Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Kemarahan Titi.


__ADS_3

Adit berlari ke sana ke mari, dia terlihat sangat bahagia. Dia menarik balon besar yang berbentuk Spongebob berlari.


Dari belakang nya, Aditya mengejar putranya sambil tertawa.


"Tangkap Adit...." teriak Aditya sambil berlari mengejar bocah itu.


"Aaa" teriak Adit pura pura ketakutan.


Tak jauh dari tempat Adit dan Aditya berlari, Adsila dan Bian duduk di meja.


Mereka saat ini berada di sebuah cafe. Karena Adit tidak mau duduk di meja dalam, maka nya Aditya memilih meja di luar.


"Mereka terlihat sangat bahagia yah?" gumam Bian.


Adsila yang sedang memperhatikan putranya langsung menoleh pada Bian.


"Maksud tuan apa?"


Bian tersenyum, dia membalas tatapan Adsila.


"Tidak kah kau melihat itu Adsila? sebuah benang merah yang menyatukan mereka. "


Adsila memalingkan wajah nya, kembali melihat ke arah putranya dan juga Aditya.


"Meskipun ada orang lain, pasti sangat berbeda ketika Adit bersama ayah kandung nya" imbuh Bian lagi.


"Kau tidak tahu situasinya tuan" balas Adsila mengakhiri pembicaraan mereka.


Adsila menghampiri putranya yang saat ini di gendong oleh Aditya. Dia mengambil alih Adit, lalu berpamitan untuk pergi pada Aditya.


"Maaf tuan, aku dan Adit harus segera pulang" ucap nya.


Aditya terkejut, dia masih belum puas bermain bersama Adit.


"Tidak bisakah sebentar lagi?"


Adsila menggeleng, dia membawa Adit pergi.


"Dada om papa, aku pulang dulu yah" ucap Adit melambaikan tangan nya.


Aditya tidak menyerah, dia mengejar Adsila dan menawarkan untuk mengantarnya pulang.


"Biar aku antar Adsila!"


"Tidak usah tuan, tidak perlu repot repot!" tolak Adsila, dia kembali melanjutkan langkahnya keluar dari cafe.


Huhh...

__ADS_1


Aditya tidak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa bersabar dan terus mencoba meyakinkan Adsila, jika dirinya tidak pernah bermaksud jahat kepadanya.


"Sabar boss, semua butuh proses" ucap Bian menepuk bahu boss nya, dia berusaha menguatkan boss nya agar tidak berhenti berjuang.


Setelah memastikan Adsila dan Adit masuk ke dalam taxi, lalu melaju pergi. Barulah Aditya menyuruh Bian menjalankan mobil nya.


Selama perjalanan pulang ke apartemen nya, Aditya hanya diam, mulut nya terkunci rapat.


Dari kaca spion, Bian melihat raut wajah kesedihan di wajah boss nya.


"Kasian Boss Aditya"lirihnya dalam hati.


Drttt...


Bian melirik ponselnya, dia meraihnya ketika melihat ada notifikasi pesan masuk.


From~Titi


Kita harus bicara!


Mata Bian membulat besar, jantung nya berdegup kencang saat membaca pesan dari Titi.


"Apa yang ingin dia bicarakan? kenapa dia terlihat sangat marah?" benak Bian.


Tiba di basemen apartemen. Aditya langsung turun dari mobil.


Aditya tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan. Lalu Aditya langsung melangkah menuju ke lift.


Bian langsung melaju menuju ke suatu tempat. Di mana Titi sudah duduk menunggu dirinya.


25 menit, Bian melajukan mobil. Akhirnya dia sampai di tempat tujuan.


Cafe sederhana, namun bernuansa elegan.


Bian masuk ke dalam, dia celingak celinguk mencari keberadaan Titi.


"itu dia!" Langsung saja Bian melangkahkan kakinya menuju ke meja bagian tepi dekat jendela kaca.


"Titi!" panggil Bian.


Wanita itu menoleh, menatap Bian dengan tatapan permusuhan.


Dia menunjuk kursi di depan nya dengan lirikan mata, menyuruh Bian untuk duduk di sana.


Bian pun mengerti, dia duduk di depan Titi dengan perasaan gugup dan penasaran. Apa sebenarnya yang ingin di bicarakan wanita pujaan nya ini.


"Titi, kau ingin membicarakan apa dengan ku?"

__ADS_1


Brak!


Bian terkesiap, Titi tiba tiba menggebrak meja. Mata nya tidak bisa berkedip, jantung nya seakan berhenti berdetak.


"Beraninya kau selama ini berbohong pada ku Bian! Aku sudah percaya pada mu, tapi kau malah membohongi aku!"


"Ma-maksud kamu apa?"tanya Bian tergagap.


"Aku sudah tahu semuanya, Adsila dan bayi nya! kau menyembunyikan semua ini dari ku! kau mengatakan Adsila baik baik saja, dan kau menyembunyikan soal boss mu yang bejad itu!!" ucap Titi panjang lebar, dia sudah sangat emosi. Sejak mengetahui semuanya dari Adsila, emosi Titi langsung berkobar.


"Tenang Titi, aku bisa jelaskan"


"Tidak! aku tidak butuh penjelasan mu. Aku sudah mengetahui segalanya!!"potong Titi.


Bian kehabisan akal, dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan wanita ini.


"Sekarang, ajak aku bertemu dengan boss mu itu! aku ingin dia tahu siapa bibi Adsila! akan aku beri pelajaran dia!" geram Titi menahan amarah.


Bian semakin panik, dia berdiri dan bergerak mendekati Titi.


Mengusap pelan bahu Titi dan juga kepalanya. Agar wanita itu sedikit tenang dan berkibar kibar kemarahan nya.


"Tenang lah Titi, kita bicarakan baik baik. Aku tahu aku salah, tapi aku memiliki alasan mengapa tidak memberitahu pada mu" bujuk Bian.


"Aku benar-benar kecewa pada mu" gumam nya lagi, namun kali ini dia sudah mulai sedikit tenang, meskipun dada nya masih turun naik.


Bian kembali ke posisi duduknya, dia menatap Titi dengan tatapan lembut. Meraih tangan wanita itu dan mengusapnya pelan.


"Maaf, aku memang salah. Tapi, aku melakukan semua itu atas perintah Adsila. Awal nya aku sudah menyuruhnya tinggal di rumah ku, tapi beberapa hari setelah itu, adsila pergi tanpa kabar. Aku bingung, aku mencarinya kemana mana, tapi dia tidak bisa aku temukan!" ucap Bian menceritakan segalanya.


"Lalu,kenapa kau tidak mencari ku dan mengatakan padaku. Lagi pula, kenapa kau menyuruh nya tinggal di rumah mu. kenapa tidak boss mu itu menikahinya. kenapa dia tidak bertanggung jawab!" Titi kembali emosi, dia berteriak di akhir kalimatnya.


"Tidak Titi, semuanya begitu rumit. aku pun pusing menjelaskan pada mu seperti apa!" lenguh Bian pasrah. Dia benar-benar tidak tahu harus menjelaskan pada Titi seperti apa.


"Kau cukup jawab!? mengapa boss mu tidak bertanggung jawab ketika mengetahui keponakan ku hamil!"bentak Titi.


"Dia bertanggung jawab titi, dia sudah merawat Adsila dengan"


"Mengapa tidak menikahinya?" sela Titi lagi.


"Jika soal itu aku tidak bisa menjawab, semua ini terjadi karena sebuah kecelakaan. Di antara mereka tidak ada cinta. Jadi boss ku berniat merawat Adsila hingga melahirkan, lalu akan merawat bayinya, batu setelah itu dia membebaskan Adsila agar melanjutkan hidupnya tanpa beban!" ungkap Bian panjang lebar, akhirnya dia bisa menjelaskan semuanya.


Titi terdiam, dia masih belum bisa mengerti apa yang terjadi pada keponakan nya. Entah boss nya yang salah, atau malah nasib keponakan nya yang buruk.


"Sampai saat ini, kami belum tahu apa yang me buat Adsila menghilang selama 3 tahun ini" imbuh Bian lagi.


Titi menghela nafas berat, dia akan menanyakan nanti kepada keponakan nya.

__ADS_1


Keduanya sama sama menghela nafas berat, lalu mengakhiri pembicaraan dengan makan bersama.Setelah itu, Bian mengantar Titi pulang.


__ADS_2