Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Mengusir kerikil kecil di Rumah Aditya


__ADS_3

"Ini boss, semua berkas yang boss inginkan." Bian meletakkan map coklat di atas meja Aditya.


Tanpa basa basi, Aditya langsung menyambar ma itu, lalu melihat isi nya.


Senyum kemenangan tercetak di bibir aditya. semua yang dia inginkan ada di dalam map itu.


"Bagus, kerja kamu memang selalu bagus Bian"


"Terimakasih boss" balas Bian tersenyum senang, dia bangga jika Aditya memuji nya.


Drrrrrttt.....


Aditya menoleh, melirik Bian yang tengah mengeluarkan ponselnya.


"Dari siapa?"


"Ini dari bibi nya Adsila boss, dia selalu menanyakan kabar keponakan nya" jelas Bian.


"Apa?"


"Maaf boss, seperti yang sudah saya jelaskan, Adsila tidak kembali pada keluarga nya. Dia pergi tanpa jejak seorang diri"


Aditya terdiam, beribu pertanyaan menghampiri pemikiran nya.


"Adsila, kau kemana? Apa yang menyebabkan diri mu tidak kembali pada keluarga mu?" pikir Aditya.


"Saya permisi boss"


Aditya mengangguk, mempersilahkan Bian keluar dari ruangan nya.


Bian menunduk hormat, lalu berbalik keluar.


Sesampainya di luar, Bian langsung menerima panggilan dari bibi Adsila.


"Halo?"


"Iya halo, tuan Bian apa saya sudah bisa menghubungi keponakan saya? Saya ingin mendengar kabar nya"


Bibi Adsila terdengar memohon, dia benar benar ingin berbicara dengan Adsila.


Sejak terakhir kali mereka saling menghubungi, bibi Adsila merasa sesuatu telah terjadi. Hatinya selalu khawatir pada keponakan nya.


"Maaf Titi, saat ini ADsila masih sibuk. Dia tidak bisa di ganggu, peraturan nya seperti itu"


"Tapi kenapa kami tidak bisa menghubungi nya?" itu suara Lena , dia sudah geram pada teman bibi nya itu.


"Maaf nona, tapi ini sudah menjadi peraturan nya"


"Ini sudah satu bulan lebih paman, kenapa kau tidak mau membantu kami untuk menghubungi kakak kami?"


Klik.


Bian sengaja memutuskan panggilan telfon nya dengan Titi. Membuat gadis remaja di seberang sana kesal.

__ADS_1


"huh, sial. Dia memutuskan panggilan nya!" omel Lena.


"apa kata nya Lena? apa dia tidak mau membantu?"


"Tidak bibi, seperti nya teman bibi menyembunyikan sesuatu. "


Titi terkejut, apa yang di sembunyikan Bian dari nya. selama ini mereka sangat dekat, Bian sangat terbuka dengan nya. yah, Titi tahu, jika Bian menyukai nya.


"Bibi sangat khawatir, apa sebenarnya yang terjadi pada kakak mu" lirih Titi.


"kita harus kesana bibi, kita harus memastikan Kaka baik baik saja"


Ting...


Titi melihat ponselnya, ada pesan baru masuk.


"Bian mengirim pesan gambar" gumam Titi langsung membuka pesan itu. Lena menatap penasaran layar ponsel bibinya.


Fyuu....


Akhirnya mereka bernafas lega. Bian mengirim foto Adsila tengah mengepel sebuah ruangan.


"Bian memang selalu membantu" gumam Titi.


"Setidak nya kakak baik baik saja bi" Titi mengangguk, sekarang dia sudah bisa bernafas dengan tenang.


...----------------...


Di rumah besar keluarga Dairon. Sekelompok pria berjas hitam dan kaca mata hitam, masuk ke dalam rumah.


"Siapa kalian?" teriak Maya marah, dia berdiri di hadapan semua pria itu.


"Maaf nyonya, boss memerintahkan kami untuk mengusir anda dari rumah ini!"


"Apa? siapa boss kalian? siapa yang berani mengusir ku dari rumah ku sendiri!!"


Mendengar keributan di rumah nya, Jasmin terbangun dari tidur siang nya.


"Ada apa sih, kok ribut banget" gumam nya sembari melangkah keluar.


Mata Jasmin yang masih terlihat mengantuk, seketika terbuka lebar.


"Ada apa ini ma? kenapa mereka berkumpul di rumah kita?" tanya Jasmin takut. Dia memeluk lengan mama nya.


"Mohon kerja sama nya Nyonya, jangan halangi pekerja kami" ucap salah satu pria berjas hujan itu.


"Tidak! kalian tidak akan bisa mengusir ku dari rumah ku sendiri " kekuh Maya bersikeras. Dia tidak akan meninggalkan rumah ini, mau tinggal di mana dia nanti.


"Kenapa anda tidak mau meninggalkan rumah ini?" ucap seseorang dari arah belakang barisan bodyguard.


Maya dan Jasmin menatap tajam kearah sumber suara, menantikan siapa orang itu.


"Bian?" gumam Maya semakin emosi.

__ADS_1


"Yah, saya Bian, anak buah terpercaya Aditya Dairon."


"Kurang ajar, kau tidak hormat padaku? aku nyonya Dairon!"


"Cih, apa apaan ini. Kau hanya budak, tidak kurang dan tidak lebih!" decih Jasmin mencemooh Bian.


"Yah, benar. Dan kalian? hanya dua orang asing yang masuk ke dalam keluarga harmonis ini. "


"Jaga mulut kamu yah, Jasmin! dia putri ku dan mas Dairon!"


Prokk Prookk!!!!!


Bian bertepuk tangan menanggapi ucapan Maya, membuat wanita itu semakin emosi.


"Berikan dokumen nya" titah Bian. Seorang bodyguard langsung bergerak maju, lalu memberikan map coklat pada Maya.


Maya langsung membuka map yang di berikan pria berjas hitam.


Setelah melihat isi nya, mata Maya langsung melebar besar.


"Bagaimana mungkin " gumam nya dengan bibir bergetar.


Semua nya sudah jelas, bukti bukti sudah ada. Jasmin bukan lah keturunan dari Dairon. Dia hanya anak tiri, ketika menikah dengan Dairon, Maya sudah hamil.


"Kalian tidak bisa membohongi kami! kalian sengaja kan membuat semua ini!" teriak Maya mulai panik, dia tidak akan meninggalkan rumah ini dan semua harta ini.


"Ma, bagaimana ini" rengek Jasmin ketakutan.


"Jangan terlalu ketakutan nyonya Maya. Boss kami sangat dermawan, dia tetap memikirkan ibu sambung nya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir akan menjadi gembel"


Bian mengeluarkan beberapa berkas yang tadi dia bawa. Lalu, dia memberikan nya pada Maya.


"Ini harta Gono gini yang di berikan pada anda nyonya, 2 restauran dan 1 villa. Kau masih bisa bergaya kaya" kekeh Bian mencemooh.


"Kau...." Maya menggeram marah, dia benar benar tidak menyukai Bian. Sejak dulu, hingga saat ini.


"Aku tahu, nyonya tidak pernah menyukai ku. Karena aku tahu, semua rahasia mu. tapi, karena aku orang kepercayaan boss, kau tidak bisa menyingkirkan ku. Bukan kah begitu nyonya?" ucap Bian panjang lebar, senyum kemenangan tercetak di bibirnya.


Maya mencengkram berkas itu kuat, Bian benar benar menyebalkan.


"Kau akan menerima akibatnya Bian!" Maya berbalik pergi.


"Kekasih semuanya, tanpa ada yang tersisa!" seru Bian.


"Mama!!!" Jasmin berlari mengikuti mama nya yang berjalan cepat menaiki anak tangga.


"Awasi mereka, pastikan mereka mengemasi semua barang barang nya!" titah Bian.


"Baik tuan"


Setelah menyelesaikan tugas nya, Bian kembali ke apartemen nya. Dia akan beristirahat untuk sementara menjelang boss nya pulang.


Sejak Adsila menghilang, Bian tidak bisa beristirahat dengan baik. Bukan karena mematuhi perintah Aditya, tetapi Bian juga merasa bertanggung jawab atas keselamatan Adsila.

__ADS_1


Pria itu sudah berjanji pada Titi, untuk menjaga keponakan nya selama bekerja di rumah Aditya.


"Maafkan aku Titi, aku berbohong pada mu"


__ADS_2