Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Memberitahu Bibi


__ADS_3

Bian berjalan menuju ke ruangan Aditya. Dia baru saja masuk ke dalam lift, lalu keluar dari lift setelah tiba di lantai tempat Aditya bersemayam selama jam kerja.


Tuk tuk.


Bian mengetuk pintu terlebih dulu, lalu dia masuk ke dalam setelah mendengar seruan suara Aditya, menyuruh dia masuk ke dalam.


"Boss, ini hasil tes DNA rambut balita itu dan rambut anda"


Bian memberikan map biru yang berisi hasil tes DNA Aditya dengan Adit.


Aditya menatap nanar hasil tes yang menyatakan, jika balita imut yang kemarin dia gendong adalah putranya Senin.


Hampir menangis, Aditya hampir saja meneteskan air mata ketika mengetahui fakta ini.


"Dia putra ku, dia putra ku" Aditya memeluk map itu. Dia berdiri dan hendak pergi mencari Adsila.


"Mau kemana boss?" tanya Bian menahan lengan Aditya.


Aditya menghapus air mata yang baru saja mengalir pelan dari sudut matanya.


"Aku ingin bertemu putra ku Bian, Adsila tidak bisa memisahkan kami!" Ucap Aditya.


Dia sudah tidak sabar ingin memeluk putranya, balita yang kemarin memanggil dirinya dengan panggilan om.


Aditya menatap Bian penuh tanya, kenapa dia menahan dirinya untuk menemui putranya.


"Boss, sebaiknya anda jangan gegabah. Situasi saat ini tidak sama seperti dulu"


"Maksud kamu?"


Bian menghembuskan nafas berat, lalu menuntun Aditya duduk di sofa.


"Boss, tidak kah kau lihat bagaimana selama ini Adsila bersembunyi? Apa kah kau tahu alasan nya?"


Aditya menggeleng, tentu saja dia tidak tahu alasan nya.


"Dia bersembunyi, karena dia takut. kau akan mengambil putranya dari pelukan nya. Dan sekarang kau ingin memeluk putra mu dan ingin membawanya. Apa kau tidak takut Adsila akan pergi lagi?" Bian menjelaskan semuanya, dia sudah menyelidiki Adsila sampai tuntas.


Bian sudah mengetahui dimana Adsila tinggal, mengapa dia menghindari semua ini. Dan ini semua Bian dapatkan dari asisten rumah tangga Bobi.


"Bobi dan Adsila belum menikah, 3 tahun lalu Adsila bertemu dengan keluarga Bobi, dan mereka mengangkat Adsila sebagai anggota keluarga. Menurut Art nya, Bobi menyukai Adsila, sedangkan Adsila terlihat tidak memiliki perasaan pada Bobi"


Aditya terdiam, dia merasa sedikit lega mendengar informasi itu. Inilah yang Aditya suka dari Bian, semua informasi tanpa di suruh di tuntaskan oleh nya.


"Jadi, Bobi belum memiliki nya?"


"Belum boss, mereka hanya serumah dan di sana ada mama Bobi juga."


"Bagus, kau memang kaki tangan kepercayaan ku Bian . Aku bangga memiliki mu!" Puji Aditya.


Bian hanya mengangguk pelan, membalas pujian Aditya.


"Lalu, sekarang apa yang harus aku lakukan Bian? Aku tidak sabar ingin memeluk putra ku!"

__ADS_1


"Culik saja Adsila, lalu jelaskan semuanya pada dia!" celetuk seseorang.


Bian dan Aditya menoleh.


Ternyata dia adalah Rangga dan Hana, kini wanita itu tak lagi sebagai kasir di Restoran, tapi asisten pribadi Rangga.


Bian memutar bola matanya jengah, jika sudah ada pasang baru ini. Maka dia akan memilih pergi di bandingkan tetap di sini.


"Hai Bian!" Sapa Hana.


"Gak usah nyapa, aku tahu kalian mau ngomong apa!" Tukas nya


Hana dan Rangga tertawa bersama, mereka lupa dengan tujuan mereka datang menemui Aditya.


"Ehem"Dehem Aditya, membuat menghentikan tawa mereka.


"Maaf boss, tapi usulan tadi serius. Kau harus menemui Adsila dan berbicara empat mata. Sehingga kesalahpahaman di antara kalian segera kelar"


Bian mengangguk setuju, kali ini dia setuju dengan Rangga.


Hana mengangkat tangan nya, dia melirik ketiga pria itu dengan tatapan malu malu.


"Apa aku boleh ngasih saran?"ujar Hana.


Bian dan Aditya melirik kearah nya, menunggu dia melanjutkan ucapan nya. Dengan hati yang gugup, Hana mengeluarkan pendapat nya.


"Sebaiknya jangan membuat situasi semakin buruk. Cobalah cara bagaimana mengambil hati si wanita. Buktikan jika Boss sangat menyayanginya, dan tidak akan memisahkan ibu dan anak itu"


Hana hanya tersenyum simpul, dia merasa senang dengan pujian yang ada.


"Ternyata kau pintar juga" gumam Aditya, kaku dia segera pergi dari dalam ruangan nya..


"Mau kemana boss?" Teriak Bian.


Namun, Aditya tidak perduli, dia berjalan terus keluar dari dalam ruangan nya.


* * *


Seperti biasanya, setiap hari pasar tradisional. Adsila akan mengunjungi bibi nya.


Biasanya, Adsila pergi seorang diri. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Ade. Namun, kali ini dia pergi bersama Adit.


Adsila berniat ingin memberitahu keluarga nya bahwa dia sudah memiliki seorang anak.


"Mama, kita mau kemana?"tanya Adit.


"Kita jumpa nenek yah nak, mama akan mengenalkan kamu pada kakak yang cantik juga"


"Benarkah?" adsila mengangguk, membuat Adit semakin bersorak senang.


Tanpa menggunakan mobil mewah, Adsila dan Adit pergi menggunakan angkutan umum.


Balita itu tidak banyak bertanya, dia hanya diam dan menurut setiap apa yang mama nya katakan.

__ADS_1


Setibanya di pasar tradisional, Adsila langsung bergegas mengelilingi pasar yang tak jauh dari rumah bibi nya.


Tuk!! Tuk!!


Adsila dan Adit secara bergantian mengetuk pintu sederhana rumah kontrakan bibi dan adik nya.


Ceklek.


Suara decitan pintu bergesekan dengan lantai terasa memekakkan telinga.


"Adsila? kamu datang?" sambut Titi, ekspresi nya terlihat sangat senang melihat keponakan nya datang berkunjung.


Lalu, lirikan mata Titi jatuh pada wajah tampan pria kecil yang ada di pelukan Adsila


"Dia siapa nak? kamu jadi baby sister?" tanya Titi heran.


Adsila menggeleng,dia menarik nafas dalam, menyiapkan keberanian nya untuk menjelaskan semuanya pada Titi.


"nak" panggil Titi lagi, membuat Adsila yang melamun tersadar


"Bi, Sebenarnya Adsila sudah punya anak"


Prank!


Lena yang baru saja selesai mencuci piring, dia tidak sengaja mendengar ucapan kakak nya pada Titi.


Tangan Lena terasa lemas, dia menjatuhkan semua piring piring yang tadi ada di dalam genggaman nya.


"kamu jangan bercanda Adsila, ini gak lucu" Serga Titi memperingatkan keponakannya agar tidak bermain main dengan hal itu.


"Bi aku tidak becanda dan berbohong. Adit adalah anak Adsila. "


"tapi, bagaimana bisa terjadi Adsila? anak siapa dia, mana bapak nya?" tanya Titi masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja Adsila katakan.


"Cerita nya panjang bi, semuanya terjadi begitu saja!"balas Adsila.


"Mama...Haus, Adit mau minum" rengek Adit ingin minum. Sejak tadi bocah itu hanya duduk di pangkuan mama nya.


Adsila langsung mengeluarkan botol minum putranya dari dalam tas..


Setelah memberikan putranya minum, Adsila kembali menjelaskan kepada bibi nya. Di mana dia tinggal dan mengapa dia tidak mau muncul selama ini.


Adsila juga mengatakan, jika dirinya tidak bekerja di Rumah besar keluarga Dairon selama 3 tahun ini.


...----------------...


Halo guys, para pembaca setia dan hebat ku. Tetap semangat ya baca karya aku.


Mohon kritik dan saran nya.


Setelah membacanya, jangan lupa tinggalkan jejak yah . Like, komen, share dan Rate juga.


Love you 😘.

__ADS_1


__ADS_2