Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Tikus Kecil Di Rumah Aditya


__ADS_3

Pagi hari pun menjelang. Adsila baru saja turun dari kamar, lalu masuk ke dalam dapur.


Ketika dia hendak masuk ke dapur, Adsila mendengar Pita tengah berbicara dengan art rumah yang lain.


"Kalian gak tahu saja, dia itu dulunya adalah pembantu di rumah ini"


"Benarkah?"


"Iya!" pita dengan semangat dia menceritakan semua tentang Adsila pada art lain. Bahkan dia melebih lebihkan yang tida Adsila lakukan.


"Gak nyangka yah, ternyata dia licik juga" gumam art lain bergidik ngeri.


Kurang ajar sekali dia, menfitnah aku seenaknya.


Adsila akan melangkah masuk untuk melabrak Pita. Namun, seseorang lebih dulu masuk ke dalam.


"Eh?" Adsila melebarkan matanya. Ternyata Hana juga mendengar semuanya.


"Pita!" bentak Hana.


Semua pembantu langsung berhamburan ke perkejaan masing-masing.


"Ada apa?" sahut Pita cuek. Dia tahu Hana juga merupakan pekerja Aditya dulu. Kini dia berpacaran dengan asisten majikan nya di kantor.


Brak!


"Aws..." Pita meringis, merasakan sakit di bagian lutut nya.


"Kenapa kamu malah mendorong ku" marah pita. Dia segera bangkit dan ingin membalas Hana.


"Tidak semudah itu Pita! kau hanya pembantu!" ucap Adsila berdiri di depan Hana.


"Cih, dengan perbuatan keju saja bangga. Kalau dengan menjual diri, untuk mendapatkan posisi ini, buat apa?" cibir Pita tersenyum miring.


Adsila menarik nafas dalam, kemudian mengeluarkan ponselnya.


"Yah, kamu memang benar pita. Tapi sayang nya, kamu dan aku tidak jauh beda. Hanya saja...." Adsila memamerkan ponselnya ke hadapan Pita.


Di layar ponsel itu terlihat sebuah video pita yang ingin menggoda Aditya. Namun, niat Pita gagal. Dia malah melayani nafsu security.


Kedua mata pita melebar, dia tidak menyangka Adsila memiliki rekaman itu.


"Sayang nya, kamu gagal dan aku berhasil. Itulah yang menjadi perbedaan kita. Kamu rendah dan aku jauh lebih tinggi" imbuh Adsila merendahkan Pita.


"Kemasi barang barang mu, dan pergi dari sini!" usir Hana.


Pita menggeleng, dia tidak akan pergi kemana. Dia sudah bekerja bertahun tahun di rumah ini. Tidak mudah untuk mengusirnya.


"Kalian tidak berhak, hanya tuan Aditya yang berhak mengusir ku!"


"Cih, kau masih tidak tahu malu yah?. Adsila itu istri tuan mu! dia M-A-J-I-K-A-N mu!" ucap Hana mengeja satu persatu huruf pada Pita.


"Awas saja!"


Pita berlalu dari sana. Dia tidak terima di rendahkan seperti itu. Dia harus memberitahu Maya.


"Beres"


Hana dan Adsila bertos, mereka berhasil mengusir kutu kecil di rumah ini.


Lalu, Adsila menatap semua pekerja yang tengah memasak dan juga bersih bersih di dapur.


"Untuk kalian, tetap lah bekerja yang giat. Mulai saat ini, gaji kalian akan naik!"


"Benarkah nyonya?"sahut salah satu art yang sedang mencuci piring. Dia mendekati Adsila dan berterimakasih banyak.


"Aku tau nyonya adalah wanita yang baik, tidak seperti wanita yang tidak tau diri itu!" ujarnya.


Adsila tersenyum, dia senang melihat raut kebahagiaan di wajah art di rumah ini.


"Jangan panggil aku nyonya, panggil saja Adsila. Kalian lebih tua dari ku" ucap Adsila.

__ADS_1


Semua orang di sana semakin kagum, mereka mulai merasa cerita pita tidak lah benar. Semuanya berbanding terbalik. Adsila adalah wanita baik, meskipun pernah jadi pembantu di rumah ini, lihat lah sifatnya benar benar dermawan.


Di kamar nya, Aditya baru saja bangun. Dia tertidur di ruang kerja sambil menunggu istri nya yang tak kunjung datang.


"Huaaaamm... Kemana dia? kenapa pagi pagi sekali tidak ada di kamar? " Aditya melirik kearah ranjang nya.


Di sana terlihat Adit masih tertidur lelap.


Hati Aditya menjadi sejuk, dia menaiki ranjang dengan sangat pelan. Lalu mengecup pipi Adit berulang kali.


"Uhhh gemas nya papa"


Setelah puas menciumi Adit yang semakin pulas tidurnya, Aditya pun memutuskan untuk mandi.


Merasa masih canggung, Aditya terkejut melihat pakaian nya sudah di sediakan oleh Adsila.


Beginilah enak nya memiliki seorang istri?.


Aditya tersenyum malu, mengingat manis nya sikap istri nya. Dia tidak menyangka akan berakhir indah seperti ini dengan Adsila.


Senyum manis itu segera berakhir, mengingat Adsila yang meninggalkan dirinya di ruangan kerja tanpa kembali lagi.


Aditya mengenakan pakaian nya dengan wajah masam, lalu dia pun turun untuk sarapan.


Di meja makan, sudah ada Rangga, Bian,Titi dan Lena.


Rangga melihat kedatangan boss nya, dia langsung tersenyum malu dan mencoba menggoda boss nya.


"Cieeee yang abis ehem...Ehem..."


"Apaan sih!" dengus Aditya kesal.


Melihat ada yang tidak beres pada boss nya, Bian pun menanyakan nya.


"Ada apa boss? mengapa wajah anda seperti tidak di setrika berbulan bulan!"


"Tidak ada!" jawab nya singkat.


"Ayo sarapan sayang" ucap Adsila seraya mengambilkan Aditya roti yang sudah diolesi dengan selai kacang.


"Makasih" ujar Aditya ketus.


Semua orang yang mendengar nya dan melihat raut wajah masam Aditya. Tentu merasa terkejut, baru kemarin menikah dan mereka terlihat baik baik saja.


Tapi, mengapa pagi ini mereka terlihat saling bermusuhan. Oh bukan mereka, tapi hanya Aditya saja.


Lena yang tahu penyebabnya, hanya diam dan menahan tawa nya.


"Kenapa kamu Lena?" tegur Titi.


"Ah, apa? hm...Bukan apa apa" jawab Lena menggeleng kepala, dia berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak tertawa keras.


"Lena! ayo katakan. Apa yang membuat mereka begini?" desak Hana.


"Sudahlah, ayo makan. Kami tidak berantem kok" lerai Adsila. Dia duduk di sebelah Aditya, lalu ikut makan bersama.


Hana tidak merasa puas, dia mendekati Hana dan kembali menanyakan nya.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Hana berbisik.


"Tadi malam Adit tida mau tidur, dan aku rasa mereka gagal buat adek untuk Adit" jawab Lena.


"Bhmp..." Hana menutup mulut nya. Tawa nya hendak meledak ketika mendengar jawaban Lena.


"Kalau di meja makan di larang untuk mengobrol!" tegas Aditya.


"Sayang kenapa?" tanya Rangga, dia juga penasaran dengan penyebab bete nya Aditya.


"Gagal malam pertama " bisik Hana.


Bian juga mendengar nya, dia memasang pendengaran yang tajam.

__ADS_1


"Bahahahahha...."


Wajah Aditya memerah, dia merasa sangat malu.


"Aku sudah selesai, aku berangkat ke kantor duluan!" Aditya segera bangkit, dia pergi dari meja makan.


"Eh kok cepet banget?"


Adsila pun mengejar suaminya, dia tidak akan membiarkan suaminya pergi begitu saja.


"Bahaha.... Setelah sekian lama menunggu, eh malah gagal" kekeh Bian merasa lucu yang di alami boss nya.


"Dari pada sekian lama romantis, tapi gak di nikahi!" celetuk Hana.


Bian dan Rangga terdiam. Mereka saling menatap.


"Huh, bertahun tahun sudah. Tapi gak juga di nikahi!"


Titi dan Hana meninggalkan meja makan, menyisakan Lena , Bian dan Rangga di sana.


"Heh.. Kenapa kita di tinggal ya Bian?"


"Gak tau Rangga, mungkin senasib" balas Bian.


Lena mengangkat satu alis nya, menatap dua orang bodoh yang sudah tua.


"Di kasih kode keras, tapi malah bersikap bodoh. Aneh!"


Lena pun ikut pergi, dia harus segera ke sekolah.


"Yah, sisa berdua "


"Mau pergi juga gak ni?" ujar Bian.


"Makan aja dulu, mereka ma urusan nanti. Lapor aku" jawab Rangga.


...----------------...


Di lain tempat, di rumah besar milik keluarga Malay. Bobi mengamuk seperti orang stres.


Pria itu tahu Adsila telah menikah, dia tahu bahwa Adsila mencintai Aditya.


"Arrrg...."


Prank!


Teriakan dan hempasan keras barang yang pecah membentur dinding terdengar saling bersahutan.


Untuk kesekian kalinya, barang berbahan kaca berderai di lantai kamar nya.


Ria masuk ke dalam kamar putranya, dia terkejut melihat betapa hancur nya Bobi.


"Bobi!!! Apa yang kamu lakukan Bobi!" Ria berteriak dan langsung mendekati putranya.


"Ma, hidup aku sudah hancur. Aku tidak mau hidup ma, aku mau Adsila bersama ku!"


"Tidak nak, kamu tidak boleh ngomong kaya gitu. Kamu tidak boleh melawan takdir nak!"


"Tapi Bobi mencintai Adsila, tidak wanita lain. Tapi mengapa Adsila tidak mencintai aku?. Aku sudah melakukan banyak hal untuk nya, mengapa dia tidak melihatnya!!!"


"Aarrrggg!!!"


Bobi kembali mengamuk, dia mengambil semua barang barang yang ada di kamar nya, lalu melemparnya keseimbangan arah.


"Bobi...Hiks...Sayang kamu tenang nak, kamu pasti menemukan wanita yang lebih baik dari Adsila nak, percaya sama mama"


Ria memeluk putranya, dia ikut menangis melihat betapa hancur nya putranya saat ini.


Melihat putranya seperti ini, Ria tak sedikit pun menyalahkan Adsila. Dia bukan lah wanita yang penuh drama. Membalas dendam dengan apa yang di alami oleh putranya.


Namun, Ria adalah wanita realita. Dia tahu hati dan perasaan tidak bisa di paksa. Dia tahu perasaan Adsila yang memang milik Aditya. Jadi, Ria hany bisa menenangkan putranya dan menyembuhkan luka putranya yang kini tergores di hati.

__ADS_1


Kamu pasti bisa nak, ini hanya sebuah perjalanan hidup. Masa depan kamu masih panjang, kamu akan mendapatkan wanita yang baik. Mungkin lebih baik dari Adsila . Putri mama.


__ADS_2