Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Mood yang Labil


__ADS_3

Melihat kondisi Adsila yang masih lemah, membuat Aditya tidak tega meninggalkan nya sendirian di apartemen.


Sudah dua hari Adsila muntah muntah di pagi hari, dan di lanjutkan pada malam hari.


Wanita itu terlihat sangat tersiksa, tubuh nya mulai terlihat kurus.


"Hallo, Rangga. Seperti nya aku tidak akan datang ke kantor hari ini"


"Kenapa boss?"


"Aku tidak tega meninggalkan dia sendiri dengan kondisi seperti ini"


"Tolong kau handle semuanya, jika ada yang memerlukan aku. Telfon saja aku!" sambung nya.


"Baik boss, "


Klik.


Setelah panggilan berakhir, Aditya kembali masuk ke dalam kamar.


Di atas ranjang, Adsila tampak tidur nyenyak. Sejak pukul 5 subuh tadi, hingga pukul 9 pagi ini. Adsila tidak berhenti nya keluar masuk toilet.


Aditya sudah berkonsultasi dengan dokter Jihan, dokter spesialis kandungan.


Dokter mengatakan, itu adalah gejala yang umum di alami oleh ibu hamil.


Namun, melihat penderitaan Adsila seperti itu, membuat Aditya merasa kasihan dan khawatir.


Ia juga menanyakan pada sang dokter, apakah ada obat atau tips untuk menghilangkan atau mengurangi hal tersebut.


Dan dokter pun mengatakan, hal itu akan hilang dengan sendirinya. Berusaha untuk menjauhkan apapun yang membuat ibu hamil itu muntah.


Seperti kejadian kemarin, ketika Aditya ingin mengusapkan Minyak kayu putih pada tengkuk Adsila.


Wanita itu menolak nya, ia merasa ingin muntah ketika mencium bau dari Minya kayu putih.


Maka dari itu, jauh kan lah Minya kayu putih dari nya. Sehingga rasa mual yang Adsila rasakan akan berkurang.


Hampir tengah hari, Aditya khawatir pada Adsila yang belum makan apapun sejak pagi.


Pria itu memerintahkan Bian untuk membuatkan Adsila makanan.


Tuk!! Tuk!!


"Masuk!" seru Aditya dari dalam.


Beberapa detik setelah Aditya berseru, pintu kamar pun terbuka.


Ceklek.


"Tuan, ini makan siang untuk Adsila." Bian membawakan nampan berisi makanan sehat untuk ibu hamil.


Pria itu meletakkan makanan tersebut di atas meja.


"Terimakasih Bian, kau boleh pergi"


"Baiklah tuan" Bian pun pergi dari sana, rasa kesal tadi malam masih belum hilang. Ia akan menunggu waktu yang pas untuk membalas Adsila.


Aditya mulai mendekati ranjang, duduk di tepi ranjang samping Adsila.


Di tatap nya wajah cantik Adsila yang sedikit pucat. Wajah polos tanpa polesan make up.

__ADS_1


"Ternyata dia cantik" gumam Aditya dalam hati. Tak merasa bosan, pria itu malah betah berlama lama menatap wanita itu. Sampai sampai dia lupa akan tujuan nya mendekati ranjang Adsila.


Jauh berbeda dengan Weira, wanita ini benar benar natural.


"Tuan? kenapa anda di sini?" Adsila terbangun, lalu beringsut menjauh dari Aditya.


"Eh.. ehm."


Aditya menjadi gelagapan, ia tidak tahu harus bicara apa.


"Apa yang kau lakukan tuan? "


Aditya menggeleng cepat, ia tidak mau Adsila salah paham.


"Aku tidak berniat apa apa, aku hanya ingin membangunkan mu untuk makan"


"Lalu, kenapa kau tidak membangunkan aku?"


"Itu karena aku tidak tega, kau terlihat sangat nyenyak "


Adsila menatap nya penuh selidik, lalu kembali menunduk saat Aditya membalas tatapan nya.


"Ayo makan lah" seru Aditya.


Pria itu berjalan lebih dulu menuju ke Maja depan sofa. Lalu, ia duduk di salah satu sofa.


Ia kembali menoleh pada Adsila yang tak kunjung bergerak.


"Ayo makan lah, aku yakin cacing mu pasti sudah lapar"


Ragu ragu, Adsila menuruni tempat tidur. Lalu mendekat pada Aditya.


"Duduk lah"


Namun, wanita itu malah memilih duduk di sofa depan Aditya.


Melihat hal itu, Aditya hanya bisa menghela nafas. Terserah dia mau duduk di mana, asalkan dia makan. Pikir Aditya


Adsila menatap seluruh makanan yang terhidang. Mata nya tampak berbinar dan rasa lapar di perut nya semakin kuat.


"Apa aku boleh memakan semuanya?" ujar Adsila.


"Tentu, makan lah semua yang kau inginkan" balas Aditya.


"Terimakasih "


Adsila bersorak, lalu ia mengangkat tangannya ke depan dada untuk berdoa.


Setelah itu, wanita hamil itu melahap setiap makanan yang ada di sana.


"Wahh...Enak sekali" ungkap nya dengan ekspresi wajah takjub.


Aditya di buat melongo, melihat Adsila yang begitu semangat dan sangat bernafsu.


"Pelan pelan, tidak akan ada yang merebut makanan ini dari mu" ujar Aditya. Ia takut Adsila tersedak karena terlalu cepat mengunyah makanan itu.


Adsila tampak tidak peduli, ia malah terlihat asik sendiri.


"Apa kau biasa makan rakus begini?" tanya Aditya penasaran.


Tak.

__ADS_1


Sebuah mangkok di hentakkan di atas meja. Beruntung mangkok itu tidak pecah.


"Apa kau sedang meledek ku tuan?" ucap Adsila dengan ekspresi wajah hampir menangis. Kebahagiaan yang ia perlihatkan tadi, hilang bak di telan bumi.


"Eh tidak, aku tidak meledek mu. Aku.."


"Huaaaa.....Kau jahat, kau pria jahat!!!" Adsila menangis sejadi jadinya, ia merasa sangat sedih ketika Aditya mengejek nya.


Tentu saja hal itu membuat Aditya sangat panik.


"Eh eh ..Kenapa kamu menangis, aku tidak mengejek mu. Percaya lah" bujuk Aditya.


"Tidak, kau pasti bohong! Huaaaaa"


Aditya menggaruk kepalanya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Gadis ini begitu aneh, hanya dengan pertanyaan sederhana itu, dia malah menangis kencang seperti ini"


Bian masuk ke dalam kamar Aditya dan Adsila. Pria itu kaget, saat melihat Adsila menangis keras.


"Tuan, ada apa ini?. Kenapa dia menangis?"


"Entah lah Bian, aku juga tidak tahu. Dia menangis begitu saja" jelas Aditya.


Adsila menghentikan tangisnya, ia menatap tajam kearah Aditya.


"Kau bohong! jelas jelas tadi kau meledek ku!" protes Adsila.


"Huh? tuan kau meledek nya? " tanya Bian terkejut, sejak kapan Aditya suka meledek seperti itu?.


Pria dingin, itu hanya pandai marah. Mama mungkin dia akan meledek Adsila.


"Tidak Bian, aku hanya bertanya padanya. Apa dia biasa makan serakus itu?. Terus dia tiba-tiba menangis begitu"


"Huaaaa...... Kau menanyakan hal itu, sama saja seperti mengejek ku makan rakus. Kau jahat! majikan seperti apa kau ini!"


Adsila segera bangkit dari duduk nya, lalu berlari kearah tempat tidur.


"Jahat!!!" teriak nya sebelum menelungkup di atas ranjang.


Aditya dan Bian saling menatap. Ada apa dengan wanita itu sebenarnya.


"Seperti nya mood nya sedang tidak stabil tuan. Seperti yang dokter Jihan katakan. Mood wanita hamil sering berubah ubah" jelas Bian.


"Seperti nya begitu, dia kadang takut padaku, kadang juga sangat marah pada ku" ujar Aditya. Matanya menatap lurus pada Adsila.


"Benar, tadi malam saja dia kadang memanggil ku dengan sebutan tuan. Kadang hanya memanggil ku dengan nama saja"


"Aneh, benar benar aneh!" gumam mereka serempak.


Setelah menangis di ranjang, Adsila kembali tertidur.


...----------------...


Malam hari nya, setelah membersihkan tubuh nya. Adsila berjalan keluar dari kamar.


Sejak malam dia mengidam sate, ini kedua kali nya Adsila keluar dari kamar. Sebelum nya ia hanya berada di kamar.


Jreng....Jreng...Jreng..


Adsila menoleh, ia mendengar suara alunan gitar dari arah balkon apartemen.


Mata nya menyipit, langkah kakinya menuntun dirinya ke arah balkon.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2