
Pagi yang indah, matahari mulai menampakkan cahaya nya.
"Adit sayang mama, ayo bangun. Kita harus mandi sayang" Adsila mengecup pipi putra nya, dia terus mengusik Adit agar segera terbangun.
Bayi kecil itu menggeliat, perlahan membuka mata.
"Nah, bangun sayang. Anak mama harus bangun pagi" kekeh nya.
Adsila membuka baju putra nya, dia akan segera memandikan putranya. Saat ini jam menunjukkan pukul 6.30.
Adit tampak kegirangan, dia bayi yang suka mandi di pagi hari. Lihat saja, ketika Adsila memasukkan nya ke dalam Ari, Adit tampak senang. Dia menggerakan kaki nya di dalam air.
Byurr..
"Ahaha..." Adsila tertawa, wajah nya terkena ciprakkan air yang di akibatkan oleh kaki Adit.
"Kamu mau buat mama basah juga yah, umm bayi nakal ku" gemas Adsila.
Setelah beberapa menit bermain air, Adsila menyudahi putranya bermain air, dia takut Adit masuk angin jika dia berlama lama di dalam nya.
"Selesai mandi... Ku harus makan, mengusir rasa lapar" gumam Adsila bernyanyi. Senyum nya tak pernah pudar, matanya terus menatap senang putranya.
Semenjak kehadiran Adit, Adsila merasa dunia nya sudah teralihkan. Dia tidak mau memikirkan hal lain lagi.
Bahkan Adsila sangat menyesali dirinya yang setuju dengan perjanjian konyol dengan Aditya. Adsila tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika Adit di bawa oleh Aditya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan nya" Adsila memeluk putranya penuh ketakutan, dia benar-benar tidak akan mau memberikan putranya, belahan jiwa nya.
"Wah, cucu mama sudah selesai mandi yah?" Ria masuk ke dalam kamar Adsila. Cepat cepat Adsila mengubah ekspresi wajah nya, dia kembali tersenyum.
"Iya dong nek, aku udah harum"ucap Adsila menirukan suara bayi.
Ria pun menggendong Adit, lalu menciumnya gemas.
" Harumm.."
Adsila tersenyum senang, tanpa ada yang mengajarinya. Dia berhasil merawat Adit dengan baik. Hanya bermodal feeling dan juga arahan dari Ria.
Adsila tersenyum, melihat ria bermain main dengan Adit. Putra tampan nya tertawa cekikikan ketika Ria mengajaknya berbicara, dan sesekali menggelitik nya.
Setelah lelah main dengan Adit, Ria menatap Adsila yang hanya menatap mereka.
"Nak" panggil Ria lirih.
Adsila melirik, dia tersenyum pada mama angkat nya itu.
"Iya ma? Ada apa?"
__ADS_1
"Uhm...Apa kamu tidak berniat untuk mencari ayah buat Adit? "
"Ma cukup, aku lagi gak mau bahas ini. Aku hanya ingin fokus dengan Adit dan tidak mau memikirkan hal hal yang lain"
"Tidak Adsila, kamu harus memikirkan Adit. Dia pasti merasa sedih, dia juga butuh kasih sayang dari seorang ayah Adsila. Apa kamu tidak memikirkan hal itu?"
"Aku bisa memberikan segala kasih sayang ku untuk nya. Adit tidak akan kekurangan kasih sayang apapun" bantah Adsila.
Ria menghela nafas, lalu dia meraih kedua tangan Adsila.
"Nak, mama bukan menyuruh mu mencari ayah Adit. Tapi, cobalah buka hati mu seseorang, agar kamu dan Adit bisa bahagia" ucap Ria pelan.
Lagi lagi, Adsila menggeleng. Dia tidak punya waktu untuk membuka hati sekarang.
"Maaf ma, tapi aku tidak memiliki waktu untuk itu"tolak Adsila. Dia masih belum paham apa yang Ria maksud.
"Nak, kenapa harus mencari orang yang jauh. Cobalah lihat yang di dekat mu. Ada yang mencintai mu dengan tulus, kenapa repot mencari orang lain" jelas Ria.
Adsila terdiam.
"Ma-maksud mama?"
"Nak, maksud mama adalah, mama ingin kamu benar-benar menjadi keluarga mama" jelas Ria.
Adsila tidak mengerti apa yang di bicarakan Ria.
"Mama ingin kamu dan Bobi menikah"
Deg.
Adsila menatap ria lagi, dia merasa salah dengan pendengaran nya.
"Nak, mama ingin kamu benar-benar menjadi putri menantu mama. Adit jadi cucu mama. Hanya Bobi yang bisa membuat kamu menetap di rumah ini"
Adsila menggeleng pelan. Bobi adalah kakak nya, dia tidak mungkin menikah dengan kakak nya sendiri.
"Ma, Bobi itu kakak aku"
"Tidak nak, kamu tidak punya hubungan apapun dengan Bobi"bantah Ria.
"Mama tidak mengakui aku dan Adit sebagai keluarga?"
Ria menggeleng lagi, lalu meraih tangan Adsila. Namun Adsila menghindarinya.
"Aku tidak bisa berpikir kesana, aku tidak bisa menikahi kak Bobi" tolak Adsila.
Ria pun menghela nafas berat. Dia tidak bisa memaksa Adsila. Dia hanya bisa berharap saja.
__ADS_1
Di luar kamar Adsila, Bobi terdiam mendengar semua yang Adsila dan mama nya bicarakan. Hati nya terasa teriris mendengar penolakan Adsila.
"Begitu sulit kah?" Batin nya.
_____________
Siang hari nya, Adsila meminta Ria untuk menjaga putra nya sebentar. Dia ingin pergi ke pasar sebentar. Awalnya Ria melarang Adsila pergi, bukan karena dia tidak mau menjaga Adit. Tapi, Ria tidak mau Adsila pergi ke pasar, cukup suruh pembantu saja.
Namun, Adsila bersikeras ingin pergi. Dia ingin memilih sayur mayur nya sendiri.
"Nak, apa kamu yakin mau ke pasar?" tanya Ria masih belum yakin.
"Iya ma, aku ingin ke pasar. Aku juga sudah rindu menikmati suasana pasar. " jawab Adsila. Dia memang suka pergi ke pasar, menikmati suasana pasar dan mengingat ibu dan bapak nya.
"Ya sudah sayang, mama akan menjaga Adit. Kamu tidak usah khawatir yaah"
"Makasih yah ma" balas Adsila memeluk mama angkat nya sayang.
Setelah melakukan persiapan, menyusi Adit dengan Asi. Barulah Adsila pergi ke pasar. Dia berangkat menggunakan angkutan umum. Meskipun dia sudah menjadi bagian dari keluarga Malay. Dia tetap bersikap seperti biasanya.
Adsila tiba di pasar, dia menatap lama kepadatan pasar. Suasana di mana kedua orang tua nya masih hidup, kembali merasuk ke dalam pikiran Adsila.
"Uhmm... Sudah lama aku tidak datang ke pasar ini"
Adsila mulai melangkah masuk ke area pasar. Dia tersenyum menyapa setiap pedagang yang dia kenali.
Bruk.
Adsila tidak sengaja menubruk seseorang.
"Maaf, saya tid-" Adsila terdiam, mata nya memanas saat melihat siapa orang yang dia tabrak. Begitu juga dengan oyitu.
"Kak Adsila? Ini beneran kakak?"
Adsila terdiam, dia masih membeku tidak percaya. Dia bertemu dengan adik nya yang hampir satu tahun tidak bertemu.
"Lena?" Bibir Adsila bergetar, dia langsung memeluk adik nya. Tangis haru tak terelakkan lagi.
Mereka berpelukan dan saling menangis haru.
"Kakak...hiks...Hiks..."
"Iya Lena, ini kakak " sahut Adsila.
Mereka tidak perduki dengan tatapan orang orang yang melihat aneh pada mereka.
"Kak, ayo kak. Kita pulang, kakak gak usah kerja di situ lagi. Kita jadi tidak bisa bertemu, bahkan kita tidak bisa saling menghubungi"rengek Lena.
__ADS_1
Adsila tidak menjawab, dia hanya diam sambil memeluk adik nya erat. Seakan takut tidak bisa bertemu lagi.