Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Adsila tidak bersalah??


__ADS_3

Di apartemen nya, Aditya duduk bersandar pada sofa sendirian di tengah tengah ruangan. Matanya menatap kosong ke langit langit ruangan.


Sunyi, sepi, tak ada lagi keributan yang di timbulkan oleh wanita hamil


Ngidam ini dan itu, ketawa dan semua hal tentang Adsila.


Kini, Aditya benar benar sendirian. Hatinya kosong, seperti apartemen ini.


Dari arah dapur, Bian berjalan kearah Aditya. Dia membawakan majikan nya semangkuk sup ayam.


"Boss, makan lah. Sejak kemarin anda belum memakan apapun"


"Aku tak ingin makan apapun"


"Tapi boss"


"Sudah lah Bian, singkirkan semua nya! Aku tidak ingin apapun!"


Mau tidak mau Bian terpaksa mengikuti perintah majikan nya. Dia kembali membawa semangkuk sup dan segelas minuman segar.


Ting tong!


Suara bel terus berbunyi, Aditya terlihat tidak bergerak untuk membuka nya.


"Tuan, ada tamu" ucap Bian memberi tahu, tapi Aditya tidak merespon.


Bian tetap pergi ke pintu, dia berniat mengintip siapa yang bertamu ke apartemen boss nya.


Ting tong!!!


Bel terus berbunyi, seperti nya orang di luar sana tidak sabaran.


"Siapa sih, kenapa semakin berisik!" Dengus Bian membuka kunci pintu.


Klik.


Baru saja pintu terbuka, tiba tiba Maya dan Jasmin mendorong Bian menyingkir.


"Awas lah, kau mengganggu jalan kami!" Ucap Jasmin.


Maya dan Jasmin berjalan cepat, menghampiri putranya di ruang tengah.


"Kenapa kamu masih di sini Aditya! Kenapa kamu tidak pulang ke rumah!"


"Bukan urusan mu, urus saja hidup mu dan putri tersayang mu itu" balas Adity tanpa menoleh.


Mendengar ucapan kakak nya, Jasmin merasa tidak adil. Mereka sedarah, tapi kakak nya seperti sangat membenci nya.


"Kak, kenapa sih kakak selalu membenci ku? Kenapa kakak tidak pernah mau mengakui aku?"


"Bian! Jika mereka hanya membuat keributan di rumah ku, lebih baik kau mengusir mereka!" Ucap Aditya setengah berteriak.

__ADS_1


"Kau! Apa wanita itu sudah membuat mu buta? Apa dia masih saja menghantui pikiran mu? Sampai sampai kau bersikap kurang ajar kepada mama mu sendiri? Wanita yang sudah mengandung mu!"


Aditya tidak bergeming, dia sudah muak dengan sandiwara mama nya. Sudah sangat jelas, sebelum papa nya meninggal, papa nya sudah menceritakan segalanya padanya.


Mendengar kata mengandung, Aditya menjadi teringat dengan calon anak nya yang telah tiada sebelum sempat di lahirkan.


"Huh, percuma aku berusaha menyingkirkan nya!"dengus Jasmin keceplosan.


Ekspresi wajah Aditya seketika berubah, Jasmin menutup mulutnya dia juga sadar dengan kesalahan yang baru saja dia perbuat.


"Dasar bodoh!" Dengus Maya pelan.


Aditya segera bangkit, dia berdiri di depan Jasmin. Memegang bahu gadis yang sekalipun tak pernah ia sentuh, bahkan menatap pun Aditya tidak pernah.


"Jadi, kau yang sudah menyebabkan anak ku meninggal???"


"Ti-dak kak, aku ti-da-k melakukan nya. Itu semua tidak sengaja"


"apa? Tidak sengaja??? Jadi kau yang melakukan ini semua??"


Brak!!


Aditya mendorong tubuh Jasmin ke lantai.


"Apa yang kau lakukan Aditya, hanya gara gara gadis murahan itu, kau tega memperlakukan adik mu seperti itu?"


"Dia bukan adik ku!" Bantah Aditya menatap tajam mama nya.


"Apa yang kau katakan Aditya, dia itu adik kamu. Sampai kapan pun, kau dan dia itu bersaudara "


"Kau jahat kak, aku sudah berusaha agar terlihat baik di mata mu! Aku berusaha melakukan apapun " lirih Jasmin sedih.


"Termasuk melenyapkan anak ku!" Sambung Aditya.


Bian mengerti kondisi Aditya, dia berinisiatif untuk mengusir nyonya besar nya.


"Silahkan nyonya, seperti nya boss ingin sendiri "ucap Bian menunjuk ke arah pintu keluar.


"Berani sekali kau Bian!!!" Marah Maya. Bian menunduk, dia hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh boss nya.


"Pergi dari sini! Sebelum aku memberikan kalian pelajaran atas meninggalnya anak ku!"


Maya tidak bisa bergeming, dia terpaksa menarik Jasmin keluar dari apartemen Aditya.


Brak!!!


Setelah mama dan juga adik nya pergi, Aditya melempar semua baranga yang ada di dekatnya. Hati nya marah! Dia sudah menyalahkan Adsila atas keguguran nya wanita itu.


"Boss..." Panggil Bian.


"Sudah lah Bian, aku ingin sendirian!"

__ADS_1


"Tapi boss, apa anda tidak ingin bertemu dengan nona Adsila?"


"Tidak Bian, memang aku salah. Tapi, bagaimana pun aku tidak memiliki hubungan lagi dengan nya. "Balas Aditya lirih. Dia terduduk di atas sofa.


Bian pun tidak bisa berkata kata lagi, dia hanya bisa diam, menemani boss nya yang sedang mengamuk.


Marah!! Kecewa, semuanya bercampur menjadi satu. Aditya tidak tahu arti dari kemaraydan juga kekecewaan yang saat ini melanda hati nya.


"Boss!!!"


Rangga masuk ke dalam rumah, nafas nya terdengar seperti orang habis di kejar hantu.


"Astaga, apa ini kapal pecah? Atau ini adalah rumah tinggal?" Pekik Rangga ketika melihat betapa berantakan nya apartemen Aditya saat ini.


"jika kau hanya ingin mengganggu saja, lebih baik kau pergi!" Sangga Bian.


"Tidak, aku mengganggu, tapi aku mengetahui sesuatu" ucap Rangga serius.


"Jika kau ingin menyampaikan informasi siapa yang menyebabkan Adsila keguguran. Maka simpan saja informasi mu itu!" Ketus Bian.


Rangga jadi tercengang, bagaimana mungkin boss nya dan Bian bisa tahu siapa yang menyebabkan hal itu terjadi.


Padahal, dia sudah berusaha keras untuk menyelidiki semuanya.


"Kalian sudah tahu?" tanya Rangga dengan nada kecewa.


"Yah, kami sudah tahu!" Sahut Bian.


"Hum...Sia sia perjuangan ku" lirih Rangga lemas, dia ikut duduk di samping Aditya.


"Lalu, apa yang menjadi permasalahan nya saat ini?"


"Kau tidak bisa diam? Apa kau sudah bosan hidup!"bentak Aditya menatap Rangga tajam.


Bentakan secara tiba-tiba itu, tentu saja membuat Rangga dan Bian kaget.


"Boss, kau kenapa? Apa aku benar-benar mengganggu mu?" Cicit Rangga ketakutan.


"Tentu saja, ocehan mu sejak tadi mengganggu kelancaran otak ku!" Balas Aditya mendengus kesal, dia pun memilih pergi ke kamarnya. meninggalkan Rangga dan Bian yang menatap nya dengan tatapan bingung.


"Apa yang terjadi? Bukan kah seharusnya dia marah pada adik dan mama nya? Kenapa malah melampiaskan pada kita?" Gumam Rangga.


"Entah lah, seperti nya bukan itu yang menjadi permasalahan nya" balas Bian.


"Humm...Di mana Adsila? Apa kau mengantar nya kembali pada keluarga nya?"


Bian menggelengkan kepalanya, membuat Rangga semakin penasaran.


"Lalu kemana dia???"


"Di tempat yang aman" jawab Bian, lalu dia pun beranjak dari sana, meninggalkan Rangga sendirian di sofa.

__ADS_1


Bain memilih pergi keluar dari rumah Aditya, dia pulang ke apartemen nya yang terletak di sebelah apartemen Aditya.


"Lah, kok aku sendiri sih. Huh, tidak setia kawan" gerutu Rangga sebal.


__ADS_2