
Ting Tong~
"Siapa yang datang?" gumam Bian, ia menoleh pada majikan nya. Siapa tahu, tuan nya mengundang tamu.
"Aku tidak ada tamu" jawab Aditya yang mengerti arti dari tatapan Bian.
"Lalu, siapa itu?"
Aditya mengangkat bahu, pertanda ia tidak tahu.
"Yasudah, aku akan mengecek dulu"
Bian berlalu ke depan, melihat siapa yang datang bertamu di malam hari.
Bian membuka pintu, ia menekan kode yang sudah boss nya berikan kemarin.
"Loh, Bian. Kenapa kamu ada di sini?"
"Rangga? ternyata kamu!"
"Ada apa? kenapa kamu kaget begitu?" tanya Rangga penuh kecurigaan.
"Aku pikir siapa yang datang, ternyata kamu. Bukan kah kamu tahu Password apartemen boss. Kenapa kamu masih menekan bel?" tanya Bian heran.
Rangga mengulum senyum, lalu menjawab pertanyaan Bian.
"You know lah Bian, boss kita sekarang tidak sendirian di sini. Aku kan tidak tahu sedang apa dan mengapa, jadi aku berinisiatif melakukan hal itu"
Mendengar penjelasan Rangga, Bian jadi teringat dengan apa yang ia lihat tadi.
Adsila dan Aditya berjalan ke dapur bergandengan tangan.
"Ah sudah lah, kau jangan mengkhayal terlalu jauh. Mereka kan masih belum dekat" ucap Rangga merangkul Bian, Menyadarkan pria itu dari ingatan yang membuat nya bingung.
Kedua nya masuk ke dalam,
Bian langsung membawa Rangga ke ruang makan.
"Selamat malam boss" sapa Rangga tersenyum lepas.
Aditya tidak terlalu heran, dia sudah terbiasa dengan sikap Rangga yang seperti ini.
"Wah, ada tuan Rangga juga"
Adsila tersenyum, ia membawa semangkok besar SOP ayam.
Rangga terlihat terkejut, melihat sikap Adsila yang sudah berubah 100 derajat.
"Waw,, ada angin apa ini?" gumam Rangga takjub.
Sedangkan Bian hanya diam, dia kembali duduk di posisi nya tadi. Yaitu duduk di depan Aditya.
Setelah Adsila kembali ke dapur, untuk mengambil makanan lain. Rangga mendekati Bian. Ia berbisik untuk menanyakan apa yang telah terjadi.
"Bian, kau berhutang penjelasan pada ku" bisik Rangga.
"Kau sudah menjelaskan nya di awal Rangga, untuk apa lagi aku menjelaskan pada mu" balas Bian ikut berbisik.
"Ehehm!!!". Aditya berdehem. Matanya menatap tajam pada kedua anak buah nya.
__ADS_1
"Eheh..Boss, berjumpa kembali" ucap Rangga tercengir.
"Tuan Rangga, kebetulan sekali. Aku sudah masak banyak, kau bisa bergabung dengan kami" ucap Adsila.
Gadis itu menghidangkan dendang daging sapi. Aroma sedap segera masuk ke dalam indera penciuman Aditya.
"Waw, kau bisa memasak semua ini?" tanya Aditya kagum.
Membuat Adsila tersipu malu.
"Silahkan di cicipi tuan, semoga rasanya pas di lidah anda"
Adsila mengambilkan piring, lalu memberikan nya pada Aditya.
"Baiklah, mati kita cicip satu persatu"
Aditya mengambil beberapa dendeng balado, ia menyuapi ke dalam mulutnya.
Satu kunyah, dua kunyahan. Mata Aditya langsung berbinar. Masakan Adsila sungguh luar biasa.
"Ya ampun ini enak sekali" decak Aditya tertahan, karena ada daging di dalam mulutnya.
Mendengar pujian Aditya, membuat Adsila merasa sangat senang.
"Makan lah yang banyak tuan" ucap Adsila semakin menyuguhkan pada Majikan nya.
Sedangkan Rangga dan Bian, hanya menatap Aditya dan Adsila.
Sesekali Rangga mengusap sudut bibirnya, air liur nya seakan menetes melihat betapa Khao nya Aditya makan.
"Boss..." rengek Rangga, tangan nya menyapu sudut bibirnya.
"Astaga, maafkan aku tuan. Aku lupa memberikan piring untuk kalian" ucap Adsila sembari mengulurkan dua piring untuk mereka.
"Ayo silahkan di makan tuan" kata Adsila.
"Huh, akhirnya kau ingat kepada kami juga " lenguh Rangga sembari menyendok SOP ayam ke dalam piring nya.
Adsila tercengir, dia merasa malu telah melupakan dua makhluk itu.
"Humm....Enak sekali, aku baru tahu jika kau sangat pintar masak Sila" ujar Bian.
"Sila??" beo Aditya.
Semua orang terdiam, suasana mendadak menjadi tegang.
Rangga menatap kedua nya secara bergantian. Ada apa dengan panggilan itu.
"Ada apa boss?" tanya Rangga.
"Kenapa kau memanggil teman ku seperti itu? nanti orang orang akan mengejek nya.!" protes Aditya.
Bian dan Rangga mengerut, teman? sejak kapan Aditya dan Adsila menjadi teman?.
"Sejak awal mengenal nya, aku sudah memanggil nya begitu boss" jawab Bian.
"Tapi, aku tidak suka"
"Lah, kenapa boss begitu memperdulikan nya? biasanya boss juga tidak peduli" heran Bian.
__ADS_1
"Karena sekarang dia adalah teman ku!" jawab Aditya cepat, matanya melotot tajam pada Bian.
Dan, pria itu malah tidak mau kalah. Dia malah membalas menpelototi boss nya.
"Bian! kau sudah berani sekarang? melawan boss kita?" ucap Rangga terkejut, dan itu membuat ekspresi wajah Bian berubah.
"Oh astaga, aku lupa. Maaf boss, aku berpikir tadi kita dalam suasana persahabatan" sesal Bian mengangkat kedua tangan nya ke atas, sebagai permintaan maaf.
"Huh?"
Kini malah Adsila yang kebingungan. Sikap ketiga pria ini terlihat aneh di mata nya.
"Sebenarnya, kalian ini apa?" tanya Adsila penasaran.
Rangga dengan penuh semangat berdiri dari duduk nya. Menatap Adsila dan bersiap untuk menjelaskan.
"Hallo Adsila, karena sekarang kau sudah menjadi teman boss kami, maka kau berhak mengetahui segalanya." ucap Rangga panjang lebar.
"Kenalkan, aku adalah Rangga, dan ini Bian" ucap Rangga buang buang waktu.
"Tidak bermutu" cibir Bian dan Aditya bersamaan.
Adsila menatap keduanya, lalu kembali fokus pada Rangga.
"Sebenarnya, kita adalah sahabat Aditya Dairon. Namun, sayang nya kami juga anak buah nya. Yang bisa dia perintah kapan saja dan di mana saja. Bahkan bisa sesuka hatinya" ucap Rangga mencibir di akhir kalimatnya.
"Curhat" decak Aditya.
"Kami memang bersikap seperti ini, jika hanya ada kami bertiga saja. Tidak ada formal dan sopan santun" kekeh Bian melanjutkan penjelasan Rangga.
Adsila si buat kaget, sekaligus kagum. Ia tidak menyangka masih ada pertemanan seperti itu.
Sejak dia kecil, Adsila tidak pernah memiliki teman yang setia. Bahkan dia tidak memiliki teman akrab.
Semasa sekolah dulu, teman teman nya hanya mendekatinya ketika ada or dan ujian saja. Selebihnya, mereka akan menjauhi Adsila dan bahkan lebih parahnya. Mereka tega menghina Adsila.
Wanita miskin yang tidak memiliki apapun.
Itulah olokan yang selalu Adsila terima.
"Sungguh beruntung, kalian bisa berteman dengan sesama kalian" gumam Adsila terdengar lirih.
"No Adsila, kita tidak satu kasta. Tuan Aditya adalah anak konglomerat, dan kami hanya anak biasa seperti kamu. " Balas Bian.
"Tuan yang membuat kami menjadi seperti ini. Dia yang memiliki hati seperti malaikat" sambung Rangga.
Secara serempak, Rangga dan Bian menoleh pada Aditya. Wajah mereka mengekpresikan berbagai ekspresi terimakasih.
"Menjijikan" cibir Aditya.
Seketika raut wajah Bian dan Rangga berubah.
Bagaimana tidak, mereka sudah mendramatisir suasana. Eh malah di hancurkan begitu saja oleh Aditya.
Rangga dan Bian menghentikan drama mereka. Kedua pria itu malah memilih melanjutkan makan nya.
"ahaha...Kalian sangat lucu" kekeh Adsila.
Aditya ikut terkekeh melihat kedua sahabat plus anak buah nya merajuk.
__ADS_1