
Pukul 17.20. Sebentar lagi Aditya akan pulang. Jasmin dan Maya memasuki kamar Aditya.
Bian merasakan kehadiran majikan nya, ia mendongak dan menatap Maya.
"Nyonya, apa yang anda lakukan? tolong lepaskan saya"
"Tidak akan Bian, Saya tidak akan melepaskan kamu. Jika kamu berani mengadu pada Aditya tentang yang terjadi hari ini" ancam Maya.
"Nyonya, kenapa anda begitu kejam pada Adsila. Dia hanya wanita biasa yang tengah mengandung cucu anda"
"Tidak! sampai kapan pun, anak yang ada di dalam kandungan nya, tidak akan pernah menjadi cucu ku!" teriak Maya semakin marah.
"Tapi, itu hasil dari benih tuan nyonya"
Plak!
"Kakak ku tidak serendah itu Bian, wanita itu pasti sengaja menjebak kakak ku!"
Bian terdiam, tamparan Jasmin terasa panas di pipi nya.
"Mereka benar benar gila" pikir Bian.
Jasmin melirik jam tangan nya, lalu memberitahu pada mama nya, Aditya akan segera pulang.
"Jika kau berani mengadu pada putra ku, maka aku tidak akan segan segan menyiksa wanita murahan itu!" ancam Maya lagi.
Bian tidak menjawab, ia hanya diam saja.
"Lepaskan dia!" titah Maya.
Jasmin dengan segera menggunting tali, yang menjadi pengikat tangan Bian.
"Ingat, aku tidak pernah main main dengan ucapan ku"
Maya dan Jasmin pergi begitu saja meninggalkan Bian.
Pria itu terlihat frustasi, ia tidak tahu harus melakukan apa. Jika ia berani melapor pada Aditya,maka Adsila akan terancam.
Dan, jika ia tidak melapor. Maka Adsila akan selalu mereka siksa. Kehamilan wanita itu pasti akan terancam.
"Kalau begini, aku yang akan menjadi korban nya"erang Bian.
Pria itu segera keluar dari kamar boss nya, lalu pergi ke ruangan tempat Adsila menyetrika pakaian.
"Adsila?"" panggil nya.
Adsila menoleh, ia terlihat sangat pucat dan lemah.
"Tuan?" sahut Adsila pelan, ia sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Bian membawa Adsila ke kamar Aditya. Membaringkan wanita itu di atas ranjang.
"Aku butuh air dan makanan tuan" pinta Adsila lemah.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini, aku akan mengambilkan mu makanan dan juga minuman"
Bian berlari keluar dari kamar, ia pergi ke dapur untuk mengambilkan Adsila makanan dan juga minuman. Lalu, Bian kembali berlari menuju ke kamar Aditya.
"Ini Adsila makan lah,kau harus tetap kuat."
Adsila menerima makanan yang Bian bawa, ia melahap nya hingga habis.
Terlihat sangat jelas jika Adsila belum makan sejak pagi tadi.
"Adsila maaf, aku tidak bisa membantu mu" ucap Bian merasa bersalah pada Adsila.
"Tidak apa apa tuan, aku baik baik saja"
"Tapi Adsila, kamu sedang hamil muda. Harusnya kamu beristirahat yang cukup"
"Tuan, aku tidak apa apa.Aku mohon, jangan aduh kan semua ini pada tuan Aditya" pinta Adsila.
Bian tertegun, bagaimana mungkin gadis ini meminta hal itu padanya.
"Adsila, mereka menyiksa mu. Kenapa kau malah bersikap seperti ini??"
"Cih, tuan. Menurut ku, wajar saja nyonya bersikap seperti itu kepada ku. Mereka orang terpandang, mereka keluarga kaya, secara tiba-tiba mendapat kabar, putranya memiliki anak dengan wanita rendah seperti saya"
"Tapi itu kan bukan kesalahan kamu Adsila"
Wanita itu tersenyum getir, meskipun ini bukan kesalahan nya. Tetap saja hasil nya sama.
"Sudahlah tuan, aku ingin beristirahat. Sebentar lagi tuan pasti akan pulang" ucap Adsila mengakhiri percakapan nya dengan Bian.
Cukup lama Bian menatap Adsila yang sudah berbaring dan memejamkan mata.
Dia pasti lelah, seharian mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini. Apalagi dalam keadaan hamil, pasti sangat berat bagi Adsila.
...----------------...
Aditya tiba di rumah, dengan langkah besar ia memasuki rumah.
"Selamat sore tuan" sapa satpam menyambut Aditya di depan pintu. Lalu satpam itu mengambil alih mobil Aditya untuk di parkiran ke dalam bagasi.
Aditya melangkah melewati ruang tengah. Ia melihat mama dan juga adik bungsu nya tengah bersantai di sana.
"Ma, di mana Adsila?" tanya Aditya.
Namun, Maya tidak menjawab nya. Ia bahkan tidak menoleh.
"Mama! aku bertanya, di mana Adsila??" ulang Aditya kembali bertanya. Kali ini suaranya sedikit lebih besar.
"Mama tidak tahu, dan tidak mau tahu" sahut Jasmin.
Aditya melirik adik nya, kemudian kembali melirik pada mama nya.
Mungkin mama nya masih marah karena kabar mendadak kemarin. Tapi tetap saja, mama nya harus menjaga Adsila. Wanita itu sedang mengandung calon cucu nya.
__ADS_1
"Mama!!! kenapa sih mama masih marah soal Adsila?"
Cih. Maya menghempaskan ponsel yang ada di tangan nya ke atas meja. Dengan malas ia menatap pada putra nya.
"Kamu masih bertanya kenapa mama masih marah Aditya?"
"Ma, dia itu mengandung calon cucu mama!"
"Tidak Aditya! Mama tidak akan pernah mengakuinya!" teriak Maya. Wanita baru baya itu bangkit dari duduk nya. Menatap marah pada putranya.
"Jika mama tidak mau menerima Adsila, setidaknya mama harus menerima anak nya. Cucu mama"
Perseteruan terus terjadi, Maya terus bersekukuh untuk tidak mengakui Adsila dan bayi nya.
"Terserah mama, anak yang di kandung Adsila. Adalah darah daging Aku!"
Aditya berlalu dari hadapan mama nya, ia segera naik ke lantai atas, lalu masuk ke dalam kamar nya.
Mata Aditya menangkap sosok wanita asing, yang baru saja membawa kehidupan baru di hidup Aditya.
wajah nya yang damai,membuat hati Aditya terasa tenang.
Perlahan, Aditya berjalan mendekati ranjang. Duduk di sisi tepi ranjang dekat Adsila.
Mata tajam nya masih betah berlama lama menatap wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?" Adsila terbangun, mata nya terbuka lebar, sorot mata nya tampak ketakutan.
Aditya bangun, ia menjauh dari Adsila yang ketakutan padanya.
"Maaf maaf, kau tidak perlu takut. Aku hanya memastikan kau sudah tidur atau belum" jelas Aditya berusaha menenangkan Adsila.
Setelah melihat Adsila tenang, barulah Aditya duduk di sofa. Mata nya tak lepas dari wanita itu. Wanita yang kita mulai berbaring dan membelakangi nya.
"Dia masih takut padaku" lirih Aditya dalam hati.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Aditya.
"Hmm" sahut Adsila
"Bagaimana kondisi bayi ku?" tanya Aditya lagi, ia berusaha terus berkomunikasi dengan Adsila, meskipun jarang sekali wanita itu merespon nya.
"Baik baik saja" balas nya.
Baru Aditya bisa bernafas lega, kegelisahan nya hari ini tidak beralasan. Wanita itu dan bayi nya baik baik saja, tapi hati nya masih merasa tidak tenang.
"Apa begini rasa nya menjadi seorang ayah?" pikirnya. Aditya tersenyum geli, ia merasa sedikit malu memikirkan apa yang tengah ia pikir saat ini.
"Semoga kau akan menjadi anak yang cantik dan tampan seperti ku"
Aditya memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, ia merasa tubuh nya sangat lengket. Aktivis nya luar biasa padat hari ini.
Proyek baru membuat waktunya tersita banyak.
__ADS_1
...----------------...