
"Ma, sampai kapan kita akan seperti ini? Bukan kah mama mengatakan kita akan membalas Adsila? Bukan nya menjadi babu di sini" ucap Jasmin.
Mereka saat ini berada di dalam kamar, kamar yang sangat kecil. Rasanya sangat sempit di huni oleh dua orang seperti Maya dan Jasmin.
"Lihat lah, kita harus tidur di ruangan sempit ini. Mengapa kita gak kembali ke rumah kemarin aja?" ucap Jasmin terus menggerutu, dia menatap mama nya yang sejak tadi hanya diam saja.
"Ma." Panggil Jasmin sambil tangan nya menyentuh lengan Maya.
"Ada apa?" Sentak Maya terkejut.
"Mama melamun? Sejak tadi aku bicara mama gak dengar yah?"
Maya mengabaikan ucapan Jasmin, dia lebih memilih untuk tidur saja.
Melihat mama nya memejamkan mata,membuat Jasmin mencak mencak tak karuan.
Akhirnya, Jasmin memilih untuk ikut membaringkan tubuhnya. Mereka tidur di atas ranjang ukuran kecil, dan itu harus saling berbagi.
"Sempit" dengus Jasmin menggeser kan tubuh mama nya sedikit.
"Tenang lah Jasmin, Kamu jangan membuat hati ku semakin kesal!" Peringat Maya. Dia berucap tanpa membuka matanya.
******
Beralih pada rumah besar milik keluarga Malay.
Bobi Malay, pria yang saat ini terpuruk dalam kegalauan hati yang baru saja patah.
Cinta Bobi terpaksa harus patah, karena Adsila lebih memilih Aditya, ayah biologis Adit.
"Nak... Ayo makan" bujuk Ria.
Yah, wanita paru baya itu tengah merawat putranya yang sedang patah hati.
"Nak.." panggil Ria lagi.
Namun Bobi tetap tidak menyahut. Pria itu malah tidur sambil menutup wajah nya dengan bantal.
Huff
Ria mulai kebingungan, dia tidak tahu lagi harus menyadarkan putranya seperti apa.
Hari ini, adalah hari ke 5 Bobi tidak makan. Dia hanya meneguk air putih dan 1 buah apel sehari sekali.
Di atas ranjang, Bobi menutup mata. Tapi, sebenarnya Bobi tidak tidur. Dia hanya berpura pura saja di depan mama nya.
Prank!
Tiba-tiba suara piring jatuh ke lantai terdengar memekakkan telinga nya.
"Akhh..." Pekik Ria
Secara spontan, Bobi langsung membuka matanya dan segera bangkit dari ranjang. Dia mendekati mama nya dan memeriksa apakah mama nya terluka atau tidak. Dia menatap mama nya penuh kekhawatiran.
"Akhirnya kamu merespon mama juga"
Deg.
__ADS_1
Bobi terdiam, dia baru sadar jika ini adalah jebakan mama nya.
Dengan wajah dingin nya, Bobi kembali naik keatas ranjang.
"Nak, apa kamu marah sama mama?" Cicit Ria sambil menahan lengan putranya.
"Gak" jawab Bobi singkat.
Ria kembali tersenyum, dia senang kembali mendengar suara dari putranya itu.
"Lalu, mengapa kamu tidak mau mama panggil. Mengapa kamu menghindari mama hm? Mama tahu Bobi gak tidur, mama tahu itu." Air mata mulai membanjiri pipi Ria.
"Tapi aneh nya, mengapa kamu malah marah sama mama nak. Apa mama membuat sebuah kesalahan?"
"Jawab mama Bobi, jawab!!" Desak Ria mencengkram kedua bahu putranya. Berusaha agar putranya menatap wajah nya.
"Jika mama salah, maka kamu harus menghukum mama. Lakukan lah nak, mama ikhlas. Tapi, jangan diamkan mama seperti ini. Jangan siksa diri kamu seperti ini. " Lirih Ria terdengar pilu.
Bobi tidak tahan lagi, dia tidak marah pada mama nya. Dia hanya kecewa pada dirinya. Dia hanya kecewa pada takdirnya yang selalu tidak berpihak kepada dirinya.
Ria ambruk di lantai, dia menangis sejadi jadinya sambil memegang kaki putranya.
"Mama ngapain sih!" cegah Bobi, dia mengangkat mama nya. Sungguh bukan tipe nya membiarkan mama nya seperti itu.
"Hukum mama Bobi. Hukum mama..."rancau ria lagi.
Bobi tidak menjawab, dia hanya memeluk mamanya erat.
"Maafkan aku ma..."
Bobi semakin memeluk mama nya, dia sadar. Selama beberapa hari ini, dia sudah bertingkah bodoh.
"Mama gak salah, Bobi hanya lose kontrol. Mama gak salah..."
Mereka menangis bersama, meluapkan semua Kelu kesah di dalam hati.
Setelah puas dengan adegan menangis itu. Bobi membawa mama nya ke lantai bawah. Dia menggandeng tangan mama nya ke dapur.
Ria terkejut, dia bertanya tanya mengapa putranya membawa dirinya ke dapur.
Belum sempat Ria mengeluarkan suara, Bobi sudah lebih dulu bersuara.
"Mama duduk di sini, aku akan memasak untuk mama" ucap Bobi. Dia tersenyum dan meninggalkan mama nya di meja makan.
"Really? Putra mama sudah kembali?"
"Yes mam" sahut Bobi dari dapur.
Ria tersenyum tidak percaya. Bobi nya telah kembali, mereka akan kembali bahagia seperti dulu.
"Putra ku sudah kembali" gumam nya senang. Ria memanjatkan puji syukur nya kepada Tuhan nya.
Bobi memasak makanan kesukaan mama nya, ayam sambal saos tiram. Mereka makan dengan lahap, tertawa bersama seperti dulu. Melupakan kejadian pahit.
Bobi berjanji dalam hati nya, dia akan berdamai dengan takdir. Dia akan mengontrol dirinya dan juga hatinya. Soal Adsila dan Aditya, Bobi akan menemui mereka besok.
*******
__ADS_1
Pagi yang indah, Adsila bangun kesiangan. Tadi malam, setelah menidurkan Adit. Aditya memboyong Adsila ke ruang kerjanya. Mereka menghabiskan malam bersama di sana. Tentunya penuh dengan nikmat cinta.
Masih sama seperti dulu, Aditya kembali terbuai oleh keindahan tubuh istri nya.
Dulu, mungkin karena efek mabuk. Tapi kini, Aditya menikmati nya penuh dengan cinta.
Adsila menuruni anak tangga, dia pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Wanita itu tidak mencari putranya, karena dia tahu saat ini putranya tengah bersama Titi. Bibi nya mengirim pesan, jika dia pergi ke mall bersama Adit.
"Selamat pagi Yati" sapa Adsila tersenyum ramah. Namun beberapa saat senyum nya langsung patah saat melihat Yati melihat ke luar jendela.
"Lihat apa?"tanya Adsila bingung.
"Lihat matahari nya, ternyata udah tinggi" jawab Yati .
"Huh?" Adsila melongo, dia masih bingung dengan ucapan Yati. Coba saja kalian pikir, selamat pagi sama lihat matahari udah tinggi apa hubungannya coba?.
"Sudah siang bego!" Celetuk Lena, dia baru saja pulang sekolah.
Adsila mengerut, dia menatap adik nya yang sudah pulang sekolah.
"Kamu bolos? Kenapa jam segini sudah pulang sekolah?"
Lena tidak menjawab, dia malah duduk di meja makan.
Melihat wajah adik nya bete seperti itu, Adsila langsung mendekatinya. Begitu juga dengan Yati yang super kepo.
"Non Lena kenapa?" Tanya Yati.
"Ihhh Yati, kenapa kamu malah ikutan duduk?" Ujar Adsila menatap art nya .
Yati tersecengir, "yah kan kepo juga nya, lihat non Lena yang biasanya ceria. Malah cemberut kaya gitu"
"Udah dehh kamu ke dapur sana, gak boleh kepo kepo"kata Adsila.
Yati pun beranjak pelan, namun telinga nya tetap menajam mendengar pembicaraan majikan nya.
"Kamu kenapa? Kok muram gitu?"
Huhh..
Lena mendesah keras, dia menatap kakak nya dengan ekspresi marah.
"Masa sih kak, aku udah capek capek ngerjain tugas. Eh malah kitanya di liburin. Kan gak elit banget. Sia sia deh usaha aku"
"Wahh kalau libur kan enak non, kenapa non Lena malah cemberut" ujar Yati tiba-tiba nimbrung.
Adsila menarik nafas dalam, dia sudah habis kesabaran dengan art nya satu ini.
"Hehe...maaf nya, mau ambil kain lap, ketinggalan" cengir Yati pada majikan nya yang terlihat menahan amarah.
"Kaburr....."
Adsila mendengus, ampun banget dengan art satu itu.iya sih, dia jujur baik. Tapi tingkah konyol nya itu yang membuat orang kesal.
Adsila beralih pada adik nya, dia tahu adik nya ini gila belajar. Apalagi jika dia sudah berusaha mengejar apa yang dia inginkan, tapi malah tiba tiba di kacaukan. Lena pasti akan kecewa besar.
__ADS_1