Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
rencana menyatukan mereka


__ADS_3

Brak!


Hana menghempaskan berkas kantor di atas meja. Dia baru saja tiba di rumah Adsila. Wajah nya di tekuk, seperti tidak di setrika berbulan bulan.


Melihat kedatangan Hana, Adsila mengerut bingung.


Lalu, tak lama kemudian. Titi pun turun dari lantai atas. Dia membawa aurah yang sama seperti Hana.


Brak.


Titi menghempaskan ponselnya di atas meja.


Adsila melirik putranya, dia menyuruh putranya untuk pergi bermain ke kamar.


"Putra tampan mama, main ke kamar dulu gih. Mama mau menyelesaikan Tante Tante galau ini" ucap Adsila.


"Oke" sahut Adit. Dia mengambil mobil mobilan nya, lalu pergi ke masuk ke kamar mama dan papa nya.


Sebelum masuk ke kamar nya, Adit melihat kamar Lena terbuka.


"Hm...Pasti aunty sedang main PS!" Gumam Adit, dia langsung merubah arah tujuan nya. Lalu dia berlari masuk ke kamar Lena.


Benar saja, Lena saat ini memang sedang bermain PS.


"Aunty!!" Teriak Adit girang.


Lena menoleh, lalu tersenyum senang melihat keponakan nya masuk ke dalam kamar nya.


"Ayo kita main bareng", ujar Lena.


Kembali ke ruangan keluarga, Adsila menatap kedua wanita yang ada di hadapan nya saat ini. Mereka terlihat seperti orang tidak waras.


"Sebenarnya ada apa ini, mengapa kalian berdua seperti ini!" tanya Adsila.


Huh..


Hana mendengus kesal, dia merebahkan tubuhnya dia atas sofa.


Titi pun melakukan hal yang sama, keduanya benar benar aneh di mata Adsila.


"Ada apa sih, kalian aneh deh" gumam Adsila mendengus kesal.


"Tau ah, siapa yang aneh"bantah Titi.


"Ntah" sahut Hana.


Arrrgggg...


Adsila semakin frustasi di buat nya, dia menarik Titi dan Hana bersamaan. Membuat kedua wanita itu kembali duduk.


"Kalian ini Jangan membuat aku bingung, ayo ceritakan pada ku!" Desak Adsila.


Titi dan Hana saling melempar tatapan. Bertanya melalu tatapan mata masing-masing.


"Bian tak kunjung melamar ku!"dengus Titi.


"Rangga seperti memberi harapan palsu saja" dengus Hana.

__ADS_1


"Hah?" Adsila melebarkan matanya, melongo mendengar jawaban berbeda tadi inti masalah nya sama.


"Jadi, kalian itu sedang frustasi? Gak di lamar lamar?"tanya Adsila.


"Iyaaaa" lenguh Hana dan Titi secara bersamaan. Kemudian, mereka kembali merubahkan tubuh mereka pada sofa.


"Aku pulang!!!!"


Adsila menoleh, dia tersenyum pada suaminya yang baru saja pulang dari kantor.


"Loh, kalian udah di sini? Ada acara apa ngumpul gini?" Tanya Aditya. Dia langsung duduk di samping istri nya. Memeluk dan menghirup aroma wangi khas tubuh Adsila.


"CK...Aku ingin kaya gitu juga" decak Hana.


"Sama..." Sahut Titi.


"Humm.... Kalian iri?" Cup.


Aditya sengaja memanasi mereka, dia mencium Adsila dengan sangat mesra.


"Ihhhhh kalian ini, gak tahu apa. Kita ini masih lajang. Mengapa kalian malah memanasi kami!" Ucap Titi marah, dia melempar bantal sofa pada Aditya dan Adsila yang ini tertawa melihat wajah cemberut mereka.


"Tau ihh ngeselin banget" sahut Hana. Dia melakukan hal yang sama seperti Titi.


"ahahahah...Lihat lah sayang,mereka sangat lucu. Pasti sangat ingin" gelak tawa Aditya memenuhi ruang itu.


"Sayang gak boleh gitu, kita harus membantu mereka" ujar Adsila memukul dada suaminya. Agar Aditya berhenti tertawa.


"Aduhh ini lucu sekali sayang, aku tidak bisa menahan nya" jawab Aditya memegangi perutnya yang mulai terasa sakit, akibat terlalu banyak tertawa.


Sementara itu, di lain tempat. Bian dan Rangga duduk di sebuah cafe.


Berkali kali suara tarikan nafas berat dari keduanya terdengar saling sahut menyahut.


Mereka berdua tampak lesu, merebahkan kepala nya diatas meja cafe.


Bian melirik Rangga dari posisinya, bertanya apa yang menyebabkan dia galau seperti ini.


"Kenapa kamu begini? Apakah patah hati juga?"tanya Bian.


"Apa kamu juga merasakan hal yang sama?"balas Rangga Tampa menoleh.


Bian menghembuskan nafas gusar, dia duduk tegap namun terlihat lesu.


"Aku bingung, bagaimana caranya untuk melamar Titi"ujar Bian.


Mendengar hal itu, Rangga langsung bersemangat. Ternyata permasalahan Bian sama dengan dirinya.


"Bagaimana mungkin, kamu dan aku mengalami permasalahan yang sama!" Gumam Rangga terkejut.


"Benarkah? Humm...." Bian kembali galau.


"Kenapa kamu galau? Kita harus melamar mereka!" Ujar Rangga antusias.


"Aku inginkan hal itu. Tapi, bagaimana jika kita di tolak?" Lirih Bian.


Rangga pun langsung menciut, dia pun mulai Gegana. Ketakutan itu mulai menghantui mereka.

__ADS_1


Pada situasi seperti ini, Rangga dan Bian merasa kepintaran mereka tidak ada gunanya. Meskipun mereka tahu, wanita yang mereka cintai juga mencintai mereka. Namun, belum tahu juga jika mereka belum siap untuk di nikahi.


Bagaimana kalau mereka renggang setelah di lamar dan di tolak?


Bagaimana jika semua ini bisa berakhir begitu saja?


Semua kemungkinan buruk mulai masuk ke dalam benak mereka. Apalagi akhir akhir ini sikap kedua wanita itu sedikit berubah.


"Huh...Aku tidak tahu lagi Bian. Aku benar-benar bingung" lenguh Rangga.


Sementara itu, Adsila dan Aditya tengah menyusun rencana untuk menyatukan dua pasangan yang tengah galau ini.


"Bagaimana kalau gagal? Apakah mereka akan berantem?" Gumam Aditya meragu


"Sayang, percaya deh sama aku. Rencana kita kali ini, pasti akan berhasil." Ucap Adsila meyakinkan suaminya.


"Semoga saja"gumam Aditya.


******


Di lain tempat, Weira sudah mulai sembuh. Dia sudah normal dan tidak merasa ketakutan lagi.


Dia sudah menjalani kehidupan nya seperti dulu lagi.


Kini, Weira baru saja tiba di sebuah restauran. Dia menerima undangan makan malam bersama mama nya dan juga sahabat mama nya.


Ketika Weira masuk ke dalam restauran mewah itu, Weira langsung di sambut oleh pelayan.


"Hello nona, apakah anda bernama Weira Wilson?" Tanya pelayan itu.


Weira membuka kaca matanya, lalu dimengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan pelayan itu.


"Kalau begitu, mati ikuti saya nona. "


Pelayan itu langsung menuntun Weira menuju ke meja private yang sudah di booking oleh mama nya.


"Sayang" panggil mama Weira saat melihat putrinya masuk ke dalam ruangan itu.


"Hai mom, maaf aku telat" ucap Weira mencium pipi kanan dan pipi kiri mama.


"Tidak masalah sayang, kenalin ini teman mama. Tante Ria."


"Ria, kenalin. Ini anak ku" ucap Mama Weira memperkenalkan putrinya pada sahabat nya.


"Hai cantik, salam kenal dari Tante" ucap Ria.


"Tante juga cantik" balas Weira, dia melakukan hal yang sama pada Ria, seperti pada mama nya tadi.


"Sopan sekali kamu yah, cantik lagi" puji Ria.


"Tante bisa aja" kekeh Weira malu.


Siang itu, Weira menghabiskan waktu bersama mama dan juga teman mama nya. Dia mulai menikmati hidup bahagia dengan mengabdi pada mama nya.


Ini akan menjadi akhir hidup yang bahagia. Tidak ada lagi masalah yang seperti dulu!


Weira tersenyum, dia merasa hidup nya bahagia dengan seperti ini.

__ADS_1


Terimakasih Adsila, kamu sudah membuat ku merasakan yang sebenarnya hidup. terimakasih Adsila!!!


__ADS_2