
Satu bulan berlalu, satu bulan pula Adsila tidak bertemu dengan Aditya. Ayah dari anak yang dia kandung saat ini.
Yah, Adsila memang masih hamil. Dia sama sekali tidak keguguran. Adsila sengaja meminta dokter untuk memalsukan kehamilan nya pada Aditya. Agar, dirinya bisa terlepas dari pria itu, dan calon bayi nya bisa selamat.
Jika Adsila terus menerus berada di sisi Aditya, dia takut keluarga Aditya terus mencari nya dan terus mencoba mencelakai bayi dalam kandungan nya .
Kini Adsila bisa hidup tenang, dia sudah bertekad untuk membesarkan anak nya seorang diri. Rasa cinta seoyibu terhadap anak nya sudah tumbuh di hati Adsila . Dia tidak akan bisa hidup, apabila anak nya nanti di ambil oleh Aditya.
"Apa tubuh mu sudah baikan?" Tanya seorang pria yang bernama Bobi.
Pria 30 tahun itu, bertemu dengan Adsila ketika wanita itu di ganggu oleh sekelompok preman di jalan.
Bobi menolong Adsila, lalu membawa wanita itu ikut ke apartemen nya.
Kini, Adsila masih berada di apartemen Bobi. Dia bekerja di sana sebagai art. Namun, setelah bobi mengetahui wanita itu sedang hamil, Bobi langsung melarang nya melakukan pekerjaan.
"Sudah, aku sudah baik baik saja" jawab Adsila membalas senyum Bobi.
"Bagus lah, aku senang mendengarnya"
Adsila tersenyum, dia bersyukur bertemu orang baik seperti Bobi.
Sejauh ini, Adsila masih belum menceritakan pada Bobi, siapa ayah dari anak yang dia kandung. Wanita itu masih bungkam setiap kali Bobi menanyakan nya.
"Tuan, hari ini saya sudah bisa memasak. Anda tidak perlu menyuruh art lain untuk melakukan nya"
"Tidak, kau tidak perlu melakukan nya Adsila. Kau cukup beristirahat dan memperhatikan kehamilan mu" tolak Bobi tegas, dia tidak mau Adsila kenapa kenapa.
Bobi menatap Adsila dengan tatapan intimidasi, agar wanita itu mematuhinya.
Ketika menatap mata Adsila, Bobi merasakan ada getaran getaran aneh di hati nya.
"Apa ini?" Tanya bobi dalam hati. Dia bingung dengan perasaannya yang tiba-tiba menghangat.
Bobi memalingkan wajah nya dari Adsila, dia tidak bisa menahan debaran jantung nya jika terus bertatap mata dengan Adsila.
"Sekarang beristirahat lah, aku ak-"
"Bobi!!! Bobi!!! Keluar kau!!!"
Adsila dan Bobi saling menatap, mereka terkejut mendengar suara seseorang berteriak memanggil manggil Bobi.
Kedua nya segera bangkit, lalu pergi ke ruang tengah apartemen Bobi. Karena mereka sejak tadi berada di ruang makan.
"Ha, anak nakal! Sejak tadi aku memanggil mu, dan kau baru muncul!"
__ADS_1
Bobi menggaruk tengkuk, dia berjalan mendekati mama nya.
"Ma, kenapa berteriak teriak sih"
"Apa? Kau bertanya kenapa aku berteriak huh?? Kau bertanya pada ku?" Wanita baru baya itu semakin murka, dia menjewer telinga Bobi, membuat telinga mungil itu memerah.
Adsila masih berdiri di tempatnya, dia menundukkan kepalanya, takut mama Bobi akan mengusir nya ketika melihatnya berada di dalam apartemen Bobi.
"Hei...Siapa dia? Kau menyembunyikan wanita lain di apartemen ini?"
Mama Bobi melepaskan jeweran tangan nya dari telinga Bobi, lalu berjalan mendekati wanita asing di matanya. Yaitu, Adsila.
"Hmm...Maaf nyonya, saya-_" belum sempat Adsila menyelesaikan ucapan nya, Bobi sudah lebih dulu memotong nya.
"Dia teman ku ma, menumpang sementara waktu di apartemen ku" potong Bobi.
Ria, wanita yang di panggil mama oleh Bobi mengerutkan dahi nya, ketika mendengar jawaban dari putranya. Dari kegelisahan wanita itu, Ria dapat menebak jika dia sedang berbohong.
Mata cantik Ria, memperhatikan tubuh Adsila dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ma, di-"
"Sudah diam kau! Aku tidak mempercayai ucapan pria pembohong seperti mu!" Ketus Ria, kemudian menarik tangan Adsila, lalu membawa nya duduk di sofa.
Sedangkan Adsila yang awalnya merasa takut akan di marahi oleh wanita tua itu, atau mungkin saja dia akan di usir.
Tapi, semuanya terjadi di luar dugaan. Ria malah membawa Adsila duduk di sofa.
Dengan lembut, Ria memegangi tangan Adsila dan bertanya tentang kehamilan nya.
Tentu saja Adsila sangat terkejut. Bagaimana mungkin mama Bobi tahu dirinya tengah hamil. Padahal baju yang Adsila pakai sudah longgar dan tentunya tidak membuat perut buncit Adsila terlihat.
"Ba-ba-gai mana nyonya tahu?" Gagap Adsila ketakutan.
Ria malah tersenyum, tentu saja dia tahu jika Adsila sedang hamil. Dari bentuk wajah dan juga bentuk kaki Adsila yang sedikit membengkak. Ria tahu pasti semua itu adalah ciri ciri seorang wanita hamil. Karena, yah...Ria pernah mengalaminya. Tentu saja dia sangat tahu.
"Aku seorang ibu nak, aku tentu saja tahu meskipun perut mu tidak terlalu jelas" kekeh Ria.
"Yah! Ketahuan deh" Bobi menghempaskan bokong nya di salah satu sofa depan dua wanita itu.
"Dasar anak nakal!" Dengus Ria mendelik kesal pada putra nya.
Adsila menghela nafas lega, ternya ria bukan lah wanita paru baya seperti mantan majikan nya. Adsila sudah bersiap di usir tadi, ketika mama Bobi menghampiri nya.
"Ayo katakan pada ku, mana suami mu?"
__ADS_1
Deg!
Adsila tertegun, apa yang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan itu. Karena dia tidak pernah menikah, dan malah hamil. Adsila sangat takut sekarang, dia tidak mau di cap sebagai wanita yang tidak baik.
"Jangan bilang, ayah dari anak ini adalah...." Ria menoleh pada Putra, tatapan nya seakan membunuh.
Bobi menggeleng cepat, dia bukan lah ayah dari anak itu.
"Tidak nyonya, aku dan tuan Bobi hanyalah orang asing. Berkat tuan Bobi, aku selamat dari para preman yang mencoba mencelakai ku" jelas Adsila menunduk.
"Nah mama dengar kan" seru Bobi.
"Lalu, di mana keluarga mu? Kenapa mereka tidak mencari mu?"tanya Ria lagi, dia menjadi penasaran dan heran. Kenapa wanita hamil ini malah tinggal di rumah putranya, kenapa dia tidak di antar saja ke rumah keluarga nya. Ada apa sebenarnya?
Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Ria, ada rasa khawatir dan ada juga rasa kasihan.
Untuk beberapa saat Adsila terdiam, lalu kemudian dia mengangkat wajah nya menatap Ria.
"Maaf nyonya sebelumnya aku sudah merepotkan kalian. Aku sudah tidak memiliki orang tua, tapi aku memiliki seorang adik dan seorang bibi. Mereka tinggal di kota C. Aku tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini."
"Lalu, di mana suami mu?"sela Ria penasaran.
Adsila menghela nafas berat, lalu menggeleng pelan.
"Mungkin nyonya berpikir aku adalah wanita murahan, karena aku hamil tapi tidak memiliki suami."
Ria dan Bobi saling menatap, tapi mereka memilih tetap diam dan membiarkan Adsila melanjutkan ceritanya.
"Semuanya terjadi begitu saja, tanpa dapat aku hindari. Di kalah itu, majikan ku sedang mabuk. Aku membantunya masuk ke dalam kamar. Entah efek minuman, majikan ku seperti melihat seseorang dalam diriku dan melakukan hal itu" mengingat kejafi itu, membuat Adsila meneteskan air mata. Tapi dia berusaha untuk tegar dan segera menghapus air mata yang akan jatuh ke pipi.
"Pria brengsek!" Umpat Bobi.
"Tidak, dia sangat baik, dia sangat bertanggung jawab." Bantah Adsila, dia tidak mau Bobi dan Ria berpikir hal yang buruk tentang Aditya. Entah mengapa hati nya tidak menerima hal itu.
"Lalu? Kenapa dia membiarkan mu sendiri?" Tanya Ria.
"Aku yang lari dari nya, aku membuat nya berpikir jika aku sudah keguguran! Demi melindungi anak ini, aku harus berpura-pura. Aku tidak ingin keluarga nya mencelakai anak yang tidak bersalah ini" lirih Adsila, akhirnya dia menangis juga. Rasa perih yang entah mengapa tiba-tiba hinggap di hatinya.
"Anak yang malang, kau tidak usah menangis sayang. Kau bersama ku, aku akan menjaga mu" ucap Ria sembari memeluk Adsila.
"Terimakasih nyonya, aku tidak tahu harus berkata apa padamu"
"Tidak sayang, jangan panggil aku nyonya, panggil aku mama, sama seperti Bobi"
Adsila mengangguk, dia tersenyum haru. Di kota besar ini, dia bisa bertemu dengan orang yang memiliki hati mulia seperti Ria dan Bobi.
__ADS_1