
Setelah lelah bermain, Adit tertidur di dalam gendongan mama nya.
Mereka tengah berjalan menuju parkiran, tempat mobil Adsila di parkir.
Ketika berada di depan mobil Adsila, Aditya memanggilnya.
"Adsila, aku mau bicara"
Adsila pun menoleh, dia mengangguk pelan. Lalu membaringkan putranya di dalam mobil.
"Pak jaga sebentar yah" ucap Adsila pada pak Somat, supir mama angkat nya.
"Baik non" jawab pak Somat mengangguk pelan.
Adsila menemui Aditya yang menunggu nya di luar mobil.
"Apa yang mau tuan bicarakan lagi?" tanya Adsila menundukkan wajahnya.
"Jangan menunduk, aku ingin melihat wajah mu" tangan Aditya tergerak memegang dagu Adsila.
Wanita itu terkejut, dia mendongak mengikuti tarikan tangan Aditya.
Mata mereka bertemu, terlihat jelas pancaran kerinduan dari kedua pasang mata itu.
"Tu-an" gugup nya, dia menghindari tangan Aditya.
"Sorry" lirih Aditya. Dia berdehem pelan. Kemudian mulai membicarakan apa yang hendak dia katakan pada Adsila.
"Kenapa kamu menghilang selama ini? oh bukan, mengapa kau berbohong pada ku?"
"Huh?" dahi Adsila mengerut, dia tidak tahu apa yang Aditya bicarakan.
Bukan, dia tahu. Hanya saja berpura pura tidak tahu.
"Aku sudah tahu semuanya Adsila, Adit adalah putra ku, bayi yang kau katakan telah gugur!"
Deg.
Adsila terkejut, kedua bola matanya membulat besar. Pikiran pikiran ketakutan mulai menghantui pikiran nya. Bayangan Aditya akan merebut Adit dari dalam pelukan nya mulai memasuki pikiran.
"Tidak! dia bukan anak tuan, dia anak ku!" teriak Adsila mulai marah. Dia menatap Aditya penuh ketakutan.
Ketika Adsila hendak berbalik pergi, dengan cepat Aditya menahan dan langsung memeluknya.
"Tenang Adsila, aku tidak akan mengambilnya dari mu. Aku hanya ingin kau mengakui, jika dia adalah putra kita" bujuk Aditya menenangkan.
Perlahan perlawanan Adsila melemah, dia hanya menangis di dalam pelukan Aditya.
"Aku hanya takut, kau mengambilnya dari ku. Aku takut berpisah dari anak ku!"tangis nya.
__ADS_1
"Sttt....Aku tidak sekejam itu!"
"Tapi, di kontrak itu?"
Aditya merenggangkan pelukannya, dia membiarkan Adsila menatap wajahnya.
"Masa lalu biarlah berlalu, sekarang sudah berbeda. Aku ingin kau dan putra kita kembali padaku. Menjadi milik ku!" ucap Aditya serius. Tatapan matanya lurus menatap ke bola mata Adsila.
"Benarkah?" Adsila menatap wajah Aditya, mencari secarik kebohongan di sana.
"Adsila!"
Bobi tiba tiba datang dan menarik Adsila dari dalam pelukan Aditya.
"Kak Bobi?" Adsila terkejut, Bobi ada di depan matanya.
Pria itu menyembunyikan Adsila di belakang punggung nya. Dia menatap Aditya dengan tatapan permusuhan.
"Kau! sudah aku peringatkan pada mu!. Aku tidak akan kalah, persaingan kali ini aku tidak akan kalah dari mu!" ucap Bobi menunjuk wajah Aditya.
Hufff....Haa..
Aditya menghela nafas, lalu menghembuskan begitu saja. Dia menatap Bobi dengan tatapan datar.
"Aku sudah katakan pada mu Bobi, aku tidak akan pernah bersaing soal wanita dengan mu!"
"Lalu, mengapa kau mendekati Adsila! Calon istri ku!" ucap Bobi lantang.
"Cih, kau berbohong? kau pikir aku akan percaya begitu saja?" cibir Aditya, dia tersenyum miring.
"Dia wanita ku Aditya, kau tidak boleh mendekati nya!" peringat Bobi, dia tidak akan mau mengalah lagi kali ini. Cinta nya tidak akan pernah dia lepaskan.
"Sorry Bobi, dia lebih dulu menjadi wanita ku. Jauh sebelum kau mengenal nya!"
"Cih, aku tahu itu. Namun, sayang sekali. Semua itu hanya sebuah kecelakaan. Adsila sudah menjelaskan padaku dan aku memakluminya " balas Bobi. Dia berbohong, Adsila tidak pernah menjelaskan pada Bobi siapa pria yang menjadi ayah Adit.
"Jadi, Bobi sudah tahu? siapa ayah Adit?"batin Adsila, matanya menatap Bobi dari belakang.
Sedangkan Aditya, dia terdiam setelah mendengar ucapan Bobi. Dia berpikir jika Adsila tidak memiliki perasaan kepadanya.
"Aku harap, mulai hari ini. Kau tidak mengganggu calon istri ku lagi!" tegas Bobi.
"Dan satu lagi, Adit sudah terbiasa dengan ku! jadi kau tidak perlu khawatir, dia pasti aman bersama ku!" imbuh nya.
"Tidak! dia putra ku!" balas Aditya dengan suara keras.
"Aku tahu, tapi kau tidak tahu bagaimana dia dari bayi!" cibir Bobi.
Mereka terus berdebat, membuat Adsila tidak tahan mendengar nya. Aditya tidak salah, karena dialah yang membuat Aditya tidak melihat putranya dari bayi.
__ADS_1
Sedangkan Bobi, dia juga tidak salah. Selama ini Adsila membiarkan Bobi mendekatinya tanpa memberikan kejelasan.
Jadi, di sini yang salah adalah Adsila. Dia yang menimbulkan permasalahan ini.
"Sudah diam!!!!"
"Kak, Tuan. Tolong hentikan, saya sudah tidak kuat mendengar nya!"teriak Adsila menahan tangis, dia menarik tangan nya dari cengkraman tangan Bobi.
Adsila berbalik, lalu masuk ke dalam mobil. Meminta pak Somat untuk berlalu pergi.
"Adsila! Adsila!!" Aditya mengejar Adsila, dia masih belum selesai berbicara dengan wanita itu.
Namun, Bobi menahan tangan nya.
"Tolong hentikan tuan Dairon!"
Aditya menatap kepergian mobil Adsila, dia menggeram marah. Namun, kemarahan itu dia simpan di dalam hatinya.
Aditya mendengus kesal, dia menatap Bobi lama, kemudian berlalu pergi dari sana.
"Aku harap kau tidak akan mengganggu nya lagi!" teriak Bobi mengiringi langkah kaki Aditya.
Pria ini sengaja menyusul Adsila ke mall. Sejak kepergian Adsila dan Adit, membuat hati Bobi gelisah.
Ternyata benar, Adsila bertemu dengan Aditya di belakang nya.
Di dalam mobil, Adsila menangis dalam diam. Air matanya terus mengalir membuat jalur tersendiri pada pipi tembam nya. Sesekali, terdengar Isak tangis tertahan dari wanita itu.
"Hiks...Hiks.."
Adsila menghapus air matanya, dia berusaha untuk tidak menangis. Namun, sangat sulit untuk di tahan.
Pak Somat melirik Adsila beberapa kali dari kaca spion. Sebenarnya dia kasihan pada Adsila, gadis muda yang menjalani hidup nya dalam kesulitan.
Adit yang tidur di jok mobil, mendadak terbangun. Tanpa sengaja tetesan air mata Adsila jatuh di atas matanya.
"Mama nangis?" Adit segera bangun, dia langsung memeluk mama.
"Jangan nangis mama,Adit di sini. Adit nakal yah? Adit janji gak bakal nakal lagi" ucap Adit mulai ikut menangis, tangan mungil nya sibuk menghapus air mata di pipi mama nya.
Adsila semakin menangis keras, putra nya yang pintar membuat hatinya terharu.
Pak Somat yang melihat interaksi ibu dan anak itu ikut meneteskan air mata.
"Adit sayang mama, Adit gak bakal tinggalin mama"
Adsila mengangguk kuat, dia memeluk putranya erat. Seakan takut putranya akan hilang dari dalam dekapan nya.
"Mama sayang Adit, mama sayang" gumam Adsila sambil mengecup berkali kali puncak kepala Adit.
__ADS_1
Sungguh mengharukan, ibu dan anak yang saling menyayangi. Semoga ibu ibu yang membaca karya ku ini, juga mendapatkan anak anak yang baik, pintar seperti Adit. Menyayangi orang tua dan kalian bisa berbahagia selamanya.