Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Pergi Berkencan


__ADS_3

"Apa semuanya sudah selesai?" Aditya menatap Rangga intens.


Sudah pukul 8 malam, tapi mereka masih saja di kantor.


"Sedikit lagi boss, maka semua nya akan segera selesai"


"Bagus lah, kerjakan segera. Lalu berikan padaku."


"Baik boss"


Rangga berlalu dari ruangan Aditya, dia mengerjakan apa yang boss nya perintahkan.


Hati Aditya merasa gelisah, ia ingat dengan janji nya pada Adsila. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa apa.


Aditya berniat menyelesaikan semua pekerjaan nya, agar dirinya bisa memiliki waktu lebih bersama Adsila.


Yah, walaupun saat ini dirinya harus berkorban kekecewaan untuk Adsila.


Pukul 10 malam, semua pekerjaan Aditya telah selesai. Dengan segera pria itu bergegas pulang.


"Kau mau kemana?" Tanya Aditya pada Rangga yang berjalan mengikutinya.


"ikut dengan mu, memangnya kemana lagi aku?" Jawab Rangga santai.


"Kau ingin menginap lagi di apartemen ku?"


"Uhm..Di apartemen Bian" jawab Rangga.


Aditya menggeram, mau di apartemen nya atau di apartemen Bian sama saja. Rangga pasti akan mengganggu diriydan Adsila.


Entah lah, Aditya akhir ini merasa ingin berdua saja dengan Adsila. Kehadiran Bian dan Rangga terasa seperti nyamuk yang terus berisik di telinganya.


"Ayo boss, kau mau pulang atau tetap berdiri di situ" teriak Rangga dari dalam mobil. Pria itu sudah menempati kursi supir. Bersiap mengantar boss nya pulang.


Huhhh...


Aditya hanya menghela nafas berat, lalu dengan terpaksa ia masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di apartemen, Aditya mendapati Adsila sudah tertidur di sofa.


"Dia menunggu mu sejak sore tadi" ujar Bian menjelaskan.


"Benarkah? Kenapa kau tidak menyuruhnya tidur di kamar?"


"Boss, kau seperti tidak tahu dia saja. Kepalanya itu kepala batu, keras sekali" balas Bian.


Aditya tidak berbicara lagi, dia mendekati Adsila, lalu menggendong tubuh mungil wanita itu masuk ke dalam kamar.


... ...


...****************...


Pagi kembali datang, Adsila merasa tidur nya sangat nyenyak. Dia merasakan kehangatan yang haqiqi.


Wanita itu semakin mempererat pelukan nya pada bantal guling. Bahkan ia mengendus endus bantal guling yang tercium sangat wangi.

__ADS_1


"Kenapa guling ku memiliki aroma yang sama dengan parfum Aditya? Apa aku tadi mengoleskan nya?" gumam Adsila pelan, mata nya masih tertutup rapat.


"Eh tunggu, sejak kapan sofa memiliki bantal guling?" Ingatan Adsila kembali pada waktu tadi malam.


Di mana dirinya duduk di sofa sambil menunggu Aditya pulang. Tanpa sadar dirinya tertidur dan tidak ada bantal guling di sofa itu.


Lalu, apa yang saat ini dirinya peluk??


Dengan cepat Adsila membuka mata nya, tangan nya meraba raba bantal guling yang ia peluk.


Deg. Dig. Dug.


Jantung Adsila seakan ingin meledak, perlahan kepalanya mendongak ke atas.


"Arrrggggggggg!!!!!!!!!!!" Pekikan melengking keluar dari mulut mungil nya.


"Apa, kenapa???" Aditya terbangun dan panik mendengar teriakan melengking Adsila.


Sedangkan wanita itu malah bergerak menjauhi pria itu.


"Kau melakukan nya lagi?" Tanya Adsila mulai panik, tangan nya meraba raba tubuhnya sendiri. Memastikan apakah pakaian nya masih lengkap atau tidak. Wanita itu juga melirik pada tubuh Aditya.


Syukurlah, mereka masih mengenakan pakaian yang lengkap.


"Ada apa Adsila? Kenapa kau berteriak begitu?"


"Maaf tuan, aku terkejut melihat kau berada di ranjang yang sama dengan ku. Aku pikir -"


"Aku memperkosa mu?" Potong Aditya.


Huffff.....


"Adsila, aku sudah berjanji tidak akan menyakiti mu. Pasti aku akan memegang janji ku itu" ucap Aditya meyakinkan Adsila.


Wanita itu hanya diam, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Hal itu tentu membuat Aditya merasa frustasi. Ia lebih suka mendengar Adsila mengomel panjang lebar,di bandingkan melihat Adsila diam begini.


Aditya memutar otak cerdas yang selalu membuat nya beruntung di berbagai bidang. Namun, sekarang mengapa otak nya tidak bisa berfungsi.


"Adsila, apa kau marah pada ku?"


Adsila menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Lalu, mengapa kau tidak mau berbicara dengan ku?"


Hening, tak ada jawaban. Bahkan gerakan kepala dari Adsila juga tidak ada.


"Hum.. Apa yang kau inginkan Adsila? Apa kau ingin kita berkencan hari ini? Berjalan jalan mengelilingi kota, atau pergi kemana pun yang kamu mau" ucap Aditya penuh harap. Ia sangat berharap Adsila kembali seperti semula.


Benar. Raut wajah Adsila langsung ceria, dia terlihat sangat bahagia ketika mendengar kata berkencan.


"Benarkah? Kau akan membawa ku kemana pun yang aku mau?"


"Tentu, kemana pun kau mau. Asal, kau harus berjanji pada ku. Kau tidak akan merajuk atau cemberut lagi" Aditya mengacungkan jari kelingking nya, sebagai simbol perjanjian.

__ADS_1


"Setuju" balasnya. Adsila langsung menautkan kelingking nya dengan kelingking milik Aditya.


"Kalau begitu, aku akan segera bersiap"


Adsila meluncur menuruni ranjang, lalu berlari kecil masuk ke kamar mandi.


Tingkah nya sangat lucu, Aditya tersenyum geli melihatnya.


Tanpa pria itu sadari, dirinya mulai masuk ke dalam dunia nya Adsila.


"Tidak, ini hanya karena bayi nya" gumam Aditya meyakinkan dirinya, ia menepis segala pemikiran yang melenceng dari sebuah kesepakatan.


Setelah selesai mandi dan berdandan, Adsila langsung keluar dari kamar. Ia membiarkan Aditya yang akan bersiap.


"Kamu sudah siap?" Tanya Aditya pada Adsila yang duduk manis di sofa.


"Yah, aku sudah siap"


Adsila langsung berdiri di samping Aditya dengan senyum manis. Sejak tadi, wanita ini tidak henti hentinya memamerkan senyum nya.


Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama nya dirinya keluar dari apartemen ini.


Selama tiga bulan belakangan ini, Adsila tidak pernah keluar dari gedung apartemen. Bahkan turun ke lantai bawah, ataupun naik kelantai atas juga tidak pernah.


Adsila hanya pernah keluar dari apartemen nya, lalu beralih ke apartemen Bian yang hanya berjarak 5 langkah saja dari apartemen Aditya.


"Kau tampak bahagia" gumam Aditya.


"Yup, aku sangat bahagia. Untuk pertama kali nya aku melihat dunia luar setelah 3 bulan."


"Apa kau sudah bosan di apartemen ini?" Tanya Aditya santai.


"Ya, bila kau tidak ada" jawab Adsila secara spontan, tapi itu memang yang sejujurnya. Wanita itu hanya tidak sadar jika dirinya mengucapkan hal itu.


Deg.


Jantung Aditya malah berdegup kencang. Jawaban Adsila barusan mempengaruhi perasaan nya.


"Apa ini? Kenapa aku malah senang dia mengatakan hal itu?"ucap Aditya di dalam hati.


Mereka sudah tiba di basemen apartemen, Aditya menuntun Adsila ke mobilnya. Lalu pria itu membukakan pintu untuk nya.


"Silahkan masuk ratu" ucap Aditya mempersilahkan Adsila masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih" balas Adsila, ia tahu jika Aditya sedang bercanda, jadi dia pun mengikuti alurnya.


Setelah Adsila masuk, Aditya pun menutup pintu dan berlari kecil mengitari mobilnya menuju ke sebelah. Aditya duduk di bangku kemudi.


"Sudah siap??" Seru Aditya.


"Go!!!" Sorak Adsila.


Aditya pun melajukan mobilnya meninggalkan basemen apartemen. Mobilnya melaju membelah jalan raya yang tampak ramai.


Hari itu mereka lalui dengan sangat bahagia. Kedua nya merasa semakin dekat, dan merasakan sesuatu yang mulai tumbuh di hati mereka masing masing.

__ADS_1


__ADS_2