Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Adsila keguguran


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Aditya langsung menyerahkan Adsila pada dokter dan suster untuk menanganinya.


"Tolong selamatkan dia dokter" ucap Aditya.


"Baik tuan, kami akan melakukan yang terbaik pada pasien"


Adsila pun di bawa masuk ke dalam ruangan UGD. Aditya menatap sedih, wanita itu terlihat sangat kesakitan.


Rangga dan Bian berdiri di samping Aditya. Mereka berusaha untuk menenangkan boss mereka.


"Mereka pasti akan baik baik saja Boss" ujar Bian.


"Benar boss, Adsila wanita yang kuat, tentu janin nya juga kuat" sahut Rangga.


Aditya tidak menjawab, dia hanya diam sembari menatap pintu ruangan UGD yang sudah tertutup rapat.


"Tuhan, semoga mereka baik baik saja" doa Aditya di dalam hatinya. Dia sangat mengharapkan Adsila dan bayi nya selamat.


Sekitar 35 menit dokter melakukan pemeriksaan pada Adsila, akhirnya pintu ruangan UGD terbuka juga.


Dokter yang menangani Adsila muncul dari balik pintu. Dia menatap kearah ketiga pria itu.


Aditya dan kedua anak buah nya langsung mendekati sang dokter.


"Siapa suami dari pasien?" Tanya dokter bingung, ada tiga pria muda yang mungkin adalah suami dari pasien.


"Saya dok, apa yang terjadi dengan istri saya?"


Dokter itu pun menatap Aditya, dia terlihat menghela nafas berat.


"Maaf tuan, kami sudah melakukan yang terbaik. Perut pasien mengalami benturan yang sangat kuat. Sehingga menyebabkan pendarahan yang banyak. "


"Lalu, apa yang terjadi pada bayi nya dok?" Potong Aditya mulai panik, jantung nya berdegup kencang. Firasatnya sudah tidak baik, apalagi melihat cara dokter menyampaikan hasil pemeriksaan Adsila.


"Maaf tuan, kami tidak berhasil menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan istri anda."


Duaarrrr....


Bak tersambar petir, Aditya merasa dunia nya hancur.


"Apa dok?"


"Maaf tuan" lirih dokter turut sedih dengan apa yang menimpa Aditya.


Aditya ambruk, dia terduduk di lantai. Dengan sigap, Bian dan Rangga memeganginya.


"Boss, anda baik baik saja?" Tanya Bian.


"Kalau begitu, saya permisi tuan" pamit dokter berlalu pergi.


"Aku gagal jadi ayah, aku gagal" lirih Aditya terdengar pilu.

__ADS_1


Bian dan Rangga ikut merasakan kesedihan yang Aditya rasakan. Mereka sangat tahu, betapa berharapnya Aditya dengan anak yang Adsila kandung.


Aditya masuk ke dalam ruangan rawat Adsila, dia menatap wanita yang meringkuk di atas ranjang rumah sakit.


"Ini yang kau inginkan bukan?"


Adsila menoleh, dia melihat Aditya dengan raut yang berbeda.


"Apa yang kau maksud tuan?"


"Selamat Adsila, kau sudah berhasil membuat bayi ku meninggal!!!!"


Adsila terkejut, Aditya malah menyalahkan dirinya.


"Boss, tenang Lah. Ini adalah musibah, tidak ada yang bisa di salahkan di sini" ucap Bian menjadi penengah.


"Tidak Bian! Dia pasti sengaja! Dia pasti sengaja!!! Aku sudah menaruh curiga, saat dia berlama lama di dalam toilet. Dia pasti melakukan sesuatu, sehingga membuat calon anak ku mati!" Ucap Aditya tajam, tangan nya menunjuk penuh kebencian pada Adsila.


Wanita itu hanya bisa diam, perlahan air matanya mengalir.


"Sudah tuan, Adsila pasti jauh lebih bersedih" sahut Rangga.


"Dia tidak akan bersedih, karena dia menginginkan semua ini!" Bantah Aditya.


Sudah cukup. Adsila sudah tidak tahan lagi, mendengar ucapan tajam Aditya yang terus menerus menyalahkan nya.


"Yah, aku sengaja melakukan nya. Aku sengaja menghantam perutku ke wastafel toilet, agar diri ku dan juga janin ini mati!" Lirih Adsila tanpa menatap Aditya.


Aditya semakin menjadi jadi, dia semakin emosi mendengar jawaban Adsila.


"Kau pembunuh!!" Tuduh Aditya sebelum dia pergi meninggalkan ruangan Adsila.


"Boss!!!" Panggil Rangga bingung, antara mengejar Aditya atau tetap berada di ruangan ini menjaga Adsila.


"Pergilah, aku akan mengurus Adsila!"


Barulah Rangga pergi mengejar boss nya.


Kini hanya tersisa Bian dan Adsila di ruangan rawat itu. Dia masih menangis, entah apa yang dia tangisi.


Bian mendekat, dia duduk di kursi samping ranjang Adsila.


"Sttt....Sudah tenang lah Adsila, boss hanya terlewat kecewa dan patah hati, makanya dia berkata kasar seperti itu" bujuk Bian menjelaskan.


Namun, Adsila tetap diam, menangis dalam diam tentu sangat menyakitkan hatinya.


"Aku tahu, kau jauh lebih sedih Adsila. Tapi,kau harus jujur pada ku. Sebenarnya apa yang terjadi di sana?"


Adsila tetap tidak bersuara, dia hanya bergelung dengan air mata terus mengalir deras.


Hufff....

__ADS_1


"Baiklah, jika kau masih belum ingin bercerita. Maka aku akan menunggu hingga besok. Istirahat lah"


Bian beranjak dari duduk nya, lalu dia keluar dari ruangan Adsila. Membiarkan wanita itu beristirahat dan menenangkan diri.


entah mengapa Bian merasa ada yang Adsila sembunyikan. Dari cara Adsila berbicara, dia tidak melihat pada Aditya, bahkan dia tidak berani menatap padanya.


...----------------...


Setiba nya di rumah, Jasmin langsung berlari masuk dengan wajah yang sangat bahagia.


"Mama!!! Mama!!!!"


Jasmin berlari dan melangkah cepat menaiki anak tangga. Dia terlihat sangat bahagia hari ini.


"Mama...." Teriak Jasmin sambil membuka pintu kamar Maya, dan dia tersenyum lebar pada mama nya yang menatap heran padanya.


"Ada apa Jasmin, kenapa kamu berteriak teriak begitu? Kamu pikir ini hutan ha?"


Jasmin tidak peduli, dia tetap berlari kegirangan menghampiri mama nya.


"Mama tahu gak, aku dari mana?"


"Gak tahu, dan gak mau tahu" jawab Maya acuh.


"Ih mama, kok gitu sih sama Jasmin. padahal Jasmin bawa berita bagus Lo untuk mama"


"Berita apa? Kamu habisin duit mama? Iya?"


"Aduhh mama, aku tuh udah dewasa, mana mungkin bertingkah seperti itu lagi" bantah Jasmin merenggut manja.


"Lalu apa? Kabar apa yang kamu bawa Jasmin ku tercinta?"


Mendengar ucapan manja dari mama nya, Jasmin kembali ceria.


"Aku baru saja dari cafe milik kak Aditya. Mama tahu apa yang terjadi di sana??"


"Mana mama tau, kalau kamu gak ngasih tahu" sela Maya.


"Aku berhasil membuat Adsila pendarahan, dan aku yakin dia pasti keguguran!!" ucap Jasmin bersorak senang, dia berpikir mamanya akan sangat senang. Dan yah, Maya memang sangat senang mendengar informasi dari putrinya.


"Beneran kamu??"tanya Maya tidak percaya. Jasmin mengangguk kuat,.


"Aduh mama, masa aku bohong sih."


Seketika ekspresi wajah Maya berubah sumringah, dia merasa sangat bahagia.


"Bagus, jika wanita itu keguguran. Maka Aditya tidak akan memiliki alasan lagi bersama wanita itu"


"Yup, bener banget ma" sahut Jasmin.


"Kalau begitu, kita harus segera menemui kakak mu. Walau bagaimanapun, dia adalah anak ku. Dia tidak mungkin marah begitu lama dengan mamanya sendiri hanya karena wanita itu!"

__ADS_1


Maya dan Jasmin saling menatap, lalu mereka sama sama tersenyum penuh arti.


__ADS_2