
Di balkon kamar, Adsila duduk termenung seorang diri. Pikiran nya berkecamuk, semuanya campur aduk menjadi satu.
Situasi dirinya saat ini sungguh rumit, lebih rumit di bandingkan dengan ketika dia hamil waktu itu.
Adsila tidak pernah berpikir akan serumit ini. Dulu, dia berpikir setelah melahirkan, dia akan kembali pada keluarga nya. Menjelaskan semuanya dan akan berpamitan dengan keluarga Malay.
Wanita itu tidak pernah berpikir, jika Bobi akan menyukainya. Apalagi mengingat kebaikan keluarga Bobi kepada dirinya dan juga putranya.
Namun, dia juga tidak bisa menerima lamaran Bobi, meskipun dia tahu pria itu sangat menyayangi putranya.
Bukan tidak suka, Adsila juga merasa nyaman dengan Bobi. Tapi, dia tidak bisa menerima nya. Jauh di dalam lubuk hati Adsila, ada satu rasa yang tidak bisa dia mengerti.
"Mama!" Adsila tersentak, dia menoleh pada putra nya yang baru saja bangun dari tidur nya.
Adit segera turun dari kasur, lalu berlari menghampiri mama nya.
"Sayang, sudah bangun?"
Adsila menyambut putranya, memeluk dan menciumnya. Dia juga mengangkat tubuh putranya, lalu mendudukkan di atas pangkuan nya.
"Mama lagi apa di sini?" tanya Adit, tangan nya menggosok gosok mata yang terasa gatal karena baru bangun tidur.
"Mama lagi nunggu malaikat mama bangun", jawab Adsila.
Adit tersenyum, dia menatap wajah mama nya. Mata bulat imut nya berkedip lucu.
"Mama, kapan kita bertemu papa Adit lagi?"
Adsila memeluk putranya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak mau anak nya terlalu dekat dengan pria itu. Adsila takut putranya mengetahui segalanya sebelum waktunya tiba.
"Sayang, itu om Aditya. Bukan papa Adit" ucap Adsila menjelaskan.
"Tapi, om itu baik. Adit juga lebih cuka memanggil nya papa"
"Hmm..." Adsila berdehem, dia memeluk putranya.
"Ma, kenapa mama tidak mau bertemu dengan papa lagi?"
Deg.
Mendengar Adit memanggil Aditya dengan panggilan papa. Membuat Adsila merasa merinding.
"Sayang, kamu lapar gak? Mama buatkan ayam goreng yah?" ucap Adsila mengalihkan pembicaraan.
Mendengar kata ayam goreng, Adit langsung bersemangat.
"Yee ayam goreng!!!!" Sorak Adit girang.
"Muachh....Anak mama yang pintar"
Adsila menggendong putranya menuju ke dapur. Dia akan memasakkan ayam goreng kesukaan putranya.
__ADS_1
Tanpa Adsila tahu, ada seseorang yang mendengar semua pembicaraan nya dengan Adit.
"Aditya?"gumam nya, lalu dia pun berlalu pergi.
* * *
Di ruangan kerja nya, Aditya menatap Weira jengah. Wanita ini tak henti hentinya mengganggu hidup nya.
"Aditya, kenapa sih. Kamu tidak mau balikan sama aku lagi?. Aku menyesal Aditya, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi"
Weira berdiri di depan Aditya, memohon dengan raut wajah menyesal.
"Sorry, tapi aku tidak bisa menerima mu lagi. Aku tidak menyukai kamu lagi, perasaan ku sudah mati untuk mu"
"Tidak! Kamu tidak bisa melakukan hal itu kepada ku Aditya. Kita sudah berpacaran lama. Kenapa kau tega mencampakkan aku!" Weira mulai menangis, mengeluarkan air mata palsu nya.
Ceklek.
Bian masuk ke dalam ruangan kerja Aditya, dia terkejut melihat Weira ada di dalam sana.
Bian berdiri di depan pintu, sedikit memberi jarak antara Aditya dan Weira.
"Pergilah, aku masih banyak pekerjaan!" Usir Aditya pelan.
Brak!
Weira menggebrak meja, dia mantap Aditya dengan tatapan ke marahan.
"Kau terlalu kejam Aditya, aku tidak bisa menerima ini!" Protes Weira.
Pria itu berdiri, dia menatap Weira dengan tatapan kemarahan.
Melihat perubahan wajah Aditya, Weira sedikit tersurut. Namun, dia tetap memasang wajah menantang. Menutupi rasa takut nya.
"Apa kau tidak berpikir, bagaimana perasaan aku ketika kau membatalkan semuanya? Kau menghancurkan hidup ku Weira! Kau membuat ku malu di hadapan semua kolega ku! Apa kau tidak berpikir huh?"
"Aku tidak membatalkan, tapi aku menunda Aditya. Kau yang membatalkan nya!" Sela nya.
Aditya tersenyum miring, ekspresi wajahnya menandakan dia masih merasakan kekecewaan yang sudah dia lupakan.
"Aditya, kau tidak bisa melakukan hal ini. Aku tidak akan pernah menerimanya!"ucap Weira bersikeras.
Namun, Aditya tidak memperdulikan nya. Dia beranjak dari sana, tapi suara Weira membuat Aditya menghentikan langkah nya.
"Aku mengetahui siapa putra mu! jangan menyesal jika sesuatu terjadi!"
Deg.
Aditya berbalik, menatap Weira tajam.
"Berani kau menyentuh mereka, lihat saja nanti. Kau akan merasakan akibat dari oerbuatan mu!" Tekan Aditya, lalu dia kembali berbalik dan pergi dari sana.
__ADS_1
Bian tersenyum miring, dia sangat senang melihat boss nya tidak tertipu lagi oleh tipu daya wanita itu.
"Cih, menyedihkan" cibir Bian sebelum dia pergi menyusul Aditya.
"Huh, awas saja nanti. Mereka pikir aku takut!" Gumam Weira menatap kepergian Aditya dan Bian dengan tatapan penuh dendam.
Aditya baru saja keluar dari dalam lift bersama Bian. Kehadiran Weira membuat pikiran dan hati Aditya tidak tenang.
Pria itu merindukan putranya, Aditya berniat ingin melihat putranya. Tidak bisa melihat nya dari dekat, setidak nya dia bisa melihat Adit dari jauh.
"Tuan Aditya Dairon"
Langkah kaki Aditya terhenti, dia menoleh, melihat kearah orang yang menyebut nama lengkap nya.
"Bobi Malay?" gumam nya. Dahi Aditya mengerut, dia melangkah mendekati Bobi yang berdiri di depan meja lobi.
"Pria tampan yang memiliki waktu sempit. Sangat sulit mencari waktu untuk mengobrol"
Aditya terkekeh, Bobi terlalu melebih lebihkan dirinya.
"Kau terlalu berlebihan Bobi, sekarang aku memiliki waktu luang. " balas Aditya.
"Baiklah, kalau begitu, mari kita mengobrol. Mengenang masa lalu"
"Cih, mengingat masa kekalahan mu?" cibir Aditya.
Bobi bergidik bahu, dia tidak mengambil pusing ucapan Aditya. Yang terpenting bagi nya saat ini, dia ingin memastikan. Apakah aditya yang di sebut Adsila dan putranya adalah Aditya Dairon, atau Aditya lain nya.
"Baik lah" jawab Aditya menerima ajakan Bobi.
"Boss, bukan kah kita akan-" Aditya mengangkat satu tangan nya, menghentikan ucapan Bian.
Bobi tersenyum, dia tidak menyangka Aditya menerima ajakan nya.
Saat mereka beranjak pergi, saat itu Weira keluar dari dalam lift. Dia melihat Aditya dan seorang pria muda sebaya dengan Aditya pergi bersama Aditya.
"Siapa dia? mengapa dia akrab dengan Aditya?" Weira mencoba mengingat sesuatu, dia merasa pernah bertemu dengan pria itu. Tapi, di mana dia bertemu.
"Ah...Dia kan pria yang menjadi suami Adsila. Kenapa dia bertemu dengan Aditya? apa mereka saling mengenal??" berbagai pertanyaan muncul di benak Weira, dia menjadi penasaran dengan hubungan mereka.
"Aku harus cari tahu!"
Weira pun memutuskan untuk mengikuti ketiga pria itu
"Lihat saja nanti, jika aku tidak bisa memiliki mu. Maka, wanita itu juga tidak bisa Aditya!" tekatWeira dalam hati, mata nya terus memantau kemana Aditya dan Bobi pergi.
...----------------...
Halo guys, gimana?? makin seru gak? apakah yang akan Bobi lakukan? apa dia akan mengetahui segalanya??
Yuk ikutin terus ceritanya. Jangan lupa berikan like dan komen nya yah, sebagai jejak kalian di karya aku.
__ADS_1
Yang belum beri penilaian, silahkan beri bintang 5 jika kalian menyukai karya aku.
...Terimakasih...