
Setelah melihat kepergian Adsila, Aditya langsung beranjak pergi ke ruangan nya. Dia tidak peduli lagi dengan acara pesta yang masih berlangsung.
Weira mencari cari keberadaan Aditya, dia ingin tampil seperti kekasih Aditya di depan umum. Namun, sejak tadi dia tidak melihat batang hidung mantan kekasih nya itu.
"Kemana Aditya?" gumam nya.
Weira melihat Bian, segera dia menghampiri pria yang tampak berdiri sendirian di sudut ruangan pesta.
"Bian!" Panggil Weira.
Bian melirik malas, dia sangat tidak suka dengan keberadaan Weira di sekitar nya.
"Heh, kalo di sapa itu jawab!"omel Weira kesal, Bian tak membalas ucapan nya.
"Aku tidak mau bicara dengan mu!"
"Huh, kau pikir aku ingin bicara dengan mu?"
Bian mendengus kesal, mood pria itu sedang tidak baik baik saja. Dia hendak pergi dari hadapan Weira. Tapi, gadis itu menahan lengan nya.
"Mau kemana kamu? Katakan di mana boss mu"
"Aku tidak tahu" ketus Bian, dia menepis tangan Weira, lalu pergi begitu saja dari sana.
"Iss, sombong sekali dia. Awas aja kalau nanti Aditya sudah menjadi suami ku! Akan ku pastikan kau di pecat!" Gerutu Weira menahan kesal pada Bian.
Weira mengedarkan pandangannya lagi. Kini, sasaran nya adalah Rangga. Pria kecil itu jauh lebih menyenangkan dari pada Bian yang kelewat dingin.
"Di mana Rangga? kenapa mereka sangat sulit di temukan!"gerutunya tidak menemukan pria itu.
Sedangkan di ruangan nya, Aditya menghubungi Bian. Dia menyuruh Bian masuk ke dalam ruangan nya.
Setelah 5 menit menghubungi Bian, pria itu pun segera datang.
Tuk!! Tuk!!
Aditya menoleh, lalu mempersilahkan orang itu masuk ke dalam.
Bian membuka pintu, melihat boss nya yang juga melihat ke arahnya. Bian kembali menutup pintu dan berjalan kearah boss nya.
"Ada apa boss?"
Hufff...
Aditya menarik nafas, lalu menghembuskan secara perlahan. Dada nya mendadak sesak ketika mengingat wanita yang dia cintai bersama dengan saingan lama nya.
"Boss" panggil Bian, karena Aditya tak kunjung berbicara. Aditya pun tersentak, dia tersadar dari pikiran nya.
__ADS_1
"Bian, aku ingin kau melakukan sesuatu" ucap nya.
Bian mengerut bingung, apa yang ingin boss nya ingin dia lakukan.
"Apa yang harus saya lakukan boss?"tanya Bian.
Aditya menatap ke manik Bian, seperti nya dia sedang meyakinkan dirinya, tentang semua fakta yang ada.
"Aku bertemu dengan Adsila"
"Benarkah? Lalu, dimana dia? Mengapa dia bisa ada di kantor?"tanya Bian terkejut, dia sangat bahagia jika Adsila telah kembali.
"Dia adalah pasangan undangan Bobi"jawab Aditya pelan, dia terlihat Malas mengatakan fakta yang sangat dia benci.
"What? Pasangan Bobi?"ulang Bian dengan nada terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Boss..." Aditya mengangkat sebelah tangan nya, menyuruh Bian untuk tidak melanjutkan ucapan nya.
"Sudah Bian, aku baik baik saja. Aku belum pasti dia adalah pasangan Bobi atau tidak. " ucap Aditya.
Bian mengangguk mengerti, dia paham jika Boss nya saat ini sedang terluka.
"Aku ingin kau menyelidikinya, cari tahu siapa balita yang dia bawa tadi"
"Balita?" lagi lagi Bian membeo, dia benar benar terkejut mendengar setiap informasi yang boss nya katakan.
"Pasti itu bayi kalian, bukankah Adsila tidak jadi keguguran "ucap Bian lagi.
"Aku juga berpikir begitu, tapi bisa saja itu bukan bayi ku. Karena dia sudah hampir 3 tahun bersama Bobi"
Bian terdiam, dia mendengar kan setiap penjelasan yang boss nya ucapkan.
Melihat boss nya lemas beginit, Bian mampu merasakan sakit yang Aditya rasakan.
Aditya bersandar pada sandaran kursinya, tubuh nya terasa lemas. Pikiran nya berkecamuk memikirkan takdirnya yang terlihat seperti tidak ada ujung.
Tanpa Bian dan Aditya ketahui, Seseorang mendengar semua percakapan mereka.
"Jadi, Aditya punya anak?"gumam nya, lalu dia segera bergegas mencari tempat sembunyi ketika mendengar suara langkah kaki mendekati pintu.
Benar saja, Bian keluar dari dalam ruangan kerja Aditya. Wajah tegas nya tak luput dari pandangan mata wanita itu.
Setela Bian pergi, barulah wanita itu keluar dari persembunyiannya. Tatapan matanya sulit di artikan.
* * *
Bobi memarkirkan mobil nya berhenti tepat di depan pintu utama rumah nya. Belum sempat dia keluar, Adsila sudah keluar lebih dulu dan langsung masuk ke dalam kamar nya.
__ADS_1
Ria dan Bobi saling melempar tatapan, mereka sudah biasa melihat Adsila Seperti ini.
Meskipun sudah tinggal bersama, ibu dan anak itu masih belum tahu siapa ayah kandung Adit Prayuda sebenarnya. Adsila tidak pernah mau menceritakan kepada mereka, dia hanya mengatakan jika ayah Adit adalah majikan nya sendiri.
"Apa lagi yang terjadi, wanita itu membuat aku benar-benar bingung"gumam Ria.
"Aku juga tidak tahu ma, tapi aku yakin. Suatu saat Adsila pasti akan menceritakan semuanya pada kita." Jawab Bobi.
Sebenarnya pria itu jauh lebih bingung di bandingkan mama nya. Dia tahu, Adsila membatasi dirinya dari mereka berdua. Wanita itu tengah menyimpan sesuatu yang mungkin belum saat nya dia beritahu.
Adsila masuk ke dalam kamar nya, dia langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Mama tidak akan membiarkan mu di rebut oleh pria itu. Tidak, mama tidak akan membiarkan hal itu terjadi"lirih Adsila dengan bibir bergetar, dia memeluk erat putranya yang tertidur lelap. Berkali kali dia memberikan kecupan kasih sayang di seluruh wajah putranya.
Setelah hati nya sedikit tenang, barulah Adsila melepaskan pelukan nya pada tubuh mungil Adit. Lalu di baringkan nya secara perlahan di tengah tengah ranjang.
"Tidurlah sayang, kita akan baik baik saja, mama janji tidak akan membiarkan pria itu mengganggu kehidupan kita" bisik nya, lalu dia ikut berbaring di samping putranya.
Tanpa di sadari oleh Adsila, dia ikut tertidur sambil memeluk tubuh putranya.
Pagi datang begitu cepat. Matahari segera menampakkan tubuhnya. Cahaya cahaya yang mulai belajar menghangat, masuk melalui cela celah jendela.
Adit bangun lebih dulu dari pada mama nya. Balita pintar itu tidak langsung duduk. Dia hanya diam, dan menatap wajah mama nya dalam. Seakan ikut merasakan apa yang mama nya rasakan, Adit mengusap pipi mama nya lalu di kecup nya lembut.
"Mama.."lirih nya pelan, agar mama nya tidak terbangun dari tidurnya.
Tuk!! Tuk!!
Adit menoleh, dia segera turun dari atas ranjang dan langsung membuka pintu kamar. Agar suara ketukan itu berhenti dan tidak mengganggu tidur nyenyak mama nya.
Ria terkejut, melihat siapa yang membuka pintu.
"Adit? kamu sudah bangun?" kaget Ria.
"Sttt....." Adit memberi kode pada Oma nya agar tidak bersuara keras, dengan susah payah balita imut itu menutup pintu dan menarik tangan Oma nya menjauh dari kamar mama nya.
"Oma, jangan belisik. Mama Adit lagi tidul" peringat nya.
Ria mengangguk, dia tersenyum haru melihat betapa pintarnya Adit. Di usianya yang masih kecil, Adit sudah sangat bijak dan pengertian.
"cucu Oma,"
cup.
Dengan gemas Ria menggendong cucu nya, lalu menciumi seluruh wajah nya.
"kamu kok lucu banget sih" gemes Ria. Adit hanya tersenyum, menahan geli yang di timbulkan dari kecupan Oma nya di leher nya.
__ADS_1