
Termenung, Aditya menatap kosong ruangan kerja nya. Kejadian kemarin membuat dirinya heran.
"Siapa yang ingin mencelakai Adsila?"
Di tengah kebingungan Aditya, tiba tiba pintu ruangan nya terbuka. Membuat pandangan mata Aditya beralih kesana.
"Bian?" Aditya beranjak dari tempat duduk nya. Dia mendekati Bian yang baru saja masuk ke dalam ruangan nya.
Ekspresi wajah Bian tidak jauh dengan ekspresi wajah nya.
"Kenapa Bian? kenapa kamu terlihat kacau sekali?"
"Boss, aku tidak mengerti satu hal"
"Apa itu?" tanya Aditya cepat. Dia menatap wajah Bian, menunggu jawaban Bian.
"Bukan kah Adsila sangat baik, dia juga bukan orang yang hidup di kalangan bisnis. Mengapa ada yang ingin mencelakai nya?"
"Aku juga sedang memikirkan hal itu Bian, aku sangat bingung."
"Boss!" panggil Rangga. Dia terkejut melihat Bian ada di dalam ruangan boss nya.
"Eh Bian, kamu juga ada di sini?" sapa Rangga.
"Iya Rangga, aku memiliki sesuatu yang ingin aku diskusi bersama boss " jelas Bian.
Mendengar jawaban Bian, seketika itu mata Rangga langsung memicing menatap keduanya.
"Jadi, kalian memiliki rahasia di belakang ku? apa kalian tidak membawa ku ikut serta dengan urusan kalian lagi?"
Rangga merajuk, dengan kedua tangan terlipat di depan dada, dia duduk di kursi yang tersedia di depan meja Aditya.
Aditya dan Bian saling melempar tatapan, mereka heran dengan tingkah bocah ini.
"Ayo, segera katakan pada ku. Apa yang kalian sembunyikan?" Rajuk nya.
"Rangga, kami tidak ada menyembunyikan apapun dari mu!" ucap Bian.
"Aku tidak percaya!" dengus Rangga lagi. Dia tetap kekeuh menunggu Bian dan Aditya memberitahu dirinya.
Fyuu...
"Rangga, kami benar benar tidak menyembunyikan apapun dari kamu. Kami hanya membicarakan siapa yang menyerang Adsila tadi malam" ucap Aditya pasrah, dia menceritakan pada Rangga apa yang telah terjadi pada Adsila semalam.
Rangga terkejut, dia tidak tahu jika Bian dan boss nya pergi menemui Adsila
"Kalian bertemu dengan Adsila? mengapa kalian tidak mengajak ku!"
Bian memutar kedua bola matanya bosan, Dia sangat ingin memukul kepala Rangga saat ini juga.
Bagaimana mereka ingin mengajak dirinya. Rangga selalu saja bersama kekasihnya. Dia kelewat bucin, hingga tidak ingat dengan kedua teman nya yang sedang di landa kegalauan.
"Kamu nanya? mengapa kami gak ngajak kamu? kamu nanya" ucap Bian menirukan gaya bicara tiktoker yang lagi viral untuk meledek Rangga.
__ADS_1
"Idih, apaan sih Bian!" sangga Rangga.
"Yah habisnya kamu. Dah tahu kerjaan nya bucin terus, malah nanya mengapa kami gak ngajak?" omel Bian.
Rangga terkekeh pelan, dia mengakui kesalahan nya.
"Hehe...Baik lah, baik lah.Aku minta maaf. Sekarang mari kita ceritakan sejak awal"
Bian mendengus, lalu dia ikut duduk di samping Rangga.
Aditya bersandar di ujung meja kerjanya, menghadap pada kedua anak buah nya sekaligus sahabat nya.
"Oh, iya boss. Aku tadi mendapat email dari pengacara Mr. Dairon." ucap Rangga teringat dengan tujuan awal dia datang menemui Aditya.
Aditya mengerut, tumben sekali pengacara mengirimnya email. Apa terjadi sesuatu. Namun, sepengetahuan Aditya, pengacara itu hanya di sewa oleh papa nya untuk mengurus urusan yang berkaitan dengan hak harta warisan.
"Apa isinya?" tanya Aditya penasaran.
"Dia hanya menanyakan, apakah boss sudah menikah dan memiliki seorang anak?"
Deg.
Aditya terdiam, mendengar isi dari email yang dikirim oleh pengacara papa nya.
Aditya teringat dengan sebuah syarat untuk memiliki segala harta di dalam keluarga nya.
Bian tidak bereaksi, sejujurnya dia tidak mengerti tentang hal ini.
"Boss, memangnya ada apa jika anda sudah punya anak?" tanya Rangga.
"Jika aku sudah memiliki anak sebelum umur ku yang telah di cantum kan. Maka, semua warisan langsung jatuh ke tangan ku. Sepersen pun tidak akan dapat di cicip oleh ibu tiri ku, meskipun dia sudah memiliki anak dengan papa ku!"
Rangga dan Bian terdiam, mereka sama sama saling menatap ketika sesuatu terlintas di benak keduanya.
"Bingo!" sorak Bian dan Rangga serempak.
"Apa?" sela Aditya heran.
"Boss, aku tahu siapa dalang dari semua ini. Siapa yang berniat mencelakai Adsila dan juga putra anda"
"Huh? benar kah? siapa dia?"
"Maya!"
"Maya!"
Bian dan Rangga kembali serempak, mereka saling melempar tatapan, kemudian tersenyum lebar.
"Kamu ternyata cerdas juga yah" kekeh Bian pada Rangga.
"Oh jadi, selama ini aku kamu anggap bodoh?" Rangga mulai emosi, dia hendak berdiri dari kursinya dan ingin menghajar Bian.
Namun, gumaman Aditya membatalkan niat nya.
__ADS_1
"Benar, pasti dia yang melakukan nya. Dia ingin mengambil hak atas harta warisan papa" gumam Aditya.
"Yup boss, dia sengaja ingin melenyapkan Adit. Agar setengah harta Mr. Dairon bisa dia miliki" sahut Bian.
"Aku curiga, penundaan pernikahan boss dengan Weira juga merupakan rencana nyonya Maya!" timpal Rangga.
Aditya dan Bian menoleh padanya, mereka terkejut sekaligus takjub. Otak Rangga memang paling bisa di andalkan.
Namun, tatapan takjub itu segera hilang ketika mendengar ucapan Rangga.
"Kalian pasti takjub bukan? " kekeh Rangga bangga.
"Idihh..." cibir Bian.
"Sudah sudah, sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara agar, membuat Naya dan Jasmin jera!" lerai Aditya.
Bian dan Rangga langsung terdiam, mereka memutar otak nya masing-masing untuk menyusun rencana.
Sedangkan di lain tempat, Adsila tengah berhadapan dengan adik perempuan nya.
Mereka sekarang berada di halaman belakang rumah kontrakan nya. Sementara Adit bermain bersama Titi di dalam kamar.
"Kak, kenapa sih kakak gak jauhi saja tuan Aditya itu!" ucap Lena.
Adsila tampak menghela nafas, dia tahu mengapa asik nya begitu membenci Aditya. Namun, dia juga tidak bisa menjauhkan Adit dari ayah nya.
"Sayang, kamu tidak boleh membenci seseorang dengan sangat berlebihan seperti ini"
"Tapi kak, dia itu pria yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak mau kakak menikah dengan nya!" sela Lena lagi. Dia masih kekeuh untuk melarang kakak nya berhubungan dengan Aditya.
"Walau bagaimanapun, dia merupakan ayah dari Adit Lena. Kita tidak bisa menjauhkan mereka!" jelas Adsila.
Wanita itu memang tidak memiliki niat untuk menikah dengan Aditya, namun dia juga tidak memiliki niat untuk menjauhkan Adit dari ayah nya.
"Kak, jawab jujur pertanyaan Lena! Apa kakak menyukai tuan itu?"
Lena menatap lekat wajah kakak nya, meraih kedua tangan kakak nya agar kakak nya tidak bisa menghindar.
Adsila memalingkan wajahnya, dia tidak mau menatap mata adiknya.
"Tatap Lena kak" pinta Lena.
"Lena, seperti nya aku harus melihat Adit ke dalam"
Adsila melepaskan tangan Lena, dia menghindar dan tidak mau menjawab pertanyaan dari adiknya.
Lena merasa tidak puas, dia merasa ada sesuatu yang kakak nya sembunyikan dari dirinya.
"Kakak menyukai dia kan? Kakak mencintai tuan Aditya." ucap Lena penuh penekanan.
Langkah kaki Adsila seketika itu langsung terhenti.
"jika kakak diam, berarti kakak memang mencintainya!"
__ADS_1
Adsila tetap diam, dia memilih untuk melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Hal itu menjadi jawaban pasti bagi Lena, bahwa kakak nya menyukai adi