Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Keluar Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Tahap pemulihan selesai, Adsila sudah di perbolehkan pulang.


Raut wajah Adsila tidak lah bahagia, biasanya ia akan senang ketika dokter mengatakan dia sudah di perbolehkan kan pulang.


"Kemana aku akan pergi?"


Itu lah yang menjadi pemikiran bagi Adsila. Dia tahu, jika sudah keguguran, pasti Aditya tidak akan mau menerima nya lagi.


Apalagi, semenjak tahu Adsila keguguran. Aditya tak lagi mengunjunginya. Sehelai rambut pun Aditya tak menampakkan diri.


"Adsila!"


Adsila tersentak, dia menoleh ke arah pintu. Dia melihat Bian berjalan masuk ke dalam ruangan nya.


Mata Adsila masih menatap kearah pintu, berharap seseorang lain juga masuk ke dalam ruangan nya.


Seseorang lain? kalian tahu lah siapa yang di harapkan Adsila.


"Dia tidak ada, hanya aku yang datang" Kata Bian.


Adsila langsung mengalihkan pandangannya.


"Aku tidak mengharapkan nya datang" bantah nya.


Bian menghela nafas, dia tahu Adsila sedang berbohong. Namun, dia tidak terlalu memperdulikan nya.


"Ku dengar, kau sudah di perbolehkan pulang. "


"Hm"


"Lalu, kemana kau akan pergi? apa kau ingin ku antar ke tempat bibi mu?"


Adsila menggeleng, dia tidak mungkin kembali dengan keadaan begini.


"Lalu, kemana kau ingin pergi. Kau pasti tahu kan, kau tidak akan bisa kembali bekerja dengan tuan" jelas Bian.


"Aku juga tidak mau kembali ke sana. Aku ingin hidup sendiri, dan tolong, katakan pada bibi ku, aku baik baik saja!" Adsila menatap Bian penuh harap. Karena hanya Bian satu satu nya orang yang bisa ia mintai pertolongan.


"Lalu, kamu akan pergi kemana?" tanya Bian lagi.


Adsila masih terdiam, dia masih memikirkan kemana ia akan pergi. Adsila sangat sangat bingung sekarang.


"Adsila" panggil Bian lagi, karena gadis itu tak kunjung menjawab.


"Kemana pun aku pergi, kau tidak perlu tahu Bian. Kau cukup menjaga rahasia ini dari bibi ku. dan.." Adsila mengambil cek yang selalu ia bawa kemana mana. Lalu, dia memberikan nya pada Bian.


"Berikan ini pada bibi ku. Tolong berikan pada mereka setiap bulan nya. Agar mereka tidak curiga kalau aku tidak bekerja lagi"


Bian menatap cek itu, dia sedang menelaah manja dari kalimat Adsila.

__ADS_1


"Adsila, kau tidak berniat bunuh diri kan?"


"Kau gila, aku tidak akan sebodoh itu. Aku tidak boleh mati secepat itu"


Tanpa Bian tahu, Adsila mengusap perutnya, air matanya mengalir secara perlahan.


Melihat Adsila bersedih, Bian secara naluri memeluk nya. Pria ini ikut sedih merasakan kesedihan Adsila.


"Kau sudah seperti adik bagi ku, musibah ini tidak akan membuat mu jatuh Adsila." gumam Bian.


Adsila mengangguk di dalam pelukan Bian, kehangatan seorang keluarga lah yang sebenarnya Adsila butuhkan.


Bibi? Lena? Adsila sebenarnya sangat merindukan mereka. Mengalami masalah seperti ini, harusnya merekalah yang Adsila peluk.


Adsila sudah bersiap keluar dari rumah sakit. Bian sudah mengurus semua administrasi nya.


Salah seorang suster masuk ke dalam ruangan Adsila.


"Hati hati yah nona, anda wanita yang kuat. Anda harus menjaganya" ucap suster itu prihatin. Dia adalah suster yang merawat Adsila. Dia juga yang mengetahui apa yang Adsila alami.


"Maksud anda?" tanya Bian bingung.


Adsila dan suster saling menatap, mereka terlihat gelagapan. Beruntung suster itu sangat pintar.


"Rahim nya pak, Nona ini keguguran karena benturan yang sangat keras. Jadi Rahim nya lemah. Saya menyarankan untuk menjaga nya agar nanti dia dan suaminya tidak kesulitan mendapatkan momongan lagi" jelas Suster itu.


"Oh.."


Adsila bernafas lega, suster berhasil meyakinkan Bian.


"Ya sudah sus, saya pergi dulu yah. Terimakasih sudah mau merawat saya" Adsila memeluk sang suster.


"Itu sudah menjadi tugas saya nona" balas suster.


Setelah berpamitan dengan suster, Bian membawa Adsila keluar.


Di dalam mobil, sudah ada barang barang Adsila. Entah kemana wanita itu akan di antar nya.


"Tuan, Anda bisa pergi sekarang." Ucap Adsila setelah mereka sampai di dekat mobil. Adsila meminta Bian mengeluarkan barang barangnya.


Hanya satu koper dan satu tas kecil.


"Loh Adsila, kenapa harus dari sini? aku akan mengantar mu ke tempat tinggal mu "


"Tidak tuan, saya akan mengurusnya sendiri. Kau boleh pergi sekarang "


Bian menggeleng, dia tidak akan meninggalkan Adsila di sini. Dia harus memastikan Adsila tinggal di tempat yang nyaman.


"Ayo masuk Adsila, aku akan mencarikan mu tempat tinggal. Kau tidak boleh membantah ku! "tegas Bian bersikeras. Dia menuntun Adsila masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Tap...Tapi tuan..."


Bian tidak memberikan kesempatan bagi Adsila protes. Dia membuka pintu mobil, lalu mendorong pelan Adsila masuk ke dalam nya.


Di perjalanan, Adsila dan Bian tampak sama sama diam. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat menghalau keheningan.


35 menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil Bian berhenti juga.


Tepat di sebuah komplek perumahan. Adsila tidak mengerti mengapa Bian membawanya ke sini.


"Ayo turun"


"Tuan, mengapa kau membawa ku ke sini?" tanya Adsila bingung. Tapi Bian tidak menjawab, pria itu sudah keburu keluar dari dalam mobil.


Adsila ikut turun, dia menghampiri Bian yang tengah mengeluarkan koper Adsila.


"Tuan , apa yang kau lakukan?"


Adsila merampas koper nya, lalu mengambilnya dari


genggaman Bian.


"Aku sudah katakan tuan, aku akan putuskan dimana dan kemana aku pergi!"bentak Adsila.


Bian tidak menjawab, dia malah kembali merampas koper Adsila, kemudian membawanya masuk ke dalam sebuah rumah minimalis.


"Tuan! berikan koper ku! Tuan!!!"


Adsila berlari mengikuti langkah cepat Bian, dia masih berteriak dan meminta kopernya.


Bian membuka pintu, lalu memasukkan barang barang Adsila.


"Kau akan tinggal di sini Adsila. Ini rumah Ku, tapi aku tidak menempatinya karena aku bekerja dengan boss. Jadi, kau bisa memakainya"


"Tidak tuan, aku-"


"Tidak ada penolakan Adsila, aku hanya ingin kau tetap berada di ruang lingkup dana jangkauan ku! aku tidak mau pusing dan khawatir ketika kau berada di luar sana!"


"Tapi aku tidak mau berada di lingkup Aditya!"


"Tidak Adsila, dia tidak mengetahui komplek ini. Kau bebas ingin berbuat apa, asal kau tetap mengabari ku."


Adsila tidak bisa menolak nya, dia hanya bisa pasrah menerima keputusan Bian, yang menyuruh nya tinggal di perumahan elit ini.


"Kau boleh beristirahat, aku akan pergi sekarang " kata Bian pamit.


"Yah, terimakasih telah membantu ku" balas Adsila, dia memeluk Bian erat, pelukan hangat dari seorang adik.


"Jika ada waktu, aku akan mengunjungi mu lagi" kata Bian.

__ADS_1


Adsila mengangguk, dia mengantar Bian ke depan pintu. Setelah Bian benar benar pergi, barulah Adsila menutup pintu. Dia akan beristirahat di rumah ini sementara waktu, sebelum dia pergi.


__ADS_2