__ADS_1
"Dia lebih memilih karir nya, di bandingkan aku. Padahal, pernikahan kami tinggal hitungan hari"
Hati Adsila tersentuh, ia baru paham. Mengapa Aditya terlihat sangat marah di malam kejadian itu.
Ini kah masalah yang kau hadapi waktu itu?.
Raut wajah Adsila berubah, ia menjadi iba pada majikan nya.
"Kenapa kau tidak menghentikan nya untuk pergi?"
"Huh.. Aku tidak bisa, sekuat apapun aku menghentikan nya, jika dia yang ingin pergi. Bagaimana bisa di hentikan?"
"Ah sudah lah, malam ini adalah malam pertemanan kita. Harusnya kita merayakan nya" ujar Aditya mengalihkan pembicaraan.
"Hum.. Kau benar tuan. Bagaimana kita makan saja?" usul Adsila antusias.
"Makan? memangnya kau ingin memakan sesuatu?" tanya Aditya.
Adsila menggeleng, ia tidak ingin makan sesuatu, tapi dia ingin memasak sesuatu yang enak.
"Lalu, apa yang ingin di makan?" tanya Aditya bingung.
Adsila tersenyum, dia bangkit, lalu menarik tangan Aditya menuju ke dapur.
Ketika mereka masuk ke dalam dapur, Aditya dan Adsila melihat Bian di sana.
"Loh, tuan Bian. Sedang apa kau di sini?" tanya Adsila terkejut melihat keberadaan Bian di apartemen nya dan Aditya.
Bian yang tengah mengaduk sesuatu di dalam mangkok, dia menoleh. Mata nya tertuju pada tangan Adsila yang memegang tangan Aditya.
Adsila langsung melepaskan pegangan tangan nya pada tangan Aditya.
"Ehem... Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Eh tidak Tuan Bian, malam ini saya akan memasak. Jadi, tuan tidak perlu melakukan apapun" jelas Adsila dengan ekspresi wajah berseri.
Bian mengerut heran, ada apa di antara tuan nya dan Adsila. Mengapa mereka terlihat begitu dekat dan senang.
Bian menatap penuh selidik pada Aditya. Namun, pria itu malah mengalihkan pandangannya, seolah tidak tahu apa apa.
"Oke, sekarang silahkan parah tuan tuan duduk di sana" tunjuk Adsila pada meja makan.
"Kau yakin akan masak Adsila? tubuh mu masih lemah" tanya Bian meragu, tadi pagi Adsila terlihat begitu lemah. Dan sekarang dia ingin memasak.
Yang lebih parah lagi, wanita itu terlihat sehat dan bertenaga.
"Sudah lah tuan, kau ikuti saja perintah ku"
Adsila mendorong Bian dan Aditya menuju ke meja makan.
"Kalian duduk lah di sini, dalam waktu singkat makanan akan siap tersaji."
Setelah mengucapkan hal itu, Adsila segera kembali ke dapur.
Wanita itu menyiapkan segala bahan bahan yang akan ia perlukan untuk membuat SOP ayam dan Dendeng balado.
__ADS_1
Ketika masih bekerja, Adsila tidak sengaja mendengar Pita dan Marni berdebat soal makanan kesukaan Aditya.
Jadi, malam ini Adsila akan memasak makanan kesukaan majikan nya