
Sudah hampir larut malam, Adsila masih saja belum pulang.
Titi merasa sangat khawatir, dia takut sesuatu terjadi pada keponakan nya.
"Bi, kok kak Adsila belum pulang sih? dia kemana?" tanya Lena. Dia sama khawatir nya dengan Titi.
"Aku tidak tahu nak, sejak pagi kakak mu pamit mencari pekerjaan, tapi sampai sekarang dia belum memberikan kabar"
Lena menghela nafas dalam, dia mencoba untuk tetap tenang dan tidak boleh panik.
Kakak kemana sih, aku khawatir tahu.
Lena kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat keponakan nya sedang tidur di bagian tengah ranjang.
*Kasian kamu nak, masih kecil tapi harus di hadapkan dengan kehidupan rumit keluarga mu.
Huff .
Pasti sangat berat bagi mu, hidup tanpa ayah*..
Lena mulai memikirkan apa yang di katakan oleh Aditya waktu itu. Ketika pria itu melamar kakak nya.
Lena naik ke atas ranjang, lalu ikut berbaring di samping Adit.
Apa aku salah Adit? menentang hubungan mama mu dengan papa mu?
Lena ikut memejam kan mata, tanpa tersadar dia ikut tertidur bersama Adit.
Sedangkan di luar, Titi masih gelisah dan menunggu Adsila pulang.
Jantungnya berdetak kencang, entah mengapa dia memiliki firasat buruk pada keponakan nya itu.
Clink~
Bian#
Bagaimana hari mu? apa kamu bahagia setelah keponakan mu telah kembali?
Titi membaca pesan singkat dari Bian. Keningnya mengerut, apa yang pria ini katakan.
Apakah yang dia maksud itu satu Minggu kemarin. Tapi, selamat nya sudah dia katakan.
Lau, sekarang dia mengatakan selamat untuk apalagi?
Dengan lihai, Titi membalas pesan Bian dengan cepat.
to Bian#
Kembali apanya, Adsila belum kembali sejak pagi tadi.
Setelah menekan tombol kirim, Titi menatap nanar layar ponselnya. Menunggu balasan dari Bian.
Bian#
Apa kau gila! sejak sore tadi Boss ku bilang, dia sudah pulang!
Jleb.
Jantung Titi terasa berhenti berdetak, jika Adsila tidak bersama mereka. Lalu, kemana keponakan nya itu pergi.
Drrtt....
Titi tersentak, dia melihat panggilan suara dari Bian.
"Hallo!" suara Bian terdengar serak di seberang sana
"Hallo Bian, apa kau bercanda? jika keponakan ku sudah pulang, dia pasti sudah tiba di rumah saat ini!"
"Tapi Titi, Aditya bilang Adsila pergi dari rumah nya sejak sore tadi!" jelas Bian meyakinkan Titi.
__ADS_1
Kemana Adsila? tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa kembali.
"Hallo, Hallo" panggil Bian.
Tuttt
Titi memutuskan panggilan begitu saja. Dia masuk ke dalam kamar Lena, dia akan berpamitan untuk pergi mencari kakak nya.
"Lena!" Titi menggoyangkan bahu Kena, agar gadis itu terbangun dari tidurnya.
Sekali panggilan, Lena tidak bangun. Titi pun kembali menggoyangkan bahu Lena, hingga gadis itu terbangun.
"Bibi-" gumam Lena, dia terkejut melihat bibinya sudah berdiri di depan nya.
Dengan cepat Titi menempelkan telunjuk nya pada bibi nya sendiri. Memberi kode pada Lena agar tidak mengeluarkan suara yang keras.
Setelah itu, dia mengisyaratkan pada Lena untuk keluar dari kamar.
"Ada apa bibi?" tanya Lena setelah mereka berada di luar kamar.
"Lena, kakak kamu menghilang, dia tidak bersama Aditya dan Bian"
"Apa? bagaimana mungkin bi? tadi kakak mengabarkan dia bersama ria, lalu dia pergi bersama Aditya. Sekarang mengapa dia tidak bersama mereka"
Titi menggeleng, dia menggigit jarinya menahan rasa khawatir.
"Ya Tuhan, apalagi yang terjadi?? mengapa tidak habis habis nya penderitaan kakak ku. Lihat lah, pembacanya mulai bosan dan berangsur pergi"
Drrrttt...
Tangis mereka terhenti, Titi menunjukkan pada Lena ada nomor baru masuk ke ponselnya.
"Siapa itu bibi?"tanya Lena.
"Aku tidak tahu Lena"
Dia menatap layar ponselnya, menimbang antara menjawab atau tidak.
"Hallo?"
"Waw... Keputusan yang bagus. Akhirnya kalian mengangkat panggilan ini!"
"Siapa kau!"
Lena menatap bibi nya, penasaran dengan siapa yang menghubungi bibi itu.
"Simple saja, jika kau ingin keponakan mu selamat. Maka pastikan kau menjauhkan keponakan mu dan juga cucu mu itu jauh dari Aditya!"
"Apa?"
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud, tapi lepaskan keponakan ku!"
Tut..
Panggilan terputus, Titi mendesah putus asa.
"Ada apa bibi, siapa yang menelfon itu?" Lena mulai terlihat panik,dia tidak ingin terjadi sesuatu pada kakak nya.
"Tenang Lena, kamu jaga keponakan mu baik baik. Aku akan mencari Aditya"
"Tidak bi. Aku akan ikut, aku tidak ingin mereka menjahati kakak lagi"
Titi memegang kedua bahu keponakan nya, menjelaskan agar keponakan nya itu mengerti.
"Sayang, jika kau pergi. Siapa yang akan menjaga Adit? akan sangat bahaya jika semua kita pergi "
"Tapi.."
Titi mengangguk meyakinkan Lena.
__ADS_1
"Hmm...Baiklah, tapi bibi harus berhati hati. Bawa kakak pulang"
"Iya Lena, bibi pasti akan membawa kakak mu pulang"
Lena melepas kepergian bibi nya di depan rumah.Setelah memastikan bibi nya sudah pergi, barulah dia masuk dan mengunci pintu.
...----------------...
Di ruangan gelap, Adsila terbaring lemah. Tangan dan kaki nya terikat. Mulutnya di sumpal dengan kain.
Eng...
Perlahan wanita itu menggeliat, dia tersadar dari pingsan nya.
Dimana aku? kenapa tempat ini gelap sekali?.
Adsila melihat ke kiri dan kanan, meneliti tempat dia berada saat ini.
Tap Tap!.
Suara langkah kaki mendekati ruangan itu, terdengar di telinga Adsila.
Tak lama kemudian, decitan pintu mulai terdengar.
Teg.
Seketika kegelapan langsung menghilang. Mata Adsila memicing menetralkan mata nya dengan cahaya.
"He..Bangun!" hardik seseorang menendang kaki nya.
Adsila membuka mata, menatap pria yang menendang kakinya.
Dia tidak bisa mengeluarkan suara, sumpalan kain di mulutnya , membuat suaranya tertekan.
"Duduk kain dia! lepaskan sumpalan itu!" titah seorang wanita yang membuat Adsila terkejut melihatnya.
"Jasmin??? Lepaskan aku!!!"
Adsila memberontak, berusaha melepaskan ikatan tali pada kaki dan tangan nya.
"Ha Ha Ha...Kasian sekali kamu Adsila, tidak bisa bergerak yah..uuu...Kasian nya"
"Lepaskan aku! kenapa kamu melakukan ini kepada ku!"
Plak!
"Berani sekali kamu berteriak padaku! apa kau lupa siapa diriku huh!" Jasmin mencengkram dagu Adsila.
"Kau harus ingat, selamanya kau akan menjadi babu. Jangan bermimpi menjadi ratu!"
Adsila meringis kesakitan, cengkraman tangan Jasmin terasa sangat kuat.
"Kau terlalu remeh Jasmin, kau akan menerima akibat dari semua ini!" geram Adsila menatap Jasmin penuh kemarahan.
Sudah cukup! aku tidak akan mau kalian tindas lagi.
"Lihat lah dia, wanita menyedihkan ini. Dia mengancam diriku" ledek Jasmin tertawa bersama anak buah nya.
"Apa yang terjadi?" Maya masuk ke dalam ruangan, dia menatap tajam pada Adsila.
"Aku tahu kalian dalang dari semua ini! apa salah ku dan juga anak ku!" teriak Adsila pada Maya.
Plak!
Lagi dan lagi, Adsila merasakan tamparan di pipi nya.
"Aku sudah peringatkan kamu,jangan berteriak pada kami!"
"Kalian pantat mendapatkan nya! kalian manusia busuk! jahanam untuk kalian!!" teriak Adsila semakin keras. Dia sama sekali tidak takut kepada mereka berdua.
__ADS_1
Tuhan tidak tidur, dia pasti akan membalas kalian!