Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Ada apa Dengan Marni??


__ADS_3

Seperti biasanya, Aditya pergi ke kantor sebelum jam 8.


Pria itu selalu memeriksa kondisi Adsila sebelum berangkat. Ia harus memastikan, wanita itu baik baik saja dan juga bayi nya.


Aditya melihat kehadiran Adsila di ruang makan. Ia tersenyum, meskipun Adsila menatap nya dengan sorot ketakutan.


"Duduk lah Adsila, kau harus sarapan" Aditya menarik salah satu kursi di sebelah nya. Lalu menuntun Adsila duduk di sana.


Wanita itu sedikit canggung, ia melirik pada Maya yang menatap nya tajam.


"Ayo Adsila, duduklah" kata Aditya lagi, lalu ia kembali duduk di kursinya.


"Kata dokter kehamilan, kau harus banyak makan sayur dan buah buahan, apa kau ingin makan ini?"


Aditya akan mengambilkan makanan untuk Adsila, tapi wanita itu melarang nya.


"Biar aku saja tuan, aku bisa mengambil makanan ku sendiri "


"Tidak Adsila, biar aku yang mengambilkan mu makan"


Brak!


Maya menghempaskan sendok di atas meja. Mata nya menatap lurus ke arah Adsila.


"Cih, aku sudah selesai makan. Tiba-tiba selera makan ku hilang tiba-tiba "


Maya beranjak dari sana, meninggalkan meja makan begitu saja.


"Mama..." panggil Jasmin, ia juga ikut meninggalkan meja makan.


Mata Adsila menatap nanar kepergian nyonya besar. Ia telah membuat keluarga mereka hancur.


"Apa yang telah aku lakukan?" pikir Adsila merasa bersalah, ia merasa semua ini tidak benar.


"Ayo, makan lah makanan mu" ujar Aditya.


"Tuan, aku tidak selera makan" cicit Adsila.


"Aku mengatakan kau harus makan, maka kau harus makan!" ucap Aditya penuh penekanan.


"Ba-baiklah" Adsila langsung meraih sendok, menyuap nasi dan sayur ke dalam mulut nya. Ia tidak mampu melawan Aditya, mendengar sedikit ancaman nya saja, sudah membuat Adsila takut.


Setelah sarapan, Adsila seperti biasanya mengantar Aditya ke depan. Sudah seperti seorang istri mengantar suaminya berangkat kerja.


"Jika ada sesuatu yang terjadi, kau harus segera menghubungi ku!"


"I-iya"


"Bagus, wanita yang pintar" Tangan Aditya tanpa sadar mengusap rambut Adsila. Membuat wanita itu tertegun.


"Um sorry" Aditya menarik tangan nya, lalu segera masuk ke dalam mobil.


"Hati hati" cicit Adsila pelan, ia tidak berani untuk melambaikan tangan nya.


"Waw...Terasa sudah nyata banget yah, seperti seorang istri tengah mengantar suaminya berangkat kerja"


Adsila terkejut, ia langsung menundukkan kepalanya.


"Heh, wanita udik. Lo gak usah mimpi ketinggian deh. Sampai kapan pun, Lo gak akan pernah bisa menjadi bagian keluarga kami!"


"Sejak awal dia bekerja di rumah kita, mama sudah merasakan ada yang tidak beres dengan wanita ini!" Maya mendekati Adsila, meneliti setiap inci dari tubuhnya.


"Aku heran, kenapa Anak ku bisa menanam benih pada wanita rendah seperti mu!"


"Maaf nyonya, semua ini tidak seperti yang nyonya pikirkan" ujar Adsila mengeluarkan suara. Ia tidak mau harga dirinya terus menerus di injak injak oleh majikan nya.


"Alah, gak usah sok suci deh kamu! wanita gembel seperti mu, pasti memiliki rencana busuk seperti itu" sela Jasmin memaki.

__ADS_1


Adsila tidak tahan lagi, ia tidak terima setiap saat di rendahkan seperti ini.


"Jika tuan mengijinkan, aku bisa pergi dari sini. Tapi, tuan tidak mengijinkan nya"


"Waw... Jadi, sekarang kau mengarang sebuah kisah. Seolah kakak ku yang tergila gila pada mu?"


"Begitu?" desak Jasmin.


"Tidak Nona" Adsila menggeleng kuat. Bukan begitu maksud nya.


"Cih.. pintar sekali mulut mu berbohong. " dengus Maya.


"Aku tidak berbohong, aku tidak pernah berbohong nyonya!" teriak Adsila marah.


Plak!


"Kau berani membentak mama ku?"


"Sini kamu!" Jasmin menarik rambut Adsila, lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah.


Dari belakang, Maya mengikuti mereka.


"Awwh...Sakit nona, lepaskan rambut Ku" teriak Adsila kesakitan.


Jasmin terus menyeretnya tanpa belas kasihan. Ia membawa Adsila ke taman belakang.


"Astaga, Adsila?" pekik Marni tertahan. Ia tidak mau kena marah lagi jika ketahuan memihak Adsila.


"Mereka kejam sekali, Adsila kan sedang hamil" gumam nya.


Marni menjadi panik, ia tidak ma Adsila dan bayi nya kenapa kenapa. Walau bagaimanapun dia juga seorang wanita.


"Ah, tuan Bian. Dia pasti bisa membantu Adsila"


Marni segera berlari mencari Bian. Sebelum Adsila di siksa lebih lama, ia harus membawa Bian lebih cepat.


Bian tengah merapikan ruang kerja Aditya. Pria itu terkejut mendengar suara teriakan Marni.


"Astaga, Marni. Kamu membuat saya terkejut!" decak Bian seraya mengusap dada nya.


"Gawat tuan, gawat...."


"Ada apa Marni, kalau ngomong itu yang jelas"


"Adsila tuan...Adsila"


"Ada apa dengan Adsila Marni??"


"Nyonya besar dan nona muda menyiksa Adsila lagi"


"Apa???"


"Cepat tuan, tolong Adsila"


"Ayo kita kesana sekarang " ucap Bian.


Mereka berlari menuju ke taman belakang.


"Mau kemana kalian!" cegah Dewi dan Pita berdiri menghalangi langkah Bian dan Marni.


"Apa apaan kalian ini, menyingkir lah!" teriak Marni mencoba mendorong Pita dan Dewi menjauh dari hadapan mereka.


Bukan nya tersingkir, Marni malah terjatuh ke lantai.


"Kau sudah bosan bekerja yah? apa kau tidak mau mendapat gaji lagi huh?"


"Kau bukan manusia Pita, Adsila itu sedang hamil. Bagaimana bisa kalian tega melihat dia di siksa seperti itu"

__ADS_1


"Pita, Dewi. Apa kalian tidak takut di pecat oleh tuan muda?"


Pita beralih menatap Bian, senyum miring tercetak di bibirnya.


"Pecat? nyonya besar lah yang berhak memecat kami. Kau?? apa hak mu Bian? Status mu sama seperti kami!"


"Mungkin di mata mu begitu Pita. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan kalah di perang ini!" tantang Bian. Sudah cukup permainan ini, Pria itu tidak akan membiarkan Adsila di sakiti lagi.


"Minggir!"


Dalam sekali Dorong saja, Pita dan Dewi tersingkir dari hadapan Bian.


"Laki laki pengecut!" teriak Dewi.


"Kalian yang memaksa ku untuk melakukan ini" ujar Bian,lalu ia segera berlari menuju ke taman belakang.


"Tahan dia Dewi!!" teriak Pita.


Dewi pun berusaha untuk bangkit, ia hendak mengejar Bian. Tapi di tahan oleh Marni.


"Di pecat pun tidak Maslaah, aku tidak akan membiarkan kalian mencelakai Adsila lagi!" Marni memeluk kaki Pita dan Dewi.


"Ada apa dengan wanita ini, kenapa dia mendadak baik seperti ini" dengus Dewi heran. Sebelum nya mereka sama sama tidak suka pada Adsila.


Bug.


Bug.


Dewi dan Pita menendang, menginjak lengan Marni, agar ia segera melepaskan pelukan nya di kaki mereka.


"Lepas Marni! kami tidak akan melukai mu, jika kau mau berkompromi"


"Tidak, aku tidak mau! kalian tidak boleh menghalangi Bian lagi!" balas Marni tetap memeluk kaki Dewi dan Pita kuat.


"Dasar keras kepala! " Pita mengambil vas bunga, yang terletak tidak jauh dari mereka bersekukuh.


Prank!


Pita memecahkan vas itu ke lantai, lalu menggoreskan salah satu pecahan nya ke lengan Marni.


"Arrgggg!!!!" teriak Marni kesakitan. Seketika pelukan nya langsung terlepas.


"Kau gila? ini keterlaluan tahu!" bentak Dewi. Ia tidak habis pikir dengan apa yang Pita lakukan.


Brak.


Pita mendorong Dewi, lalu ia pergi menyusul Bian.


Dewi menghampiri Marni, ia segera membantu Marni, membawa Marni ke dapur. Lalu mengambil kotak P3k untuk mengobati luka Marni.


"Gila, dia benar benar gila" gumam Dewi.


"Aws... pelan pelan" ringis Marni kesakitan.


"Kau kenapa nekat sih, melawan Pita "


"Bagaimana tidak, aku tahu dia bukanlah pita yang kita kenal dulu. Dia terlalu berambisi untuk menghabisi Adsila"


"Apa?" Dewi terperangah mendengar ucapan Marni.


"Kau tidak merasa ? apa yang Pita lakukan, tidak lagi soal perintah dari nyonya besar" sambung Marni lagi.


"Lalu, karna apa dia melakukan semua ini?" tanya Dewi penasaran.


"Aku juga tidak tahu, tapi aku melihat Pita terlalu berlebihan. " gumam Marni. Ia juga heran dengan perubahan sikap Marni.


"Huh..Aku pikir dia begitu karena nyonya besar yang meminta nya" lirih Dewi. Sebenarnya ia juga tidak tega pada Adsila, tapi mau bagaimana lagi. Dirinya juga butuh pekerjaan, jika tidak menurut, maka ia pasti akan di pecat.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2