Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Perjuangan Hana


__ADS_3

Masih di dalam ruangan gelap itu, Adsila terduduk bersandar di dinding.


Dia berusaha keras memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari tempat ini.


Ya Tuhan, tolong selamatkan aku. Beri aku kekuatan!.


Di saat ketidakberdayaan Adsila, tiba-tiba pintu gudang yang sudah tertutup rapat dalam beberapa jam yang lalu. Kini terbuka lebar.


Seorang penjaga masuk ke dalam, Adsila menatap dengan was was.


"Adsila, kamu Adsila kan?"


Deg.


Adsila menatap pria itu, dia memakai masker dan kaca mata hitam.


"Adsila, ini aku. Hana, pacar nya Rangga" bisik pria itu, membuat Adsila berdelik. Pikirannya mulai melayang pada Rangga yang suka dengan pria.


Melihat kebingungan Adsila, Hana menepuk jidatnya. Pasti Adsila berpikir jika dia seorang pria.


"Lihat, ini aku Hana. Bukan seorang pria" ucap Hana sambil membuka sebentar masker nya.


Barulah Adsila mengangguk pelan, walaupun sebenarnya Adsila tidak kenal dengan wanita ini. Tapi mengapa dia kenal dengan dirinya.


"Sudahlah, jangan bingung sekarang. Kini keluar dulu dari sini!" ujar Hana.


Wanita cantik yang terlihat perkasa itu mulai membuka tali pengikat tubuh Adsila.


Lalu, dengan hati hati. Mereka mengendap endap keluar dari gudang.


"Kamu yakin?" tanya Adsila mulai ragu. Dia tidak mau membuat orang lain dalam bahaya demi dirinya.


"Udah, kamu diam saja, aku sudah mengatur semuanya."


Adsila mengangguk pelan, dia mencoba untuk percaya pada wanita ini.


Berkat kepintaran Hana, akhirnya mereka berhasil keluar dari gedung terbengkalai itu.


Adsila bernafas lega, dia berhasil keluar dari neraka buatan itu.


"Terimakasih, kamu sudah menolong ku" ujar Adsila.


Hana membalasnya dengan senyuman manis.


"Hei mereka kabur!!!" teriak para penjaga melihat Adsila dan Hana.


Sontak mereka berdua terkejut dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.


Sekitar 5 orang, pria bertubuh kekar mengejar gadis lemah seperti Adsila dan Hana.


Mereka berlari menuju ke jalan raya. Namun, daerah pelosok seperti ini. Tentu nya tidak akan memiliki banyak kendaraan yang berlalu lalang.


"Ayo Adsila! kamu harus berlari lebih kencang!" semangat Hana.


Namun, Adsila yang sudah tidak makan seharian ini, tentu saja tidak memiliki banyak tenaga.


Sekarang waktu menunjukkan pukul 5 subuh. Jalanan sebentar lagi akan terang, mereka bisa melihat jalan dengan jelas. Berbeda dengan sekarang.


"Hei berhenti!!!!" teriak penjahat dari belakang.

__ADS_1


Adsila dan Hana semakin mempercepat langkah kaki mereka. Agar pria jahat itu tidak bisa mengejar dirinya.


Dari arah yang berlawanan, terlihat ada mobil yang bergerak cepat menuju ke arah mereka.


"Ada mobil lewat!" sorak Hana senang. Akhirnya mereka bisa meminta pertolongan.


"Hei!!!! Berhenti!!!" teriak Hana ketika melihat mobil itu hampir mendekati. Kedua tangan wanita itu melambai lambai.


Citttttt...


Mobil itu berhenti, membuat langkah kaki para pria jahat perlahan berhenti. Mereka melihat dulu situasi yang ada, mereka tidak mau mendapat resiko besar, apalagi sampai masuk penjara.


"Adsila!!!?"


Titi keluar dari mobil, dia langsung memeluk Adsila.


"Bibi!" kaget Adsila. Dia merasa sangat sangat lega, bibi nya datang untuk menyelamatkan dirinya.


Sedangkan para penjahat langsung kabur ketika melihat Aditya, Bian dan Rangga keluar dari mobil.


"Cabut!! Cabut!! mereka tidak mungkin datang bertiga saja!" ucap ketua dari penjaga itu ketakutan.


"Sayang, akhirnya aku bisa menemukan mu! aku sangat khawatir kepada mu!" ucap Titi. Dia mengusap wajah pucat Adsila, mengecup puncak kepala Keponakan nya.


Hana tersenyum melihat nya, dia lupa jika dia masih mengenakan seragam samaran.


"Heh, kamu ngapain masih di sini?? huh!" bentak Rangga. Dia menarik kerah baju Hana. Lalu, menghempaskan nya ke aspal.


Adsila terkejut melihatnya, dia langsung melerai Rangga dan membela Hana.


"Stop!!! Stop!!"


Rangga menatap Adsila tidak suka, dia melakukan ini demi membelanya. Tapi, dia malah membela penjahat itu.


"Adsila! kenapa kamu membela dia! pria i-" Rangga tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Mata nya melebar ketika melihat Hana membuka masker dan membuka rambut palsu nya.


"Hana?" gumam Aditya dan Bian.


"Aw.. sakit sekali" ringis Hana.


Rangga langsung mendekati kekasihnya, dia tidak menyangka jika orang yang di banting nya adalah kekasihnya sendiri.


Adsila membantu Hana berdiri, memapah Hana yang terlihat kesakitan.


"Sayang, kenapa kamu ada di sini?" tanya Rangga mulai gugup.


"Gak usah pegang pegang!" marah Hana menepis tangan Rangga.


"Maaf sayang, aku pikir kamu bagian dari mereka!"cicit Rangga merasa bersalah.


Aditya dan Bian tersenyum geli melihat ekspresi wajah Rangga saat ini.


"Ayo pergi, sebelum mereka datang lebih banyak lagi!" kata Titi.


"Yah, kamu benar Titi. Ayo boss, kita pulang!" Ucap Bian pada majikan nya.


Mereka semua pun masuk ke dalam mobil. Hana terlihat acuh pada Rangga. Dia masih kesal soal Rangga membanting nya tadi.


Di dalam mobil, perjalanan menuju ke rumah besar Aditya. Hana menjelaskan semua yang telah dia lakukan.

__ADS_1


Ternyata, Hana tidak sengaja melihat Adsila di kejar oleh penjahat itu. Dia mengikuti kemana mereka membawa Adsila. Lalu berpura pura menjadi bagian dari mereka.


Hana sudah ada sejak awal kedatangan Jasmin dan Maya. Dia terpaksa menyaksikan perbuatan Jasmin dan Maya menyiksa Adsila.


"Maaf Adsila, aku tidak bisa melakukan apapun ketika kamu di tampar dan di pukuli!" sesal Hana meminta maaf.


"Tidak Hana, kamu tidak salah, kamu melakukan hal yang bagus" puji Rangga mencari perhatian kekasihnya.


Namun, bukan nya perhatian yang dia dapat. Malah, dia mendapatkan pelototan dari Hana.


"Uhm...Beb... Kamu kok marah sih" rengek Rangga.


Pria itu tidak akan merasa senang apabila kekasihnya tidak memaafkan nya.


"Aduhhhh, masa kekasih sendiri tidak bisa di kenali. Kalo aku, dah aku tonjok wajah nya!" ujar Bian mulai mengompori Hana. Kapan lagi membuat mereka berantem, kalau bukan sekarang.


Hana semakin cemberut, dia mulai terhasut oleh Bian.


Aditya, Titi dan Adsila hanya bisa menahan senyum melihatnya. Berbeda dengan Rangga, dia memukul kepala Bian.


Di sela sela suasana kelegaan mereka, Adsila melirik Aditya.


Tuan, sebenarnya apa yang anda pikirkan. mengapa anda melakukan semua ini? mengapa anda mencari saya. Anda terlalu peduli, membuat saya menjadi salah paham.


Adsila tersentak, Titi memegang tangan nya. Dia menoleh, menatap wajah bibi nya yang juga menatap padanya.


Mereka saling melempar senyuman, keduanya mengerti arti senyuman masing-masing.


Terimakasih, sudah menghadirkan seorang bibi seperti Claudia. Dia wanita yang tangguh, dan mau mengurus kami. Meskipun umurnya terbilang masih muda.


Setibanya di rumah Aditya, Adsila langsung di pertemukan dengan Adit.


Ternyata Aditya telah menyuruh orang untuk membawa Lena dan Adit ke rumah nya.


"Mama...."teriak Adit berlari menyambut kedatangan mama nya yang sejak tadi dia tunggu.


"Adit!!"


Adsila memeluk putranya erat, meskipun dia belum ada tidur sejak kemarin. Tapi, rasa kantuk dan lelah nya hilang ketika melihat putranya.


"Mama, Adit kangen"


"Mama juga nak"


Adit melirik Aditya, dia melihat pria itu menatap kearahnya dan juga mama nya dengan senyum tulus.


"Papa" panggil Adit.


"Iya sayang, papa juga di sini" sahut Aditya.


Akhirnya, hari itu mereka memutuskan untuk beristirahat di rumah Aditya. Kelelahan mereka terbayar dengan selamat nya Adsila dari kurungan Maya dan Jasmin. Entah bagaimana mereka mengamuknya setelah mengetahui Adsila telah kabur.


"Mama tidur aja, aku yang akan melindungi mama" ucap Adit. Dia dan Adsila saat ini berbaring di atas ranjang besar bersama mamanya. Memeluk mama nya agar merasa nyaman.


"Terimakasih sudah hadir sayang, mama sangat menyayangi mu"


"Adit sayang mama juga!"


Dalam pelukan tangan mungil Adit, akhirnya Adsila memejamkan matanya dan tertidur lelap.

__ADS_1


Sekarang pukul 7 pagi, matahari bersinar terang seakan menyemangati kebahagiaan yang akan menyambut Adsila setelah terbangun nanti.


thanks for reading 😘


__ADS_2