
Setelah semua acara selesai, Adsila dan keluarga nya pindah ke rumah besar milik Aditya.
Bian yang merupakan asisten rumah Aditya, juga ikut tinggal di sana.
Sedangkan Rangga dan Hana tidak. Mereka tetap tinggal di apartemen.
Adsila menidurkan Adit di kamar Lena. Seperti yang Aditya inginkan, dia ingin menghabiskan malam bersama sang istri.
Pukul 9 malam, Adsila masih berada di kamar Lena. Adit sejak tadi tidak mau tidur.
"Adsila kemana sih, kok lama banget" gumam Aditya tidak sabaran.
Akhirnya pria itu pergi ke lantai bawah, dia datang ke ke kamar Lena.
Tuk!!! Tuk!!
Adit yang baru memejamkan mata langsung membuka matanya kembali.
Huh..
Adsila mendengus keras, usahanya menidurkan jadi gagal karena seseorang yang mengetuk pintu kamar nya.
"Siapa yang datang ma?" tanya Adit.
"Mama lihat dulu yah, kamu tidur oke." ucap Adsila.
Adit mengangguk setuju, dia membiarkan mama nya membuka pintu.
Adsila membuka pintu, dia kaget melihat Aditya sudah berdiri di depan kamar adik nya.
"Aduhh tuan, kenapa anda datang sih" gerutu Adsila sambil menutup pintu.
"Kamu kenapa lama banget, aku pikir ketiduran bareng Adit"
"Ya ampun tuan, adit untuk udah mau tidur. Eh tuan malam membangunkan nya lagi!" jelas Adsila geram.
Ceklek.
Adit membuka pintu, dia tidak mau di larang oleh Lena ketika turun dari ranjang.
"Papa??" sorak nya senang.
"Eh Adit sayang" sahut Aditya tercengir masam.
"Mama tidur sama papa kan? Adit juga mau!!!"
"Sayang, kamu tidur sama aunty Lena. Nanti dia bisa nangis Lo gak ada teman" bujuk Aditya.
Adit terdiam sejenak, dia menoleh pada Lena yang juga berdiri di depan pintu kamar nya.
"Aunty takut?"tanya Adit polos.
"Kagak lah, aunty kan strong girl." jawab Lena.
Aditya menepuk wajahnya sendiri, adik ipar nya benar benar tidak bisa di ajak kompromi.
"Lah, kenapa?" cicit Lena.
"Tidak apa apa, kamu tidur lah. Adit akan bersama Kaka dan tuan Aditya" ujar Adsila.
Gagal deh...
Aditya menggendong Adit, mereka akhirnya tidur di kamar yang sama.
Malam pertama dengan Adsila di temani oleh putra tersayang mereka.
__ADS_1
"Loh Adit, kamu gak jadi tidur bareng aunty Lena?" tanya Bian basa basi. Padahal Bian sejak tadi menahan tawa melihat wajah dongkol Aditya.
"Gak om, aku kan mau tidul baleng mama dan papa"
"Ohh bagus bagus" sahut Bian lagi.
Tertawa lah kamu Bian! awas saja nanti, ketika kamu ingin bersama Titi.
"Mimpi indah boss" ujar Bian dengan nada meledek.
Aditya ingin menghajar Bian, namun Adsila mencegah nya.
"Kita ke kamar saja" ujar nya.
"Awas saja nanti" ancam Aditya menunjuk Bian.
"Ahahah...Kasian gagal malam pertama " sorak Bian tertawa lepas.
Sesampainya di kamar, Aditya langsung mengajak Adit berbaring.
Dia akan berusaha menidurkan putranya secepat mungkin.
"Ayo Adit, kita tidur!" ajak Aditya.
"Tapi Adit belum ngantuk pa"tolak Adit menggeleng.
"Loh sayang, ini sudah hampir jam 10 loh. Biasa nya kamu sudah mengantuk?" kata Adsila.
Adit mengusap wajahnya, lalu memperlihatkan pada mama dan papa nya, bawah matanya belum mengantuk.
"Mama, lihat mata aku. Apa sudah terlihat mengantuk? lihat pa" kata Adit pada Aditya juga.
"Lalu, kamu mau ngapain sayang?" Aditya mulai pasrah.
"Main game"
Wajah Adit langsung murung, dia sangat ingin main game. Dia sudah lama mendambakan bermain game dengan papa nya.
Melihat putranya mulai murung, Aditya menjadi tidak tega. Dia memeluk tubuh mungil Adit.
"Adit mau main game ya? tapi janji sebentar saja yah" kata Aditya membuat janji.
Adit mengangguk pelan, dia mengecup pipi papa nya lembut.
"Ayo kita main"
"Tidak sayang, dia harus tidur. Tidak baik bagi anak anak main ponsel terus. Ini akan mempengaruhi kesehatan nya juga" larang Adsila.
"Sebentar saja sayang, gak lama kok" bujuk Aditya.
Adsila tetap kekeuh, dia tidak akan menuruti apa yang Adit inginkan jika itu salah.
"Sebentar aja sayang, kasian Lo adit nya"
"Sekali enggak yah enggak!!" tegas Adsila.
Mereka saling adu tatapan tajam, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengalah.
Melihat kedua orang tuanya adu mulut. Adit malah memilih untuk tidur.
"Kamu itu yah, gak boleh manjain Adit. Nanti dia bisa kebiasaan. Gak mau dengar jika kita larang. "
"Tapi ini kan cuma sebentar doang, sekali ini aja juga" balas Aditya.
"Gak boleh sayang, ini tu gak baik. Sekali, sekali nanti jadi kebiasaan!" bantah Adsila.
__ADS_1
"Se-"
ngrrrkkkk~
Aditya dan Adsila jadi terdiam, secerah serempak mereka menoleh pada putra tampan mereka yang sudah tidur.
"Dia tidur?" gumam Aditya tercengang.
"Hemm...Dia sudah tidur" jawab Adsila sambil memperbaiki posisi tidur Adit.
"Yes!" sorak Aditya bahagia.
Adsila menatap nya bingung, mengapa suaminya terlihat sangat bahagia ketika putra nya tidur.
"Ada apa? apa tuan tidak suka jika Adit bangun?" tanya Adsila polos.
"Untuk saat ini tidak, aku sangat suka dia tidur tanpa bangun hingga esok hari!" jawab Aditya sambil menggendong tubuh istrinya.
"Mau di bawa kemana aku?" tanya Adsila.Dia mengalungkan tangan nya pada leher suaminya.
"Ke tempat yang sangat istimewa untuk kita menghabiskan malam"
Aditya membawa Adsila ke dalam ruangan kerja nya. Dia sudah mendesain ruangan itu menjadi kamar pengantin.
Ranjang besar terlihat di hiasi oleh taburan bunga mawar merah di tengah tengah nya. Mawar itu di susun berbentuk love.
"Waw..Aku tidak tahu jika kamar kita terhubung dengan ruangan kerja mu tuan" decak Adsila kagum melihat ruangan romantis itu.
"Siapa yang telah mempersiapkan ini?"
Adsila duduk di tepi ranjang, dia mengusap pelan kelopak mawar merah itu.
Adsila menarik nafas dalam, menikmati aroma maskulin yang sengaja Aditya semprotkan, sebagai pewangi ruangan ini.
"Apa kamu suka?" bisik Aditya, dia menari Adsila kembali berdiri. Lalu, mereka saling berpelukan.
"Tuan.." lenguh Adsila ketika Aditya mengendus lehernya.
"Ssttt...Stop call me Tuan!. Aku tidak suka mendengar nya. Aku milik mu, kita suami istri. Kamu belahan jiwa ku!"
Adsila mengangguk pelan, mata sayu nya menatap Aditya dengan tatapan nafsu.
Begitu juga sebaliknya, keduanya sama sama di Landa oleh kabut asmara yang telah terpendam lama.
Deg..deg ..
Detak jantung kedua nya saling bersahutan, memikirkan sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
"I love you Adsila"
"I love you too "
Dekat, semakin dekat, wajah kedua nya sudah sangat dekat.
Tinggal beberapa centi lagi, bibir mereka akan menyatu.
"Mama!!!!?" Adit berteriak histeris.
Adsila tersentak, dia mendorong dada Aditya dan berlari keluar dari ruangan kerja Aditya.
"Adit nangis" gumam nya panik.
Ha..Gagal lagi, bocah itu harus di ungsikan terlebih dulu.
Aditya menghempaskan tubuhnya di sofa, menahan kabut asmara yang sudah berkobar kobar.
__ADS_1
Adik kecil, tenang lah. Kamu pasti akan pulang ke sarang mu. Putra kecil kita sedang berulah.