Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Pendarahan


__ADS_3

Adsila berbalik, matanya melebar melihat siapa yang ada di belakang nya.


"Jasmin?"


"Yah, ini aku. Kau sangat terkejut melihat ku Adsila"


"Ke-nap-pa kau ada di sini?" tanya Adsila terbata, dia mulai ketakutan, penyiksaan itu kembali terngiang di benaknya.


"Huh, Adsila, Adsila, kenapa kau menanyakan hal itu? apa aku tidak boleh berada di sini? apa kau takut? aku akan membongkar kepalsuan mu kepada kakak ku?"


Adsila menggelengkan kepala nya, dia melirik ke arah pintu. Aditya pasti masih ada di luar sana.


"Maaf, saya harus pergi" pamit Adsila, dia bergegas ingin pergi dari toilet.


"Eits..." Jasmin menarik tangan Adsila, menahan wanita itu agar tidak bisa pergi.


"Kau mau kemana Adsila? aku belum selesai bicara!"


"Maaf nona, aku harus pergi!"


Adsila berusaha untuk melepaskan cekatan tangan Jasmin pada tangan nya.


Karena tubuh Jasmin lebih tinggi dan lebih berisi darinya, Adsila merasa sedikit kesusahan.


Plak!


Jasmin menampar wajah Adsila, hingga membuat wanita hamil itu terhuyung ke arah wastafel.


Lalu, Jasmin melangkah mendekatinya. Tatapan mata Jasmin terlihat mengerikan di mata Adsila.


"Maaf nona, apa kesalahan ku. Hingga kalian jahat pada ku!" lirih Adsila terdengar pilu.


Namun, Jasmin terlihat tidak peduli. Dia malah semakin senang mendengar rintihan suara Adsila.


Sementara itu, di luar toilet perempuan. Aditya berdiri seperti orang bodoh menunggu Adsila yang tak kunjung keluar dari toilet.


Aditya heran, sebenarnya wanita itu sedang apa di dalam. Sudah hampir setengah jam dia di dalam.


"Huh, Adsila. Kau mengerjai ku?" batin Aditya.


Hingga Aditya merasa dia juga kebelet buang air kecil.


"Hum...Malah ikutan kebelet" gerutu Aditya sembari berjalan cepat menuju ke toilet khusus pria.


Di dalam toilet wanita, Adsila berharap Aditya mendengarkan nya. Menolong dirinya dari wanita jahat seperti Jasmin.


"Kau bertanya apa kesalahan mu??? kau yakin ingin tahu???"


"Aku tidak pernah membuat masalah dengan mu atau juga nyonya besar. Aku tidak pernah berbuat salah! pada kalian!"


Plak!


lagi dan lagi tamparan Jasmin mendarat di pipi Adsila. Lima jari tercetak sudah di sana.

__ADS_1


"Bertahun tahun, aku mencoba menarik perhatian kak Aditya. Mencari perhatian agar dia melihat ku. Tapi kak Aditya tidak pernah melihat ku!. Lalu, tiba-tiba kau datang, dengan mudah nya kak Aditya menerima mu yang hanya seorang pembantu!!"


"Aku tidak pernah mencoba mendekati Aditya!"


Plak!!


Sekali lagi Jasmin menampar dan mendorong tubuh Adsila. Sehingga tubuh Adsila kembali terhuyung ke belakang dan perut Adsila terbentur ke wastafel.


"Ahk.." Adsila meringis kesakitan, dia memegangi perutnya.


"Cih, wanita lemah seperti mu tidak pantas mendapatkan perhatian kakak ku!"


Adsila memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang teramat sangat sakit di bagian perut nya. Dia tidak peduli dengan apa yang Jasmin katakan.


"Kau itu tidak pantas untuk kakak ku! sebaiknya kau tinggalkan dia!"


"Akhs..."


"Jangan sok lemah di depan ku! Aku tidak akan tertipu dengan muslihat jahat mu!"


Adsila terus meringis, menekan perutnya untuk mengurangi rasa sakit.


"Hei, dia pendarahan. Apa yang terjadi??"


Seorang wanita menghampiri Adsila, dia terlihat sangat panik dan kasihan.


"Tol-long.." lirih Adsila di tengah kesakitan nya.


Jasmin menutup wajah nya dengan rambut, lalu ia memakai kembali topinya.


Jasmin keluar dari pintu toilet, bertepatan dengan Aditya yang berbalik menghadap ke pintu toilet. Ia pikir itu adalah Adsila.


Bruk~


Mereka bertabrakan, Aditya membantu wanita yang dia tabrak. Tapi, wanita itu malah menolak dan langsung berlalu pergi.


"Sorry..."


"Hm." berlalu pergi.


"Aneh, di bantuin malah gak mau!" gumam Aditya Tampa curiga.


Pria itu kembali melirik kearah pintu toilet. Dia masih menunggu Adsila dengan gelisah.


"Kenapa lama banget sih, apa dia kabur??" pikiran pikiran aneh mulai masuk ke benak Aditya. Hingga seorang wanita berteriak lari keluar meminta pertolongan.


"Tolong....Tolong....."


Wanita itu menghampiri Aditya, menarik tangan aditya untuk ikut dengan nya ke dalam.


"Ada apa nona, aku tidak di perbolehkan masuk!"


"Ini darurat tuan, tolong masuk lah. Ada seorang wanita pendarahan di dalam sana!" jelas wanita itu panik.

__ADS_1


Mendengar penjelasan itu pun Aditya langsung di buat panik, hati nya berdetak dan pikiran tertuju pada Adsila.


"Ayo tuan!!!"


Aditya pun ikut masuk ke dalam toilet wanita. Betapa terkejutnya dia melihat Adsila terduduk di lantai dekat wastafel sembari memegangi perut nya.


Semakin panik, Aditya melihat darah segar mengalir di betis Adsila yang terbuka.


"Adsila?? " pekik Aditya, dia langsung mendekati ibu dari anak nya itu.


"Ayo tuan, bawa dia ke rumah sakit!!" desak wanita itu.


Tanpa pikir panjang, Aditya langsung menggendong tubuh Adsila, lalu membawanya keluar dan melarikan nya ke rumah sakit.


Orang orang melihat aneh pada mereka, ada yang penasaran dan ada juga yang terlihat acuh.


"Eh eh..Itu kan boss, dan....Adsila???"


"Iya iya, ayo ikuti mereka!!!" sahut Bian langsung beranjak mengejar boss nya. Di susul oleh Rangga dari belakang.


Sebelum keluar dari cafe itu, Rangga tidak lupa meninggalkan kartu namanya pada kasir cafe.


"Eh pak, kami tidak butuh ini. Kami butuh uang mu!!!" teriak seorang wanita yang menjadi penjaga kasir.


Rangga dan yang lain keburu pergi, wanita itu mendengus kesal.


"Huh, berapa total makan mereka?" gumam nya sambil mengecek bill meja yang Rangga dan yang lain tempati.


"Lima juta enam ratus??????" pekik nya tercengang.


"Apa yang mereka makan, sampai sebanyak ini???"


"Ada apa?"


Manager cafe mendekati bawahan nya. Dia penasaran ketika melihat Kasir nya tampak terkejut dan heran.


"Kak, lihat ini. Meja 36 tidak membayar tagihan nya, dia hanya meninggalkan ini" ucap wanita kasir sembari menunjukkan bill dan kartu nama Rangga.


"Astaga, Hana. Kau tidak tahu??? dia itu asisten boss besar pemilik cafe ini"


"Huh? kakak serius???"


Wanita kasir itu semakin terkejut, dia pikir pria itu hanya seorang penipu dengan meninggalkan kartu nama yang tidak berguna.


"Sudah sudah, nanti kamu tinggal hubungi nomernya. Dan kirimkan tagihan nya. Dia pasti akan membayar nya" kata manager.


"Huh? kenapa harus membayar kak? kan yang makan asisten boss"


"Eh Hana, mau asisten, mau boss sekalian. Mereka tetap harus membayar nya. Jika tidak, maka keuntungan dari cafe ini tidak akan jelas. Kamu harus lebih belajar lagi Hana"


"Baik kak!"


Wanita yang di panggil Hana itu pun langsung menunduk kan kepalanya, memberi hormat pada atasan.

__ADS_1


" Hum...Pantes warung ibu ku selalu tekor, karena aku selalu mengambilnya tanpa bayar" kekeh Hana mengingat kenakalan nya sewaktu kecil.


__ADS_2