
Berbagai peristiwa telah terjadi, berbagai masalah telah banyak di selesaikan. Kini, Aditya dan Adsila mulai berbahagia. Mereka mulai hidup normal seperti keluarga yang lain nya.
Hanya satu permasalahan mereka, wanita tua dan putri muda nya yang selalu membuat keributan.
Maya masih terus berusaha mengacaukan Adsila. Dendam nya tak terbalaskan, hingga suatu ketika. Maya berusaha untuk membunuh Adsila.
Ketika mereka sedang makan bersama, Maya membawa pisau tajam dan ingin menusuk perut Adsila.
Beruntung Hana melihatnya dan menahan tangan Maya. Aditya juga membantunya.
Rangga langsung merekamnya, dia menjadikan hal itu sebagai bukti untuk memasukkan Maya ke dalam penjara.
Tidak, Adsila tidak memasukkan Maya ke penjara. Namun, Adsila malah meminta Aditya untuk memasukkan Maya ke panti jompo.
Kini hanya tersisa Jasmin, dia masih belum tahu mama nya di masukkan ke panti jompo.
Gadis itu pergi dan datang sesuka hatinya, dan Aditya juga tidak ambil pusing.
Saat ini, Adsila tengah duduk di halaman rumah. Menemani Adit bermain di sana.
Adsila tersenyum, dia semakin merasa lega. Hidup nya semakin bahagia, dia bersatu dengan Aditya, dan juga membahagiakan bibinya.
"Semoga tidak ada lagi masalah di hidup ku"batin Adsila, mata nya tak lepas dari pergerakan putranya.
"Adsila!"
Mendengar nama nya di teriaki oleh seseorang, Adsila langsung berdiri dan menoleh ke belakang. Dia melihat Jasmin melangkah kearahnya dengan kemarahan.
"Adsila, kemana mama ku kau sembunyikan!" Bentak Jasmin sambil mendorong bahu Adsila.
Tubuh Adsila terhuyung ke belakang.
"Mama!!" Teriak Adit, dia marah melihat Jasmin mendorong mama nya.
Adit memeluk mama nya, menatap Jasmin dengan tatapan tidak suka.
"Jangan sentuh mama ku!" Marah Adit.
"Heh anak kecil, jangan ikut campur. Pergilah main sana!" Marah Jasmin. Dia hendak menarik Adit, namun Adsila tidak membiarkan nya. Dia menangkap tangan Jasmin, mencengkram nya erat.
"Jangan berani beraninya menyentuh anak ku! Aku bisa melakukan apapun, termasuk membunuh mu!" ucap Adsila penuh penekanan, mata nya mengkilat di penuhi oleh amarah.
Melihat perubahan mengerikan dari Adsila, membuat Jasmin sedikit ketakutan.
"Kau pikir, aku takut pada mu! Tidak!" Jasmin menarik tangan nya, dia berusaha menghilangkan rasa takut nya pada Adsila. Agar wanita itu tidak semena mena terhadap nya.
"Terserah kau takut atau tidak pada ku, yang pasti. Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti anak ku, keluarga ku dan semua orang yang ada di dekat ku!"
"Tapi kau menyakiti ibu ku!"sentak Jasmin.
Adsila mendekati Jasmin, menatap tajam mata wanita itu.
"Aku bisa saja membunuh ibu mu, aku bisa saja menjebloskan dia ke penjara. Tapi!" Ucapan Adsila terjeda. Dia menghela nafas dalam, mencoba menenggelamkan emosinya.
"Aku tidak sama seperti mu! Jika aku melakukan kejahatan itu, berarti aku sama seperti mu!" ucap Adsila.
Deg.
Jasmin terdiam, perlahan kepala nya menunduk.
__ADS_1
"Lalu, kemana mama ku kau sembunyikan?" suara Jasmin terdengar lirih.
"Aku memasukkan nya ke panti jompo. Aku sudah meminta psikolog untuk mengobati kejiwaan nya"
Deg.
Hati Jasmin tersentuh, dia tidak menyangka Adsila masih memikirkan kebaikan untuk mama nya. Padahal mereka sudah sangat jahat.
"Kenapa kau melakukan ini Adsila?" Gumam Jasmin pelan.
"Karena mama ku bukan oyjahat seperti mu" jawab Adit.
Jasmin terdiam, dia benar benar terpukul dengan keadaan saat ini. Entah mengapa dia mulai merasakan penyesalan. Di saat dirinya dan juga mama nya berada di tingkat kesusahan, Adsila malah tidak membalas mereka.
Adsila merenggangkan pelukan Adit, lalu dia mendekati Jasmin. Dia memegangi bahu wanita itu.
"Jika kamu menyesal, maka kamu masih memiliki waktu Jasmin. Kamu masih memiliki kesempatan" ucap Adsila dengan nada serius.
Jasmin mendongak, menatap wajah Adsila yang terlihat serius. Tidak ada kebohongan di sana.
"Mengapa kamu sebaik ini Adsila? Mengapa kamu berbuat baik kepada ku??"
Adsila tersenyum hangat, dia memeluk tubuh Jasmin seperti memeluk tubuh Lena.
"Jangan merasa sendiri Jasmin, kau bisa memperbaiki hidup mu. Aku bisa meminta Aditya untuk mengirim mu ke luar negeri, dan memulai hidup baru di sana."
Adit mendekat, dia ikut memeluk kaki mama nya.
"Hiks...Hiks..." Jasmin menangis, bahunya bergetar .
"Mengapa kamu sebaik ini? Mengapa kamu tidak membenci kami Adsila!"
"Adsila, kamu memang wanita yang baik. Pantas saja Tuhan melindungi kamu. Aku bahagia kakak ku bersama mu" lirih Jasmin kembali memeluk Adsila.
"Diam lah, jangan menangis lagi. Aku tidak mau melihat mu cengeng." bujuk Adsila, dia merenggangkan pelukan nya pada Jasmin, lalu mengusap air mata Jasmin.
"Kamu wanita yang hebat Adsila, pantas saja hati kakak ku bisa luluh oleh mu" batin Jasmin.
Hari itu, Jasmin pun mulai berubah. Semua keluarga tidak percaya,bahwa Jasmin bisa berubah semudah itu.
Namun, Adsila menjelaskan dan meyakinkan keluarga nya. Akhirnya mereka secara perlahan mulai percaya dan mulai berbuat baik pada Jasmin.
Adsila meminta suaminya untuk memberikan modal untuk Jasmin, dia akan membuka usaha di Paris. Hoby Jasmin adalah desainer. Kuliah nya sempat tertunda karena semua masalah yang ada.
Jasmin sudah menjelaskan mengapa dia melakukan semua ini. Dia hanya menginginkan perhatian dari seorang kakak, mencari perhatian Aditya yang selama ini tidak memperhatikan nya.
Setelah membicarakan semua nya bersama sama, akhirnya mereka mulai berdamai dengan masalalu.
Kini mereka sedang berada di badar udara. Melepas kepergian Jasmin ke Paris.
"Dada aunty!!! Hati hati!!!" Teriak Adit melambaikan tangan pada Jasmin yang sudah berjalan pergi ke ruang tunggu.
"Dada....Nanti bakalan aunty telfon" sahut Jasmin membalas lambaian tangan Adit.
"Aku tunggu!!!"teriak Adit lagi.
Aditya memeluk istrinya, tersenyum bahagia melepas kepergian Jasmin. Berkat Adsila dan izin Tuhan yang maha esa, keluarga nya terlepas dari segala masalah.
"Terimakasih sayang, aku bahagia memiliki mu" bisik Aditya.
__ADS_1
Adsila menoleh, dia tersenyum membalas bisikan suaminya.
"Demi kamu dan juga putra kita. Aku rela melakukan apapun" ucap Adsila.
Aditya semakin tersenyum bangga, dia memeluk istrinya semakin erat.
"Ekhem... "
Adsila dan Aditya tersentak, mereka menoleh ke bawah, menatap Adit tengah berkacak pinggang.
"Jika sudah bersama, kalian melupakan aku!" Gerutu Adit.
Bocah imut itu menarik tangan mama nya, dia menjauhkan Aditya dari Adsila.
"Ini mama ku, bukan wanita mu!"dengus Adit.
"Hei, dia istri ku!" Dengus Aditya. Namun, Adit malah membawa mama nya pergi keluar dari bandara.
"Tunggu....." Teriak Aditya dengan wajah menekuk, dia mengejar istri dan putranya.
Adsila masuk ke dalam mobil, mereka duduk di kursi belakang.
"eh kok di kunci sayang?" tanya Adsila heran. putranya mengunci suaminya dia luar.
"gak papa ma, biarkan saja papa duduk di depan"jawab Adit.
Adsila tersenyum geli, putra nya benar benar lucu. mereka memperebutkan dirinya.
Keluarga ku adalah kebahagiaan ku, mereka adalah semangat ku.
Teg...
Aditya mencoba membuka pintu mobil bagian belakang. Namum pintu itu tidak bisa di buka, sudah terkunci dari dalam.
Tuk tuk..
Aditya mengetuk kaca mobil, berusaha mengintip kedalam mobil.
"Adit, buka pintu nya! papa mau masuk!!" teriak Aditya dari luar.
namun, Adit malah bersikap seolah tidak mendengar teriakan papa nya.
"Bilang sama papa, kalau mau masuk duduk depan" titah Adit pada supir mereka.
"Baik den!"
Supir pun membuka jendela kaca mobilnya. Dia mengatakan pada Aditya sesuai seperti pesan putranya.
"Tuan, tuan muda bilang. Papa duduk depan aja kalau mau masuk" ucap pak supir mengulang ucapan tuan muda nya.
"huh, kenapa begitu. dia tidak bisa mendominasi istri ku!" teriak Aditya emosi.
"Tapi tuan muda hanya berkata itu tuan" balas pak supir.
Aditya pun mendengus pasrah, dia akhirnya duduk di bangku depan samping supir.
Saat sudah masuk, Aditya menoleh ke belakang. Melihat Adit menatap nya sinis.
pak supir pun menjalan kan mobil, membawa Adsila yan yang tertawa geli melihat kelakuan putra dan suaminya yang masih berperang.
__ADS_1