
Ting Tong...
Suara bel terus berbunyi, namun tidak ada satu pun orang yang membuka pintu.
Ting tong...
"Suara bel!!" Teriak Adsila.
Wanita itu kini sedang berada di antara dua wanita hamil. Sungguh hidup Adsila semakin kacau semenjak kedua wanita ini hamil.
Entah apa lagi yang saat ini menjadi sumber perdebatan Hana dan Titi.
Yati yang sejak tadi mendengar suara teriakan Hana dan Titi yang saling bersahutan menjadi pusing.
"Nyonya...Aku tidak tahan lagi" tubuh Yati ngelenyot ke lantai, tulang belulangnya terasa tidak bertenaga.
Adsila memegang kepalanya, dia benar-benar pusing. Dia hendak pergi membuka pintu, melihat siapa tamu yang datang.
Namun, Hana menahan nyam dia berpikir Adsila ingin kabur.
"Kamu mau kabur? kenapa kamu pergi?"
"Iya Adsila, kamu harus mengajari ku memasak kue!" Sahut Hana.
"Tidak, dia harus mengajari ku membuat jus" bantah Titi.
Mulai lagi, mereka kembali berdebat. Adsila hanya bisa menutup telinganya dan berharap Lena segera pulang.
"Bibi, Hana! Kalian ini kenapa sih, selalu saja seperti ini. Aku bisa pusing, mendengar suara teriakan kalian!!"
Deg.
Seketika amarah Adsila tertelan, melihat wajah sedih kedua wanita itu.
"Kenapa kalian bersedih?" Tanya Adsila bingung.
"Hiks...Hiks....Kenapa kamu membentak ku" Titi.
"Hati ku hancur" sahut Hana.
Oh tuhan, Adsila semakin gila. Drama apalagi ini. Bibi dan sahabat nya ini benar-benar membuatnya gila.
Dari luar, Ria merasa capek berdiri di depan pintu rumah Adsila. Dia terus menekan bel, tapi tidak ada yang membuka pintu.
Ketika masuk gerbang, dia sempat menanyakan keberadaan Adsila di rumah ini. Mereka pun menjawab, Adsila ada di rumah.
"Apa dia tidur? Tapi, jika dia tidur apakah tidak ada orang lain di rumah besar ini?" Pikir Ria.
Setelah beberapa saat menunggu, Ria kembali menekan bel. Tapi, hasilnya tetap sama. Tidak ada yang membuka pintu.
"Huh, sepertinya tidak ada orang" gumam nya kecewa. Ria berbalik pergi, dia berjalan menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Saat akan masuk ke dalam mobil, datang sebuah mobil hitam. Ria pun memutuskan untuk menunda niat nya masuk ke dalam mobil. Dia memperhatikan siapa yang datang.
Lena keluar dari dalam mobil, dia terkejut melihat ibu angkat kakak nya ada di depan rumah. Dia juga melirik kearah pintu yang tertutup rapat.
"Loh, bibi ibu angkat nya kakak ku bukan?" tanya Lena ragu.
Ria tersenyum, dia berjalan mendekati Lena.
"Iya nak, apa kamu adik nya Adsila?"
"Iya bibi, aku adik nya. Uhmm...Bibi udah ketemu kakak?" tanya Lena ragu, dia tidak melihat kakak nya mengantar ibu angkatnya pulang. Apa mereka belum bertemu? Apa kakak nya tidak di rumah??
"Tidak sayang, aku belum bertemu dengan nya. Sejak tadi aku menekan bel, tapi tidak ada yang keluar" jelas Ria.
"Hm..Masa tidak ada orang di rumah." Lena melirik ke arah bagasi, mobil yang biasa kakak nya tumpangi masih ada di sana. Mobil Titi, Hana juga ada di sana. Mana mungkin rumah ini tidak ada orang. Apalagi Yati juga ada.
"Yasudah bibi, ikut aku masuk aja. Mana tahu Kaka sedang tidur" ucap Lena menggandeng tangan Ria.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, saat masuk ke ruang tamu. Lena mendengar suara teriakan Hana, kemudian di sahuti oleh Titi.
"Tuh kan!"batin Lena. Dia sudah menduga ini terjadi. Pasti ada keributan lagi di rumah ini. Dan itu pasti ulah wanita hamil itu.
"Siapa yang berteriak itu?"tanya Ria heran, plus terkejut.
"Hehe bibi, ikut lah dengan ku. Jika bibi ingin tahu, mengapa tidak ada orang yang membukakan pintu" Lena langsung berjalan menuju ke dapur.
Karena rasa penasaran, Ria pun pergi mengikuti Lena.
Sedangkan Lena, dia hanya menatap datar pemandangan itu. Sudah biasa bagi nya.
"Ada apa ini?"tanya Lena dengan suara meninggi. Hanya itu satu satunya cara untuk menghentikan mereka.
Nah benar kan, mereka terhenti. Kemudian menoleh pada mereka.
Fyuu...
"Akhirnya kamu pulang Lena" ucap Adsila bernafas lega, dia sudah sangat lelah. Saat ini Hana dan Titi merebutkan dirinya.
Titi dan Hana langsung melepaskan tangan Adsila. Mereka tersenyum manis, lalu berhamburan pergi ke kamar masing-masing.
"Kenapa lama sekali???"lirih Adsila lagi, dia terduduk di kursi meja makan.
"Sayang..." Ria menghampiri Adsila, menuangkan air putih ke dalam gelas lalu memberikan nya pada Adsila.
"Terimakasih ma" ucap Adsila menerima segelas air itu, kemudian dia meneguk habis.
"Kenapa mereka memperlakukan kamu seperti itu, bukan kah dia bibi mu?"
"Bukan seperti yang mama lihat ma, mereka itu hanya ibu hamil yang sulit mengendalikan diri. Hormon nya sedang meningkat dan membuat mereka bersikap egois dan kekanak-kanakan" jelas Adsila panjang lebar.
"Apa itu yang di namakan bawaan bayi?"
__ADS_1
"Yah, bibi. Begitulah dokter katakan"celetuk Lena.
"Bawaan bayi nya gila banget" sahut Yati.
Lena terkekeh pelan, penampilan Yati terlihat sangat kacau. Seperti nya sasaran utama mereka adalah dirinya tadi.
"Rapikan dirimu Biya, kamu terlihat sangat kacau " titah Lena.
Yati mu mengangguk pelan, kemudian berlalu ke kamar tidurnya.
"Oh iya, mama kapan datang?"
Hufff...
Ria menarik nafas dalam,bersiap menumpahkan kekesalannya tadi.
"Mama sudah datang sejak 30 menit tadi sayang. Menekan bel, tapi tidak ada yang membukakan pintu"
"Ohh berarti mama yang menekan bel tadi?" Ucap Adsila. Ria pun mengangguk membenarkan.
"Aku mendengar nya ma, tapi aku tidak bisa pergi. Kedua wanita hamil itu membuat ku tidak bisa bergerak "
Ria mengangguk mengerti, dia melihat sendiri bagaimana perjuangan putrinya menghadapi Titi dan Hana.
"Mereka hanya takut pada ku, entah mengapa hal itu bisa terjadi" ujar Lena terkekeh pelan. Dia pun tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.
"Oh iya nak,mama datang ke sini ingin membicarakan soal pernikahan Bobi. "Ucap Ria memberitahu.
"Hah?? Kak Bobi mau menikah ma? Sama siapa???" Adsila terkejut mendengar kabar ini, dia juga sangat merasa senang.
"Iya Adsila, kakak mu sudah mendapatkan jodoh . Anak teman mama"
"Benarkah?"
"Siapa ma? Apakah dia cantik? Apakah dia baik??"tanya Adsila begitu penasaran.
"Weira, mungkin kamu mengenal nya. Dia seorang model dan yah, mama yakin kamu mengenal nya juga" ujar Ria, mengingat siapa Weira. Tidak ada yang tidak tahu pembatalan pertunangan Weira dengan Aditya.
Mata Adsila membulat besar, bukan marah tapi dia seakan tidak percaya dengan jalan kehidupan nya.
"Astaga....apakah mereka benar-benar jodoh??? Aku baru saja berniat ingin menjodohkan mereka"
"Benarkah?"
Adsila mengangguk kuat, "iya ma, aku ingin membuat sebuah pesta seperti yang aku lakukan pada Titi dan Hana. Menjebak mereka untuk menyatakan perasaannya pada wanita yang mereka sukai. Namun, sebelum pesta itu, aku ingin membuat mereka dekat. Eh tahu nya sudah mau menikah saja" kekeh Adsila di akhir kalimat nya.
Ibu satu anak itu tersenyum senang, dia mengingat kembali pesta yang pernah dia buat sebagai penyatuan Hana dan Rangga, sedangkan Titi dengan Bian.
"Waw...Takdir memang sudah di tebak" ujar Ria.
Lena yang sejak tadi hanya menjadi pengamat, ikut tersenyum bahagia. Akhirnya dia melihat kakak nya tersenyum seperti ini lagi. Setelah semua yang dia lalui, akhirnya takdir memihak pada nya. Ketulusan hati seorang Adsila telah di balas dengan bahagia bersama keluarga nya.
__ADS_1