
Salam santun buat readers ku semua, aku senang kalian udah mampir di karya aku. Dukungan kalian sangat membuat aku bahagia. Bagi yang belum like, komen, dan share. Silahkan yah.
happy reading!!!!
Pintu utama rumah besar Aditya terbuka.
Aditya dan Adsila mematung, melihat Weira berdiri dengan senyum manis nya.
"Ka-"
"Waw...Sayang, kamu mengundang tamu kok gak bilang sama aku?" ucap Weira memotong ucapan Aditya dengan santai.
Wanita itu tersenyum, mendekati mereka berdua.
"Kamu Adsila kan?"
Adsila mengangguk pelan, dia cukup terkejut melihat mantan tunangan Aditya ada di rumah besar ini.
Sedangkan Aditya, dia hanya bisa menahan amarah melihat sikap gila Weira.
"Ayo masuk, tidak baik mengobrol di depan rumah"
Weira membopong keduanya masuk ke dalam.
"Silahkan duduk Adsila, sebentar yah. Aku akan menyuruh Pita membuatkan minum"
"Pita!!! Pita!!!" teriak nya.
Tak lama kemudian, pita pun datang. Dia berlari mendekati Weira.
"Iya nya, ada apa?"
Weira menoleh pada Adsila,dia menanyakan wanita itu ingin minum apa.
"Mau minum apa ?"
"Tidak, aku tidak haus" tolak Adsila dengan ekspresi datar.
Pita menatap Adsila sinis, dia merasa tidak pantas Aditya duduk di samping nya.
"Uhm sayang sekali, kamu datang sia sia" kekeh Weira pada Pita, lalu menyuruh wanita itu pergi.
Pita pun pergi, sebelum pergi dia melototi Adsila terlebih dulu.
Adsila diam saja, dia tidak terlalu menanggapi Pita. Di dalam otak nya saat ini, hanya rasa kecewa.
Jika kau sudah menikah dengan nya. Mengapa masih mengejar ku tuan?. Apa karena Adit?.
Adsila melamun, dia pikir Aditya dan wanita itu tidak bersama. Ternyata, kenyataan lebih pahit di bandingkan dengan kebohongan.
Ah, kenapa aku malah jadi begini. Dari awal memang mereka bersama.
"Adsila, bagaimana kabar Adit?"
Deg.
Adsila terkejut, dia menatap Weira tidak percaya. Wanita itu tahu tentang putranya.
Tahu Adsila terkejut, Weira dengan ekspresi tidak enak mengatakan.
"Uhm...Aditya sudah mengatakan pada ku. Jika dia membuat kesalahan dan kamu melahirkan anak nya"
"Weira cukup! Aku-"
"Sudah lah tuan, jangan bertengkar. Aku ingin pulang, mengapa anda membawa saya ke sini!" sela Adsila memotong ucapan Aditya.
__ADS_1
"Tapi Adsila, Aku da-"
Sudahlah tuan, jika tidak ada yang ingin di bicarakan lagi. Sebaik nya saya pulang!"
Aditya terus mencoba untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Adsila, namun wanita itu seakan menolak nya.
Adsila beranjak, dia pamit undur diri.
"Kau!" tunjuk Aditya sebelum mengejar Adsila.
Weira hanya mengangkat bahu, dia tersenyum senang melihat situasi Aditya dan Adsila Seperti saat sekarang ini.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bersatu. Jika aku tidak mendapatkan mu, maka dia juga tidak bisa!"
"Adsila!! Adsila!!!" panggil Aditya, dia terus mengejar dan berusaha menggapai Adsila yang berjalan cepat.
"Adsila tunggu!"
Aditya berhasil meraih Adsila, dia menahan tangan Adsila agar tidak jadi pergi.
"Apa lagi tuan."
Adsila menepis tangan Aditya, dia menatap pria itu dengan tatapan kecewa.
"Adsila, tolong jangan pergi. Aku akan menjelaskan semuanya pada mu!"
"Tidak tuan, tidak ada yang perlu di jelaskan, aku tidak salah paham, anda dan siapapun itu tidak ada urusan nya dengan saya"
Deg.
Seakan di hantam ombak besar, Aditya merasa terombang ambing mendengar ucapan Adsila barusan.
Niat Aditya membawa Adsila datang ke rumah besar ini adalah, untuk menunjukkan bahwa rumah ini akan mereka huni. Rumah yang sudah lama tidak ia tempati.
Namun, kejadian yang tidak di inginkan terjadi. Weira tiba tiba berada di rumah itu.
"Sudah cukup tuan! saya tidak ingin mendengarkan apapun. Karena tidak ada yang harus di jelaskan. "
Adsila menatap Aditya untuk terakhir kali nya, dia berbalik dan berlari menuju ke gerbang.
"Adsila!" panggil Aditya terdengar putus asa.
Adsila terus berlari keluar, perlahan air matanya mengalir beriringan dengan langkah kaki nya yang semakin cepat.
*Tidak, aku tidak boleh menangis. Rasa sakit ini, adalah akibat dari aku yang pernah berharap.
Sadar Adsila, kamu hanya wanita biasa. Wanita yang beruntung bisa mengandung putra yang tampan*.
Adsila keluar dari pintu gerbang, dia berjalan pelan, matanya menatap kosong ke depan.
Bayangan Weira yang ada di rumah Aditya, membuat wanita itu semakin merasa sakit di dada nya.
Sesak sekali, rasanya Adsila ingin mati saja.
Citttt.....
Adsila terkejut, sebuah mobil hitam berhenti di depan nya.
Adsila tersentak, dia langsung berlari menjauhi mobil hitam itu. Firasat nya mengatakan mobil itu bukanlah orang yang baik.
"Hei jangan kabur!!!" teriak seseorang yang menyeramkan keluar dari dalam mobil. Dia berlari mengejar Adsila.
Supir mobil itu langsung memutar arah mobilnya. Lalu mengikuti teman nya yang tengah mengejar Adsila.
Lari Adsila, lari. Mereka bukan orang baik, kamu harus lepas dari mereka.
__ADS_1
Adsila terus berlari, sesekali dia menoleh kebelakang. Melihat jarak penjahat itu dari dirinya.
Bruk~
Bug..
Adsila terjatuh, dia tidak sengaja menginjak batu yang sedikit lebih besar.
"Akh..." Adsila merintih, dia merasa sangat kesakitan di bagian pergelangan kakinya.
Wanita itu menoleh ke belakang, pria yang terlihat menyeramkan itu berlari cepat kearah nya.
"Ahahaha.....Mau lari ke mana manis? kamu sudah tidak bisa kemana mana" tawa nya mengejek Adsila.
Mobil penjahat itu berhenti di depan merek. lalu, pria bertubuh lebih besar dari pria yang mengejarnya keluar dari dalam mobil.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Adsila. Keras nya tamparan itu, sampai membuat tubuh Adsila terhuyung ke samping.
"Kau menyusahkan kami saja!" ucap pria itu sambil menatap Adsila tajam.
"Bawa dia!" titah nya tak terbantahkan.
"Baik tuan!" jawab pria yang mengejar Adsila tadi.
Pria itu pun langsung menarik tangan Adsila kasar. Lalu, menyeret Adsila masuk ke dalam mobil.
"Akh...Aks" Adsila merintih kesakitan setiap kaki nya terseret atau bergerak.
Tanpa perasaan, pria itu mendorong Adsila masuk kedalam mobil.
...----------------...
Aditya masuk ke dalam rumah, dia mencari keberadaan Weira yang berani beraninya menyebabkan Adsila kecewa kepada dirinya.
"Weira!!! Weira!!"
Aditya memasuki ruangan keluarga, dia menemukan Weira tengah menonton tv.
"Wanita bodoh!" bentak Aditya.
"Aduhhh honey, kenapa harus berteriak sih. Aku tuh gak tuli tahu.."
Aditya tidak perduli, dia mendekati Weira, lalu menyeretnya ke depan.
"Pergi dari rumah ku!" usir Aditya, dia mendorong Weira ke lantai.
Bruk.
"Aws... Kamu kok kasar banget sih beb. Sakit tahu!"
Weira kembali bangkit,dia bersikap seolah olah mereka masih dekat seperti dulu.
Namun ini Aditya Dairon, pria yang tidak mengampuni pengkhianatan!.
"Kau bukan lagi tunangan ku, aku tidak mau melihat mu masuk ke rumah ku lagi!" tegas Nya.
Bukan nya marah, Weira malah tertawa keras.
"Aditya Aditya, kamu ini sangat bodoh. Aku tidak menyangka jatuh cinta pada pria bodoh seperti mu"
"Aku juga tidak Sudi memiliki wanita seperti mu"
Blam!
__ADS_1
Aditya menutup pintu, lalu mengunci nya. Masih terdengar suara teriakan Weira di luar sana, mengutuk dan mengancam Aditya dengan hal hal yang sebenarnya tidak membuat Aditya takut.