Mengandung Anak Majikan

Mengandung Anak Majikan
Ngidam Pertama


__ADS_3

~•🌹 Salam reader, terimakasih sudah mampir. Jika kalian berkenan, beri nilai pada rate karya aku. Jangan lupa like dan komen juga yah. Terimakasih 🌹•~


...Happy Reading...


...•...


...•...


Aditya keluar dari kamar, rumah terlihat sangat sepi. Karena memang sekarang sudah larut malam.


Aditya berjalan cepat masuk ke dalam dapur. Ia membuka kulkas mencari sosis.


"Dia mau sosis rasa ayam, atau daging sapi?" Aditya menjadi bingung. Terlalu terburu buru, membuat ia lupa menanyakan rasa apa yang Adsila mau.


"Ah, masakin aja semuanya!" putus Aditya mengeluarkan 2 bungkus sosis dengan rasa yang berbeda.


Setelah selesai menggoreng sosis, Aditya kembali ke kamar nya.


Ketika sudah masuk ke dalam kamar, Ia malah mendapati Adsila sudah tertidur pulas. Dengkuran halus terdengar dari bibir mungil nya.


"Astaga, aku sudah capek capek memasak untuk nya. Eh dia malah enak enakan tidur!" geram Aditya tertahan.


Deru nafas nya memburu, menandakan saat ini pria itu sedang menahan emosi.


"Tahan Aditya, dia wanita hamil. Wanita yang mengandung calon anak mu Hyuuu...."


Merasa sangat jengkel, akhirnya Aditya memakan sendiri masakan nya. Sungguh keberuntungan bisa membuat tuan muda arogan seperti Aditya memasak.


Dan wanita beruntung itu adalah Adsila. Ia terlah mendapatkan durian runtuh dalam kehidupan nya. Apalagi mengandung anak dari benih Aditya.


...----------------...


Hari hari pun berlaku, Adsila mulai menikmati hidupnya menjadi seorang wanita hamil.


Ia dengan mudah nya, memerintah Aditya. Majikan yang sudah membuat hidup nya berada di dalam kegelapan.


Saat ini, Adsila tengah duduk di bangku taman. Sedangkan Aditya sedang berada di kantor.


"Bian!" panggil Maya dari arah dalam rumah.


Pria itu terkejut, tumben sekali nyonya besar memanggil dirinya.


"Adsila, tunggu lah di sini sebentar. Saya akan segera kembali" ucap Bian.


Adsila pun mengangguk paham. Ia juga tidak akan kenapa kenapa jika Bian tinggal sebentar saja. Lagi pula, Adsila masih di dalam pekarangan rumah Aditya.


Setelah kepergian Bian, Adsila masih duduk di bangku taman menikmati sinar matahari di pagi hari.


Sesuai anjuran dokter, Adsila sangat bagus terkena sinar matahari di pagi hari. Itu akan menyehatkan bagi janin dan juga ibu nya.


Senyum manis tak pudar dari bibir Adsila, ia menatap mekaran bunga mawar yang tubuh di taman belakang.


Mawar itu mengayun, ketika ada angin meniup nya.


"Waw, berasa seperti nyonya besar yah sekarang"


Adsila terkejut, ia segera bangkit dari duduk nya.


"Nyonya besar?" gumam nya langsung menunduk takut.


"Cih, apa kau berharap dari pembantu, berubah menjadi ratu?" tekan Maya.

__ADS_1


"Tidak nyonya, semuanya tidak seperti yang nyonya pikirkan " jelas Adsila berusaha menjelaskan situasi nya saat ini.


Tapi, Maya tidak mau mendengar nya. Ia berpikir itu hanya akal akalan Adsila untuk menguasai harta mereka.


"Kau hanya wanita rendahan yang ingin menikmati harta putra ku!. Apa kau pikir aku tidak tahu akal busuk mu hah?" Maya mendorong bahu Adsila, membuat gadis itu merasa tersudutkan dan terus mundur dengan seiring langkah Maya mendekatinya.


"Tidak nyonya, aku tidak pernah berpikiran seperti itu" Mata Adsila mulai berkaca kaca. Hati nya mendadak sedih dengan situasi yang di buat Maya.


"Pita!!!!!!"


"Pita!!!"


Maya terus berteriak memanggil art kepercayaan nya, hingga wanita itu datang.


"Iya nyonya!!" Sahut pita berlari menghampiri Maya.


"Ada apa nyonya memanggil saya?" tanya Pita, mata nya melirik Adsila tajam.


"Kamu berikan wanita itu semua pekerjaan nya! Jangan ada satupun dari kalian yang membantunya!"


"Tapi nyonya, tuan pasti akan marah jika tah-"


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan!" bentak Maya melotot pada Pita.


"Ba-baik nyonya"


Pita membawa Adsila masuk ke dalam rumah. Ia merasa sangat senang dengan perintah nyonya besar.


"Cih, dasar wanita murah" cibir Pita pada Adsila ketika mereka sudah menjauh dari Maya.


Namun, Adsila tetap diam dan membiarkan Pita mengatakan apapun yang ia mau.


"Tap-"


"Udah deh Adsila, hilangkan impian mu menjadi nyonya di rumah ini. Karena hal itu tidak akan mungkin terjadi" Dengus Pita tersenyum miring.


"Aku tidak pernah bermimpi seperti itu" balas Adsila datar.


"Omong kosong, kau terlalu kotor untuk membela diri Adsila. Bahkan kau lebih menjijikan!"


"Hanya karena harta, kau rela memberikan diri mu pada majikan mu sendiri"


Bagaikan di tampar oleh kenyataan, Adsila merasa sangat terhina mendengar ucapan Pita barusan.


"Aku tidak serendah itu!" teriak Adsila.


"Alah, mau berteriak seperti apapun. Kau tetap wanita menjijikan!"


Pita pergi begitu saja dari sana, meninggalkan Adsila yang tengah menangis berjongkok di lantai.


"Aku tidak sebodoh itu" lirih nya.


Sementara di lantai atas, Bian terjebak di dalam kamar Aditya. Seseorang telah membuat perangkap, lalu mengikat Bian di dalam kamar Aditya.


Semua ini adalah ulah Jasmin. Agar Bian tidak menggagalkan rencana mama nya untuk membuat Adsila melakukan semua pekerjaan rumah. Mak, Bian harus di singkirkan terlebih dulu.


"Akh...Sialan, mereka sengaja mengurung ku untuk menyiksa Adsila!" gumam Bian. Ia berusaha untuk melepaskan diri, tapi ikatan di tangan nya terlalu kuat. Bahkan kaki nya juga terikat, sehingga pergerakan Bian sangat sulit.


Di bawah, Adsila membereskan ruang tamu dan juga ruang keluarga. Entah mengapa ruangan itu terlihat berlipat lipat lebih berantakan.


Dengan tubuh lemah, Adsila perlahan membersihkan semua ruangan itu.

__ADS_1


Meskipun telah banyak menyelesaikan pekerjaan. Namun Pita terus menghampiri nya dan memberikan pekerjaan yang lain.


Tubuh Adsila hampir jatuh, kaki nya terlalu lemah untuk melangkah.


Seharian bekerja, Adsila tidak di beri makan dan juga tidak di beri minum. Beruntung Adsila tidak merasa jijik, sehingga ia dengan terpaksa meminum air keran.


"Heh gadis menjijikan, nyonya besar menyuruh mu untuk menyetrika pakaian!" teriak Dewi.


"Itukan bukan pekerjaan saya kak, dan saya juga baru saja beristirahat " Benar saja, Adsila baru saja duduk, melepas lelah yang melanda tubuhnya.


"Aku tidak peduli, aku hanya menyampaikan perintah nyonya"


Setelah mengatakan hal itu, Dewi pun berlalu dari hadapan Adsila.


Fyuu...


"Kamu yang kuat yah nak, di dalam perut bunda" tangan Adsila tergerak mengusap perut datar nya. Usia kandungannya masih 4 Minggu, tentu perutnya belum membuncit.


Sementara di kantor nya, Aditya merasa tidak tenang. Ia ingin segera pulang ke rumah dan melihat kondisi Adsila.


Namun, ia harus menahan diri untuk 5 jam ke depan.


Saat ini, Aditya masih ada di dalam meeting penting. Rangga yang menangkap kegelisahan pada boss nya, langsung berdiri di belakang boss nya.


"Ada apa boss, apa ada sesuatu yang membuat anda gelisah?" bisik Rangga.


"Aku mendadak kepikiran Adsila, coba kau cari tahu tentang kondisinya saat ini" titah Aditya.


"Baik boss"


Rangga langsung bergerak mundur, sedikit memberi jarak dengan Aditya. Lalu dengan sigap, Rangga mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada Bian.


To Bian.


Bagaimana keadaan Adsila. Apa dia baik baik saja? Boss terus menanyakan nya.


Setelah mengirim pesan itu, Rangga kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas nya. Lalu, ia kembali memperhatikan seorang wanita tengah menjelaskan tentang hasil laporan nya.


Drrtt....


Rangga kembali mengeluarkan ponselnya, ketika merasakan getaran dari dalam saku jas nya.


From Bian.


Dia baik baik saja, kapan kalian akan pulang?


Kening Rangga mengerut, ada yang aneh dengan balasan Bian. Bukan soal jawaban nya, tapi dengan cara penulisan pesan singkat nya.


Bian tidak pernah menjawab sepanjang ini. Jika baik baik saya, ia hanya akan mengirimkan balas ya. dan jika tidak, maka ia hanya akan mengirimkan balasan tidak.


Tapi, sekarang. Bian terlihat berbeda, bahkan ia menanyakan kapan mereka kembali.


"Wah, ini ada yang tidak beres ni" pikir Rangga. Ia terlihat bingung, ingin mengatakan tentang kecurigaan nya, tapi takut meeting nya terganggu. Ini adalah meeting terpenting di bulan ini.


"Ah, selesaikan saja dulu" putus Rangga membuat keputusan sendiri. Namun, Rangga tetap mendekat ke belakang kursi boss nya.


"Bian mengatakan, mereka baik baik saja" bisik Rangga.


Aditya bernafas lega, kegelisahan nya sedikit berkurang. Meskipun di dalam hatinya, masih terdapat rasa kekhawatiran yang mendalam.


Siapa lah yang mampu mengelabui hati?. Meskipun terpisah jauh, tetap saja hati tidak dapat di bohongi.

__ADS_1


__ADS_2