Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Adsila Tidak Keguguran?


__ADS_3

Aditya mengamuk! dia merasa kesal karena kehilangan jejak Adsila.


Seharusnya, dia tidak marah seperti ini. Dia merasa marah, karena melihat Adsila menggendong seorang bayi.


Bayi siapa itu??


Apa dia sudah menikah?


Dengan siapa??


Berbagai pertanyaan menusuk ke benak Aditya, dan semua itu membuat emosinya naik seketika.


Prank!


Suara pecahan kaca pecah tak terelakkan lagi.


Aditya benar benar mengamuk, dia tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini.


Prank!


Bug.


Seketika Apartemen nya yang rapi, berubah menjadi kapal pecah. Semua nya benar benar berantakan.


Tak lama kemudian, Bian dan Rangga tiba. Mereka terkejut melihat pemandangan yang sangat indah ini.


"Boss, apa yang kamu lakukan?" tanya Rangga terkejut.


Aditya berhenti, dia menoleh pada kedua anak buah nya. Dada nya terlihat naik turun, seiring dengan deru nafas nya.


"Huh, lagi lagi pekerjaan ku bertambah" dengus Bian menatap nanar apartemen yang sudah berantakan itu.


Rangga melangkah mendekati Aditya, dia memilik kabar yang sangat bagus untuk boss nya.


Sedangkan Bian, dia langsung membereskan satu persatu barang barang yang berserakan.


"Boss, aku mendapatkan informasi yang sangat bagus. " ujar Rangga.


Aditya tidak menoleh, dia malah berjalan acuh menuju ke sofa. lalu, menghamparkan tubuh lelah nya begitu saja.


"Boss, apa kau tidak tertarik mendengar kabar dari ku?"


"Kabar apa yang kau bawa? jika bukan soal Adsila, aku tidak mau dengar!" sahut Aditya.


Rangga tersenyum miring, dia berniat ingin mengerjai boss nya.


"Hum..Sayang sekali, aku memang tidak membawa kabar tentang Adsila" ucap Rangga, dia duduk di sofa seberang sofa yang Aditya tiduri.


"Pergi lah, kalau begitu" ketus nya. Aditya menutup wajah nya dengan banyak sofa. Dia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya, emosi nya masih saja meledak ledak saat ini.


"Umm...Jadi, kau tidak tertarik mendengar informasi tentang bayi mu?"


Srekk..


Aditya langsung terbangun, dia membuang banyak sofa ke sembarangan arah, ketika mendengar nama bayi.

__ADS_1


"Informasi apa yang kau bawa Rangga! jangan mempermainkan aku!" tegas Aditya marah.


"Aku tidak mempermainkan mu boss. Bayi mu memang masih hidup, dan tentunya sudah lahir"


Deg.


"Ma-maksud kamu, Adsila tidak keguguran?"


Rangga menggeleng, dia sudah mendapat pengakuan dari suster yang merawat Adsila ketika keguguran dulu.


Suster itu sudah mengatakan semua nya pada Rangga. Adsila hanya pura pura keguguran, demi menyelamatkan calon bayi nya dari ibu tiri Aditya.


"Jadi, bayi yang dia bawa tadi itu adalah bayi ku?" gumam Aditya.


Rangga dan Bian tersentak. Terutama Bian, dia langsung meninggalkan pekerjaan nya ketika mendengar ucapan Aditya.


"Jadi, boss sudah bertemu dengan Adsila?"tanya Bian.


Aditya mengangguk pelan, matanya menatap datar pada Bian dan Rangga.


"Di taman kota, ketika aku sedang joging. Aku tanpa sengaja bertemu dengan Adsila, dia terlihat sangat ketakutan pada ku. Hingga dia pergi dan aku kehilangan jejak nya" jelas Aditya.


Fyuu...


Bian bernafas lega, setidak nya dia sudah tahu Adsila masih hidup. Harapan untuk bertemu dengan Adsila menjadi semakin besar.


"Kenapa kau sangat lega Bian?" ujar Rangga memperhatikan ekspresi wajah Bian.


"Tentu saja aku lega, setidaknya kita sudah bisa memastikan bahwa Adsila masih hidup. kita hanya berusaha untuk mencari keberadaan nya" jelas Bian.


"yah, kau benar"sahut Aditya mengangguk setuju dengan ucapan Bian.


Setiba nya di rumah, Adsila langsung bergegas masuk ke dalam kamar nya.


"Ada apa dengan nya?" tanya Ria pada Bobi yang baru saja masuk ke dalam rumah. Dia melihat ada yang aneh dengan anak angkatnya itu.


"Aku tidak tahu ma, tiba-tiba saja Adsila seperti itu"


Ria melangkah menaiki anak tangga, dia berniat ingin menemui Adsila.


"Mama mau kemana?"tanya Bobi menyusul mama nya.


Ketika Ria hendak meraih ganggang pintu, tiba-tiba Bobi menahan tangan mama nya.


"Seperti nya Adsila mengalami hal buruk, sebaik nya kita biarkan dia sendiri dulu ma."


"Tap-"


"Sudah ma, ayo"


Bobi membawa mama nya kembali ke bawah, mereka duduk di ruangan keluarga.


"Ma, seperti nya Adsila bertemu dengan seseorang. Dan kemungkinan orang itu adalah ayah dari anak nya, atau keluarga dari anak nya. Bobi lihat Adsila seperti ketakutan"


"yah, mama juga berpikir begitu" sahut Ria.

__ADS_1


Ibu dan anak itu terus berbincang, membicarakan apa yang sebenarnya Adsila alami hari ini.


Sedangkan Adsila menangis seorang diri di dalam kamar mandi nya.


Setelah menidurkan anak nya di atas ranjang, Adsila langsung berlari ke kamar mandi.


Dia mulai menangis sejadi jadinya, bayangan wajah Aditya terngiang jelas di benak nya.


"Kenapa kau muncul di hadapan ku? Aku sudah berusaha keras melupakan mu! Aku tidak mau bertemu dengan mu lagi!"


Adsila menangis di sudut kamar mandi, kedua tangan nya memeluk lutut nya erat.


"Aku ingin bahagia bersama anak ku, aku tidak mau kau hadir di hidupku lagi!" erang nya.


Adsila menangis sejadi jadinya. Dia tidak tahu mengapa dia bisa menangis seperti ini. Harus nya dia senang, dia berhasil lari dari Aditya.


Namun, hati nya malah berkata lain. Adsila merasa sangat sedih.


Setelah bisa menguasai dirinya, dan puas menangis. Adsila menguyur tubuhnya dengan air yang sangat dingin.


Hati dan otak yang panas, sangat butuh yang dingin dingin untuk menetralkan pemikiran nya.


Setelah selesai membersihkan diri, Adsila kembali ke kamar nya dengan stelan baju tidur nya.


Lalu, gadis itu ikut berbaring di samping putra nya. Memeluk erat bayi imutnya dari samping.


"Mama tidak akan pernah membiarkan dia memisahkan kita" lirih Adsila, seakan mengucapkan janji pada putranya.


Bayi imut nya menggeliat pelan, mata nya masih terpejam. Seperti nya pergerakan Adsila membuat anak nya sedikit terusik


"Adit mama" gumam Adsila mengusap pipi putranya, sehingga membuat putranya kembali tidur nyaman.


Adsila malah ikut tidur, dia tidur dalam posisi memeluk putranya.


Ceklek


Bobi masuk ke dalam kamar Adsila, melihat iba pada wanita yang terlelap sembari memeluk anak nya.


Bobi duduk di tepi ranjang, mata nya tak lepas dari wajah Adsila.


"Aku tidak tahu apa yang kamu alami, tapi aku ingin kau melupakan itu Adsila. Aku ingin, kau hidup bersama ku dan membuat kenangan baru"


tangan Bobi tergerak hendak mengusap rambut Adsila.


"Engg.."


Adsila menggeliat, membuat tangan Bobi tertahan dan tidak jadi membelai rambut wanita itu.


"Aku janji, aku akan melindungi kamu dan juga Adit. Kalian akan aman bersama ku"


Setelah mengucapkan janji itu, Bobi pun memutuskan untuk keluar dari kamar Adsila.


Ceklek.


Pintu kamar Adsila kembali tertutup, bersamaan dengan itu. Adsila membuka mata nya. Dia mendengar semua yang Bobi katakan.

__ADS_1


Adsila bangun, dia duduk di atas ranjang, matanya menatap lurus kearah pintu kamar. Seolah dia masih dapat melihat Bobi di sana.


"Maafkan aku kak" lirih nya tertunduk sedih.


__ADS_2