
Aditya dan Kedua anak buah nya, baru saja selesai meeting dengan client penting. Meeting tersebut di lakukan di salah satu restauran milik Aditya. Yaitu, restauran yang menjadi tragedi gugur nya kandungan Adsila.
Aditya bukan lah tipe orang yang membenci tempat itu, hanya karena pernah mengalami hal buruk di sana. Aditya orang yang sangat realistis. Restauran itu adalah tempat kejadian nya, mengapa harus di benci atau tidak mau di tempuh .
"Hana, kamu gantiin mas Berto dulu yah. Biar aku yang kasir" ucap seorang wanita pada gadis cantik berambut panjang.
"Oh baik lah" jawab gadis yang di panggil Hana itu.
Hana keluar dari meja kasir, dia pergi ke depan untuk melihat tamu yang baru datang atau tamu yang membutuhkan bantuan pelayan.
"Pelayan!"
Hana menoleh, dia langsung menghampiri meja yang memanggil pelayan tadi.
"Ada yang bisa saya-" Hana terhenti sejenak, mata nya membulat menatap siapa yang ada di hadapan nya.
"Bukan kah dia pria yang makan di sini bulan lalu? Asisten pemilik restauran ini" pekik Hana di dalam hati, dia bengong di depan Rangga.
"Hei nona, apa kau baik baik saja?"Rangga melambaikan tangan nya di depan wajah Hana, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Kalau melamun, lebih baik tidak usah bekerja" celetuk Bian.
Hana terkejut, dia melirik Bian dengan tatapan membunuh.
"Maaf tuan, saya tidak melamun"bantah Hana.
"Lalu, tadi itu kau sedang apa? Bengong?" Cibir Rangga.
"Uhm..Saya, lagi lihat tai lalat di hidung bapak" jawab Hana asal. Namun,Rangga menjadi terdiam. Memang ada tai lalat di hidung nya, tapi tai lalat itu sangat kecil. Bagaimana gadis ini bisa melihat nya.
"Kau benar benar memperhatikan ku?"tanya Rangga berdecak heran.
Hana merasa dirinya benar, dari kalimat Rangga dia tahu bahwa di hidung pria itu benar ada tai lalat.
"Tentu saja pak, sudah menjadi tugas kamu sebagai pelayan untuk memperhatikan setiap pelanggan"
"Bhahahahhaa......" Bian tertawa keras. Sedangkan Aditya yang sejak tadi diam, malah menutup mulut nya menahan tawa.
"Apa itu tidak berlebihan?" Ucap Bian di sela tawa nya.
Hana menjadi kesal, dia menatap satu persatu pria itu, lalu mendengus kesal.
"Sebenarnya, kalian ini butuh apa? Atau kalian hanya ingin meledek ku saja!"
__ADS_1
"Waw, punya nyali juga" ujar Rangga. Hanya dia yang berani bersuara seperti itu di depan Aditya dan juga dirinya.
"Kami ingin makan sup ayam, dan cumi crispy "
"Baik lah, akan saya ambilkan!" Jawab Hana dengan nada ketus. Lalu, dia berbalik pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
Rangga terdiam, mata nya masih menatap kepergian Hana.
"Ehehm... Seperti nya ada yang baru jatuh cinta ni" sindir Bian, dia mencolek lengan Rangga.
"Apaan sih, gak lah. Seorang Rangga pasti setia pada boss nya" ucap Rangga penuh keyakinan dan berlagak di depan Aditya.
"Sayangnya aku gak suka batang, so jika kau ingin cari cewe silahkan"seru Aditya.
"Benarkah?" Rangga langsung sumringah.
Benar, Rangga tertarik pada pelayan wanita itu. Ketika masalah Adsila keguguran itu, Rangga sengaja memberikan kartu namanya pada Jana, agar gadis itu menghubungi nya dan dia mendapatkan no ponsel Hana.
Bukan nya mendapatkan no Hana, rangga malah mendapat no manager nya yang sudah tua itu.
Setelah makan siang di restauran milik keluarga Aditya Dairon. Ketiga pria itu memutuskan untuk pergi mall.
Aditya merasa ingin pergi ke mall, dia seperti Orang kesetanan jika tidak di bawa ke mall.
"Benar, coba deh ingat lagi. Kau ingin mangga mu, lalu kau ingin ke mall. Dan semua keringan mu itu tidak bisa di tolak. Apa sebenarnya yang terjadi??" tambah Rangga bingung.
"Aku tidak tahu, aku merasa seperti mengidam. Semua yang terlintas di benak ku, maka seketika itu harus aku dapatkan" jelas Aditya.
"Kau seperti mengidam boss" sahut Bian.
"Tidak mungkin, kalian tahu kan aku punya batang. Mana mungkin aku ngidam!"
Bian berhenti, dia mengeluarkan ponsel nya, lalu membuka google di ponselnya.
Rangga penasaran, dia ikut melihat ke layar ponsel Bian.
"Apa yang ingin kau cari?" Tanya nya.
"Mencari sebuah fakta yang kini tengah timbul di benak ku!" Jawab Bian di tengah kesibukan nya.
Bian mencari tentang fakta, pria yang sedang mengidam.
"Benar! Dugaan ku tepat boss. Tidak hanya wanita yang hamil saja mengalami proses ngidam. Pria juga bisa merasakan ngidam di kala istri nya tengah hamil" jelas Bian menyimpulkan sebuah situs yang menjelaskan tentang proses ngidam.
__ADS_1
"Tapi kan boss tidak memiliki istri" ujar Rangga.
Untuk beberapa saat mereka diam, lalu secara ****** mereka saling menatap satu sama lain.
"Adsila!" Ucap mereka serempak.
Lagi lagi Rangga menyela, dia selalu cepat dalam berekspresi.
"Adisak kan sudah ke guguran, mana mungkin dia ngidam dan pindah pada mu boss."
"Boss, kita harus ke rumah sakit itu. Seperti nya ada yang aneh di sana!" Ucap Bian.
"Yah kau benar Bian, kita memang harus ke sana"
"Ngapain sih?"tanya Rangga heran. Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Semakin ke sini,Rangga semakin bego. Bian lama lama menjadi geram padanya.
Aditya dan Bian segera berbalik ke pintu keluar mall. Meninggalkan Rangga yang masih ke bingung.
"Hei tunggu aku!!!!!" Teriak nya keras, sembari mengejar langkah kaki boss nya dan juga Bian.
"Uhh asisten boss besar, eh malah begini" cibir Bian.
Rangga mengerucutkan bibirnya, dia kesal pada kedua pria itu yang sejak tadi mengejek nya.
Ketika ketiga pria itu melewati pintu keluar mall, saat itu lah Adsila dan Ria masuk ke dalam mall. Mereka berpapasan, tapi tidak saling melihat .
"Mama mau borong atau gimana?" Tanya Adsila pada Ria.
"Umm...Mama mau ke salon dulu, kau mau ikut juga?" Tawar Ria.
"Tidak ma, aku tidak terbiasa" kata Adsila menolak nya.
"Ya sudah,nanti kamu mama masukkan ke tukang pijit, sembari menunggu mama di sana"
"Oh boleh juga ma, kebetulan kaki dan tangan ku sakit" ujar Adsila tersenyum senang.
"Bagus lah" balas Ria. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Persis seperti ibu dan anak yang sedang berjalan jalan di mall.
Aditya dan anak buah nya masuk ke dalam mobil. sebelum masuk, Aditya menoleh kebelakang, menatap mall besar yang baru saja ia kunjungi.
pria itu merasa ada yang tertinggal di dalam mall. tapi, dia tidak tahu apa yang tertinggal itu.
"ayo boss, kita harus segera pergi. sebelum jam kerja dokter itu selesai" kata Bian mendesak Aditya segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
akhirnya Aditya masuk ke dalam mobil, mengabaikan perasaan nya yang ingin kembali masuk ke dalam mall.