Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Tidak memiliki Niat Jahat


__ADS_3

~🍒Hallo reders semuanya, selamat membaca yah. Terimakasih sudah mampir. Semoga ceritaku bisa menghibur kalian semua.


Jangan lupa tinggalkan jejak yah.



Like


Comment


Kasih bintang lima😘



...~happy reading~...


Semenjak menandatangani surat kesepakatan itu. Adsila tidak lagi bertemu dengan Aditya.


Kejadian malam itu, terlupakan, seperti tidak pernah terjadi.


Adsila bekerja seperti biasanya. Ia membersihkan ruangan ruangan yang Bian perintahkan.


Pekerjaan Adsila sangat baik, tidak ada debu yang terlihat di setiap ruangan. Bian merasa sangat bangga melihatnya. Ia selalu percaya pada bibi Adsila soal mencari orang, untuk bekerja di rumah ini.


Ketika asik mengerjakan pekerjaan nya, Adsila merasa perutnya sedikit mulas.


"Ahks... Kenapa aku menjadi mules begini" gadis itu meletakkan kemoceng di salah satu meja, lalu mengangkat ember dan pel ke sudut ruangan. Agar ketika seseorang masuk ke dalam ruangan ini, mereka tidak menabrak ember itu.


Adsila berpikir jika meninggal sebentar tidak akan masalah.


Setelah Adsila pergi, Maya masuk ke dalam ruangan keluarga yang di bersihkan Adsila.


"Huh, kenapa sih. Aditya membela wanita kampung itu! ada apa dengan nya, kenapa dia bisa berubah begitu!" Maya terus menggerutu, ia tidak melihat lantai nya masih basah.


Karena heels yang di pakai Maya sangat runcing, jadi heels itu lebih mudah terpeleset.


"Eh eh.... "


Brap...


Adsila berhasil menangkap Maya, ia menahan tubuh Maya agar tidak terjatuh.


"Nyonya, apa anda tidak apa apa?" tanya Adsila cemas.


Maya memasang wajah marah, dengan cepat ia mendorong tubuh Adsila agar menjauh dari nya.


"Kamu itu bisa kerja gak sih! lantai belum kering, tapi sudah kamu tinggalkan begitu saja!"


"Maaf nyonya, tadi saya pergi ke kamar mandi untuk buang air besar"


"Banyak alasan! kamu sengaja kan, kamu tahu saya suka masuk ke ruangan ini, sehingga kamu membiarkan lantai nya basah!"


Tentu saja Adsila menggeleng kuat, karena ia tidak pernah berniat seperti itu.


"Saya bersumpah nyonya, saya tidak pernah berniat seperti itu!" ucap Adsila jujur. Namun, Maya tetap tidak percaya. Ia sudah terlanjur membenci Adsila.

__ADS_1


Bian baru saja selesai membereskan lantai atas, ia tak sengaja mendengar Omelan nyonya besar.


"Aduhh, Adsila membuat masalah apalagi sih" Bian langsung berjalan cepat menuju ke ruang keluarga Dairon.


"Nah ini ini, Bian! kamu gimana sih. Orang gak bisa kerja, kenapa kamu pekerjakan!"


"Maaf nyonya, ada masalah apa ini?" tanya bidan takut takut.


"Gadis ini hampir membuat saya jatuh! dia sengaja meninggalkan lantai yang masih basah."


Bian menoleh pada Adsila, seolah bertanya dengan tatapan matanya.


Adsila menggeleng, ia tidak melakukan apapun yang di katakan Maya.


Bian menghela nafas berat, lalu ia kembali menatap kearah nyonya besar.


"Maafkan saya nyonya, saya kurang memberinya penjelasan. Saya janji akan mengajarinya lebih baik lagi"


"Huh! untung putra saya memberi mu kesempatan! jika tidak, kau sudah di lempar keluar dari rumah ini!" dengus Maya.


Adsila tidak menjawab lagi, ia hanya menunduk mendengar Omelan Maya.


Setelah Maya pergi, Bian membawa Adsila ke taman belakang. Ia perlu mengintrogasi Adsila.


"Kamu kenapa sih Sila, selalu saja mencari masalah dengan nyonya besar. Saya kan sudah bilang, kerjakan saja tugas kamu. Jangan mencari Maslaah jika kamu ingin bekerja lebih lama di sini!" kata Bian panjang lebar.


"Maaf tuan, tapi saya tidak melakukan apapun" jawab Adsila membela diri.


"Tidak melakukan apapun kata mu? lalu, kamu pikir nyonya akan marah marah tidak jelas, tanpa alasan dan sebab?"


Adsila menunduk takut, ia jelaskan pun Bian pasti tidak akan percaya.


"Saya tahu, apa yang kamu lakukan ini berat Sila. Tapi saya mohon, kamu jangan membuat masalah lagi" kata Bian penuh harapan.


Adsila mendongak, " Saya tidak membuat masalah tuan, tapi. Entah mengapa nyonya besar terlihat sangat membenci saya"


"Karena itu, kamu harus menjaga diri agar tidak terlibat lagi dengan nyonya Maya"


"Saya tidak mencari masalah dan ingin terlibat tuan. Tapi, seakan akan nyonya yang melibatkan saya ke dalam semua masalah. Apa saya harus keluar saja?" Adsila terdengar pasrah.


"Jika kamu berhenti, bagaimana nasib adik mu dan juga bibi mu?"


Jleb.


Adsila terdiam, pendirian nya kembali lemah. Jika ia berhenti, maka keluarganya akan luntang lantung.


"Hmm...Ya sudah tuan, saya akan kembali ke kamar untuk beristirahat" Adsila menunduk hormat, kemudian berlalu pergi.


"Kasian kamu Sila, awal bekerja sudah mendapat kebencian nyonya. Meskipun kamu lari, kamu juga tidak bisa lari jauh. Takdir mu sudah menetapkan kamu di sini" Bian menatap kepergian Adsila.


Malam itu, Bian melihat Adsila mengantar Aditya masuk ke dalam kamar. Ia tahu apa yang terjadi malam itu.


Bukan memiliki maksud apa apa, Bian hanya ingin yang terbaik untuk tuan muda nya.


Dari semua orang di sekitar Aditya, hanya Rangga dan Bian lah yang dapat Aditya percaya.

__ADS_1


...----------------...


Aditya baru saja selesai meeting dengan client penting. Ia merasa gerah, client nya kali ini terlihat rewel dan sedikit menjengkelkan.


"Huh, kenapa dia harus meminta ku langsung turun tangan!" dumel Aditya.


"Mungkin dia tertarik pada mu boss" sahut Rangga.


Aditya meliriknya dengan tatapan sinis.


"Maaf" cengir Rangga. Hanya pria itu yang berani bercanda seperti itu pada Aditya.


"Huh, aku sudah kesal. Jangan kau tambahi lagi Rangga, aku bisa saja memakan mu!"


"Ahh takut" ledek Rangga.


Aditya menggeleng melihat tingkah asisten nya ini.


"Kau sudah berani mengejek ku?"


"Sorry sorry boss...." lagi lagi Rangga tercengir.


"Oh iya boss, bagaimana dengan pembantu mu itu? apa dia bersedia menandatangi perjanjian itu?"


"Apa dia meminta lebih?"


"Atau dia meminta boss nikahi?"


Aditya menarik nafas dalam, Rangga terlalu berisik dan banyak pertanyaan.


"Kau ini terlalu banyak pertanyaan. " dengus Aditya.


"Aku hanya penasaran boss, aku sangat sangat penasaran " ujar Rangga dengan mata berbinar.


"Dia menerima nya, bahkan dia tidak mau cek yang aku berikan. Dia hanya meminta agar dia d tetap di berikan pekerjaan di sana"


"Waw... boss, sungguh gadis yang luar biasa. " decak Rangga kagum.


"Luar biasa apa nya? itu artinya dia tida terlalu mementingkan sesuatu yang berharga di dalam dirinya. Itu pertanda dia murah!" sela Aditya


"Anda salah boss, jika dia murah. Pasti dia sudah lama tidak perawan. Dan sekarang, kau mengambilnya. Bahkan dia tidak meminta uang yang besar pada mu" jelas Rangga.


Aditya terdiam, ucapan Rangga ada benarnya juga. Wanita itu tidak meminta apapun pada nya. Hanya membiarkan dirinya tetap bekerja saja.


"Ah sudah lah, yang penting masalah sudah selesai" ucap Aditya dengan wajah jutek.


Rangga menjadi kesal, boss nya terlalu jutek dan mengesalkan.


"Ahh... Pantes nona Weira pergi demi karir. Kekasihnya saja begini"


Brak!


Aditya menghempaskan pulpen di atas meja dengan tangan kokohnya. Membuat suara yang besar menggema di dalam ruangan.


"Alamat!" Rangga menepuk bibirnya, ia sadar sudah melakukan sebuah kesalahan.

__ADS_1


"Ah aku lupa, tadi aku harus pergi ke bagian keuangan" Rangga langsung berlari keluar dari ruangan Aditya, sebelum pria itu mengamuk.


"Huh!!! Dasar, asisten bodoh" dengus nya.


__ADS_2