
Adsila jatuh tersungkur di tanah. Beruntung bukan perut nya mendarat di tanah lebih dulu.
"Aww.." Adsila meringis kesakitan.
Namun, Maya dan Jasmin tetap tidak peduli padanya.
"Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari keluarga ku!" bentak Maya.
"Aku tidak mau menjadi bagian dari kalian, tapi tuan yang membuat aku begini" balas Adsila. Matanya menatap tajam pada Maya.
Maya menggeram, ia mendekati Adsila, lalu mencengkram dagu nya.
"Sekali lagi kau menyalahkan putra ku, maka kau akan menerima akibatnya!"
"Tapi, ini memang karena tuan yang sedang mabuk memperkosa ku" jawab Adsila lagi.
"Baiklah, kalau begitu. Gugurkan kandungan itu" kata Maya tegas.
"Benar, bukan kah karena janin ini kakak ku terjebak dengan mu. Maka, buang saja janin nya!" sahut Jasmin.
Adsila menggeleng, walau bagaimanapun ia tidak akan membunuh anak itu.
"Ti-dak, aku tidak akan membunuh nya. Dia tidak bersalah"
"Jika kau tidak mau, maka biarkan aku melakukan nya!"
Jasmin menolehkan wajahnya, mencari kayu di sekitarnya.
Di dekat pohon mangga yang tumbuh tidak terlalu besar, ada sebuah sapu lidi bersandar santai pada pohon itu.
Jasmin berlari kecil, mengambil sapu lidi.Lalu kembali berlari kecil membawa sapu ke hadapan mama nya.
Melihat Jasmin memegang sapu lidi, Adsila langsung pucat ketakutan.
"Jangan...Jangan...Dia tidak bersalah!!" teriak Adsila melindungi perutnya dari serangan Jasmin.
"Hentikan!!!!"
Bian berlari dari dalam rumah, ia memeluk Adsila, melindungi wanita yang tengah hamil muda.
Maya melotot marah, ia tidak suka jika ada seseorang mengganggu rencana nya.
"Bian! apa yang telah kamu lakukan!" tegas Maya emosi.
"Nyonya. Sadar lah, wanita ini sedang mengandung cucu anda" ucap Bian berusaha menyadarkan majikan nya.
Namun, bak seperti kesetanan. Maya malah mengambil alih sapi lidi dari tangan Jasmin. Lalu mengayun tangkai sapu lidi kearah Bian.
Pita tiba di sana, ia berusaha menarik Bian dari dekat Adsila.
"Cepat Pita, singkirkan pria bodoh itu!" titah Jasmin.
Pita pun terus berusaha memisahkan Adsila dan Bian.
"Wanita bodoh, kau menggali kuburan mu sendiri!" ujar Bian pada Pita.
Wanita itu tampak tidak peduli, ia terus menarik Bian.
__ADS_1
"Hiks...Hikss..."Adsila menangis, ia merasakan sekujur tubuhnya terasa ngilu. Meskipun pukulan Maya tidak mengenai perutnya, tapi pukulan kuat itu mendarat di tangan dan kaki nya. Kadang mendarat pada tulang punggung nya.
Beruntung Bian cepat melindungi nya, rasa sakit itu tidak bertambah terlalu banyak.
Bukan tidak mau melawan, Bian bisa saja mengalahkan wanita wanita jahat ini. Tapi, ia masih memiliki rasa hormat terhadap Maya. Ia hanya melindungi Adsila, tidak mau melawan Maya.
...----------------...
"Boss, apa berkas yang berisi tentang data proyek baru ini, anda bawa?"
"Tentu saja Rangga, apa kau pikir aku sudah terlalu tua? sehingga aku mulai pikun?" cibir Aditya, ia membuka isi tas nya, mencari berkas yang seharusnya ada di dalam tas nya.
Aditya terdiam, berkas itu tidak ada di dalam tas nya.
"Kemana berkas itu pergi?"tanya Aditya dalam hati.
Sedangkan Rangga, menatap boss nya yang terdiam begitu saja.
"Bagaimana boss, apa berkas nya ada?"
"Seperti nya aku salah menaruh. Pasti berkas itu ketinggalan di atas meja kerja ku" ujar Aditya.
Rangga menghela nafas, ia melirik Aditya dengan tatapan mengejek.
"Ternyata boss ku, lumayan sudah tua. Pikun nya sudah akut"
"Diam kamu! aku hanya lupa mengambil nya di atas meja" jawab Aditya beralasan.
"Alah, alasan saja",
Rangga menepikan mobil nya, lalu menoleh ke belakang melihat Aditya.
Aditya menatap asisten nya dengan tatapan datar. Sudah jelas mereka harus kembali ke rumah nya. Tapi, Rangga masih saja bertanya.
"Apa kau harus bertanya Rangga? apa kau sudah semakin bodoh Sekarang?"
Rangga menggigit bibir nya, lalu perlahan kembali menghadap ke depan.
"Oh..Kita harus kembali ke rumah kan boss. Baik lah, sekarang kita putar arah"
Rangga pun kembali menjalan kan mobil, dan memutar arah mereka.
Karena lokasi mereka tidak terlalu jauh dari rumah. 25, menit saja, mereka sudah tiba di rumah.
Aditya segera turun, ia masuk ke dalam rumah dengan langkah santai.
"Tu-tuan?" Dewi dan Marni terlonjak kaget, mereka berdiri dan menunduk takut.
Aditya melihat nya, ia menatap aneh pada art nya.
Sehingga Aditya menghentikan langkah kaki nya.
"Ada apa ini?" Aditya melihat jam, baru jam 9. Kenapa para art duduk santai di dapur seperti ini.
"Ma-maaf tuan" gugup Marni.
"Minggir Bian!!!!"
__ADS_1
"Kau ingin di pecat huh?"
Aditya menoleh ke arah pintu rumah yang mengarah ke taman belakang.
"Ada apa di sana?" pikir Aditya mendengar suara teriakan dan bentakan mama nya.
Marni bersujud di depan Aditya, ia memohon agar Aditya segera menolong Adsila.
"Tuan, terserah ingin memecat saya atau tidak. Tapi, tolong selamatkan Adsila, nyonya besar ingin menggugurkan kandungan nya"
"Apa?"
Aditya langsung melangkah menuju ke taman belakang.
Ketika kaki nya baru melangkah 2 langkah di taman belakang, Aditya sudah dapat melihat mama nya sedang memukul mukul Bian .
Saat itu, Pita berhasil menarik Bian menjauh dari Adsila, di bantu oleh Jasmin juga.
Maya hendak mengayunkan tangkai sapu ke tubuh Adsila.
Mata Aditya membulat, calon anak nya dalam bahaya.
Adsila memejamkan matanya, ia pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Adsila!!" teriak Bian. ia berusaha melepaskan diri dari dua wanita itu. Tapi sangat sulit, wanita wanita itu memegangi dirinya dengan sangat kuat.
Blug!
Pukulan kuat itu pun mendarat. Sayang nya, pukulan itu tidak mendarat pada Adsila. Melainkan pada punggung Aditya.
"Aditya?"
Mata Maya melotot, ia terkejut melihat kehadiran putranya di rumah.
Aditya berbalik, menatap mama nya dengan tatapan marah.
"Aditya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!"
"Aku tidak menyangka, mama bisa melakukan semua ini"
Karena semuanya terkejut, Bian menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Lalu,Bian berlari mendekati Adsila, memeriksa kondisi gadis itu.
"Adsila, kamu tidak apa apa?" tanya Bian.
Adsila tidak menjawab, mata nya melirik pada sosok pria yang berdiri tegap di depan nya. Lalu Adsila tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya. Kegelapan kembali menguasainya.
"Adsila!! Adsila!!!" Bian menggoyang goyangkan tubuh Adsila, gadis itu sudah pingsan.
"Kita akan membicarakan hal ini!" ancam Aditya pada mama nya. Lalu pria itu berbalik menghadap pada Adsila.
Aditya menggendong Adsila, dan membawa nya pergi.
"Panggilkan dokter!" teriak Aditya.
"Baik tuan!" jawab Bian.
"Aditya!! Aditya!!!" teriak Maya memanggil putra nya, ia sangat marah. Putra nya lebih memilih wanita itu di bandingkan mama nya sendiri.
__ADS_1
Jasmin mendekat pada mama nya.
"Bagaimana ini ma? kakak sudah melihat semuanya. Pasti kakak akan marah" rengek Jasmin.